6. Str.Amore

1686 Kata
Arga masih terus melamun dimeja kerjanya, ada beberapa berkas yang sampai saat ini belum dieksekusinya. Sejak dia bertemu dengan Indira kembali entah mengapa rasanya sangat bahagia, saking bahagianya dia tidak memedulikan hal lain selain Indira tersayang. Kata-kata yang dilontarkan oleh Jane sebelum dia pulang sedikit mengganggu kesenangan yang dimilikinya. Dia sangat kesal harus peduli dengan kalimat Jane, tapi ucapan Jane ada benarnya juga. Arga kembali mengingat kejadiannya bersama Jane setelah mereka tanda tangan kontrak. *Flash Back* "Hati-hati dijalan calon istriku." Itu ucapan yang keluar dari mulut Arga untuk pertama kalinya didepan beberapa karyawan dikantor setelah mereka menandatangani kotrak. Semuanya harus dibuat senatural mungkin dan tidak ada kecurigaan orang lain. Saat itu Jane menjawab dengan raut wajah yang kaku lebih tepatnya penuh keterpaksaan. Setelahnya dia membiarkan orang sekantor menggosipi dirinya, bahwa Arga yang selalu kasar dengan wanita berubah menjadi sangat manis. Dia ingin mengubah image dirinya. Bukankah cukup menyenangkan jika orang bergosip baik tentang dirinya. Hampir setiap hari Jane datang menemuinya dikantor sebelum acara pernikahan mereka, itupun Arga yang menyuruhnya datang, karena Arga saat ini benar-benar ingin merubah Image-nya. Dikantor gosip tentang mereka makin menyebar dengan cepat, didukung dengan era komunikasi instan seperti sekarang. Arga sangat menikmatinya. 'Enak juga jadi orang baik' pikirnya saat itu. sekali pernah Arga menyuruh Esi untuk menghubungi Jane agar wanita itu menemaninya pergi bertemu dengan client pentingnya, client yang memang diharapkan oleh Arga untuk bekerjasama. "Sayang, disini." Arga melambaikan tangannya saat melihat Jane. Jane datang menghampirinya, memang tampilan Jane tidak terlalu mencolok dengan brand ternama, tapi sangat cocok dikenakannya karena kelihatan sangat sederhana dan anggun. Dia memang tidak seperti wanita-wanita yang sering dia kencani, tidak memakai make up tebal, tak menggunakan barang dengan merk terkenal. Dia apa adanya, untuk sesaat Arga menikmatinya, dia cukup menyukai tampilan yang seperti ini. 'Lumayan juga tampilannya'. Batin Arga. "Sudah lama nunggunya Ga?" Jane bertanya saat dia duduk bersebelahan dengan Arga. "Baru aja kok." Jawab Arga singkat. "Orangnya belum dateng?" Jane celingak-celinguk melihat sekitar.  "Kalo belum ada berarti belum dateng dong, masa itu aja harus diperjelas."Arga berkata dengan ketus, tapi sesungguhnya itu hanya perlindungan dirinya saja, dia bahkan tidak mau nantinya harus bermain hati dengan wanita ini, karena sekarang dirinya masih memikirkan satu nama yang masih membuatnya trauma untuk menjalani hubungan yang serius. "Siapa tau dia lagi kebelakang mungkin." Jawab Jane sambil tersenyum melihat Arga yang wajahnya terpasang dengan sangat serius. "Ah Kamu pasti Jane kan?" Ucap laki-laki yang berbadan agak besar dengan setelan jasnya menghampiri meja mereka. "Ya betul." Jawab Jane sambil melirik ke arah Arga. "Apa kabar Pak Argadiatma? Ternyata kamu benar membawanya kemari." Ucap laki-laki tadi sambil duduk berhadapan dengan Arga. "Saya harus membawanya kemari karena setelah ini kami masih harus menyiapkan acara pernikahan kami Pak Alton." Arga berkata santai, tapi kalimat itu membuat Jane makin terbang tinggi. Sudah tidak usah dijelaskan apa yang dirasakan Jane, pastinya dia sangat bahagia, bahagianya bukan bahagia sekali tapi bahagia banget banget banget! "Kalian akan menikah? Wah ini berita hebat!" Ucapnya seraya tertawa. "Nona Jane, saya sudah lama sekali mencari siapa sebenarnya penulis novel itu. Akhirnya, laki-laki ini mengatakan bahwa ternyata pacarnya adalah Dia." Ucap laki-laki bernama Alton ini. "Maksudnya?" Jane mengerenyitkan dahinya. "Ibuku sangat menyukai tulisan yang kau buat Nona, aku sudah mencari siapa sebenarnya Str.Amore, nama penamu itu tapi hasilnya sangat nihil dan dia," tunjuk laki-laki itu pada Arga, "dia mengatakan padaku bahwa kau orangnya. Aku sangat bersyukur sekali." Lanjutnya. Jane melihat ke arah Arga, laki-laki itu tersenyum sangat manis pada Jane. Persetan dengan apa yang sebenarnya terjadi, yang penting saat ini Jane merasakan bahwa dirinya sedang melayang sangat tinggi. Dimanfaatkan? Ya tentu saja seharusnya seperti itu, tapi untuk saat ini dia tidak peduli, yang dia harapkan hanya menikah dengan Arga. Mereka berbicara tentang bisnis, Jane kurang memahaminya, tapi dia hanya tersenyum disela-sela percakapan mereka, lalu ikut tertawa jika mereka tertawa dan berkata selingan dengan memanggil Jane. Ini memang tampak membosankan, tapi sekali lagi Jane tidak mempermasalahkannya, yang dia tahu bahwa saat ini, tatapan hangat Arga padanya mampu membuat dia terbang ke luar angkasa! "Pak Arga, apa boleh minggu depan Saya membawa calon istri anda menemui Ibu Saya?" Tanya Pak Alton yang tiba-tiba ini membuat Jane terkejut dan melihat ke Arga. "Minggu depan dia sudah menjadi istri saya pak bukan calon lagi." Ucap Arga lugas dan dengan senyum khasnya membuat hati Jane makin berbunga, "Silakan tanya langsung dengannya saja Pak Alton, Saya tidak bisa memaksanya." Ucap Arga sambil tertawa renyah. Jane menatap Arga, seakan mengerti maksudnya. "Boleh saja Pak, Saya pasti akan sangat senang sekali bisa bertemu dengan Ibu Anda." Ucap Jane. "Wah, kalian memang pasangan yang sangat serasi. Semoga lancar persiapannya ya. Berati pernikahan kalian minggu ini?" Anggukan Arga memberikan jawaban pada lawan bicaranya. "Sayang sekali sepertinya aku tidak bisa datang di acara istimewanya, karena akan menjemput Ibuku di Kanada dan membawanya bertemu dengan Nyonya Arga nantinya." Jane hanya tersenyum mendengarnya bicara dan lebih senang lagi kalau ada yang akan memanggilnya dengan sebutan Nyonya Arga. Entah untuk keberapa kalinya Jane selalu terbang tinggi jika ada yang memanggilnya dengan sebutan Nyonya Arga, rasanya dia tak ingin bangun dari tidur ini jika ternyata sekarang adalah mimpi. Jane berpikir bahwa mungkin saja dia pernah menyelamatkan sebuah negara dikehidupan sebelumnya sampai-sampai saat ini dia akan menikah dengan seorang yang sangat diinginkan banyak wanita didunia ini. Obrolan tersebut akhirnya selesai dengan banyak basa-basi disana-sini. Laki-laki itupun pergi meninggalkan mereka, raut wajah Arga sangat bahagia saat ini, Jane melihatnya dengan penuh senyuman. "Okay, mau kemana kita hari ini?" Tanya Arga penuh semangat pada Jane. "Ketemu sama Mbak Nini, untuk mastiin dekor gedungnya. Terus mastiin kamar untuk keluargaku nginep." "Okay! Lets Go Calon Istriku." Arga tersenyum lebar saat ini dan Jane sangat menyukainya! Benar-benar sempurna batinnya, dan lebih sempurna lagi diwaktu sibuknya ini Arga masih mau menemaninya memastikan hal-hal kecil seperti pengurusan gedung dan lainnya, padahal ini hanyalah sebuah pernikahan palsu. Saat persiapan pernikahan tersebut mungkin hal-hal bahagia tercipta dan juga memercikan sebuah gelombang rasa yang kemungkinan tak disadari oleh Arga. *Flash Back Off* Deringan telpon Arga membuatnya berhenti mengingat masa-masa bersama Jane. Pak Alton, Heirs Corporation muncul dilayar telponnya. "Selamat siang Pak Arga." Ucapnya dengan penuh semangat. "Siang Pak Alton." "Seneng banget yang jadi pengantin baru. Hehehe..." lanjutnya sambil terkekeh. "Iya Pak, begitulah." Arga menjawab sekenanya. "Maaf nih, kalau malam ini anda tidak sibuk, Saya mengundang Anda dan tentunya istri anda untuk makan malam dirumah. Ini permintaan dari Ibu Saya." Pak Alton mengundang Arga untuk datang kerumahnya. "Ah, tentu saja Saya memiliki waktu untuk itu Pak, saya merasa sangat terhormat diundang kerumah Anda." Jawabnya. "Tapi, apa Istri anda tidak memiliki acara malam ini?"Arga tahu pak Alton hanya bertanya basa-basi saja, dan itu tak terlalu dihiraukannya. "Dia ... " Arga berpikir sejenak, "Dia tidak ada acara Pak, karena daritadi dia telpon untuk menemaninya belanja keperluan rumah." Ucap Arga berbohong. "Wah artinya Saya mengganggu acara pengantin baru dong." "Tidak Pak Alton. Istri saya pasti sangat menyukainya." Arga berkata dengan nada yang terdengar sangat bahagia. "Baiklah kalau begitu. Saya tunggu malam ini dirumah ya." Ucapnya lagi lalu mematikan sambungan telpon. Arga langsung keluar ruangan menyadari bahwa Jane sudah pergi, dia berharap kalau Jane belum meninggalkan kantornya. Dia terus men-dial nomer Jane tapi sayangnya nomer itu tidak di jawab. Dengan cepat Arga mencari Jane, dia bisa menebak Jane belum pergi jauh dari kantornya. Langkah Arga yang terburu-buru memancing orang untuk melihatnya, mereka sambil berbisik untuk mencari bahan bergosip. Untungnya Jane masih ada di depan gedung kantornya, dia terlihat berbicara dengan petugas keamanan gedung. Ada rasa lega untuk Arga saat ini. "Jane!" Panggil Arga, membuat Jane melihat kearah sumber suara. Arga melambaikan tangannya, lalu berlari mendekatinya, Jane mengerenyitkan dahinya lalu membalas, lambaian tangan Arga. Jane merespon dengan cepat, karena jelas dikontrak tertulis mereka harus terlihat sangat mirip dengan pasangan suami istri sesungguhnya. Rasa sakit yang diterimanya barusan seakan menguap bersama dengan sikap palsu Arga yang diciptakan barusan. Jane tahu dan sadar ini bukan sikap Arga yang sesungguhnya, ini hanya sebuah permainan, ya ini permainan. Berkali-kali Jane memastikan hatinya untuk hal ini dan mendoktrin otaknya, ini hanya sebatas sikap profesionalisme saja. “Ya Sayang!”Jawab Jane dengan penuh semangat. “Kita pergi sekarang ya.” Arga tersenyum manis pada Jane. Disudut lain, ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan sangat kesal dan mengumpat keduanya. *** Hai readeŕ tersayang, chinta ada cerita oke punya yang sayang buat dilewatkan... Judul: Mr. Billionaire VS Ms. Banker Menceritakan tentang dunia perbankan dan ... akan banyak sesuatu yang bisa didapatkan didalamnya.   Blurb: WARNING!!! CERITA INI AKAN MENGANDUNG KONTEN SENSITIF! DAN DIPERUNTUKKAN UNTUK KAMU YANG BERUSIA 21+ AGAR LEBIH BIJAK MENYIKAPI! INI MURNI FIKSI YANG APABILA ADA KESAMAAN TOKOH DLL BUKAN KARENA DISENGAJA. Seth seorang pengusaha transportasi terkenal dan Zeline seorang banker yang handal. Seharusnya kehidupan antara pengusaha dan bank adalah teman yang akrab yang bisa saling membantu. Pengusaha memerlukan dana untuk penambahan modal usaha dan Banker memerlukan Nasabah untuk menjaga kelangsungan operasionalnya. Seharusnya hubungan keduanya ini bisa saling menguntungkan. Tapi bagaimana jadinya jika seorang pengusaha hebat ini anti dengan Bank? Dan Banker handal ini tak mau kalah berdebat tentang produk perbankan yang dimilikinya? Akankah ketidaksamaan pendapat ini bisa menebarkan benih-benih cinta keduanya? Baca cerita ini ya! Cerita seru yang bisa kamu dapatkan dan juga banyak pelajaran didalamnya. *** "Apa?! Dia anti banget sama bank?" Ika- sapaan Malika, salah satu sahabatnya Zeline seakan tak percaya. "Begitulah, dan lo mesti tau, dia sok-sok an banget bilang ke gue gak butuh modal dari utang. Terus lo tau ... dia ceramah panjang lebar dong tentang Haramnya RIBA!" Ine-sapaan akrab Zeline, terlihat kesal bercerita dengan kedua sahabatnya. "Banyak gaya! Udah lo bilang aja, ngomongin riba ... riba ... riba ... dia sendiri gak mungkin gak transaksi pake Bank! Sama aja donk dia juga pengguna jasa yang haram!" Kali ini Ifa yang terlihat kesal. "Let's see seberapa jauh dia bilang itu Haram!" Ine terlihat sangat geram. *** "Parah lo bro, masa iya nolak gadis cantik begitu." Zuhdi berkata sambil terkekeh pada Seth yang masih santai dengan handphonenya. "Abisnya mau gimana lagi, dia gak berenti ngehubungi gue buat ngutang, terus gak mempan tawarin ngutang, gue ditawarin nyimpen duit disana dengan bunga yang wah. Lo tau sendiri bro, hijrah itu mudah, yang berat itu istiqomahnya." Dia berkata santai. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN