Masih Virgin
“Butuh dana cepat, masih virgin.. “
Dengan jemari yang dingin dan gemetar, Ayana yang baru saja mendownload aplikasi kencan satu malam, mengetikkan sebuah keterangan singkat pada profilnya. Lalu, tanpa perlu menunggu lama, sebuah pesan masuk dari akun anonim.
“Butuh berapa?”
Ayana menahan napas. Mencoba masuk ke profil si anonim dan ia tidak mendapatkan informasi apapun di sana. Dengan ragu, ia membalas,
“Dua puluh juta.”
Balasan datang seketika, membuat jantungnya berdegup kencang,
“Saya beri lima puluh juta. Datang ke Hotel Artemis, kamar 808. Sekarang.”
Sepuluh menit sebelumnya, Ayana berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia menurunkan sedikit garis leher tali tank top merah berbahan satin yang dikenakannya, hingga membuat belahan dadanya yang padat tampak menonjol, seolah memberontak ingin keluar dari kain menyesakkan itu. Ditambah lagi, ia memutuskan untuk tidak memakai bra, memamerkan bentuk tubuhnya agar tercetak jelas di balik kain satin tipis tersebut. Tangannya yang gemetar mengangkat ponsel, mencoba mengambil beberapa foto selfie.
Ayana mencoba memilih foto yang menurutnya paling menarik dan berani, tapi beberapa saat ia ragu. Kemudian tangannya terangkat kembali, mengambil beberapa foto lagi.
“ Ya udah, nekat aja. Mau gimana lagi”
Ia menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang sarat akan keputusasaan. Sebelum mengunggah foto itu ke aplikasi kencan satu malam, ia menutupi wajahnya dengan stiker emoji. Ia harus memastikan tidak ada satu orang pun yang mengenalinya, dan tanpa menunggu lama seseorang sudah menawarnya.
Keputusan gila ini bukan sesuatu yang ia ambil secara impulsif. Selama dua hari, Ayana terus bergelut dengan nuraninya. Aplikasi cinta satu malam itu sudah ada di ponselnya bahkan sejak seminggu yang lalu. Ayana membukanya setiap malam, mencoba belajar memahami selera pasar.
“ Perusahaan ayah, resmi gulung tikar. Bulan ini Ayah belum bisa mengirimimu uang “
Kalimat ayahnya , terus terngiang di kepalanya. Saldo di rekeningnya kini hanya tersisa dua ratus ribu rupiah, sementara tagihan semester kuliah kedokterannya sudah menanti untuk dilunasi.
Tanpa memberi ruang bagi keraguan untuk mengambil alih, Ayana segera bersiap. Ia mengenakan masker, kacamata hitam, dan topi untuk menutupi identitasnya. Taksi online membawanya membelah jalanan kota yang dingin menuju hotel tersebut.
Setibanya di sana, Ayana melangkah gontai menuju lantai delapan. Lorong hotel itu begitu sunyi, hanya derap langkahnya yang terdengar menggema. Di depan pintu bernomor 808, ia berhenti. Tangannya yang berkeringat mengetuk pintu kayu itu sebanyak tiga kali.
Ceklek.
Pintu perlahan terbuka. Ayana mendongak, bersiap menghadapi pria asing mana pun yang akan membelinya malam ini. Namun, napasnya justru tercekat di tenggorokan. Kakinya seolah terpaku ke lantai.
Pria yang berdiri di hadapannya bukan orang asing. Ia adalah Pak Morgan, dosen mata kuliah kedokteran yang paling ditakuti di kampus karena sifatnya yang kejam dan perfeksionis. Lebih mengejutkannya lagi, pria itu terkenal dengan gosip dingin yang beredar di kalangan mahasiswa, bahwa ia adalah seorang gay yang tidak pernah melirik wanita mana pun.
Ayana melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang terasa sangat dingin. Ia masih membiarkan masker dan kacamata hitamnya terpasang. Di hadapannya, Morgan berdiri dengan hanya mengenakan handuk kimono putih yang longgar. Rambutnya yang sedikit basah dan tetesan air di lehernya menunjukkan bahwa ia baru saja selesai mandi.
Morgan menatapnya lurus, tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya. Dengan satu gerakan tangan yang dingin, ia memberi isyarat agar Ayana duduk di tepi ranjang.
Pandangan Ayana liar menyapu sekitar. Di atas nakas, tepat di sebelah lampu tidur, sebuah kotak K0ndom yang masih tersegel tampak begitu mencolok di bawah lampu temaram.
Ayana menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan di dasar hatinya, ia melepaskan masker dan kacamata hitamnya, menampakkan wajah yang pucat pasi.
"Pak Morgan, ini saya... Ayana," bisiknya gemetar.
"Saya tahu." Jawaban itu singkat, tenang, dan menusuk. Mata Ayana membulat sempurna.
"Meski wajahmu kamu tutup dengan stiker di aplikasi itu, saya tahu itu kamu sejak detik pertama kamu mengunggah foto tersebut." Lanjutnya kemudian.
DEG.
Dunia Ayana seolah runtuh. Jika pria ini sudah tahu sejak awal, lalu apa tujuannya memancingnya ke sini?
"Ma-maaf, Pak. Kita batalkan saja semuanya. Saya mohon, jangan ceritakan ini pada siapa pun di kampus. Ini... ini kali pertama saya, sungguh," suara Ayana pecah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia sadar betul bahwa keputusan impulsifnya malam ini bisa menjadi bumerang yang menghancurkan masa depannya di tangan sang dosen yang terkenal tanpa ampun itu.
Namun, siapa sangka, Morgan justru melangkah mendekat. Pria itu mengurung tubuh Ayana dengan lengannya yang besar dan kokoh di kedua sisi tubuh gadis itu, membuat Ayana terkunci di antara sandaran kepala ranjang dan tubuh dosennya.
"Kamu pikir saya membiarkanmu datang ke sini hanya untuk membatalkannya begitu saja?" suara berat Morgan merendah, menekan tepat di depan wajah Ayana.
Ia kemudian menunjuk ke arah nakas dengan dagunya.
"Sekarang, lakukan tugasmu. Pasang pengaman itu ke milik saya.”