Tepuk tangan panjang mengiringi langkah Veanna meninggalkan panggung. Malam kedua tour kembali berakhir dengan sukses. Meski tubuhnya terasa lelah, senyum yang dia berikan kepada para penggemar tetap tulus hingga tirai panggung benar-benar tertutup. Setelah menyelesaikan sesi singkat bersama panitia dan berpamitan dengan para kru, Veanna berjalan menuju area parkir belakang gedung. Udara malam terasa jauh lebih sejuk dibandingkan panasnya lampu sorot beberapa menit sebelumnya.
Wanita itu sedikit memijat tengkuk lehernya untuk mengusir rasa pegal. Selain kurang tidur dia juga kadang lupa minum vitamin yang terus dia bawa setiap hari. Wanita itu berjalan sedikit cepat ketika melihat Christopher berdiri di samping mobil hitam. Wanita itu tersenyum dan langsung menghampirinya.
“Hai … rasanya hari ini lebih melelahkan dari kemarin.” Kata Veanna.
Christopher menerima tas kecil yang wanita itu berikan, lalu menyimpannya di mobil setelah memastikan kalau Veanna sudah duduk dengan tenang di samping kemudi. Sambil menunggu seorang pria itu mulai menawari Veanna sebotol minum dan juga satu piring kue. Mungkin bisa mengganjal perut Veanna yang tiba-tiba lapar nanti?
Lima menit berlalu hening diantara mereka. Veanna sibuk dengan kue di tangannya sedangkan Christopher sesekali menatap jam tangannya dan juga menatap pintu gedung pertunjukkan. Orang itu tak kunjung datang, padahal Veanna sudah mengeluh lelah sejak tadi.
“Tinggal saja kalau lama. Dia biar naik taksi.”
Christopher menurut, ketika pria itu ingin melajukan mobilnya, Shandra keluar dengan sedikit berlari. Sejak tadi dia terus memegang tablet dan juga ponselnya, dia menghampiri Veanna dan meminta maaf. Jika wanita itu tidak bisa kembali bersama, dia harus kembali ke ballroom karena ada kesalahan jadwal. Jika dia biarkan semuanya akan kacau. Meskipun Veanna meminta besok saja diurus karena dia tahu jika Shandra juga sama lelahnya dengan dirinya. Tapi yang ada Shandra menolak, karena dia tidak bisa memajukan masalah ini terus ada dia harus menyelesaikan ini juga agar besok bisa tenang dan memikirkan yang lain.
Veanna tidak bisa berkata apa, dia akan selalu seperti itu. Akhirnya, Mobil pun melaju meninggalkan gedung pertunjukan. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini suasana di dalam mobil jauh lebih tenang. Veanna menyandarkan kepalanya ke jendela. Cahaya lampu kota silih berganti melewati kaca mobil, menciptakan bayangan yang bergerak perlahan di wajahnya.
"Capek sekali?" tanya Christopher setelah beberapa menit berlalu.
Veanna membuka matanya menatap Christopher sejenak sebelum kembali menutup matanya. “Apa kelihatan?”
Pria itu mengangguk. “Sangat.”
Veanna tertawa. “Aku kira aku sudah pandai untuk menyembunyikan ekspresi pada orang lain.”
Mungkin jika itu penggemar Veanna tentu saja mereka tidak akan notis wajah lelah Veanna. Karena yang mereka harapkan adalah suasana panggung yang ceria dan meriah, sebuah nyanyian dan penampilan yang perfect. Tapi di mata Christopher itu berbeda, dia seperti seseorang yang membutuhkan jam waktu istirahat yang panjang.
Mobil melaju dengan cepat hingga tak lama mereka pun sampai di hotel. Lobi sudah jauh lebih sepi dibanding siang tadi. Beberapa tamu masih duduk di sudut ruangan, sementara suara alunan piano terdengar pelan dari restoran hotel. Wanita itu menghentikan langkahnya, malam ini rasanya dia belum ingin tidur cepat, dia masih ingin menikmati malam ini dengan setenang mungkin.
Christopher yang menyadari Veanna tak melangkah pun menghentikan langkahnya, menatap wanita itu yang berdiri di depan restoran hotel. “Ada yang kamu inginkan? Aku bisa membelinya untukmu.”
Veanna menoleh, “Aku belum ingin naik.”
“Lalu?”
“Aku ingin pergi ke taman kecil samping hotel ini.”
Christopher menggaruk keningnya yang tak gatal, dia berpikir jika wanita itu akan mengajaknya masuk ke restoran hotel karena dia berhenti disana. Tapi ternyata pria itu salah, yang dia inginkan hanya duduk santai di taman hotel malam-malam seperti ini. Benar ya, wanita itu sulit ditebak.
Pria itu akhirnya menuruti, dia membawa Veanna ke samping hotel dan duduk berdampingan. Sebelum hal itu terjadi dia membeli sesuatu lebih dulu di restoran hotel agar tidak garing ketika mereka bersama. Malam ini cukup dingin tapi cukup tenang juga untuk Christopher yang menyukai ketenangan. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya hangat, sementara suara gemericik air dari kolam kecil membuat suasana terasa begitu tenang.
“Aneh ya … .”
Pria itu menoleh bingung. “Apanya yang aneh?”
“Tadi di panggung cukup berisik. Setelah turun dari panggung semuanya sunyi.”
Christopher tersenyum tipis. “Itu sebabnya semua orang menyukai malam.” dia menghentikan ucapannya dan menatap Veanna dalam. “Malam membuat semua orang sedikit lebih jujur pada pikirannya.”
“Ya … kamu juga terlihat lebih tenang jika malam hari.”
“Tenang bukan berarti tidak punya masalah kan?”
Jawaban itu membuat Veanna menoleh. Untuk pertama kalinya, ia merasa pria yang selama ini dikenal dingin itu ternyata menyimpan banyak hal dibalik sikap diamnya. Angin malam berhembus pelan, membuat beberapa helai rambut Veanna jatuh menutupi wajahnya.
Tanpa berkata apa-apa, Christopher menggeser segelas cokelat hangat yang tadi sempat dibelinya dari restoran hotel ke hadapan Veanna.
“Christ … malam ini boleh tidak aku tidur satu ranjang denganmu, lagi?”
***
Veanna bangun dengan tubuh pegal. Pinggangnya terasa sakit karena ulah semalam. Dimana dia benar-benar menghabiskan waktu bersama dengan pria itu di hotel ini. Jam menunjukkan pukul enam pagi dan Veanna sudah bangun lebih dulu sebelum Christopher. Wanita itu menatap pria di sampingnya yang masih tertidur pulas dengan salah satu tangan yang menjadi bantal untuknya. Dia menatap sejenak, lalu tersenyum. Pria dingin itu ternyata tidak sedingin yang dia perkirakan jika bersama. Dia sedikit melunak.
Memungguti baju yang dia kenakan kemarin, Veanna segera membersihkan diri lebih dulu sebelum akhirnya kembali ke kamar hotelnya. Tapi yang ada di tengah jalan ketika wanita itu hendak pergi ke kamarnya yang ada di sebelah kamar Christopher. Shandra berdehem membuat kedua bola mata wanita itu hampir lepas dari tempatnya.
“Ve … .”
Panggilan itu seperti alarm di otaknya, dia pun menatap Shandra yang berdiri tak jauh dari dirinya. Wanita itu merapikan jaketnya dan meneliti penampilan Veanna yang masih menggunakan baju semalam.
“Haii … Shandra. Selamat pagi.” sapanya canggung.
Shandra menatap nomor kamar yang baru saja di tutupnya. “Sejak kapan disitu?”
“Baru selesai ngobrol.”
Shandra menatap curiga. Jam enam pagi, dengan penampilan yang acak-acakan dan juga tanda merah di leher. “Ngobrol? Semalaman?”
Veanna tidak menjawab dia mencubit lengan Shandra dan menariknya untuk masuk ke dalam kamarnya. Mau berbohong dengan wanita itu juga percuma, mereka Ini kenal sudah cukup lama. Tidak hanya satu atau dua tahun berteman tapi sejak dulu, sejak mereka belum jadi apa-apa sampai akhirnya menjadi apa-apa. Bisa dibilang perjuangan Veanna untuk menjadi artis juga karena ulah Shandra.
“Kamu baik-baik saja Veanna?” Tanya Shandra memastikan.
Semalam dia tidak bisa menemani Veanna mengobrol. Mungkin dia membutuhkan teman ngobrol untuk melepaskan apa yang mengganggu pikirannya.
Wanita itu menjelaskan jika selama dia masih hidup, semuanya tidak akan baik-baik saja. Jujurly, dia tidak hanya berbicara empat mata dengan Christopher semalam. Mereka melakukan hal lain dan ini sudah kedua kalinya. Tuntutan dia harus hamil cepat membuat stress Veanna berkepanjangan. Dia begitu terganggu dengan hal itu, dan Shandra tahu jika suaminya tidak mau menyentuh Veanna sama sekali. Hanya ini yang bisa dia lakukan tidur dengan Christopher sampai dia hamil.
“A-apa? Kau tidur dengan Christopher?”
****