Tak perlu menunggu lama, akhirnya Gavin turun dan duduk di sebelah Kia.
Kia hanya menatap Gavin sekilas dan kembali dengan kesibukannya.
"Gimana tadi malam?." Tanya Sena. Kia hanya menatap Sena dengan bingung, Sedangkan Gavin terbatuk mengerti kemana arah pertanyaan Sena.
"Gimana apanya mi?." Tanya Kia dengan polosnya sambil menatap Gavin dan Sena bergantian.
"Itu, udah bikin cucu belum buat mami?. " Tanya Sena lagi. Langsung saja Kia menatap Sena dengan wajah yang sudah memerah.
"Apa sih mi?." Ucap Kia dan menatap Gavin sekilas. Gavin hanya berusaha cuek dengan menyeruput kopinya. Padahal sekarang dia merasa sangat canggung dengan suasana seperti itu.
"Gimana vin?." Tanya Nila ikut ikutan bertanya.
"Untuk sekarang mungkin belum saatnya ma." Jawab Gavin.
"Iya ma, Kia juga belum siap." Ucap Kia.
"Yah.. Padahal mami udah pengen punya cucu." Ucap Sena sedih.
"Iya, menurut mama jangan terlalu lama ditundanya." Saran Nila.
"Iya, nanti diusahain ma." Jawab Gavin.
Semua sudah berkumpul di meja makan. Tidak ada pembicaraan saat makan berlangsung. Mereka hanya sibuk dengan makanan masing masing.
Setelah makan selesai.
"Apa semuanya sudah selesai?." Tanya Alfi pada Gavin.
"Iya sudah pa, mungkin nanti sore sudah bisa pindah." Jawab Gavin.
"Lebih cepat lebih baik, biar kalian bisa labih mandiri." Ucap Alfin.
"Iya pa." Jawab Gavin. Sedangkan Kia hanya masa bodoh dengan percakapan antara Gavin dan Alfin, dia hanya sibuk memakan buah yang sudah disiapkan oleh Nila.
Setelah itu Gavin pergi ke kamarnya, sedangkan Kia masih sibuk dengan makanannya. Sadar dengan Kia yang masih berada di meja makan, Sena menyuruhnya untuk menyusul Gavin, awalnya Kia menolak tapi akhirnya Senalah yang menang dan Kia terpaksa menuruti perintah sang mami.
Saat Kia membuka pintu kamarnya, ia melihat Gavin sedang menerima telepon dari seseorang. Kia hanya diam dan mencari ponselnya. Setelah mencari cari diberbagai tempat ia tidak juga mendapatkan ponselnya, sampai akhirnya ia ingat jika ponselnya ada pada Gavin.
Kia duduk di sudut ranjang menunggu Gavin selesai dengan sang penelpon. Selang beberapa menit akhirnya Gavin mengakhiri panggilannya.
"Kak, ponsel aku mana?." Ucap Kia sembari mengulurkan tangannya pada Gavin.
"Nih." Ucap Gavin memberikan ponselnya pada Kia.
"Bentar lagi kemasi barang barang kamu." Perintah Gavin. Kia menatap Gavin bingung.
"Buat apa kak?." Tanya Kia dengan wajah bertanya tanya.
"Nanti sore kita pindah ke rumah yang sudah saya beli." Jawab Gavin. Kia terkejut dengan Ucapan Gavin. Dia tidak kepikiran jika mereka akan pindah rumah dan hanya ada mereka berdua. Sedangkan masih ada Sena, Nila dan lainnya di rumah Kia masih saja canggung dengan Gavin. Apalagi nanti hanya ada mereka berdua saja.
"Apa?, Kok mendadak sih kak?." Tanya Kia lagi.
"Lebih cepat lebih baik, biar ngak telalu ngerepotin orang tua juga." Jawab Gavin. Kia hanya menganggukkan kepalanya lemas. Dia segera mengambil koper dan mengemasi barang barangnnya.
Akhirnya sore ini mereka sampai di depan rumah baru mereka yang dimana rumahnya cukup jauh dari rumah orang tua mereka. Gavin sengaja membeli rumah jauh dari rumah orang tuanya atupun mertuanya karena jikalau ada masalah, orang tua mereka tidak akan tau dan ikur campur. Karena Gavin tidak mau jika masalah rumah tangganya sampai di ketahui orang tuanya dan membuat mereka khawatir.
Kesan Pertama Kia melihat rumah itu "MEWAH". Tapi Kia berfikir "Pasti capek kalo bersihinnya, dan bakalan sepi juga, apalagi yang tinggal hanya gue dan kak Gavin di rumah yang besar dan mewah ini. Mungkin nanti juga ada beberapa pembantu." .
Kia memasuki rumahnya dan melihat sekeliling. Rumah itu sudah di penuhi berbagai perabotan rumah tangga. Sedangkan Gavin sibuk membawa barang barang mereka menuju kamar mereka. Kia mengikuti Gavin dari belakang dan setelah itu langsung menyusun barang barang mereka dan Gavin turun kebawah mengambil barang yang ketinggalan di mobil.
Setelah menyusun barang barang mereka, Kia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan setelah itu mencoba memasak, Kia belum pernah mencoba memasak sebelumnya karena ia hanya sibuk dengan pendidikannya sehingga ia lupa untuk mencoba hal yang pasti di butuhkan untuk masa depannya.
Saat selesai dengan urusannya, Kia berjalan menuju dapur. Ia melihat persediaan yang ada di kulkasnya, ternyata belum ada isi satupun. Ia berencana untuk pergi membeli bahan bahan dengan Gavin, tapi saat melihat Gavin sedang sibuk dengan laptopnya ia jadi mengurungkan niatnya.
Kia berencana untuk membawa mobil. Ia mendekati Gavin dan meminjam kunci mobilnya.
"Kak." Panggil Kia.
"Hmm.." Gumam Gavin dengan masih melihat layar laptopnya.
"Pinjam kunci mobil dong." Pinta Kia. Gavin langsung memberhentikan ketikannya di laptop dan melihat ke arah Kia.
"Ngak." Jawab Gavin singkat , padat, dan jelas.
"Betar aja kak." Pinta Kia lagi.
"Emang buat apa?." Tanya Gavin.
"Pergi belanja, di kulkas ngak ada apa apa." Jawab Kia.
"Yaudah, tunggu bentar." Ucak Gavin berlalu menuju kamar dan kembali memakai jaketnya.
"Ayo." Ucap Gavin.
"Bukannya kakak masih ada pekerjaan?." Ucap Kia.
"Sebanyak apapun pekerjaan saya, membiarkan kamu membawa mobil itu bukan pilihan terbaik. Atau kamu mau bunuh diri atau mau ngebunuh orang?." Ucap Gavin dingin.
"Ngak segitunya juga kali kak." Jawab Kia sembari mengerucutkan bibirnya. Gavin berjalan mendahului Kia, sedangkan Kia berjalan di belakang Gavin dengan menatapnya dengan tatapan kesal. Padahal itu salah satu kesempatan Kia untuk kembali mengendarai mobil.
Di mall, Kia sibuk memilih belanjaannya dan Gavin mendorong troli belanjaan mereka. Selama membeli keperluan mereka, Kia selalu waspada dan menjaga jarak dengan Gavin. Siapa tahu ada orang kampus yang melihat mereka belanja bersama, Itu pastikan menjadi tranding topik di kampusnya. Walaupun Kia sudah menjadi istri sah Gavin, tapi ia masih ingin hidup dengan tenang.
"Kak, kakak yang pergi bayar ya, aku tunggu di mobil aja. Ntar kalo ada yang liat kan jadi berabe masalahnya kak." Ucap Kia.
"Dasar, yaudah sana." Ucap Gavin.
"Oke, sampai jumpa di mobil kak." Ucap Kia dengan senyum kemenangan di wajahnya. Gavin hanya melihat Kia menjauh darinya.
Saat menunggu kasir mengitung belanjaannya, ada seseorang yang memanggil Gavin yang keberadaannya tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Pak Gavin, Bapak beli apa?." Tanya nya.
"Ini beli belanjaan bulanan. Ibuk Nia lagi apa disini ?." Ucap Gavin. Ya, Dia Nia, Seorang dosen yang juga mengajar di kampus yang sama dengan Gavin. Banyak mahasiswa yang menyukainya lantaran Nia memiliki wajah yang cantik, tinggi , putih dan juga ramah. Sudah jadi rahasia umum jika Nia menyukai Gavin. Tapi Gavin hanya berlaku seolah olah tidak mengetahuinya dan masa bodo.
"Biasa pak, lagi jalan jalan aja. Sudah selesai belanjaanya pak?." Tanya Nia melihat ke arah kasir yang sedang memasukkan belanjaannya kedalam plastik.
"Oh iya bentar, saya bayar dulu." Ucap Gavin. Gavin berharap Nia meninggalkannya, ternyata Nia malah menunggunya.
"Mau makan bareng saya dulu pak?." Tawar Nia dengan penuh harap.
"Maaf, saya ngak bisa, saya lagi buru buru. Saya duluan." Jawab Gavin dan pergi meninggalkan Nia.
Kia yang bosan menunggu Gavin memutuskan memainkan ponselnya. Akhirnya yang Kia tunggu tunggu datang juga.
"Lama amat sih kak." Ucap Kia.
"Antrian Panjang." Jawab Gavin singkat.
"Iyain aja deh kak, saya capek." Ucap Kia.
"Saya yang antri, saya yang bawa belanjaan, kenapa kamu yang capek?." Ucap Gavin kesal.
"Ya kan tadi saya habis beres beres barang kak, sesampai di rumah ntar juga saya yang beresin belanjaannya, dan juga stamina cewek sama cowok itu beda." Jawab Kia solah olah dia yang lebih lelah. Padahal dilihat dari sisi manapun yang paling lelah itu sudah dipastikan Gavin. Gavin hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.
"Iyain aja, saya juga capek." Balas Gavin sambil melajukan mobilnya keluar dari area parkir.
Sesampainya dirumah Kia langsung membereskan belanjaannya yang cukup banyak itu. Gavin yang kelihatan lelah masuk ke kamarnya. Kia hanya melihat kepergian Gavin dengan kesal.
"Ngak ada niatan banget bantuin gue." Gumam Kia.
"Yaudah deh, lo harus iklas ya Kia. Gimanapun juga lo udah jadi istri orang. Lo ngak boleh manja lagi. eh tunggu, Apa gue manja?." Ucap Kia pada diri sendiri.
"Ah.. bodo amat, pusing gue." Ucap Kia dan kembali pada kesibukannya.
Awalnya Kia berencana untuk masak, tapi Setelah melihat bahan bahan yang begitu banyak, Kia menjadi bingung mau masak apa. Dan lagi ia juga belum bisa memasak. Akhirnya Kia memutuskan mencari tutorial memasak di youtube.
Sudah setengah jam melihat beberapa tutorial memasak ia belum juga memutuskan apa yang akan dia masak. Kia terlalu pilih pilih hanya untuk memasak, yang ini susah lah, ribet lah, terlalu simple lah, lama lah, dan lain sebagainya.
Dan pada Akhirnya Kia memutus kan memesan makanan saja. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Satu jam yang di lewati Kia menjadi sia sia.
Setelah makanannya sampai, Kia memindahkannya kedalam Piring. Setelah itu ia pergi kekamarnya untuk memanggil Gavin.
"Kak bangun, makan dulu." Ucap Kia dengan menggoyangkan tubuh Gavin yang terbaring di atas kasur.
"Iya bentar." Ucap Gavin.
"Cepetan, aku tungu di bawah." Ucap Kia. Tanpa Kia sadari dari "saya" sudah berefolusi menjadi "aku". Bahkan Gavin yang mendengarnya menjadi bingung sendiri.