9. Manis Sekali

2303 Kata
Sepanjang perjalanan menuju tempat servis laptop Jane hanya tersenyum mengingat kejadian barusan. 'Benar-benar pagi yang indah! Suamiku, aku akan membuka hatimu!' Ucap Jane sambil tertawa riang. Dia tak peduli ucapan Arga, dia percaya bahwa hari indah itu akan segera tiba. Jane keluar dari tempat servis dengan mood yang sangat bahagia, benar-benar moodbooster yang luar biasa. Laptopnya selesai lebih cepat dari biasanya dan Arga bertindak sangat manis padanya. Sampai di mobil dia mendial nomer Arga, tidak menunggu lama untuk tersambung, mungkin sekitar lima kali nada sambungnya. "Iya Jane ada apa?" Suara Arga yang benar-benar membuatnya sangat meleleh seperti coklat berada disuhu yang panas, meleleh dan manis. "Sudah dikantor Ga?" "Baru sampai." "Siang ini apa kamu ..." "Ayo kita lunch bareng. Nanti aku bilang ke Esi untuk reservasi tempat."Jane ingin berteriak senang, manis rasanya! Dia benar-benar bertindak manis sekali. Makin luluh Jane dengan tingkah Arga yang seperti ini. Seperti mimpi! "Baik." Jawab Jane cepat. "Aku tutup dulu ya, bentar lagi aku ada rapat." "Oke, Bye!" Sambungan telpon tertutup. Senang? Banget! Tak perlu dipertanyakan jantungnya sudah hampir keluar saking senengnya! 'Arga, Aku sukaaaaa banget kamu yang kayak gini!' Teriak Jane didalam mobil. Jane menjalankan mobilnya kesebuah cafe untuk sekedar duduk-duduk sambil menulis sesuatu, berharap moodnya saat ini bisa menghasilkan karya yang sangat luar biasa. Menunggu kabar dari Esi membuatnya sedikit gelisah, belum juga jam sepuluh pagi dia bolak-balik mengecek handphonenya. 'Ah! Kenapa juga, rasa senang seperti ini malah aku tak bisa menulis apapun.' Ucap Jane sambil menyeruput Vanilla Latte-nya. Jane bingung mau bercerita dengan siapa hal yang sangat membahagiakan ini, menghubungi temannya tak mungkin karena mereka semua sedang bekerja jam seperti ini. Tiba-tiba nomer tak dikenal menghubunginya, cepat Jane menjawabnya, jantungnya masih berpacu dengan kuat jangan-jangan Esi menghubunginya untuk acara mereka siang ini. "Ibu Jane?" Suara Esi terdengar dari seberang sana. "Ya ..." jawab Jane cepat. "Bu, Saya Esi, Saya mau memberitahu siang ini ..." "Iya Si, dimana tempatnya?" Tanya Jane langsung. "Ah begini Bu, saya diminta Pak Arga untuk mengatakan kalau makan siang ini dia tidak bisa, karena beliau kedatangan tamu mendadak dari Swiss." "Oh begitu..." Bohong jika saat ini Jane tidak sedih mendengarnya, lagian kenapa juga si Arga harus mengatakan hal ini lewat sekretarisnya harusnya dia saja yang telpon, ‘mesti pake juru bicara padahal ngomong sama istri’ Jane ngedumel dalam hati. "Sekarang rombongan direksi dan beberapa kepala divisi sedang jalan dengan pak Arga," jelas Esi, "tapi Pak Arga bilang pada saya untuk menemani Ibu makan dimana yang ibu mau." Lanjut Esi. "Begitu ya. Ehm ... kamu saja yang tentukan, nanti share lokasinya denganku." Jawabnya singkat. "Ah? Maksudnya saya yang menentukannya Bu?" Ulang Esi, takut dia salah menangkap ucapan istri bosnya ini, soalnya dimana-mana istri bos ya jabatannya lebih tinggi dari bosnya sendiri dan itu mesti hati-hati, kalau tidak bisa-bisa pekerjaannya melayang. "Iya, aku percayakan padamu. Nanti kasih aku lokasinya saja."Jane malas untuk mencari tempat, jika saja yang memintanya adalah Arga untuk mereka makan siang berdua maka dia akan dengan sangat rela menghabiskan waktu mencari tempat yang terbaik untuk makan berdua dengan pasangan. "Ba ... baik Bu." Jawab Esi, lalu Jane menutup sambungan telponnya. Yah ... artinya lunch nya gak jadi. Ada kecewa sih sedikit, tapi tidak banyak, karena disaat sibuknya Arga masih memikirkan dirinya untuk makan walaupun itu dengan sekretarisnya. Benar-benar suami yang sangat manis! Dia masih senyum-senyum sendiri sambil melihat handphonenya. Tiba-tiba dia mendapatkan ide untuk menulis sesuatu. Dengan cepat jari-jari lentik itu menari diatas Keyboard. Ide itu mengalir begitu saja, Jane mengetik sambil tersenyum-senyum memikirkan sang Suami yang sangat baik dan manis di hari ketiga! *** Jane tiba ditempat yang di Share oleh Esi, tempat ini lumayan bagus, restoran yang tidak dibilang murahan juga. "Hei, sorry sudah nunggu lama ya?" Tanya Jane pada Esi. "Gak juga Bu, baru sepuluh menit." Ucap wanita itu sambil tersenyum. Sebenarnya Jane sangat menyukai penampilan Esi, gayanya benar-benar chic! Wajah dengan dagu runcing, rambut lurus sebahu, mata yang besar, bibir tipis dan hidung mancung! Pantas saja dia menjadi sekretaris, dandanannya juga sangat simpel dan anggun, bajunya yang formal pokoknya Esi benar-benar mirip dengan wanita-wanita yang ada di komik! Lalu Jane, melihat dirinya sendiri yang bahkan tidak tau kapan harus memakai hak tinggi. Saat ini dia bahkan hanya menggunakan flat shoes, rok pendek diatas lutut dengan blouse lengan panjang biasa. Pokoknya penampilannya lebih mirip anak SMA ketimbang istri Bos ditambah lagi, badannya yang tidak cukup tinggi seperti Esi. Jane tersenyun sendiri menyadari hal itu. "Kenapa Bu?" Tanya Esi padanya yang tiba-tiba tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Ah! Bahasamu terlalu formal. Berapa umurmu tahun ini?" "Baru dua puluh enam tahun Bu, tahun ini" jawab Esi sambil tersenyum. "Jangan panggil Ibu, anggap saja aku ..." Jane berpikir kata apa yang tepat untuk memanggilnya. "Kakak?" Jawab Esi lagi. "Ah boleh juga." Jane lalu tertawa. "Tamu dari Swiss itu ..." "Ah, tamu Pak Arga," ucap Esi seakan mengerti maksud dari Jane, "Pak Arga lagi pendekatan dengan mereka, rencananya mau ada kerjasama untuk membuka resort di Swiss." "Ooohh..." jawab Jane lagi. "Mungkin kalau deal pertengahan tahun ini paling cepat." "Ibu tahu gak? Eh maksudnya, Kak Jane tahu gak, Pak Arga ini orang yang gila kerja, dia bahkan bisa nginep dikantor berhari-hari untuk menyelesaikan pekerjaannya tapi, jika proyek sudah sukses dia akan bermalam di club atau sekedar ..." Esi ragu untuk melanjutkannya. "One Night Stand maksudnya?" Jane sambil tersenyum seakan dia sudah mengetahui semua masa lalu Arga. "Tapi itu belum tau bener atau nggak nya sih. Kadang juga dikantor sering ada wanita-wanita yang datang mencarinya dan dia mengusirnya dengan kasar. Dia penggila kerja dan digilai wanita, orang dikantor selalu bertaruh bahwa dia hanya akan main-main dengan perempuan, sampai suatu hari Kak Jane datang, sangat tidak mungkin pak Arga untuk melihat Kakak." Tapi kemudian Esi terhenti, seolah dia menyesal telah banyak bicara pada lawan bicaranya. Lalu Jane tertawa, "Yeah, aku tau. Bahkan sekretarisnya jauh lebih menarik daripada istrinya." Puji Jane pada Esi. "Aku ... bukan gitu maksudku Kak." Esi menjadi tidak enak hati dan merasa salah ngomong. "Tak masalah. Kita bicara tentang fakta." Jane berkata dengan sungguh-sungguh dan tersenyum manis. "Tapi saat acara pernikahan Kakak luar biasa cantiknya." Puji Esi. "Santai saja! Aku tak akan bilang pada bosmu untuk tidak memberimu bonus." Esi terdiam. Handphone Esi berbunyi, dilayarnya tertera Nama "The Devil", Esi segera menjawabnya. "Iya Pak." "Baik Pak." "Siap Pak." "Oke Pak, nanti sampai kantor akan segera Saya siapkan." Jane menatap Esi dengan tatapan menyayat, seolah tau siapa yang baru saja menelpon Esi. "Maaf Kak, entar namanya aku ganti deh." Esi seakan mengerti arti dari pandangan itu. Jane kemudian tertawa. "Santai saja, itu privasi masing-masing." "Oh Iya Kak, kata pak Arga, kalau gak kebereratan Kak Jane disuruh ke kantornya." Jane mengerenyitkan dahi, 'kenapa dia tak menelpon langsung, harus menyuruh sekretaris untuk bicara padaku, lagi-lagi pakai juru bicara.' "Ah iya, nanti aku kesana." Ucap Jane sambil mengunyah kembali makanannya. *** Jane tiba di kantor Arga sekitar pukul empat sore, sebelum jam pulang kerja. "Esi, Pak Arganya ada didalam?" Tanya Jane pada Esi yang sedang terlihat serius dengan pekerjaanya. "Ah Kak Jane, ups maaf Bu Jane." Esi tersenyum melihat kedatangan Jane, "Ada, dia ada didalam, baru saja selesai meeting, masuk saja." Jane langsung masuk keruang Arga tanpa mengetuk pintu seperti biasanya. "Jane, kau sudah datang? Naik apa kesini?" Tanya Arga. "Bawa mobil." Jawab Jane singkat, lalu duduk dikursi depan meja kerja Arga, “Suamiku, kamu sibuk banget ya?" "Begitulah. Sedang banyak kerjaan yang harus diselesaikan secepatnya." Arga berkata tanpa melihat Jane. "Nanti mobilmu ditinggal saja, biar pak Pijo yang bawa pulang kerumah." Lalu Arga memanggil Esi dari intercom ruangannya. "Esi, bilang sama Pijo, bawa mobil Istri saya pulang kerumah sekarang. Ambil kuncinya disini, dan katakan juga kalau sudah dia suruh pulang saja." "Baik Pak." jawab Esi dengan cepat. "Ga, Pak Pijo itu, yang isterinya lahiran semalam kan?" Jane bertanya pada Arga yang masih sibuk dengan pekerjaannya. "Iya," Jawab Arga singkat. "Dia gak cuti kerja gitu?" Tanya Jane lagi "Cutinya sudah habis." Arga menjawab asal karena kalau Pijo tak ambilcuti artinya memang cutinya sudah habis terpakai. "Kan kasian Ga." ucap Jane lagi "Jadi?" Arga menghentikan pekerjaannya dan melihat ke lawan bicaranya. "Suruh dia pulang sekarang aja. Kasian istrinya, lagian kasih dia libur kek." Jane berkata dengan mata seperti memohon, membuat Arga sulit untuk mengatakan tidak.  "Sapa suruh dia ngabisin cutinya sebelum istrinya lahiran." Jawab Arga lagi lalu kembali melihat pekerjaannya, dia takut kalau akhirnya bisa merusak jalannya kebijakan perusahaan ini. "Emang gak ada apa izin istri lahiran?" Jane lagi-lagi bertanya. "Mau tau banyak tanya sama bagian HRD." Jawab Arga lagi, dia berusaha sekuatnya untuk berkonsentrasi pada pekerjaan yang ada didepannya ini. 'Menyebalkan' batin Jane. Pintu diketuk dari luar. "Permisi Pak, saya mau ambil kunci mobilnya Ibu." Ucap Esi. "Gak usah Si, ehm … pak Pijonya ada diluar?" Tanya Jane membuat Esi bingung. "Iya Bu." jawabnya pelan sambil menganggukkan kepalanya. "Suruh masuk aja." perintah Jane, dan membuat Arga menghentikan kegiatannya, lalu melihat ke arah Jane. Esi ragu dengan perintah istri dari bosnya ini, lalu melihat kearah Arga. "Udah turutin aja maunya Si." Arga malas untuk berdebat, karena kerjaannya masih banyak. Dia juga harus segera menandatangani berkas yang urgent. "Baik Pak." Esi menjawab dengan mantap. Lalu, Laki-laki bernama Pijo ini masuk keruang Arga. "Permisi Pak." Ucapnya dengan nada suara yang terdengar bergetar, mungkin ada sedikit rasa segan disana. "Ah Pak Pijo, bapak sekarang pulang aja dulu, kan istri bapak abis lahiran, masa suami gak temenin istrinya sih." Cerocos Jane tanpa memedulikan Arga yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya. "Tapi Bu Jane." satu orang lagi ragu dengan ucapan Jane kali ini, dia melihat ke arah Arga yang sibuk dengan tumpukan berkasnya. "Udahlah, gaji gak akan dipotong kok. Besok kamu gak usah masuk aja, temenin dulu istrinya siapa tau suaminya sangat dibutuhkan." Lanjut Jane lagi, dan ini membuat Pijo ternganga membuat Arga berhenti melakukan aktifitasnya dan melihat ke arah Jane, saat ini Jane seperti mengatur jalannya prosedur perusahaan yang dimilikinya. "Jane ..." ucap Arga dan langsung dipotong oleh Jane. "Udah Pak Pijo pulang aja, Pak Arga ijinin kok sampe besok. Betulkan?" Jane berkata dengan penuh semangat dan tatapan mata itu! Yah tatapan mata ini membuat Arga tidak tahan untuk tidak meng-iya-kan ucapan Jane. Pijo melihat Arga dengan takut-takut. "Okey, turuti saja maunya. Bilang pada Ibu Shinta, besok ijin kamu diperbolehkan." Ucap Arga, Jane berteriak menang didalam hati. "Yang bener pak?" Rasa tak percaya dan haru itu membuat Pijo hampir meneteskan air mata, yang dia tahu Arga tak pernah ada kata ampun untuk hal seperti ini, tapi karena istrinya ini dia bisa melakukan hal yang berbeda dari dirinya. "Terima kasih Pak Arga, Ibu Jane! Makasih banget Bu." Ucapnya sambil menyalami Jane, dia tak berani menyalami Arga karena Arga bukan orang yang mau sembarangan disentuh orang lain. "Ga, gajinya beneran gak dipotong kan?" Tanya Jane setelah Pijo keluar dari ruangan itu. "Iya!" Jawabnya lagi sambil matanya tak lepas dari dokumen yang ada didepannya. "Janji kan ya?" Jane kembali memastikan dengan sedikit suara rengekan manja itu. Lagi-lagi Arga memencet nomer di intercomnya dan tersambung. "Bu Shinta?" Ucap Arga pada sambungan laudspeaker itu. "Oh, Iya Pak." Seakan tau dengan siapa yang menelponnya, wanita itu berkata dengan sangat sopan sekali. "Pijo, driver saya besok dia diizinkan tidak masuk kerja, istrinya melahirkan. Jangan potong hak-haknya." perintah Arga ini terdengar tak masuk akal. "Apa, maaf Pak, bisa diulangi?" Sepertinya wanita itu tidak percaya apa yang dikatakan bosnya ini, dia memastikan kalau dia tidak salah dengar. "Jangan potong hak-haknya Pijo saat dia tidak masuk besok dan izin untuk pulang cepat hari ini. Apa masih kurang jelas?" Ulang Arga pada Manager HRD-nya. "Baik Pak, saya mengerti." Jawabnya tegas, setelah apa yang didengarnya tidak salah. Lalu Arga melihat ke arah Jane, matanya mengatakan bahwa apa yang dikhawatirkan Jane tak perlu berlebihan. Jane tersenyum melihat laki-laki yang berada dihadapannya sambil tersenyum manis seolah mendeklarasikan kemenangannya. "Terima kasih suamiku." Ucap Jane. "Reward apa yang bisa kau berikan untukku karena sudah bersikap manis padamu?" Ucap Arga seolah menggoda istrinya. "Ayo kita makan malam." Ajak Jane. "Tunggu sebentar lagi, aku selesaikan yang satu ini." Ucap Arga lalu kembali dengan aktifitasnya melihat dokumen-dokumennya. “Okay Bos!” Jawab Jane sambil terkekeh. “Correct your word! I’m your husband, not Bos!” Ucapan Arga ini membuat Jane melayang dan berpikir bahwa ini benar-benar pernikahan yang sesungguhnya. ‘Teruslah seperti ini Arga, suamiku.’ Jane menjerit dalam hati. *** Diluar ruangan Arga, sudah terjadi kehebohan! Mereka berbicara tentang ke-amazing-an istri dirut mereka. Banyak yang bertanya pada Esi tentang kebenarannya melalui pesan grup, dan banyak juga yang langsung bergosip dengan teman sebelahnya. "Beneran?! Si Pijo dapet izin?" "Beneran itu pak Arga sendiri yang bilang?" "Pak Arga sendiri juga langsung menelpon kepala Divisi Bu Shinta?" "Yakin Pak Arga gak sedang mabuk atau kerasukan roh-roh halus? "Ternyata luar biasa sekali istri bos kita." "Ungkapan bahwa suami adalah direktur, maka sang istri adalah pemiliknya benar-benar ada." Obrolan-obrolan seperti ini dikonformasi oleh Esi bahwa memang benar, dan jika tak percaya tanyakan rincinya dengan Pijo. *** Sudah pukul setengah enam sore, akhirnya Arga menyelesaikan pekerjaannya. Dia melihat Jane yang masih sibuk dengan laptopnya. "Jane, kau sudah selesai?" Tanya Arga yang melihat Jane masih asyik dengan laptopnya. "Hmm... kau sudah selesai?" Jane menoleh ke Arga yang merapikan berkasnya diatas meja. "Iya," Jawab Arga. "Okey aku matikan laptopnya."Jane tanpa ragu mematikan laptopnya, menghentikan semua aktifitasnya walaupun sebenarnya masih banyak yang harus dia kerjakan, tapi bisa ditunda demi mendapatkan momen bahagia bersama Arga, "Hadiahku?" Arga berjalan mendekati Jane dan duduk disampingnya. "Hhmmmm?" Gumam Jane sambil mengerenyitkan Dahinya. "Beri aku hadiah seperti ini," lalu Arga mengecup bibir Jane. Jane masih belum terbiasa dengan perlakuan yang tiba-tiba seperti ini, kemudian kecupan itu membuat matanya menutup untuk menikmati permainan yang dilakukan oleh suaminya. Jane merasakan kenyamanan yang luar biasa dengan perlakuan Arga ini, Arga memang benar-benar good-kisser! Ciumannya mampu membuatnya terhipnotis, dia mengakui kalau dia sangat menyukai hal ini. Ditengah kesenangan tersebut tiba-tiba pintu ruang Arga terbuka dan mengejutkan mereka. "Indira ..." Arga terkejut melihat kehadiran Indira. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN