Bab-15

1044 Kata
Riuh tepuk tangan masih terdengar hingga ke lorong belakang panggung ketika Veanna melangkah memasuki ruang gantinya. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan setelah dua jam penuh berdiri di atas panggung, bernyanyi di hadapan ribuan orang yang tidak henti-hentinya meneriakkan namanya. Malam di kota ketiga itu kembali berakhir dengan sempurna. Begitu pintu ruang ganti tertutup, Veanna langsung menjatuhkan dirinya ke kursi di depan meja rias. Dia memejamkan mata beberapa saat, membiarkan penata rias membersihkan sisa make-up yang masih menempel di wajahnya. "Kalau semua kota seramai ini," gumamnya pelan sambil menghembuskan napas panjang, "Aku benar-benar butuh libur satu bulan setelah tour selesai." Beberapa kru yang berada di dalam ruangan tertawa kecil mendengar keluhannya. "Jangankan satu bulan, Kak," sahut salah seorang penata rias sambil tersenyum. "Seminggu saja nanti kami sudah dipanggil kerja lagi." Veanna ikut tertawa. Rasa lelah yang sejak tadi memenuhi tubuhnya perlahan berubah menjadi suasana yang lebih ringan. Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan di pintu..Christopher masuk setelah mendapat izin. Seperti biasa, pria itu terlebih dahulu memperhatikan seluruh isi ruangan sebelum memastikan tidak ada lagi orang asing yang berlalu-lalang di sekitar Veanna. "Semua agenda setelah konser sudah selesai, Nona," ucapnya tenang. "Panitia hanya meminta sesi foto singkat dengan sponsor. Setelah itu kita bisa kembali ke hotel." Veanna menganggukkan kepala tanpa menoleh. Pandangannya masih tertuju pada cermin di depannya. "Baik. Lima menit lagi." Christopher hanya membalas dengan anggukan kecil. Ia tidak banyak bicara. Sebuah kursi di dekat pintu ditariknya perlahan sebelum ia duduk, memberi jarak yang cukup agar Veanna tetap merasa nyaman. Keheningan memenuhi ruangan. Namun anehnya, keheningan itu tidak lagi terasa canggung seperti hari-hari pertama mereka bertemu. Veanna justru mulai terbiasa dengan keberadaan pria itu. Sesekali ia melirik pantulan Christopher dari cermin. Pria itu duduk tegak dengan kedua tangan bertaut di depan tubuhnya. Tatapannya sesekali berpindah ke arah pintu, lalu kembali mengamati keadaan sekitar, seolah naluri seorang pengawal tidak pernah benar-benar bisa ia lepaskan. "Kamu tidak pernah capek, ya?" tanya Veanna tiba-tiba. Menatap Christopher sejenak. Christopher mengalihkan pandangannya. "Capek." "Kalau capek kenapa masih kelihatan setenang itu?" Sudut bibir Christopher terangkat tipis. "Kalau saya ikut terlihat lelah, nanti siapa yang menjaga Nona?" Jawaban sederhana itu membuat Veanna tersenyum kecil. "Aneh." "Apa yang aneh?" "Belum ada seminggu kita kenal, tapi rasanya aku sudah terbiasa melihatmu berdiri di dekatku." Dan bahkan rasa canggung diantara mereka dulu sudah hilang entah kemana. Digantikan rasa nyaman dan aman ketika dekat dengan pria itu. Christopher tidak sempat menjawab. Ponsel Veanna yang tergeletak diatas meja tiba-tiba bergetar cukup keras hingga memecah suasana tenang di ruangan itu. Layar ponsel menyala terang. Nama Briand muncul memenuhi layar. Veanna hanya melirik sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah cermin. Tidak ada sedikitpun niat untuk meraih ponsel itu. Dering pertama berakhir begitu saja. Veanna pikir setelah tidak menerimanya akan berhenti saat itu juga. Christopher tanpa sengaja menangkap nama yang tertera di layar. Meski wajahnya tetap datar, tatapannya sempat berhenti beberapa detik. Beberapa saat kemudian, ponsel itu kembali bergetar. Nama yang sama. Dering kedua terdengar lebih lama. Veanna menghembuskan nafas pelan, lalu membalik ponselnya hingga layar menghadap ke bawah. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Christopher. Ada rasa tidak suka ketika orang lain mulai menganggu mereka. Pria itu terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya berdiri dari kursinya rasanya tidak tahan jika begitu terus. "Saya tunggu di luar saja." Veanna mengangkat wajahnya. Tangannya menyentuh tangan Christopher. "Kenapa?" Christopher merapikan lengan jas hitamnya, berusaha menjaga nada bicaranya tetap setenang biasanya. "Itu suami Nona yang menghubungi." Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mungkin akan lebih nyaman jika saya tidak berada di sini. Bagaimanapun juga… urusan suami dan istri sebaiknya dibicarakan tanpa orang lain." Tidak ada nada kecewa dalam suaranya. Tidak pula terdengar seperti protes. Kalimat itu justru terdengar begitu profesional. Namun entah mengapa, Veanna merasa ada jarak yang sengaja diciptakan Christopher hanya karena nama yang muncul di layar ponselnya. "Bukankah kamu tadi bilang semua urusanku sudah selesai malam ini?" tanya Veanna pelan. Dia masih berharap jika Christoper masih ada disini. "Benar." Jawabnya cuek. "Lalu kenapa sekarang malah ingin pergi?" Christopher tersenyum tipis. "Karena tugas saya menjaga keselamatan Nona." Tatapannya jatuh sejenak pada ponsel yang masih bergetar di atas meja. "Bukan mengganggu waktu Nona bersama suami." Ruangan kembali hening. Veanna menatap pria itu cukup lama. Entah kenapa, untuk pertama kalinya dia merasa tidak suka mendengar Christopher menyebut kata suami. Tanpa banyak berpikir, dia meraih ponselnya. Bukan untuk mengangkat telepon itu. Melainkan menekan tombol hingga layar benar-benar padam. Dia kemudian meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan menatap Christopher dengan senyum tipis. "Sekarang sudah tidak mengganggu lagi." Christopher sedikit terdiam. "Jadi..." Veanna menyandarkan tubuhnya ke kursi. "...kamu tetap di sini saja." *** Briand berdiri di balkon kamarnya sambil menatap layar ponsel yang sejak tadi tidak menunjukkan perubahan apa pun. Panggilan ketiga yang ia lakukan kembali berakhir tanpa jawaban. Rahangnya mengeras. Dia menurunkan ponsel perlahan, lalu menghembuskan napas panjang. Angin malam yang berhembus tidak sedikit pun mampu meredakan rasa kesal yang mulai memenuhi kepalanya. Seumur hidupnya, Briand bukan tipe pria yang gemar menghubungi seseorang berkali-kali. Bahkan kepada rekan kerja sekalipun, ia lebih memilih menunggu daripada mengejar. Namun malam ini berbeda. Entah mengapa, ketika Veanna tidak mengangkat teleponnya, muncul perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Beberapa jam sebelumnya Sherly sempat berkata bahwa tour seringkali menjadi alasan seseorang untuk menikmati kebebasan tanpa diketahui keluarga. Kalimat itu awalnya hanya lewat begitu saja di telinga Briand. Tapi nyatanya hal itu mampu menganggu pikiran Briand. “Sial!! Dia mengabaikan panggilanku.” Gumam Briand. Briand kembali menelepon Veanna tapi lagi lagi tidak ada jawaban sama sekali. Wanita itu benar-benar mengabaikan panggilan dari Briand, seharusnya jadwal manggung Veanna sudah selesai satu jam yang lalu. Tidak mungkin rasanya jika dia tidak memiliki waktu untuk memegang ponselnya hanya sekedar menerima panggilan dari Briand? Briand akhirnya membuka ruang percakapan mereka. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, menuliskan sesuatu yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Dia hanya ingin tahu ada dimana Veanna sekarang, sampai-sampai selama tour sama sekali tidak mau menghubungi Briand lebih dulu. Dan sekarang ketika pria itu menghubunginya wanita itu malah mengabaikan begitu saja. Layar ponselnya kembali gelap. Dia masih berharap Veanna akan membalas. Namun hingga beberapa menit berlalu, ruang percakapan itu tetap sunyi. Briand menggenggam ponselnya sedikit lebih erat. Semakin lama tidak ada jawaban, semakin ia meyakini bahwa apa yang dikatakan Sherly mungkin tidak sepenuhnya salah. Veanna… benar-benar mulai menikmati hidupnya tanpa dirinya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN