Permainan berakhir hanya satu ronde. Begitu selesai, Vante berhenti dan membenarkan pakaian mereka berdua. Eirene tampak lemas, meski ini tak begitu menghabiskan tenaga.
Vante membawa Eirene ke dalam pelukannya, Eirene mengalungkan tangan dan kakinya di tubuh Vante. Vante naik ke atas, Vante bertanya apa Eirene ingin masuk sekarang atau tidak. Melihat sunset yang hampir akan tiba, Eirene lantas turun, dia berkata bila dia ingin berenang sambil melihat sunset.
Eirene melepaskan baju dan celananya, Vante melotot melihat Eirene yang hanya memakai dalaman. Belum lagi saat Eirene melepaskan pakaiannya, Vante meneguk ludahnya kasar, ingin rasanya dia menyeret Eirene ke ranjang. Tapi tidak bisa, dia tak bisa melakukannya.
Eirene berjalan ke kolam dan merendamkan tubuhnya. Saat Eirene melihat ke samping, ternyata Vante juga ikut masuk. Eirene mengangkat alisnya, tapi setelahnya dia memalingkan pandangannya, biarlah Vante masuk.
Mereka berdua berada dipinggiran kolam yang berbatasan langsung dengan pantai. Eirene menatap sunset di depannya sambil tersenyum, Vante memperhatikan Eirene dalam diam. Eirene yang sadar bila Vante tengah menatapnya, lantas Eirene beralih menatap ke arah Vante, Eirene balas tersenyum.
"Baby," panggil Vante.
"Ya," jawab Eirene.
"Jadilah kekasihku, aku mohon. Aku bersungguh-sungguh dengan perasaanku dan aku janji, aku tak akan pernah menyakitimu," ucap Vante.
Senyum Eirene memudar, Eirene memalingkan pandangannya. Sudah Eirene katakan, bahwa dia belum mau menjalin atau merasakan cinta kepada pria lain. Bukannya dia masih memiliki perasaan kepada mantannya, tapi dia hanya sedang ingin sendiri. Soal dia dan mantannya, itu sudah berlalu dan Eirene tak mau lagi berhubungan dengan dia. Yang lalu, biarlah berlalu, dia hanya ingin memikirkan masa depannya kini.
Tak mendapat respon, Vante mengeluarkan napasnya dengan berat. Tampaknya ini sulit untuk Eirene, padahal dia benar-benar serius, dari banyaknya perempuan yang pernah dia temui, dia hanya jatuh kepada pesona Eirene. Vante tentu sudah mengenal berbagai wanita yang pernah mendekatinya, tapi tak ada yang berhasil membuatnya luluh, dan Vante justru tertarik dengan wanita yang memiliki kelahiran sama dengannya. Dia dan Eirene terlahir di negara dan kota yang sama, yaitu Daegu, Korea Selatan.
Ini sungguh aneh, Vante tentu pernah dekat dengan wanita yang katanya terseksi di dunia, tapi nyatanya dia tak tertarik dan tak suka kepadanya. Bukan soal tubuh, tampaknya Vante jatuh kepada Eirene karena sikap dan kepribadiannya.
Awal pertama melihat, Eirene tampak dingin dan cuek. Namun siapa sangka, bila Eirene itu wanita baik, sopan, cantik dan ramah. Rasanya, baru kali ini Vante bertemu dengan wanita baik-baik. Tentu saja, selama ini dia hanya kenal dengan wanita yang memiliki kehidupan liar, meski cantik, tapi jika liar itu menurunkan nilai Vante kepada wanita.
Ada pepatah mengatakan, meskipun dia pria b******k sekalipun. Tapi bila berkaitan dengan calon istrinya, maka dia akan memilih wanita yang baik. Kenapa, karena dia ingin memiliki istri baik yang bisa mengurus anak-anaknya dengan baik.
Merasa tak enak hati, Eirene kembali menatap Vante yang tampak terdiam dengan pemikirannya.
"Kak," panggil Eirene.
Vante tersadar dari lamunannya, dia menatap Eirene dengan asli terangkat seolah bertanya.
"Kak Vante, aku sungguh minta maaf. Aku sudah mengatakan sebelumnya, bila nanti perasaan Kakak itu akan berubah. Kita bertemu tanpa sengaja dan kita akan terbiasa lagi saat kita berpisah." Ucapan Eirene terpotong.
"Tapi aku tak mau berpisah, apapun akan aku lakukan agar kamu tetap di sampingku," ucap Vante.
"Tapi itu tidak mungkin," ucap Eirene.
"Ini sangat mungkin, kamu hanya perlu percaya dan tetap di sampingku Eirene," ucap Vante.
Eirene menggelengkan kepalanya, dia tak bisa dan tak mau. Mereka itu orang asing, mereka tak saling mengenal dan mereka bertemu karena tak sengaja, dan itu hanya suatu kebetulan.
Vante memeluk pinggang Eirene, Eirene ingin menghempasnya, tetapi ucapan Vante membuat Eirene diam.
"Aku hanya ingin memelukmu. Biarlah aku memelukmu sebentar, aku membutuhkanmu Eirene Grace," ucap Vante.
Vante mengeratkan pelukannya, Eirene menatap Vante yang berada di dekatnya. Eirene tersenyum kecil, sedikitnya dia merasa bersyukur karena bertemu dengan Vante.
Namun, kini Eirene tampak berpikir, dia sudah berada di sini selama tiga hari. Tampaknya, dia harus pergi besok, Eirene hanya mengambil cuti sebentar. Eirene tentu tak akan bicara kepada Vante, dia akan pergi secara diam-diam. Bila Vante tau, maka Eirene yakin, Vante pasti akan menghentikannya, tetapi apa boleh buat, dia harus pergi.
Eirene mengelus dan memegang tangan Vante yang tengah memeluknya. Vante menatap Eirene, Eirene tersenyum melihat Vante.
"Kak Vante, terima kasih," ucap Eirene.
"Untuk?" tanya Vante.
"Terima kasih karena Kakak sudah membuatku lupa dengan dia juga rasa sakit yang pernah aku rasakan. Aku kini tau, bila akulah yang salah memilih pria," jawab Eirene.
Eirene sadar, mungkin dulu mantannya itu adalah pria baik, tapi siapa yang akan tau bila kedepannya dia berubah. Namun, melihat Vante, Eirene sedikitnya bingung, dia menilai bila Vante pria tak baik, tapi siapa sangka bila Vante itu pria baik yang berkedok seperti pria buruk. Tentunya setiap orang memiliki sifat dan kepribadian tersendiri, itu tergantung dengan dirinya sendiri.
Bila ada takdir dan kesempatan, maka Eirene akan melabuhkan hatinya kepada Vante. Namun, tampaknya itu tak mungkin, Eirene rasa, mereka tak akan bisa bertemu lagi.
Rasa sakitnya telah hilang, tapi dia belum siap untuk melabuhkan hatinya kepada hati lain. Wanita sangat mudah mencintai, tapi dia akan sangat susah bila harus melupakan, apalagi kepada seseorang yang berarti dalam hidupnya. Cara terbaik melupakan seseorang yaitu mengingat keburukannya, itu sangat mudah, juga yang paling mudah adalah mengikhlaskan. Kita katakan saja kepada hati, bila dia memang bukan yang terbaik dan dia bukan jodoh yang telah tuhan atur untuk kita.
Awalnya pasti terasa berat, namun bila bukan takdirnya, maka perlahan-lahan kita akan lupa. Bila kita berpikir jika rencana baik kita hilang, maka percayalah tuhan memiliki rencana paling baik yang tak pernah kita sangka.
"Intinya aku sangat berterima kasih kepadamu Kak," ucap Eirene.
"Aku turut senang bisa membantumu Baby," ucap Vante.
Vante mendekat, sebelum Vante akan mendaratkan bibirnya, Eirene lebih dulu menghalangi jarak mereka dengan tangannya.
"Jangan cari kesempatan," ucap Eirene sambil tersenyum.
"Sesekali gak apa kali Baby," ucap Vante.
"Aku sih yah gak mau, jadi jangan dekat-dekat," ucap Eirene.
"Ini hitung-hitung balasan atas bantuan ku Baby. Emm, ayolah," ucap Vante.
"Jadi Kakak gak ikhlas," ucap Eirene.
"Gak gitu," ucap Vante.
Melihat Vante tampak kebingungan, Eirene tertawa. Eirene lagi berkata, jika dia tak mau bermain-main dengan Vante. Vante mengeluarkan napasnya berat, hilang sudah keinginannya untuk bermain malam ini.