7. Baik dan Buruk

2572 Kata
"Jane!" Panggil Arga, membuat Jane melihat kearah sumber suara. Arga melambaikan tangannya, lalu berlari mendekatinya, Jane mengerenyitkan dahinya lalu membalas, lambaian tangan Arga. Jane merespon dengan cepat, karena jelas dikontrak tertulis mereka harus terlihat sangat mirip dengan pasangan suami istri sesungguhnya. Ya Sayang!”Jawab Jane dengan penuh semangat. "Kita pergi sekarang ya." Ucap Arga lalu mengambil barang bawaan Jane, yang tak lain makanan yang tertumpah di ruangannya. Lalu dia menggandeng tangan Jane ke arah parkiran. Diikuti dengan banyak pasang mata yang melihatnya, termasuk Esi yang baru saja akan pergi makan siang dengan rekannya diluar kantor. Beberapa hari ini bagai di neraka akhirnya Arga tiba-tiba kembali seperti sebelum dia bertemu dengan Indira. Jane sangat menyukainya, dia berharap akan terus seperti ini. "Suamiku, apa kau tidak salah?" Tanya Jane berbisik pada Arga sambil berjalan. "Lebih baik kau ke salon lalu, kita cari baju dibutik. Malam ini kita diundang dirumah Pak Alton untuk makan malam." Ucap Arga santai sambil tersenyum kepada beberapa orang yang menyapanya. "Oh, okay." Jawab Jane singkat. 'Benar ada maunya.' Batin Jane. *** Semuanya sudah selesai, wajah Jane yang terdapat lebam tak terlihat dengan polesan make up, dan Jane sudah berpakaian dengan anggun, Arga tersenyum melihat penampilan Jane. 'Cantik' batinnya. Dress warna cream peach itu sangat cocok dengan kulit Jane, yang tidak terlalu terbuka dan tentu tidak terlalu pendek seperti permintaan Jane, dia risih jika harus memakai pakaian yang seakan kurang bahan dan bisa-bisa dia kedinginan. Clutch dan sepatu yang juga tidak terlihat mencolok yang bahkan membuat Jane terpelongo dengan jumlah angka yang tergantung di tag price-nya. Jika dipikir lagi, dia harus kerja lembur berbulan-bulan untuk menghasilkan angka fantastis hanya sekedar dress yang menurutnya biasa saja. “Gimana, suka?” Tanya Arga padanya dengan suara yang terdengar sangat hangat. Jane hanya mengangguk, “tapi Ga … apa gak kemahalan?” Bisiknya di telinga Arga. “Jangan mempermalukan ku Jane, ini tidak seberapa.” Balas Arga dengan berbisik juga. “Cantik kan?”Ucap pemilik salon dan butik langganan Arga ini. “Tentu saja.” Jawab Arga dengan pasti sambil tersenyum. “Ayo sayang kita pergi sekarang.” Lalu mereka melangkah keluar, kali ini Pak Pijo masih menemani mereka. Pak Pijo, adalah driver Arga, tapi terkadang Arga lebih memilih untuk mengendarai kendaraannya sendiri, jadi terkadang Pak Pijo membawa orang-orang dikantor yang ada urusan keluar. Hanya saja, jika Arga menginginkan untuk disupiri, maka dengan sigap pak Pijo harus menuruti semua kemauan bosnya. "Kita ke tempat Pak Alton ya Pak, yang dulu pernah Saya dan Pak Wira pergi itu loh." Perintah Arga setelah masuk mobil. "Baik Pak." Jawabnya santun. Jane hanya diam disebelah Arga, biasanya dulu jika ada kesempatan seperti ini Arga akan mendengar suara Jane yang terus nyerocos tanpa henti, sampai-sampai dia malas untuk meladeninya. "Jane, kau masih ingat dengan Pak Alton kan?" Arga membuka percakapan. "Ah, yang ibunya ingin bertemu denganku kan?" Jane menjawab datar "Hmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Arga saat ini. "Ga, menurutmu kenapa Ibunya menyukai tulisanku? Padahal kamu tau sendiri novel buatanku itu rata-rata roman picisan yang mungkin tidak akan terjadi didunia nyata." Ucap Jane sambil matanya melihat kedepan dengan pandangan kosong. "Mungkin rangkaian katanya yang indah." Jawab Arga sambil melihat ke arah Jane. "Oh ... baiklah. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai. Percayakan padaku." Ucap Jane dengan suara yang penuh semangat, tapi itu terdengar seperti dibuat-buat. "Maafkan aku Jane." Ucap Arga pelan, hampir tak terdengar. "Santai saja. Semuanya sudah kesepakatan." Jane tersenyum lebar sambil melirik, tapi saat mengatakannya sakit itu nyata sekali. Mereka tiba dikediaman Pak Alton, rumah yang sangat megah tapi sangat sunyi. Disana mereka disambut oleh Pak Alton dan juga istrinya. "Akhirnya tamu yang ditunggu datang juga." Pak Alton yang berbadan besar ini menghampiri mereka. Arga tersenyum dan menyambut jabat tangan dari pak Alton dan Istrinya, begitu juga Jane yang berbasa-basi. "Ayo kita kedalam saja." Pak Alton mengajak sepasang suami istri palsu ini keruang tengah. "Str. Amore!" Ucap wanita yang terlihat sudah sangat tua ini. Sudah ditebak Jane bahwa dia adalah ibu dari Pak Alton. Jane langsung menyapa dan memeluk wanita ini. Diusianya yang senja, beliau masih terlihat sangat cantik. "Mama sudah lama sekali ingin bertemu dengan penulis idolanya loh." Ucap Nyonya Winta, Istri dari Pak Alton. "Begitu tahu kalau aku menemukan siapa sebenarnya si Amore itu, beliau langsung menyuruhku untuk menjemputnya di Kanada dan tak sabar ingin bertemu denganmu." Timpal Pak Alton. "Wah, saya benar-benar terharu kalau Nyonya sangat menyukai karya Saya." Jane berkata lepas, dia seakan menghilangkan beban yang berat beberapa hari ini. Arga hanya memerhatikannya saja. "Ayo kita makan dulu, biar kuat nantinya kalau mau bercerita denganmu Cantik." Ucap wanita tua itu pada Jane. Lalu mereka pun berkumpul di meja makan. Sudah ada beberapa hidangan diatas meja, menu utamanya sepertinya adalah steak. Sebenarnya, Jane agak kesusahan kalau makan hidangan ini. Arga tahu keadaannya, karena pernah sebelumnya mereka makan di restoran mewah, memesan steak, Jane merasa kesusahan. Jane melirik Arga meminta bantuan. Dengan sigap Arga memotong steaknya lalu menukar piringnya dengan piring Jane. Perlakuan sederhana ini diperhatikan oleh Pak Alton, dia tersenyum melihat keduanya. 'Sangat manis pasangan ini.' Pikir Pak Alton. Perlakuan ini juga membuat Jane yang sudah mulai memiliki rasa benci dengan Arga menjadi hilang lagi. Sekarang, lebih tepatnya saat ini Jane benar-benar merasa Arga adalah suami yang sesungguhnya. *** "Nak, aku ingin tanya padamu beberapa hal." Ucap wanita tua ini pada Jane saat mereka memasuki sebuah ruangan yang didalamnya penuh buku yang tersusun di rak. "Silakan saja Nyonya, aku akan menjawab sebisaku." Jawab Jane dengan gaya cerianya. "Str. Amore, apa artinya?" Tanyanya. "Aku mengambil nama itu dari buku harian mendiang Ibuku. Dia dulu seseorang penulis puisi, dengan nama pena Beu.Amore.” Ucap Jane. "Cerita Kita, itu yang aku tau tentang Beu.Amore." wanita itu menatap lekat ke arah Jane yang terlihat mengerenyitkan dahinya. "Apa Nyonya mengetahui tentang Ibu saya?" "Aku hanya menebak, Nak. Dulu aku ingin sekali tahu siapa sebenarnya Beu.Amore, tapi tiba-tiba dia menghilang, kabar tentangnya tidak muncul bahkan aku tidak tau bagaimana rupanya dan siapa nama sebenarnya." "Jadi maksudnya, Nyonya dulu ..." "Aku menyukai setiap pusinya yang k****a di majalah dan koran. Bahasanya yang lembut dan sarat makna, boleh dibilang dia membuat keluargaku akhirnya bertahan." Jane hanya mendengarkannya, dia tidak berniat untuk menginterupsi wanita ini ketika bercerita, biarlah saat ini dia menjadi pendengar yang baik saja. "Dulu ... kekuargaku hampir bercerai, tapi berkat puisi yang kusalin dan kuletakkan di meja kerja suamiku, Papanya Alton, kami bisa berkomunikasi lagi dengan baik. Aku sangat menyukai momen itu, dan sangat berterima kasih sekali padanya. Aku berusaha mencari siapa sebenarnya penulis ini, tapi sayangnya semua tentang dirinya seakan menjadi misteri untukku." Kemudian dia menghela nafas panjang, lalu melihat kearah Jane. "Lalu, tanpa sengaja, saat cucuku Mira, anak Alton membaca salah satu novel online di gadgetnya, aku ingin sekali tahu, dan ternyata penulis novel itu bernama Str.Amore, bahasnya yang dibuatnya mirip dengan tulisan Beu.Amore, aku beranggapan bahwa ini mungkin orang yang sama. Akhirnya aku menyuruh anakku untuk mencari tahu tentang penulis ini. Memakan waktu yang lama akhirnya aku bisa menemukanmu." Jane tersenyum mendengar ucapan wanita itu, dia tak menyangka bahwa Ibunya bisa memberikan sebuah kebahagian pada orang lain. "Beu. Amore adalah beutiful amore, Ayah yang memberikan nama pena itu, ayah hanya melihat kecantikan ibu, sampai akhirnya Ibu menderita penyakit yang tak bisa disembuhkan lalu meninggal saat usia saya sepuluh tahun. Sejak saat itu, saya ingin sekali seperti beliau, Ayah mengatakan bahwa Saya seperti cahaya bintang di malam hari, mampu memberikan sinar dalam kegelapan, oleh karena itu akhirnya Saya memutuskan untuk membuat nama pena Star Amore, yang sering ditulis Str.Amore" jelas Jane panjang lebar. "Apapun itu. Aku ingin sekali memberikan ini padamu. Seseorang yang memberikan cinta pada setiap cerita keluargaku." Wanita itu berjalan mendekati Jane memberikan sebuah kotak kecil yang diambilnya dilaci nakas disebelah pintu masuk ruang ini. "Nyonya, menyukai karya mendiang Ibu dan Saya saja, Saya sudah sangat senang, tapi untuk menerima ini bukankah ini sangat berlebihan?" Jane menolak halus pemberian dari wanita ini. "Kau ambil saja Nak, anggap ini hadiah spesial dari penggemarmu." Jane ragu menerima kotak itu tapi akhirnya, dia membukanya dan terlihat bahwa itu adalah sebuah cincin berlian yang sangat indah. "Itu adalah hadiah pertama Ayahnya Alton padaku setelah kami berbaikan." "Tapi ini kenangan beharga untuk Anda Nyonya, kenapa harus diberikan padaku?" Jane masih tak percaya dengan apa yang didapatnya barusan. "Kau harus menerima ini. Harus." Ucapan itu sangat tegas, jelas ini tidak boleh ada penolakan. *** "Mama, sudah malam. Mama istirahat dulu, tamu kita juga sudah kelelahan." Suara istri pak Alton membuat Jane dan Ibunya tersadar bahwa mereka sudah ngobrol panjang. "Ah, betul sekali. Maaf jadinya kemalaman. Besok-besok kita bisa cerita lagi ya Nak." Wanita paruh baya itu tersenyum pada lawan bicaranya. Mereka keluar dari ruangan itu menuju ruang tamu, dimana Arga dan Alton masih berbincang sambil tertawa, Jika Jane menebak mereka pasti membicarakan tentang bisnis. Apalagi yang bisa menyatukan mereka kecuali bisnis. "Jane, terima kasih sudah memenuhi undangan kami ya. Ibuku terlihat senang sekali." Ucap Pak Alton pada Jane. "Ah, Saya juga sangat senang bisa bertemu dan berkenalan dengan keluarga Pak Alton." Jawab Jane. "Kalau begitu kami pulang dulu Pak Alton." Pamit Arga pada mereka. Arga menuntun istrinya menuju mobil dan masih diiringi oleh pak Alton di belakangnya. "Kemana Pak Pijonya?"Jane heran karena Arga sudah memegang kunci mobilnya. "Tadi beliau bilang istrinya akan melahirkan Sayang." Ucap Arga dengan sangat manis pada Jane. "Oh ya?"Jane tersenyum. "Arga memang bos yang luar biasa." Puji Alton, "Begitu tahu karyawannya ada urusan yang mendesak, dia langsung memberikan ijin." Jane hanya tersenyum dan melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya. "Benar-benar pengantin baru yang sangat mesra." Ucap Pak Alton pada mereka berdua. "Baik Pak Alton kami permisi dulu" Arga pamit pada rekannya sambil masuk ke dalam mobilnya. *** Sudah hampir pukul 11 malam, mereka kembali ke rumah dengan mobil yang melaju dengan kecepatan sedang yang dibawa oleh Arga. "Thanks Jane." ucap Arga. Jane hanya diam dia tidak menjawab ucapan Arga. Lalu, Arga melihat ke arah Jane, ternyata mata wanita ini sudah tertutup Mungkin dia kelelahan pikirnya. Sebenarnya Jane mendengar semua apa yang dikatakan oleh Arga, tapi saat ini dia malas untuk sekedar bercerita kosong dengan Arga. Jane mengerti apa tujuan dia menikahinya, 'ternyata itu hanya untuk tujuan bisnis' batin Jane. Lagi-lagi Jane berkata dalam hati kalau semuanya akan indah pada masanya dan itu harus. Mobil sudah mulai berjalan perlahan, menandakan bahwa mereka sudah akan sampai tapi Jane sangat malas untuk membuka matanya, dia berharap bahwa cerita seperti yang dia buat di novel karangannya akan terjadi padanya, bahwa laki-laki yang menjadi suaminya ini akan mengangkat tubuhnya ke dalam kamar. Adegan romantis ini sangat ditunggu oleh Jane. Mobil sudah terhenti, Artinya mereka sudah sampai di rumah pikir Jane. 'Arga, tolong please banget lakukan adegan romantis itu padaku'. Pikiran Jane terus-terusan terbayang adegan romantis yang dia impikan. Mungkin sudah 10 menit dia dan Arga diam di dalam mobil ini dan adegan romantis yang dibayangkan oleh Jane, masih belum terjadi juga. "Jane." Suara lembut Arga ditangkap oleh gendang telinga Jane. Artinya adegan romantis yang dibayangkan oleh Jane tidak akan pernah terjadi saat ini. Kemudian, Jane berakting seolah-olah dia tertidur selama perjalanan dan kaget bahwa mereka sudah sampai di rumah. "Ah, kita sudah sampai ya." Ucap Jane. "Sekitar 10 atau 15 menit yang lalu ucap Arga pada Jane. "Sorry Ga ngebuat kamu menunggu selama itu." ucap Jane. "Jane Malam ini aku ada urusan, jangan lupa kunci pintu, Aku tidak akan pulang, mungkin aku akan pulang besok pagi." ucap Arga pada Jane. Jane, sebenarnya kecewa mendengar ucapan Arga barusan tapi dia menjawab dengan suara yang lantang seolah tidak ada masalah kalau harga tidak pulang malam ini. “Oke, hati-hati suamiku jaga diri biar tidak Ketahuan ya.” Jane langsung berjalan cepat menuju ke dalam rumah tanpa melihat Arga di belakangnya. Dia tidak tahu apakah hari ini dia harus bersedih atau senang karena hari ini Arga membuat perasaannya menjadi seperti naik roller coaster. Membuat suasana hatinya buruk kemudian membaik lalu memburuk kembali. Sedang Arga hanya mengerenyitkan dahinya mendengar ucapan Jane barusan. ‘Dasar orang aneh.’Ucap Arga sambil menggelengkan kepalanya, lalu memutarkan mobil dan meninggalkan rumahya. *** Hai semuanya, kali ini Chinta mau kasih rekomendasi cerita seru untuk kamu, cerita lainnya yang chinta buat, masih tentang penulis yang di cap sebagai plagiat... ini dia cuplikan prolognya! Judul: Billionaire's Plagiator PROLOG: Untukmu Sang Penjaga Mimpi Dibawah langit tanpa Tepi Dalam sebuah cawan utopi Dan dunia menjadi sangat sepi . Untukmu yang selalu bersenda gurau Yang akhirnya membuatnya menjadi kacau Lalu membuat hati menjadi risau Dan tetap jantung selalu berdesau . Wahai kau pemilik Hati Aku bahkan mulai tersugesti Akan suatu untuk mengobati Sebuah luka akibat patah hati . Wahai kau penikmat diri Yang mencoba untuk pergi menyendiri lalu menikmati suasana yang asri Bersama para bidadari *** Sajak pembuka pada part dua puluh satu dalam novel elektornik yang berjudul Hello My Past karangan Ileana, membuat gempar dunia kepenulisan, karena menurut Vlogger ternama Aryajaya, Alkhilendra adalah pencomot sajak ini, Alkhilendra adalah seorang penulis Novel Online yang sudah sangat terkenal dan menurut isunya dia merupakan seorang laki-laki muda yang sangat tampan dan keturunan konglomerat. Sajak ini pertama kali dipublikasikan di sebuah majalah lokal empat tahun silam, dengan nama pena Ileana. Dan sajak itu diganti posisinya saja dan ada di novel elektronik milik Alkhilendra pada bab seratus dua puluh tiga di akhir babnya. Memang jika diteliti lagi, lebih dulu Alkhilendra yang mempostingnya ke novel online tapi masalahnya tulisan ini ada di publik perdana empat tahun yang lewat dan ada dimajalah lokal jelas itu sudah terverifikasi. Namun yang namanya penulis sudah memiliki nama besar dan jelas memiliki fans garis keras, mereka tak bisa terima mereka bahkan membandingkan kalau Ileana yang menjiplak karya penulis kesayangan mereka, dan Aryajaya hanya menfitnah saja, lagipula Aryajaya kali ini sepertinya tak bersikap netral apalagi beberapa reviewnya saat itu berbenturan dengan platform Your Novel, platform online yang membesarkan nama Alkhilendra, jadi kepercayaan publik atas reviewnya belakangan menjadi sangat disanksikan. Karena hal inilah mereka berlomba-lomba melihat tulisan Ileana, yang kata mereka adalah penulis baru yang ingin pansos! Tapi di Novel lain yang berjudul My Lovely Angel, ada komentar pedas yang membuat orang yakin kalau Ileana adalah sang plagiator murni! Disana dituliskan kalau sajak lainnya pernah ada dimuat di sebuah tabloid nasional dan penulisnya adalah Rany Arago! Empat belas tahun yang lalu dan itu sudah beredar beritanya dan sudah terbukti! *** Wahai cinta yang sangat kudamba Kau datang tanpa aba-aba Membuat jantungku seakan berlomba Memastikan kalau cinta itu sudah tiba . Hai Cinta yang selau aku rindu Kau manis bagaikan madu Yang memberikanku sebuah candu Dan makin membuat hatiku terpadu . Kaulah pangeran yang memiliki wewenang Untuk membuat hatiku merasa tenang Lalu datang untuk meminang! *** Karena bukti inilah membuat Ileana akhirnya dicap sebagai plagiator! Dia memuat sajak atas nama dirinya padahal sajak itu pernah dimuat di tabloid nasional dengan penulis Rany Arago, dan sajak itu dimuat kembali oleh Ileana dalam novel elektroniknya yang berjudul My Lovely Angel, awal bab tiga puluh satu, tak seperti tulisannya dengan Alkhilendra yang tempatnya tak sama, di novel ini sajak itu susunannya sama persis. Lantas apa mungkin Ileana adalah memang seorang plagiator? Saat ini, Varen Alsaki, pemilik dari Platform Your Novel sangat yakin kalau Ileana adalah seorang plagiat, karena sajak itu adalah sajak untuk dirinya yang dibuat oleh mendiang kekasihnya, Rany Arago dan memenangkan kompetsi Bait Untuk Terkasih pada tema hari Kasih Sayang terbitan Bulan Februari di tabloid Remaja yang saat itu benar-benar ditunggu cetakannya, “Tabloid Keren Banget” ini benar-benar sangat terkenal pada masanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN