Bab-14

1127 Kata
Ya … itulah yang terjadi, dia akhirnya memilih memaksa Christopher. Di malam itu kakek meminta Veanna pergi ke ruang kerjanya, Veanna pikir ada apa meskipun dia tahu jika arah ucapan kakek selalu mengarah pada cucu. Selama empat tahun ini tidak ada yang memulai duluan, tidak ada pembicaraan ke arah situ. Tapi kakek berharap jika Veanna bisa memberikan cucu di usianya yang sudah tua ini. Dia hanya ingin melihat generasi selanjutnya lahir sebelum dia tutup usia. Bagaimana tidak setres jika menjadi Veanna. Apa jalan lainnya? Tidak ada. Mau bayi tabung? Iya jika berhasil? Jika tidak? Sama halnya dengan dia melakukan hubungan suami istri dengan pria lain, dia juga tidak berharap jika setelah ini dia akan hamil. Tapi sebagian besar ada harapan kakek yang terus menekan Veanna untuk cepat hamil. Jika saja bisa memilih Veanna tidak ingin berada di posisi seperti ini. Dia sudah muak, dia sudah capek dengan semua ini, dan dia ingin hidup bebas tanpa adanya tekanan dari orang lain. Shandra yang mendengar hal itu langsung meminta Veanna untuk tenang. Dia tahu apa yang Veanna rasakan cukup berat, dia berdiri di antara keluarga itu saja sudah lebih dari sebuah musibah. Jika saja janji ku tidak ada mungkin hal ini tidak akan terjadi. “Aku sudah frustasi, makanya aku memilih jalan pintas.” Awalnya Christopher tidak curiga ketika dia meminta pergi ke apartemen pria itu. Dia hanya menghabiskan satu botol tequila untuk terlihat mabuk berat. Dan berakhir jika dia harus melakukan hal itu dan sedikit menunjukan identitas dirinya yang sudah bersuami. Christopher kaget dengan itu semua dan menyangka jika selama ini Veanna masih single. Dan wanita itu berharap jika selama dia masuk dia tidak menceritakan banyak hal kenapa dia atau hamil dengan cepat. Dan yah namanya juga pengawal tidak mungkin kan tidak pandai meneliti keadaan. Pria itu akhirnya sadar jika Veanna sedikit berbohong soal semalam. Dia tidak mabuk karena hanya karena sebotol minuman, tapi perkara suaminya dia sama sekali tidak peduli. Yang ada dia malah bilang apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan pernah bisa lepas. Shandra menutup mulutnya terkejut. “Apa yang kamu lakukan Veanna … kamu tidak tahu siapa Christopher itu.” Veanna meminta bola matanya malas. “Memang. Tapi ide itu nyeletuk dari bibir kamu. Jika kamu tahu kenapa tidak memberitahuku Shandra? Shandra membuka mulutnya tapi menyadari sesuatu dia pun menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak … sampai kapanpun Veanna tidak boleh tahu siapa Christopher itu. *** Rumah keluarga Costa terasa jauh lebih lengang sejak Veanna memulai rangkaian tour promosi albumnya. Biasanya, suara langkah wanita itu atau sekadar sapaan singkat kepada para pelayan masih terdengar setiap pagi dan malam. Kini, yang tersisa hanyalah kesunyian yang entah mengapa membuat Sherly merasa sedikit lega. Namun rasa lega itu tidak bertahan lama. Sherly duduk di ruang keluarga sambil memangku sebuah tablet. Sejak satu jam terakhir, dia tidak berhenti membaca berita tentang Veanna. Hampir semua media hiburan memberitakan hal yang sama—konser pembuka yang sukses, tiket yang terjual habis, hingga pujian dari para kritikus musik terhadap album barunya. Semakin banyak dia membaca, semakin sesak dadanya. Jari telunjuknya berhenti tepat pada sebuah foto Veanna yang sedang berdiri di atas panggung dengan ribuan lampu penonton memenuhi arena konser. Kenapa semua harus tertuju pada wanita itu, dia sudah berusaha mati-matian untuk menjatuhkannya tapi kenapa semuanya tidak bisa. Apa yang dia sembunyikan sampai dia masih bisa berdiri tegak di semua penggemarnya? "Wanita itu..." gumamnya lirih. "Kenapa selalu saja berhasil?" Sherly melempar tablet itu ke atas sofa. Ia menyandarkan tubuhnya sambil mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Namun bayangan Veanna yang terus mendapat sorotan justru semakin memenuhi kepalanya. Beberapa saat kemudian, suara pintu utama terbuka. Briand baru saja pulang dari kantor. Jas yang masih melekat di tubuhnya belum sempat dilepas ketika ia melihat Sherly duduk sendirian dengan wajah yang tidak biasa. "Kamu belum istirahat?" Sherly mengangkat kepalanya dan memaksakan sebuah senyum. Jangan sampai dia itu curiga. "Belum." Briand menghampirinya, lalu duduk di sofa yang berhadapan. "Sedang apa?" Sherly tidak langsung menjawab. Dia mengambil kembali tabletnya,membuka salah satu artikel, lalu menyerahkannya kepada Briand. "Coba lihat." Briand menerima tablet itu. Matanya bergerak perlahan membaca isi berita, sesekali memperhatikan beberapa foto konser yang memenuhi layar. "Konsernya ramai." "Iya." Jawab wanita itu singkat, mengisyaratkan jika dia tidak suka pujian itu. "Hampir semua tiket habis." Sherly hanya menganggukkan kepala. Briand mengembalikan tablet itu tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Baginya, kesuksesan Veanna memang sudah bisa ditebak. Wanita itu sudah lama menjadi salah satu penyanyi paling populer di negara ini. Tidak mungkin jika namanya tidak bisa besar. Tapi disini Sherly sedikit heran dengan hal itu, empat tahun terakhir dia hidup dalam rumah tangga yang bahkan tidak bisa di sebut sebagai rumah tangga. Briand dengan pekerjaannya begitu juga dengan Veanna yang sibuk dengan pekerjaannya. Karir Veanna terus naik, penggemarnya banyak, seolah tak ada satu masalah yang bisa menjatuhkannya. Dan sejauh ini Sherly tidak pernah mendengar jika Veanna mengatakan kalau dirinya sudah menikah. Wanita itu seolah menyembunyikan identitasnya di depan media. “Bagaimana jika suatu saat semuanya berhenti?” Briand menatap aneh. “Maksudnya?” Sherly tersenyum kecil. Dia mengusap punggung Briand dengan pelan. “Tidak. Aku hanya bercanda saja, namanya hidup kan tidak selalu berada diatas.” Briand tak menjawab, dia memilih pergi begitu saja setelah mendapatkan telepon. Berbeda dengan Sherly yang memastikan jika pria itu pergi, barulah dia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Wanita itu meminta bantuan salah satu orang yang cukup terkenal di ibukota untuk mencari tahu jadwal tour Veanna selanjutnya, hotel mana yang dibuat menginap dan juga rute mana yang akan Veanna lewati. Hari ini jelas menjadi hari ketiga tour Veanna kan? Tidak mungkin jika tidak terjadi sesuatu kan? Sherly ingin memberi kejutan sedikit sama pada wanita itu agar kapok. Tapi yang terjadi orang itu tidak bisa memberikan informasi seperti yang Sherly inginkan. Pengamanan tour kali ini berbeda. Jadwal perjalanan baru dibagikan beberapa jam sebelum keberangkatan. Bahkan panitia daerah pun tidak memegang informasi lengkap. Hal itu membuat emosi Sherly memuncak, dia mengepalkan jemarinya untuk tidak berteriak karena kesal. Jangan sampai Briand mendengar emosinya itu. Hotel yang menjadi tempat istirahat Veanna diganti secara mendadak, rute di ubah-ubah terus menerus. Sehingga mereka tidak bisa mendapatkan informasi apapun. “Siapa yang merubah itu semua?” “Pengawal pribadi Veanna, Nona.” Alis Sherly mengerut heran, pengawal pribadi? Sejak kapan Veanna menggunakan pengawal pribadi? Bukannya selama ini dia tidak membutuhkan hal itu, secara keamanan tentu saja wanita itu akan merasa aman dimanapun dia berada. Dan kali ini dengan brengseknya dia malah menggunakan pengawal pribadi? “Pengawal pribadi?” Ulang Sherly yang cukup penasaran dengan semua ini. “Iya, itu semua karena ulah pengawal pribadi Nona Veanna. Itu sebabnya kita bisa mencari informasi apapun tentang Nona Veanna.” Sherly mengetuk jarinya lalu tersenyum licik. “Kalau begitu cari tahu siapa pengawal pribadi Veanna, dan jika sudah dapat lakukan apa yang seperti aku perintahkan.” ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN