Malam Penuh Hasrat
"Baby, kita sebaiknya bermain di dalam." Seorang pria bernama Vante Evander dengan mudah membawa tubuh wanita cantik ke dalam kamar. Wanita bernama Eirene Grace itu terlihat pasrah mengikuti langkah dari pria yang beberapa kali telah menyesap bibir ranumnya.
Ruangan yang mereka masuki begitu gelap. Namun, Vante masih bisa melihat jelas keadaan sekitarnya. Dengan hati-hati, pria itu membaringkan Eirene di atas ranjangnya. Ranjang yang semula kosong, kini terisi oleh wanita cantik. Vante pun tersenyum melihat keadaan Eirene, dia lantas ikut naik ke atas ranjang dengan perlahan.
Lagi, Vante menyentuh Eirene, memainkan bagian d**a Eirene dengan tangan dan juga bibirnya. Eirene bahkan sampai memalingkan pandangannya saat melihat Vante yang ada di atasnya. Begini kah rasanya bermain dengan lawan jenis, ini tentu yang pertama untuk Eirene karena sebelumnya wanita itu tidak pernah sekalipun melakukannya.
"Aku tau ini pertama untuk kamu dan itu pasti akan sedikit menyakitkan, tapi setelahnya aku jamin kamu akan menikmatinya. Jadi, bolehkah aku melakukannya, Baby?" tanya Vante.
"Lakukan saja Vante," jawab Eirene, dibuai hasrat yang sudah berhasil menaikkan hasrat birahinya.
"Kalau begitu, aku nggak akan berhenti." Vante kembali mencium bibir Eirene. Membuat wanita itu tersenyum, meski hati dan pikirannya kini tengah berperang.
Mengapa dia mengijinkan Vante melakukannya, apakah karena rasa kesalnya kepada Jeffrey yang mengkhianatinya sehingga dia membalas dendam dengan cara ini ataukah ini keputusannya karena sesuatu yang asing sudah berhasil membuat Eirene merasa candu. Namun nyatanya, saat ingatannya kembali tertarik ke belakang, Eirene kembali mengingat jelas apa yang dialami hari itu. Sebuah pengkhianatan dari kekasihnya yang menjadi alasannya pergi ke Maldives.
Tepat tiga hari lalu, Eirene tampak baru saja keluar dari kantor tempatnya bekerja. Jam pulang kerja memang sudah tiba sejak tadi, rekannya yang lain juga sudah pulang ke rumah masing-masing.
Eirene menatap sekitar. "Sepertinya dia nggak akan jemput aku, dia pasti sibuk bekerja." Wanita itu membuang napasnya pelan. Akhir-akhir ini, kekasihnya yang bernama Jeffrey memang lebih sibuk dengan pekerjaannya. Tak hanya jarang memberi kabar, pria itu juga sangat lama membalas pesannya.
Eirene yang niatnya akan pulang, tampak berpikir ulang. Dia berpikir untuk menemui kekasihnya, dia akan memasak sesuatu untuk menambah semangat pria itu saat bekerja. Karena itulah, Eirene memutuskan pergi ke super market untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan. Begitu selesai belanja, Eirene pergi menggunakan taksi menuju apartemen kekasihnya.
Setibanya di gedung apartemen, Eirene langsung mengambil ponsel miliknya. Dia berniat untuk menghubungi kekasihnya itu.
"Ah, lebih baik, aku ngasih kejutan aja buat Jeffrey." Eirene tampak berpikir sejenak, sepertinya dia tidak perlu menghubungi kekasihnya dan memilih memberi surprise pada pria itu.
Eirene tampak bersemangat saat memasuki gedung apartemen, wanita itu sudah dapat langsung menebak bagaimana terkejutnya Jeffrey saat melihat kedatangannya nanti.
Hanya butuh waktu 5 menit lamanya, kini Eirene tiba di depan unit apartemen kekasihnya. Wanita itu masih berdiri di depan pintu, lalu menekan sandi dan pintu pun terbuka. Eirene melenggangkan kedua kakinya dengan riang. Namun, tiba-tiba suara gaduh terdengar. Itu aneh … suara yang didengarnya seperti suara dari dua orang yang sedang memadu kasih.
"Suara itu …." Eirene menaruh bahan-bahan masakan yang dibawanya di atas meja pantry. Pandangannya juga tertuju pada sepasang higheels yang ada dipojokan dekat pintu. Hal yang terlewat saat dirinya masuk tadi.
"Apa jangan-jangan?" Eirene mulai berpikir yang tidak-tidak. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Wanita itu semakin mempercepat langkah kakinya. Terus mendekati kamar yang menjadi sumber suara itu berasal.
"Ya Tuhan, ternyata benar …." Tubuh Eirene gemetar, ini jelas suara desahan dari sepasang wanita dan pria. Tangan Eirene perlahan membuka pintu hingga membuat suara yang didengar jadi semakin jelas. Dan begitu terbuka, Eirene terpaku saat melihat sepasang wanita dan pria dengan tubuh yang sama lolos tampak bermandikan keringat.
"Jeffrey," panggil Eirene. Suaranya terdengar histeris. Marah, tentu saja. Siapa yang tidak murka saat menyaksikan kekasihnya bercinta dengan wanita lain.
"Eirene …." Pandangan mata Jeffrey seketika membulatkan sempurna, bagaimana bisa Eirene datang ke apartemennya dan lagi, dia sudah melihatnya memadu kasih dengan wanita lain.
"Apa-apaan ini, Jeff?" Air mata Eirene mengalir begitu saja. Rasa sakit, benar-benar sakit. Terlebih saat Eirene melihat siapa wanita yang ternyata telah mengkhianatinya.
"Rose, apa yang kamu lakukan di sini? Apa yang sebenarnya kalian lakukan?!" teriak Eirene dengan penuh kebencian.
Hancur, hancur semua harapan, cinta, hidup, dan kepercayaan yang Eirene punya. Melihat bagaimana penghianatan, juga perselingkuhan di depannya, itu sudah cukup membuat hatinya begitu terluka. Luka yang pastinya akan sulit dia sembuhkan.
Jeffrey pun bangkit dari tempatnya. "Eirene kita bisa bicara baik-baik!"
"Bicara baik-baik katamu, apa aku nggak salah dengar?"
"Aku mohon, kasih kesempatan agar aku bisa jelasin sama kamu. Ini cuma salah paham aja."
"Salah paham? Kamu masih bisa membela diri setelah semua yang aku lihat ini. Baiklah … aku kasih kamu waktu untuk menjelaskan." Eirene pergi lebih dulu dan melangkah menuju ruang tengah, dia ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh kekasihnya itu.
Tak lama kemudian, Jeffrey dan Rose juga ikut keluar dari kamar setelah memakai pakaian kembali.
Melihat itu, Eirene menatap mereka jijik. Sungguh munafik, mereka yang diluar seolah-olah orang tak kenal, nyatanya malah bercinta di belakangnya.
"Sudah berapa kali kalian melakukannya? Apa ini yang pertama?" tanya Eirene.
"Tidak, kami sudah sering melakukannya," jawab Rose.
Jeffrey memberi kode agar Rose diam. Eirene dibuat tak percaya. Jadi, mereka sudah sering menusuknya dari belakang, wah Eirene tidak tahu lagi harus memberi respon apa.
"Aku akui, aku memang melakukan semua ini sama Rose, tapi itu juga salahmu," ucap Jeffrey yang tak mau disalahkan.
"Salahku, apa salahku?" tanya Eirene.
"Kamu yang selalu menolak saat aku ingin mengajakmu berhubungan. Apa kamu pikir itu mudah? Aku itu pria normal yang menginginkan hal yang lebih. Jadi, karena aku nggak bisa dapat dari kamu, jangan salahkan aku bila aku sampai bermain dengan wanita lain," jelas Jeffrey tersenyum tipis. Pria itu terlihat tenang seolah sudah terbiasa berbohong.
Penjelasan panjang dan memuakkan yang didengarnya membuat Eirene semakin gusar. Menurutnya, kenapa jadi dia yang disalahkan. Dia tentunya berhak menjaga harga diri dan menolak jika tidak mau, apa lagi status mereka yang masih pacaran dan belum menikah.
Eirene pun bangkit dari posisi duduknya. Menatap Jeffrey dan Rose secara bergantian dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Eirene, kita bisa memperbaiki ini," ucap Jeffrey memohon setelah berada di dekat Eirene.
Eirene pun melongo tak percaya, memperbaiki katanya. Apa sebegitu bodohnya dia bagi Jeffrey hingga pria itu berpikir jika Eirene tetap akan berada di sampingnya setelah perselingkuhannya terbongkar.
"Maaf aku tidak berminat dengan barang bekas sepertimu." Eirene tak boleh terlihat lemah, dia harus kuat menghadapi dua manusia yang tidak tahu diri seperti mereka. "Sekarang kita putus dan kamu …." Eirene menunjuk ke arah Rose meneruskan perkataan yang masih belum terselesaikan. "Kamu bukan lagi temanku, kamu hanya w************n yang enggak tau malu. Selama ini aku udah begitu baik sama kamu, tapi kamu malah membalasnya dengan sejahat ini! Jangan harap ke depannya aku akan menolongmu lagi!"
Rose hanya menunduk. Tak berani menjawab karena dia tahu, dia salah. Jujur dia takut melihat Eirene saat ini hingga membuatnya sampai bersembunyi di belakang tubuh Jeffrey.
"Eirene, aku pastikan kamu menyesal dengan ucapanmu!" Tak mau kalah, Jeffrey menampilkan wajah yang juga marah sambil menunjuk Eirene.
"Kamu yang akan menyesal! Setelah ini, jangan pernah kamu memperlihatkan diri lagi di depanku!" Eirene berlalu pergi, dia sudah tidak tahan, rasa sakit di hatinya semakin tak karuan.
Begitu keluar dari apartemen Jeffrey, Eirene menangis begitu terisak. Dia sudah berusaha menahannya, tetapi tak bisa. Tangannya kini mulai terlihat mengusap air matanya. Tentu saja dia tidak boleh menangis di sini. Tidak di tempat umum yang hanya akan membuatnya malu.