Pergi

1103 Kata
Mendengar suara pintu dibuka, Esther menatap kedatangan kakaknya dengan wajah senang. "Kakak, akhirnya Kakak pulang. Esther mau bicara soal kemarin." Esther yang awalnya bersemangat, kini terdiam dan tak jadi melanjutkan ucapannya. Melihat Eirene yang tampak kelelahan, bahkan Eirene yang terlihat seperti telah menangis, Esther lantas mendekati Eirene dengan wajah khawatir. "Kakak kenapa?" tanya Esther. Eirene berusaha tersenyum, dia tak ingin adiknya ikut sedih, "Tak apa, Kakak hanya lelah," jawab Eirene. "Mau Esther buatkan teh hangat?" Eirene menolak, Eirene mengatakan dia hanya perlu menenangkannya dengan membersihkan diri. "Kakak ke kamar dulu yah." Esther menganggukkan kepalanya, meski Esther ingin tau apa yang membuat Eirene begitu lelah, biasanya tak seperti itu. Mau selelah apapun itu, Eirene tak pernah terlihat demikian. Eirene masuk ke dalam kamar, dia menjatuhkan tasnya, lalu Eirene masuk ke dalam kamar mandi. Eirene berdiri di bawah shower, Eirene menyalakan showernya, air mulai membasahi seluruh tubuhnya juga pakaian utuh yang Eirene pakai. Dalam guyuran air dingin yang membuat tubuhnya gemetar, Eirene memutar waktu. Dia teringat akan kenangan dulu, kenangan yang telah dia lalui bersama Jeffrey. Eirene sangat merindukan sosok Jeffrey yang dulu, Jeffrey yang dulu selalu ada disampingnya, menemani dia tanpa lelah dan kenal waktu. Jeffrey yang selalu menjadi sandaran ketika Eirene merasa lelah dengan dunia. Tapi kini, dia hanya sendiri, tak ada lagi sosok Jeffrey yang akan bersama dan menemaninya. Semua kenangan lalu akan terkubur dengan waktu. Semua telah hilang, tak ada yang tersisa antara dia dengan Jeffrey. Semuanya telah hancur berkeping-keping dan tak akan bisa diperbaiki. Air mata Eirene jatuh tak tertahan, Eirene menepuk dadanya, dadanya terasa sakit, sakit yang teramat mendalam. Kini yang bisa Eirene lakukan hanya menangis, menangis untuk menyembuhkan luka yang kini dia rasakan. Mengingat bagaimana dia telah membuat rencana masa depan yang begitu indah, Eirene merasa terpukul, cinta membuatnya jatuh sedalam ini. Andai Eirene tau bila akhirnya akan demikian, maka Eirene tak akan menggantungkan hidupnya kepada pria, Eirene tak akan mempercayai pria yang selalu mengucapkan janji-janji manis yang nyatanya hanya dusta. Bahkan Eirene memberikan seluruh cintanya, ini yang membuat Eirene merasa hancur, cintanya berujung tragedi. Eirene terjatuh di lantai, guyuran shower masih membasahi tubuhnya yang malang. Eirene menjerit merasakan sakit, dia tak tahan, ini terlalu menyakitkan. Namun, semua telah terjadi, ini sudah menjadi keputusan akhir dan ini adalah keputusan yang Jeffrey pilih. Hubungan mereka berakhir dengan adanya orang ketiga. "Tuhan, kenapa harus sesakit ini, kenapa dia harus menyakitiku dengan tak berperasaan." Eirene semakin menangis, dia berteriak untuk menghilangkan rasa sakitnya. Karena Eirene tak bisa menahan ini sendiri, akhirnya Eirene bercerita kepada Esther juga Dave, teman pria terdekatnya. . . . Keesokan harinya, Eirene seperti biasa akan pergi bekerja, dia seolah melupakan kejadian kemarin. Meski tak dipungkiri, bila Eirene pasti akan bertemu dengan Rose. Saat bertemu, Eirene mengacuhkannya, Eirene tak mau lagi berurusan dengan dia, ataupun mengingat kejadian kemarin. Sepulangnya dari kantor, Eirene lantas segera pulang ke apartemennya. Saat dia tiba di kawasan apartemen, Eirene dan Esther secara tak sengaja bertemu di lobby. Mereka lantas berjalan bersama menuju unit apartemen sambil berbincang. "Hai sayang." Suara Jeffrey mengalihkan perhatian Eirene dan Esther. "Ngapain kamu di sini?" tanya Eirene. "Mengunjungi kekasihku, tentu saja," jawab Jeffrey. "Heh! Kamu cuman mantannya, berani sekali kamu masuk tanpa izin kami," maki Esther. "Wah, adik ipar, kamu tak boleh berkata seperti itu," ucap Jeffrey. "Dih, mana sudi gue jadi adik ipar lu Jamal," maki Esther. Jeffrey tersenyum miring, memang sangat merepotkan bila harus beradu argumen dengan Esther. Jeffrey mencengkram tangan Eirene, Eirene tentu menolak, Esther lantas membantu kakaknya. "Lepas." Eirene berontak. Jeffrey menarik Eirene. "Ikut aku, kita harus bicara!" "Gak," tolak Eirene. "Ihh lepasin Kakak gue Jamal," ucap Esther. Jeffrey mendorong Esther agar mundur sampai Esther jatuh ke lantai. Begitu tak ada halangan, Jeffrey menyeret Eirene untuk mengikutinya keluar. "Lepas Jeffrey," teriak Eirene. "Diem gak," bentak Jeffrey. Jeffrey terus saja menyeret Eirene. Esther bangkit, dia mencoba menahan agar kakaknya tak dibawa pergi. Tangan Jeffrey terangkat, saat dia akan menampar Esther, seseorang lebih dulu menahannya. "Ngapain lu di sini, mau sok jadi pahlawan?" tanya Jeffrey. "Lu yang ngapain di sini, gak cukup lu nyakitin Eirene," jawab Dave. "Terserah gue lah, ini bukan urusan lu," ucap Jeffrey. "Ini urusan gue kalau lu berani nyakitin mereka berdua," ucap Dave. Jeffrey menghempas pegangannya ditangan Eirene, Eirene memegang pergelangan tangannya yang memerah akibat tarikan kasar tangan Jeffrey. "Lu berani sama gue, lu mau cari ribut hah?!" teriak Jeffrey. "Lu pikir gue takut," ucap Dave. "Maju lu kalau berani," ucap Jeffrey. Perkelahian tak bisa dihindari, mereka berdua saling menyerang. Eirene dan Esther hanya bisa diam. Tapi, posisi Dave lebih unggul, Jeffrey yang kalah lantas bangkit dan melarikan diri. Meski sebelum lari, Jeffrey mengancam Dave. "Dave, kamu gak apa-apa?" tanya Eirene. "Gak apa Rene. Kalian baik-baik aja kan?" tanya Dave balik. "Kita baik Abang," jawab Esther. Eirene mempersilahkan Dave untuk masuk, Esther membawa es batu untuk mengobati memar di wajah Dave. Sambil mengobati memarnya, Dave bertanya apa yang terjadi, Esther mewakili dan mengatakan jika tiba-tiba saja Jeffrey membuat keributan bahkan melakukan tindakan kasar. Esther bahkan mengadu jika dia di dorong sampai jatuh ke lantai. "Lantainya baik kan?" tanya Dave. "Ya, masa lantainya sih yang ditanya. Wah, kita udah gak temenan kalau gini," kesal Esther. Esther, Eirene dan Dave tertawa. Lalu, Dave mengatakan agar mereka mengubah kata sandi apartemen, takutnya Jeffrey kembali lagi. Selain itu, Dave juga datang ke sini untuk bicara dengan Eirene, Eirene tentu penasaran apa yang ingin Dave katakan. Dave menyodorkan dua tiket berlibur ke pantai, dia sengaja membeli tiket ini untuk Eirene. Eirene mengambil tiketnya, maldives, pantai ini adalah tujuan wisata yang selalu ingin Eirene kunjungi. "Kamu bisa pergi bersama Esther," ucap Dave. "Sayang sekali, aku tidak akan bisa, aku sedang ujian," ucap Esther. "Kalau begitu, kamu ajak saja teman yang lain," ucap Dave. "Kamu saja," ucap Eirene. "Benar. Kakak pergi sama Abang aja, itu lebih aman," ucap Esther. Dave menganggukkan kepalanya, dia tentu bersedia untuk pergi menemani Eirene. Eirene mengucapkan terima kasih, entah apa selain kata terima kasih yang bisa Eirene ucapkan kepada Dave. Dave sudah begitu baik kepadanya juga Esther, terkadang Eirene bingung, mengapa Dave begitu baik kepadanya. "Kitakan teman, tentu saja aku harus bersikap baik," ucap Dave. "Teman aja nih, gak mau lebih?" tanya Esther. "Esther gak boleh gitu," ucap Eirene. Esther tertawa, "Abisnya gimana gitu," Sebelum Esther berkelanjutan, Eirene membungkam bibir Esther dengan tangannya, Esther semakin tertawa terbahak-bahak, dia sangat suka menjahili Eirene dan Dave. Entah kenapa, Eirene merasa sangat excited untuk pergi, tampaknya memang Eirene ingin pergi menenangkan diri sebelum kembali menghadapi kenyataan pahit. Dia tak akan mungkin kembali kepada Jeffrey, cukup satu kali saja dia jatuh, karena pria yang suka memainkan wanita tak akan bisa setia, mereka akan tetap seperti itu sebelum merasakan karma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN