Bermain

1084 Kata
Setelah makan sore, tak terasa cuaca sudah mulai menggelap, mereka tak melewatkan untuk menatap sunset sore ini. Seperti biasa, mereka duduk berdampingan di balkon yang menghadap langsung ke pantai. Mereka juga minum sambil memakan snack, jika Vante meminum vodka, beda halnya dengan Eirene, dia lebih memilih minum cola. Eirene yang semula menatap ke depan, kini menatap ke sampingnya, sedari tadi Vante menatapnya tanpa berkedip. "Kak Vante, kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Eirene. "Aku sedang bingung saja," jawab Vante. "Bingung kenapa?" tanya Eirene lagi. "Bingung untuk mengungkapkan bagaimana cantiknya kamu sekarang," jawab Vante. Eirene menatap Vante masih dengan wajah kebingungan, Vante terlalu banyak memuji sampai Eirene bingung harus merespon seperti apa. Tapi tunggu, dari gelagatnya, Eirene tau pasti ada apa ini. "Jika Kakak berpikir untuk bermain-main, tampaknya aku tak minat," ucap Eirene. Vante mendengus sebal, padahal dia sudah sangat tak sabar untuk kembali bermain dengan Eirene. Vante mengusap dagunya pelan, dia harus menenangkannya dengan air dingin jika begini. Eirene tersenyum kecil, dia sedikitnya mulai tau gelagat Vante ketika akan memintanya bermain bersama. Eirene benar-benar sedang tidak mood, pikirannya kini sedang memikirkan bagaimana keadaan Esther di Korea, meski saat dia tak ada, Eirene menyuruh Esther untuk menginap di rumah Selena temannya. Bukan tanpa alasan, Eirene tak mau ada sesuatu hal buruk terjadi kepada adiknya, Esther lebih aman bersama Selena, dari pada sendiri, Eirene takut Jeffrey berulah. Atensi Vante dan Eirene teralihkan saat mendengar suara-suara laknat dari kamar yang tak jauh dari tempat mereka. Eirene membungkam mulutnya begitu melihat ada sepasang kekasih tengah bermain di luar kamar, sungguh pemandangan yang tak menyenangkan. "Ouh man! Kalian keterlaluan, aku tengah menenangkannya tau," teriak Vante. Eirene membungkam bibir Vante dengan tangannya, bisa-bisanya Vante mengatakan itu. "Kak Vante jangan teriak, malu tau." Eirene melepas bungkaman tangannya. "Malu mana aku sama mereka." Tunjuk Vante dengan dagunya pada sepasang kekasih yang makin menjadi. Eirene merinding, suara mereka terlalu kencang. "Baby, kamu yakin gak mau main juga?" tanya Vante. Eirene memukul d**a Vante, main apanya, sudah Eirene bilang dia tak mau. Vante bangkit dari tempat duduknya, "Ya udah aku masuk dulu. Kalau kamu masih mau di sini, silahkan saja," ucap Vante. "Aku ikut." Eirene juga ikut berdiri dan segera masuk ke dalam kamar, setidaknya di dalam suara orang yang sedang bermain tak begitu terdengar jelas. Vante membaringkan tubuhnya, Eirene tampak bingung, haruskah dia juga ikut berbaring atau tidak. Vante menatap Eirene yang malah diam seperti patung, Vante menepuk tempat di sampingnya. "Kemarilah," ucap Vante. Dengan perlahan Eirene naik ke atas ranjang, dia berbaring di sisi satunya dengan jarak jauh. Vante memperhatikan Eirene yang malah menjauhinya. "Kenapa di situ? Jangan jauh-jauh," ucap Vante. Karena Eirene tak mendekat, akhirnya Vante yang berinisiatif untuk mendekatinya. Vante menjadikan salah satu lengannya untuk menjadi bantalan kepala Eirene, Eirene sendiri memperhatikan Vante dalam diam. Vante tau Eirene pasti memikirkan apa mungkin dia akan menyerang atau tidak. Tenang saja, Vante tak akan memaksa jika Eirene tidak mau. Vante menutup matanya, Eirene masih menatap Vante dalam diam. "Kak Vante," panggil Eirene. "Emm." Gumam Vante dengan mata yang masih tertutup, "Jangan mengajakku bicara jika tak mau aku memakan mu Eirene," ucap Vante. "Aku hanya ingin bertanya, apa Kakak baik-baik saja?! Bukankah jika sudah terangsang tanpa melakukannya itu akan sakit?" tanya Eirene. "Aku bisa menghandle nya," Vante membuka mata dan menatap Eirene, "Kecuali kamu mau bermain bersamaku," ucap Vante. Terdengar suara Eirene yang meneguk ludahnya. Vante tersenyum, lalu mendekat pada telinga Eirene, tanpa diduga Vante menjilat pelan. Eirene sedikit menjauhkan, itu geli dan telinganya jadi basah akibat jilatan Vante. Tak mendengar penolakan, lantas Vante bangkit, dia kini berada di atas Eirene dengan kedua tangan untuk menjaga posisi mereka agar tak dekat. Eirene merasa gugup sekarang, dia juga tak bisa menolak, nyatanya dia juga menginginkan Vante memainkan tubuhnya. Tangan Vante mengusap kepala, pipi dan berakhir di bibir tipis Eirene. Sedangkan tangan Eirene memegang tangan Vante, Eirene seolah memberi kode bahwa Vante boleh memulainya. Vante tersenyum, dia mengagumi paras bak demi milik Eirene, melihat bagaimana bibir itu sedikit terbuka, Vante lantas saja menyerbu bibir Eirene. Eirene membalas gerakan bibir Vante di atas bibirnya. Tak lama, Eirene memukul bahu Vante, Vante lantas berhenti. Eirene tampak terengah-engah, mereka melakukan ciuman terlalu lama bahkan Vante menghabiskan semua stok pernapasannya. Melihat Eirene sudah bisa bernapas dengan seimbang, Vante kembali menciumnya. Tangan Vante kini mulai menjelajah mencari hal lain yang bisa dia eksplor. Eirene tak kuasa menahan dirinya, meski tertahan karena pergerakannya yang sangat tipis karena kungkungan Vante. Demi apapun, Eirene merasa menggila, dia merasakan permainan Vante lebih gila dari pada sebelumnya. Eirene ingin berteriak untuk mengungkapkan apa yang tengah dia rasakan, tapi tak bisa, Vante membungkam mulutnya. Namun begitu Vante melepaskan ciuman mereka dan terfokus pada permainannya, Eirene dengan leluasa mengeluarkan suara-suara yang sempat tertahan. Tak lama, Eirene bernapas lega. Eirene mendongakkan kepalanya ke atas, tubuhnya melengkung dan tangannya tengah meremas sprei sebagai sasaran pelampiasan atas apa yang tengah dia rasakan sekarang. Permainan utama baru saja akan di mulai dan Eirene lagi berteriak kecil. Lalu setelahnya Vante mulai memainkan permainannya. Eirene yang semula meremas seprai, kini tangannya mengelus lengan Vante. Eirene tersenyum melihat bagaimana Vante yang sedang bermain, mata Eirene tak bisa berpaling dari wajah Vante. Semakin dekat jarak mereka, semakin Eirene memuji akan ketampanannya. Eirene benar-benar tak habis pikir, semesta mempertemukan dia dengan pria yang lebih tampan. Mantannya itu sungguh tampan luar biasa, tapi Vante, dia melebihi ketampanan mantannya juga pria yang pernah Eirene temui. Benar apa kata orang, ketika kita terluka akan sebuah keindahan, nyatanya semesta memberikan keindahan lain untuk menyembuhkan luka lama, bahkan keindahannya lebih-lebih indah dari sebelumnya. "Lanjut Baby?" tanya Vante. "Iya Kak," jawab Eirene. "Kamu gak capek kan?! Kita akan melakukan gerakan lain, aku jamin kamu makin suka." Kata-kata Vante membuat Eirene tak bisa berkata, dia tentu akan menerima semua permainan yang Vante berikan untuknya. Malam yang gelap dan sepi tergantikan dengan suara mereka yang saling bersahutan, mereka tak peduli apa suara mereka terdengar keluar atau tidak. Yang jelas mereka ingin melampiaskannya dan mungkin juga, mereka tengah berlomba dengan tetangganya yang sebelah, yang sebelumnya juga tengah bermain. Selesai bermain, Vante memeluk tubuh Eirene. Vante menciumi kepala dan wajah Eirene, Eirene hanya tersenyum mendapati perhatian manis dari Vante. "Selamat malam, tidur yang indah Baby," ucap Vante. "Selamat malam juga Kak Vante," ucap Eirene. Vante memeluk Eirene erat, Eirene balas memeluk Vante. Mereka berharap ini tak cepat berlalu, mereka masih ingin menghabisi waktu bersama, meski nanti entah apa yang akan terjadi. Bagi Eirene, dia kini hanya ingin menikmati waktunya, meski mungkin dia akan menyesal telah memberikan mahkota yang selalu dia jaga dengan baik kepada orang asing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN