Saat cahaya matahari pagi menerobos celah tirai yang terbuka sedikit dan tepat mengenai mata Jane, malas sekali rasanya untuk bangun. Jane bahkan membayangkan untuk bertemu dengan suaminya terganjal rasa sakit, walaupun sempat terobati sebentar tapi, lagi-lagi itu membuat dadanya sesak dan hatinya seakan teriris.
'Semangat Jane! Semangat! Pagi ini cerah secerah hatiku! Hidup ini indah seindah novelku! Yeay! Aye aye!' Teriak Jane kencang sambil meloncat ditas tempat tidur dan tangannya keatas. Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka oleh sosok yang dikenalnya sebagai seorang suami.
"Masih pagi bisa gak berisik?" Suara Arga terdengar sangat dingin, membuat Jane terhenti dari aktifitasnya barusan.
"Kirain kamu gak dirumah." Ucap Jane lalu menurunkan tangannya dan kemudian dia turun dari kasur, memanyunkan mulutnya, detik berikutnya dia mengambil handuk yang tergantung samping pintu persis sebelah Arga berdiri.
"Sudah dibilang aku pulang pagi, kan? Kamu lihat ini sudah jam berapa?" Suara Arga pelan, tapi penuh penekanan. Jane merasa sedikit terintimidasi.
"Mana kutahu." Jawab Jane singkat lalu berjalan ke kamar mandi dan membantingnya.
"Ga, tutup pintunya, aku mau mandi!" Suara Jane yang memerintah Arga ini terdengar nyaring dari dalam.
'Nyebelin banget sih dia. Pulang pagi karena bersenang-senang dengan wanita lain lalu dia marah dengan istri sahnya, walaupun ada kontraknya tapi, ini bener-bener ngebuat kesel.' Jane terus meracau sambil mandi sampai selesai.
"Arga! Ngapain dikamar aku? Keluar gak?!" Mata Jane melotot mendapati Arga yang masih berada dikamarnya. Saat ini Jane sangat malu karena badannya hanya dililit handuk saja.
"Sssttt! Diam!" Arga langsung membekap mulut Jane dengan tangannya. Adegan ini persis seperti drama yang ditonton Jane. Mendapat perlakuan seperti ini membuat hati Jane berbunga dan jantungnya memompa agak cepat.
"Ada Bunda diluar," lanjut Arga lalu melepaskan bekapan mulut Jane.
"What?!" Jane tak percaya bahwa Ibu mertuanya ada dirumah. Dia masih bingung bagaimana cara untuk menghadapi mertua secara natural seperti kesepakatan kontrak.
"Arga!Jane!" Suara itu mendekati kamar mereka. Handling pintu terlihat diputar, dan saat itu juga Arga memeluk Jane dan melumat bibirnya. Jane terhenyak mendapat perlakuan seperti itu, yah! Ini persis potongan cerita yang dibuatnya. Senang? Pastinya! Untuk kali pertama Jane dicium Arga dengan embel-embel istri! Akhirnya yang diimpikannya terjadi juga, walau dengan keadaan terdesak. Jane menutup kedua matanya, menikmati bibir Arga yang sudah lama ingin dia rasakan kembali.
"Astaga kalian ini!" Ibu Arga kemudian menutup kembali pintu yang dibukanya.
"Jika selesai urusan kalian, keluarlah! Bunda menunggu dibawah." Suara itu terdengar dari luar.
Arga melepaskan ciuman itu dan kemudian mengatur nafasnya, dia menyadari bahwa ini pertama kalinya dia menyentuh Jane, istri sahnya ada rasa yang sangat akrab, tapi dia malas untuk mengingatnya. Jane, sebenarnya agak sedikit kecewa dengan ciuman yang hanya sebentar itu, saat ini bahkan dia menginginkan lebih!
‘Jane ayolah jangan mimpi! Ini cuma improvisasi Arga.’ Jane berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terlalu senang.
"Sorry, terpaksa Jane." Ucapan itu keluar dari mulut Arga begitu saja.
"Yah, bukan kah ini terlihat lebih alami?" Jane berkata dengan kikuk.
"Sepertinya begitu. Pakailah bajumu, aku tunggu dibawah." Arga langsung keluar dari kamar itu, sedang Jane, masih seolah tidak percaya kalau itu benar-benar terjadi.
'Semoga hari ini indah seterusnya seperti ini.' Gumam Jane penuh semangat.
***
Setelah memakai baju yang dipikirnya pantas, Jane segera keluar kamar dan turun. Sejenak dia memerhatikan dari atas hawa dingin antara Arga dan Ibunya. Jane berpikir bahwa hubungan mereka tidak baik, persis sekali novel dan drama, dimana tokoh prianya memiliki hubungan dingin dengan keluarga.
'Kenapa jadi mirip drama ya?' Batin Jane. Artinya dia harus mencari cara untuk mencairkan kebuntuan diantara keduanya.
"Maaf Bunda, sudah menunggu lama." Jane menghampiri Ibu Arga, memeluknya lalu menyalaminya dan cipika-cipiki sok-sok-an berlagak dekat. Hal ini dilihat Arga sebagai adegan yang tidak normal, itupun sama dirasakan oleh Ibunya Arga, Nyonya Erlangga.
"Bunda sudah makan?" Tanya Jane, lalu duduk disebelah Arga.
"Bunda datang hanya untuk memastikan." Ucap Arga dengan nada datar.
"Memastikan?" Jane mengerenyitkan keningnya, lalu memandang Arga.
"Memastikan bahwa anaknya tidak sedang main-main dengan pernikahan." Jelas Arga padanya.
"Ah ... tenang saja Bunda, pernikahan ini bukan main-main tapi, kalau yang barusan bunda lihat tadi, itu kita memang sedang main-main." Ucap Jane sambil melihat Arga dengan pandangan malu-malu dan menyatukan kedua telunjuknya sambil tersipu malu.
"Ya! Berarti omongan yang sampai itu tidak benar." Ucap wanita itu singkat.
"Bunda belum menjawab pertanyaan Jane, apa Bunda sudah sarapan dirumah?"
"Sudah." Jawabnya singkat, terdengar pelan tapi sangat mematikan.
'God! Susah sekali dia ditaklukan' batin Jane. 'Aku harus bisaaaa!' Teriak Jane dalam hati.
"Dengan siapa bunda kemari?" tanya Jane berbasa-basi lagi.
"Apa kau tidak lihat dia datang kesini dengan sopirnya?" ucap Arga pada Jane, "kalau tidak ada lagi yang ingin dikatakan dan dipastikan, bukankah saatnya untuk pulang?" Arga mengusir wanita ini secara halus dan Jane ternganga mendengar ucapan Arga barusan. Masa iya dia berani mengusir orang tuanya sendiri yang sudah capek datang pagi-pagi.
"Baik, Bunda pulang. Satu hal yang harus kalian ingat, segera lahirkan seorang anak!" Ucapnya sambil menatap lekat ke arah Jane.
"Apa?!" Jane terkejut mendengar ucapan Ibunya Arga ini.
"Itu urusan kami, lebih baik Bunda urus saja urusan Bunda sendiri. Pak Nanang sudah menunggu lama didepan, kasian." Lalu, dengan cepat Ibunya Arga keluar dari rumah mereka. Dia malas untuk berdebat dengan anaknya.
"Ga! Apa kamu nggak ngerasa bersalah abis memperlakukan Ibumu seperti itu?" Jane berkata pada Arga.
"Tidak ada urusannya denganmu." Jawabnya ketus.
"Bukan maksud mencampuri, tapi ..."
"Sudah tidak perlu banyak saran. Cukup tahu batasanmu saja." Potong Arga.
"Lusa siapkan pakaianmu, kita pergi honeymoon yang dihadiahkan oleh Pak Alton dan malam ini aku tidak akan pulang sampai lusa."
"Honeymoon? Pak Alton?" Jane tersenyum melihat Arga.
"Jangan berkhayal terlalu tinggi! Cukup mainkan peranmu dengan bagus didepan banyak orang." Arga masih menatap layar televisi yang ada didepannya.
"Lalu kamu tidur dimana hari ini dan besok malam?" Tanya Jane penasaran.
"Bukankah kita tidak perlu saling mencampuri urusan pribadi masing-masing?" Arga mengingatkan Jane.
"Tak masalah asal jangan dengan wanita jalang itu." Jane berdiri dari tempat duduknya, tapi tangannya segera ditarik oleh Arga sehingga dia terduduk kembali ditempatnya.
"Kuperingatkan kau sekali lagi, jangan pernah mengatakan hal tidak baik tentangnya. Kau harus tau batasannya. Hanya dia satu-satunya wanita yang bisa memasuki hatiku!" Tatapan mata Arga sangat menakutkan, membuat Jane menelan ludah merasakan aura menyeramkan.
"Aku melakukannya agar kau sadar walau sekarang aku adalah kontrak untukmu tapi jika kau melakukan hal jelek yang diketahui orang banyak, kau sendiri yang akan mendapatkan dampaknya!" Jane nyerocos tanpa banyak berpikir, dia hanya mengeluarkan apa yang seharusnya dia katakan.
"Jangan mengajariku!" Suara Arga sangat dingin.
"Aku bukan mengajarimu, aku hanya mengingatkanmu. Aku gak mau kalau kita gak genap satu tahun Ga, karena aku gak akan dapet sisa duit yang akan kamu bayar!" Jane berkata tanpa berpikir banyak, "aku gak peduli apapun yang akan terjadi dengan karirmu atau dengan kehidupanmu, tapi selama masa kontrak, kamu harus bersabar! Katakan pada jalangmu itu sabarlah selama satu tahun! Kau juga bersabar selama hampir sembilan tahun!" Jane mendorong tubuh Arga dengan kekuatan yang meledak-ledak karena amarah yang begitu memuncak. Sedang Arga, hanya terdiam mendapati Jane yang saat ini sudah berani melawannya dengan banyak kata-kata.
Jane masuk kedalam kamar, menguncinya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi lalu menghidupkan air dikeran kemudian dia melepaskan tangisannya disana. Sesak sekali rasanya mendengar suaminya tidak akan pulang, ditambah lagi dia membela Indira. Jane juga sangat terpaksa mengatakan kalau dia ingin dibayar.
"Aaaarggghhh! SIAL!!! b******k LO GA! DASAR JALANG!!! ANJING!!! BANGKE LO SEMUA!!!" umpatnya disana. Banyak umpatan kotor yang keluar dari mulut Jane. Untuk pertama kalinya dalam hidup yang memasuki angka tiga pulu tiga tahun Jane mengeluarkan umpatan-umpatan ini. Sekalipun kisah cintanya tidak pernah berjalan mulus seperti di novel dia masih bisa menahan diri dengan menangis saja, tapi tidak untuk kali ini. Dia benar-benar merasa sangat Sesak jika tidak dikeluarkan. Rasanya paru-paru ini penuh dengan hal yang tidak penting dan harus dikosongkan segera, jika tidak dia tidak bisa bernafas.
Jane keluar dari kamar mandi ketika dia sudah merasa lega dan berdamai sedikit dengan amarahnya. Dia mengecek handphonenya dan membuka sms yang membuat dia tersenyum. Segera dia mengganti pakaiannya dengan yang lebih baik, lalu keluar kamar.
Dia mendapati Arga masih duduk didepan televisi sambil menonton berita bisnis yang Jane malas untuk mengetahuinya. Lalu, Jane mengambil kunci mobil yang ada didekat meja. Mobil yang memang diberikan Arga padanya.
"Mau kemana?" Tanya Arga tanpa mengalihkan padangannya dari acara televisi yang dilihatnya.
"Pergi." Jawab Jane singkat.
"Kemana?" Tanya Arga datar.
"Not Your Bussiness!" Jane menjawab dengan ketus.
"Jangan melangkah keluar sekarang!" Ucapan Arga yang terdengar seperti perintah ini membuat langkah kaki Jane terhenti dan dia mendengar Arga melangkah mendekatinya.
"Mari kita lakukan." Ucapan Arga yang membuat Jane tidak mengerti, membuat Jane berpikir dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut suaminya itu.
"Mari kita lakukan dengan benar, istriku." Suara Arga yang terdengar ditelinga Jane membuat hatinya lagi-lagi mencair dan melupakan kejadian yang membuatnya marah besar lalu, Arga menarik Jane kepelukannya dan menautkan bibirnya pada Jane. Jane yang terkejut ini, langsung membelalakkan matanya, bibir Arga yang menempel padanya terasa seperti marsmellow yang lembut. Arga benar-benar seorang 'good-kisser'. Arga yang merasakan Jane memberikan respon padanya segera menarik tengkuk Jane agar ciuman itu lebih dalam, dan benar saja, detik selanjutnya Jane yang telah menutupkan matanya ini kemudian mengalungkan tanganya di leher suaminya, merasakan lidah yang bergeriliya didalam mulutnya dan pertukaran air liur yang membuat mood Jane untuk hari ini meningkat lebih dari seratus persen. Arga yang menyadari hal ini berteriak menang dalam hatinya.
Seorang Maid yang melihat adegan Tuan dan Nyonya besarnya itu, segera membalikkan badan dan kembali lagi kebelakang. Arga, tentu saja mengetahuinya, dan adegan pagi ini sukses besar!
Arga kemudian melepaskan ciumannya dan tersenyum sarat makna.
"Mau kemana kau pagi ini?" Arga mengulang pertanyaan yang sama.
"Ke tempat servis laptop." Jawab Jane sambil menundukkan kepalanya, sedang tangannya masih melingkar di leher sang suami.
Arga memegang dagunya, dan membuat wajah mereka berdekatan. Jantung Jane seakan lepas karena menatap dengan penuh kesadaran wajah tampan suaminya dengan sangat dekat.
"Hati-hati Istriku Sayang." Arga lalu mencium kening dan memegang pucuk kepalanya.
"Baik. Aku pergi dulu." Ucap Jane lalu berjalan ke pintu depan.
"Okay." Jawab Arga singkat.
"Malam ini kau harus pulang!" Teriak Jane dari luar tanpa melihat kearah Arga.
"Aku usahakan Sayang!" Jawaban Arga ini membuat Jane semakin berbunga.
Potongan-potongan adegan ini, diketahui oleh ART mereka dan setelahnya dia mebelpon seseorang.
"Sepertinya mereka tidak main-main Nyonya." Ucap wanita itu.
***