Negosiasi

1308 Kata
Satria menghela napas. ini kali kedua dia mendatangi kantin untuk meminta orang lain bekerja di rumahnya. Ya, bukan menerima lamaran pekerjaan tapi malah meminta orang lain bekerja di rumahnya. Untuk itu, harus ada bayaran yang tak sedikit. “Ya kalo gitu, bisa nggak untuk hari ini saja, kamu datang ke rumah saya? Untuk melegakan hati Arya,” mohon Satria. Bu Alisha menatap anaknya. Caca nampak berat hati. Dia juga tak tega jika hanya datang sekali lalu meninggalkan Arya. “Gimana kalo saya aja?” tutur Entin. Caca melotot mendengar kenekatan temannya itu. Satria terkejut dengan penuturan Entin. Dia tak menjawab tapi langsung mengamati gadis itu dari atas ke bawah. Rambut pendek, jerawatan, tangan penuh minyak. Membuat keder Entin. “Baik, tapi kalo anak saya nggak mau, kamu ganti rugi,” sahut Satria. “What??” pekik Entin. “Enggak, deh. Nggak jadi, Om!” ujar Entin, mundur. Cengar-cengir memandang Caca yang menahan tawa mendengarnya. ‘Mampus lu.’ Caca membatin dalam hatinya terkekeh. “Om?” Satria mengerutkan dahi mendengar panggilan dari mulut Entin. Caca berdeham demi mengalihkan pembicaraan tak jelas mereka. “Begini, saya ini ada pekerjaan membantu ibu saya di kantin ini. Kalo nggak ada yang bantu, kasihan, Pak. Dia sendirian. Padahal kantin ini satu-satunya sumber pendapatan kami. Untuk menggaji karyawan lain pun entah kami sanggup atau tidak sekarang ini,” terang Caca, mengutarakan keadaan mereka. “Oh. Ya sudah, kalo memang nggak bisa. Saya nggak bisa memaksa. Anggaran sepuluh juta per bulan untuk membayar pengasuh Arya, jadi saya simpan dulu,” pungkas Satria. Kata-katanya sontak membuat ketiga perempuan itu terbelalak. “Eh, Pak. Tunggu, berapa kata Anda? Sepuluh juta?” tanya Bu Alisha. Kantinnya tak bisa menghasilkan uang sebesar itu dalam satu bulan. Paling banyak omset lima sampai enam juta rupiah saja per bulan. Bu Alisha mendadak ternganga mendengarnya. “Iya, sepuluh juta.” Ponsel Satria berdering usai mengulangi perkataannya, lalu dia berdiri untuk menjawab panggilan dari klien. Bu Alisha cepat-cepat menyeret Caca masuk. Entin mengikutinya karena penasaran. “Ca, ambil aja. Ibu nggak apa-apa kerja sendiri.” “Bu, Ibu itu gimana sih, denger uang sepuluh juta kok ijo,” gerutu Caca, meski dia pun terkejut mendengarnya. Uang sepuluh juta itu, bisa dia gunakan untuk membayar kuliah dan membayar rekening listrik juga air. Tambah lagi untuk membantu membayar sekolah adiknya. Masih sisa banyak sekali untuk ditabung. Ponselnya yang rusak pun bisa diganti. “Ya gimana nggak ijo? Mana ada kerja dibayar segitu? Awal-awal jadi karyawan juga nggak segitu bayarannya. Ya kan, Tin?” senggol Bu Alisha ke lengan Entin yang masih bengong kayak orang ketempelan jin iprit. Gadis itu pun tersentak lalu mengangguk saja. “Eh, iya, iya Tante. Bener, Ca! Kalo aku jadi kamu, terima aja. Kesempatan, lho!” Caca nampak bingung. Dia memegang dagunya. Berpikir keras apakah harus memilih untuk bertahan di kantin ibunya atau mengikuti anjuran sang ibu. “Uang sepuluh juta—“ gumam Caca nampak berpikir. Agak lama dia berpikir, hingga sebuah suara membuat pikirannya terhenti. “Dia mau, Pak!” Caca terhenyak kaget, lalu menoleh. Tanpa persetujuan Caca, Bu Alisha meringis dari depan, ternyata sudah menemui Satria lagi. Wanita paruh baya itu menatap tengil padanya dengan ibu jari diangkat, menjengkelkan. Menyatakan bahwa Caca mau menerima untuk menjadi pengasuh Arya. “Tapi—“ “Udah, udah. Kamu jalani aja. Kalo dianiaya, kamu kan bisa telepon Komnasham anak?” sela Entin, setengah berbisik pada Caca. “Yang dianiaya aku, neleponnya ke Komnasham anak. Ya akulah yang ditahan, dikira mukulin Arya,” sungut Caca. Entin terkekeh mendengarnya. Caca mendesah melihat kelakuan ibu dan temannya itu. Uang mengubah pendirian seseorang. Namun, nominal yang ditawarkan ayah Arya memang lumayan banyak untuk pekerjaan seorang pengasuh. “Saya memberi gaji segitu karena menyangkut nyawa dan kenyamanan anak saya. Sebagai seorang pengasuh, pasti memiliki tanggung jawab dan beban yang tinggi. Mengasuh anak yang bukan anak sendiri. Itu harus diberi reward. Saya juga ingin orang yang mengasuh anak saya bukanlah orang yang sembarangan. Kebetulan anak saya meminta Kaca maksud saya, Caca untuk mengasuhnya. Baiklah, saya turuti permintaannya. Namun, jika pekerjaannya tak sesuai dengan gaji, maka bukan saya turunkan lagi gajinya melainkan saya pecat.” Ketiganya nyaris terlompat mendengar kata pecat dengan mudahnya diucapkan oleh pria itu. Kalimat tersebut dikatakan oleh Satria dengan nada kejam. “Udah kayak pemilik perusahaan aja orang ini,” bisik Entin di kuping Caca. “Memang saya pemilik perusahaan itu,” sahut Satria membuat mereka sekali lagi melongo. “Jadi Pak Satria ini—“ tanya Bu Alisha gugup. “Iya Bu. Saya anak dari Pak Wiratama. Arya itu cucu satu-satunya.” Ketiga perempuan itu masih terbengong mendengar seorang pria pemilik hak waris perusahaan mau mendatangi kantin demi keinginan anaknya. Pantas saja dia bisa membayar mahal jasa seorang pengasuh. Ya, karena memang menyangkut keamanan dan pendidikan anak satu-satunya. Penjelasan Satria dirasa cukup olehnya sendiri. Dia pun permisi karena masih banyak hal yang akan dikerjakan. Bu Alisha mengangguk-angguk mengantarkan pria itu dari belakang, meski lututnya sedikit bergetar karena ternyata pria itu adalah anak pemilik perusahaan. “Ca, aku heran si Om itu denger bisikan-bisikanku tadi,” keluh Entin. “Ya kamu bisikin kayak ngasih pengumuman pake toa masjid! Gimana nggak denger semua!” gerutu Caca. Entin cengar-cengir mendengarnya. Suaranya memang agak keras. Entah kenapa volume suaranya tak bisa diturunkan, apalagi saat hening. Dia terhenti saat Bu Alisha berbalik mendatangi mereka. “Ca. Bekerjalah dengan tekun,” pesan Bu Alisha usai Satria pergi. “Ini alamat Pak Satria. Kamu harus datang ke sana tepat pukul sepuluh pagi.” “Ini jam berapa, Bu?” tanya Caca mengambil kartu berwarna merah itu. “Jam sepuluh kurang lima menit,” sahut Bu Alisha. “Ya Allah, Ibu!!” jerit Caca, panik. “Sana siap-siap. Naik angkot butuh waktu banyak,” pesan Bu Alisha. “Nah, gitu Ibu tau, kenapa tadi nggak protes sama Pak Satria??” omel Caca cepat-cepat melepas apronnya, melempar benda tak bersalah itu ke atas kursi di dalam. “Ya soalnya pimpinan nggak boleh disanggah,” sahut Bu Alisha mesem, menahan senyum. Entin berlaku sama dengan Bu Alisha. Dia menahan tawa melihat Caca kelabakan bersiap pergi ke rumah Arya. “Ca, jangan lupa bilang kalo kamu kuliah setiap akhir pekan,” pesan Bu Alisha saat Caca telah berlari ke luar. “Iya! Ibu nggak bilang sekalian, tiba-tiba setuju trus orang itu pergi lagi!” omel Caca berlari meninggalkan ibu dan sahabatnya di kantin. Bu Alisha dan Entin kembali tergelak melihat sikap Caca. *** Rumah besar itu terpampang di depan pandangan Caca. Yang ada di pikirannya saat ini hanya ingin menemui Arya. Sempat kagum, juga agak takut berdiri di depan gerbang rumah. Sepanjang jalan tadi, dia tak habis pikir. Ternyata yang selama ini dia buatkan jus dan nasi bento adalah anak dari pemilik perusahaan. Agak lemas dia menyadari, bekerja di rumah mewah dengan kalangan orang-orang kaya di dalamnya. Akankah dia bisa melayani Arya? Namun, ditepisnya pikiran pesimis itu karena yang menginginkan dia di situ adalah Arya sendiri. Dengan berdebar dipencetnya tombol berwarna biru untuk bel rumah. Dia menunggu di depan gerbang besar. Seorang pria, tergopoh membukakan pintu untuknya. Sepertinya dia satpam rumah itu. “Mbak Caca ya? Silakan masuk. Tuan kecil sudah menunggu,” ujarnya. Kening Caca berkerut. Betapa kagumnya di situ. Rumah besar yang nampak seperti di sinetron-sinetron kesukaan sang ibu di televisi. Belum juga masuk, sudah ada satpam yang mengetahui namanya. “Terima kasih, Pak. Iya, saya Caca.” Sejurus kemudian, seorang anak laki-laki berlari dari dalam rumah, berlari ke arahnya dengan wajah yang semringah. “Kakak Cantik! Akhirnya datang juga!” Tangan kecil itu menggandeng tangan Caca dengan akrab. Mengajaknya masuk ke dalam. Wajahnya nampak sangat bahagia. Caca baru melihat Arya sesenang ini. Arya sekarang percaya pada ayahnya bahwa lelaki itu bisa membuat kakak cantiknya datang. Arya sudah menyiapkan banyak mainan di dalam, bersiap jika perempuan itu datang. Ternyata benar saja. Meski agak terlambat dari jam yang dijanjikan, nyatanya Caca memang datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN