Handphone Jane berbunyi, membuatnya menyeka air mata yang masih mengalir deras di pipinya saat dilayar ponsel itu tertulis Nama Ayah.
"Ayah, apa Ayah sudah sampai?" Tanya Jane.
"Sudah Nak, baru saja kami tiba. Apa kamu baik-baik saja? Kenapa suaramu terdengar seperti ..."
"Jane bersin-bersin Yah, agak pilek sedikit, seperti biasa Yah. Mungkin ini lingkungan baru, Jane perlu penyesuaian." Sambung Jane sambil tertawa setelahnya.
"Bagaimana suamimu? Harusnya kalian itu tidak usah kerja dulu. Nikmati dirumah berdua."
"Ayah! Arga itu kan sibuk, dia harus bisa menjaga perusahaanya agar bisa berjalan dengan baik. Bebannya banyak lo Yah, ada ribuan keluarga yang bergantung padanya. Jadi, jangan salahkan menantu Ayah ya. Dia cukup bertanggungjawab." Jawab Jane pada Ayahnya.
"Oke Nak, baik-baik disana dan membaurlah dengan keluarganya, memang kita terlihat timpang dengan mereka tapi kau harus mencoba yang terbaik."
"Oke Ayah. Jaga kesehatan ya."
"Kamu juga anak bandel."
"Salam untuk Adela ya Ayah."
"Iya Nak. Jaga diri disana ya. Ayah akan selalu merindukan putri Ayah."
"Jane juga Yah."
Sambungan telpon terputus, Jane menghela nafas panjang. Mencoba membesarkan ruang yang ada di parunya agar udara bisa lebih banyak masuk kedalam sana.
'Semangat Jane! You can do it!' Jane menghapus air matanya dan bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah dapur, berharap mungkin ada beberapa makanan yang bisa dia makan. Sayangnya, sekali lagi hari ini dia kecewa, dia mencari semua kabinet yang ada didapur dan juga makanan dikulkas hasilnya nihil. Untung saja dia belum menelpon bank untuk memblokir semua kartunya, kalau tidak bakalan dia mati gaya karena tidak ada cash ataupun uang non tunai. Beruntung bisa hidup dijaman yang serba mudah. Smartphone adalah segalanya.
Segera dia mencari makanan di aplikasi pesan antar, dan tinggal menunggu pengantaran. Jane kemudian tersenyum, berusaha untuk melupakan apa yang barusan saja terjadi dengannya.
'Pikiran positif datanglah! Datanglah!' Dia seolah memantrai dirinya untuk terus tersenyum walau pipinya sedikit lebam dan bibirnya yang pecah kini terasa sedikit nyeri.
Hampir empat puluh menit akhirnya pesanan Jane tiba, dia memesan dua porsi mie Ayam pangsit goreng, satu porsi pangsit rebus, beberapa porsi dimsum. Semuanya bahkan lebih untuk tiga orang makan. Jane mampu memakan semuanya untuk menaikkan moodnya dan mengembalikan energi yang terbuang untuk marah-marah tadi.
Disela dia makan dengan membabi buta, Arga pulang dan melihat Jane makan dengan sangat berantakan.
"Ah, suamiku kau sudah pulang?" Jane tersenyum pada Arga seolah tidak pernah terjadi apapun barusan dan tingkah itu membuat Arga kesal.
"Makan yang benar! Lalu rapikan semuanya, setelah itu kita harus bicara." Ucap Arga dengan nada suara yang datar dan sangat dingin.
"Baik suamiku." Ucap Jane dengan nada ceria. Dia berusaha sebisanya untuk tidak menangis, dan mengatur ritme nafasnya agar teratur dan bisa mengalirkan energi positif keseluruh tubuhnya.
"Dan ... jangan panggil aku seperti itu!"
Jane hanya tersenyum melihat bayangan suaminya menghilang dibalik tangga. Sebenarnya Jane merasa senang karena Arga pulang malam ini, dia bahkan berpikir bahwa Arga tidak akan pulang setelah kejadian tadi. Cepat dia menghabiskan seluruhnya dan membereskan semua kekacauan di meja makan.
Setelah selesai membereskan makanannya dia mengambil nafas panjang duduk sebentar sembari menyiapkan hatinya untuk terluka kembali jika bicara dengan Arga nantinya.
"Ga, aku sudah selesain semuanya." Jane mengetuk pintu kamar Arga dengan pelan.
"Tunggu diruang tengah." Perintahnya, Jane memanyunkan mulutnya.
'Dasar tukang perintah!' batin Jane. Dia menuruti perintah Arga untuk segera menunggunya. Disana kembali kristal bening keluar dari mata Jane, tapi dia langsung menyekanya sebelum kepergok Arga.
"Sorry Ga, tadi kelewatan." Jane membuka pembicaraan sebelum Arga duduk di sofa.
"Aku gak mau tau kejadian kaya tadi gak boleh terulang lagi, dan satu hal lagi, jangan pernah menyakiti Indira baik fisik maupun verbal." Arga dengan suaranya dingin memberi perintah pada Jane.
‘Apa kau tak tahu kau telah menyakitiku dengan fisik dan verbal kasarmu.’Batin Jane.
"Okay. Aku rasa pembicaraan kita sudah cukup. Aku ngantuk." Jane berdiri, karena dia tidak sanggup jika hatinya terluka lagi dengan ucapan-ucapan yang kurang manusiawi dari Arga.
"Dan ... aku ingatkan sekali lagi. Ini hanya sebatas kontrak. Jika kau bermain dengan hatimu aku tidak akan bertanggungjawab." Ucapnya dingin tanpa melihat ke arah Jane yang berjalan menuju kamarnya.
"Aku tidak akan memohon untuk pertanggungjawabanmu." Jawab Jane ketus sambil berlalu.
"Terserah! Aku sudah peringatkan kau dari awal. This is just a Game!"
"Iya tau! Gak perlu diulang-ulang kaya tape recorder!" Teriak Jane sambil berjalan kearah kamarnya. Tanpa disadari Arga, bulir kristal itu jatuh dari sudut matanya, sakit dia lagi-lagi merasakannya.
Dia menutup pintunya, masih bersandar dibelakang pintu, dia berusaha keras untuk menangis tanpa mengeluarkan suara, sesak dan sakit sekali rasanya. Lalu kakinya terasa tak mampu menopang berat tubuhnya, dia terduduk disana sambil otaknya berpikir kebanyak hal.
‘Apa ini sudah sangat mirip dengan novel?’
‘Apa rasanya seperti ini menyiksa tokoh utama?’
‘Apa aku berhenti menulis saja?’
Pikiran-pikiran itu membuat Jane makin tersiksa.
‘Arga … harusnya kau tak boleh melupakan aku.’
'Semangat Jane, hari bahagia itu akan tiba.'
Jane berdiri lagi lalu mencoba menyanyikan lagu penyemangat, dia berusaha untuk tidak terus terbawa suasana yang menyedihkan.
***
Arga memencet remote untuk menghidupkan televisi yang berada didepannya. Pikirannya terbayang kejadian singkat tadi. Dia sebenarnya lupa bahwa dia telah menikah, karena kerinduan yang cukup lama terpendam pada wanita itu tanpa sadar dia membawa Indira ke kediamannya. Dia tersentak saat Jane menjerit. Ada sedikit rasa bersalah, tapi hanya sedikit, selebihnya dia sangat kesal dengan Jane yang membuat Indira merasa terpojok.
'Untunglah wanita itu minta maaf duluan, kalau dia masih membawa masalah tadi, sudah kuusir dia dari tempat ini.' Ucap Arga pelan.
***
Pagi ini Jane terlihat buru-buru pergi. Dia tidak sarapan dengan santai seperti kemarin. Arga tidak terlalu menghiraukannya sampai akhirnya ART itu memberitahunya bahwa Jane ingin pergi ke kantor polisi.
Segera diikutinya mobil taksi online yang membawa Jane pergi dan benar saja, Jane berhenti di kantor polisi.
"Mau apa wanita ini disini?" Gumam Arga, bertanya pada dirinya sendiri.
"Jangan-jangan dia mau melaporkanku, karena aku menamparnya semalam?" Arga tiba-tiba teringat bahwa dia menampar Jane kemarin hingga Jane jatuh tersungkur didekat meja. Arga langsung mendial nomor Jane, dia penasaran apa yang dilakukannya disana.
"Jane, dimana?" Ucap Arga dengan suara yang terdengar sangat dingin.
"Di kantor phohisi" jawab Jane santai sambil mengunyah makanan. Arga jelas tau, karena dia melihat Jane masih mengunyah makanan yang barusan dia beli dipinggir jalan seberang kantor polisi.
"Ngapain kesana?!" Suara Arga meninggi, membuat Jane terkejut mendengarnya.
"Mahu lhaphoran dohompetkuh ilhang khemahrin." Jawab Jane sambil terus mengunyah makanannya.
"Kunyah dulu yang bener baru ngomong!"
"Mau laporan dompetku hilang, soalnya aku mau ngurus kartu atm dan lain-lain, karena semuanya ada disana." Jawab Jane kali ini dengan benar.
Ada rasa lega Arga mendengarnya.
'Dompet ...' Arga juga baru ingat kalau dompet Jane ada padanya. Entah kenapa dia selalu melupakan hal-hal penting yang berkaitan dengan Jane.
"Gak usah ke kantor polisi segala! Ini dompet kamu ada sama aku. Pulang sekarang!" Perintah Arga seperti terdengar keharusan untuk Jane. Arga memerhatikan tingkah Jane dari jauh, dia memandang Jane yang melompat girang, mungkin dompetnya tidak jadi hilang, lalu Jane membuka handphone, memesan taksi online.
Saat ini dia hanya ingin melihat Jane dari jauh. Mengamatinya saja sudah cukup, karena nantinya dia tidak mau jika harus bertanggungjawab untuk perasaan Jane padanya.
Jane sudah menaiki mobil yang dipesannya, Arga mengikutinya dari belakang tapi, makin lama arahnya tidak menunjukan arah pulang, Arga heran sebenarnya apa yang dilakukan oleh Jane. Arga terus mengikutinya, sampai akhirnya dia tiba disebuah panti jompo.
Dari kejauhan Arga terus melihat Jane. Jane turun dari mobil lalu disambut dengan penuh suka cita saat tiba di gerbang, lalu Jane masuk kedalam dan Arga tidak bisa mendapati bayangan Jane lagi.
Lagi-lagi Arga penasaran dengan apa yang dilakukan Jane. Dia menelpon Jane dan dering keempat Jane menjawab panggilannya.
"Belum pulang juga?" Ucap Arga pada Jane, sambil matanya terus mengawasi tempat dimana matanya menangkap bayangan Jane.
"Aku ada kerjaan mendadak. Nanti aku telpon lagi, mungkin sekitar satu jam aku baru tiba dirumah. Udah dulu ya, nanti kalo mau pulang aku telpon." Jane langsung mematikan sambungan telponnya. Arga kesal mendapat perlakuan seperti itu tapi, karena penasarannya Arga tetap menunggu Jane disana. Benar saja tiga puluh menit berlalu akhirnya Jane menelponnya.
"Ga, ini aku udah selesai. Sekarang lagi nunggu taksi online jemput. Kamu sudah kekantor?"
"Belum, aku tunggu kamu pulang dulu karena, aku perlu penjelasan tentang sesuatu." Jawab Arga.
"Okay, tunggu aku dirumah."
Sambungan telpon mati, Arga segera memutar mobilnya dan kembali secepat mungkin kerumah.
Jane merasakan sepertinya dia sedang diikuti oleh Arga, tapi segera dia tepis perasaan itu. ‘Mana mungkin dia berada disekitar sini. Jangan mikir aneh-aneh Jane. Kamu harus semangat!’ Ucap Jane dalam hati demi menyemangati dirinya sendiri.
***
"I'm Home!" Suara Jane terdengar ceria pagi ini saat memasuki rumah.
"Nih!" Arga menunjukkan dompet bewarna coklat gelap dan sedikit kucel pada Jane.
"Ah, makasih suamiku." Jane mengambil dompetnya dari tangan Arga, dengan wajah yang sumringah!
'Heran, padahal isinya juga gak terlalu banyak bahkan hampir dibilang gak ada isi kecuali kartu-kartu, ngapain juga dia terlihat bahagia.' Batin Arga.
"Foto itu, jelaskan padaku." Suara Arga sangat dingin sekali.
"Ah, ini …” Jane berusaha berpikir bagaimana cara mengatakannya, karena memang dia sangat ingin sekali meletakkan foto mereka berdua didompetnya, “setelah acara malam itu, aku dikirim teman foto kita berdua yang dia ambil, karena aku belum mengantuk saat pulang resepsi, akhirnya foto itu ku print dan kuletakkan disana. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman. Aku akan menyimpannya ditempat lain." Jane menjelaskan dengan tenang seperti tidak ada masalah yang serius, lalu Jane mengambil foto didalam dompetnya, mengeluarkannya dari sana dan Arga hanya diam memperhatikannya.
Saat seperti ini Jane berharap sekali, kalau Arga mengatakan foto itu dibiarkan saja disana, tapi sayangnya kalimat seromantis itu tidak pernah keluar dari mulut Arga.
‘Apa yang kau harapkan sih Jane?’ Jane merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Okay, aku berangkat kerja dulu. Kau makanlah sudah disiapkan oleh Maid di meja makan dan ingat jika keluar tetap berdandan seperti ini, apalagi wajahmu itu. Jangan sampai ada yang tau tentang ini." Arga menunjuk ujung bibir Jane, ada rasa penyesalan sedikit dihatinya, tapi untuk meminta maaf, tak ada dalam kamusnya untuk Jane.
"Baik suamiku ... hati-hati perginya ya." Ucapan Jane barusan terdengar sangat hangat, Arga merasakan bahwa Jane menahan sesuatu yang entah sulit dia deskripsikan.
Setelah kepergian Arga, Jane berjalan lesu ke meja makan, dengan malas dia memakannya sedikit lalu Jane kembali ke kamarnya.
'Apa setiap hari sampai dengan tiga ratus enam puluh lima hari aku harus mendengar ucapan yang tidak manusiawi dari mulut berbisanya?' Ucap Jane pelan, sambil memandang foto mereka berdua lalu menulis seusatu dibalik foto itu dan memasukkannya kedalam buku agendanya.
'Semangat Jane masih ada tiga ratus enam puluh tiga hari lagi untuk terus mencari peluang.' Jane kembali menyemangati dirinya sendiri.
***
Karena setiap hari adalah peluang, maka siang ini Jane datang kekantor membawakan makan siang untuk suaminya.
Sebelum keruang Arga, Jane disambut oleh Esi.
"Pak Arganya ada di dalam mbak?" Tanya Jane ramah.
Esi tampak kebingungan untuk menjawabnya.
"Kenapa? Apa Indira ada didalam?" Tanya Jane langsung dan dijawab dengan anggukan pelan Esi.
"Apakah sudah lama dia didalam?"
"Mungkin sekitar lima atau sepuluh menit yang lalu." Jawab Esi lagi.
"Sudah tidak usah khawatir, pastikan saja ini kau sendiri yang tahu." Jane tersenyum penuh arti lalu meninggalkan Esi yang terlihat frustasi dengan banyak rahasia bosnya.
"Selamat siang suamiku." Ucap Jane ketika membuka pintu. Sudah tidak diragukan lagi kalau pemandangan dihadapannya ini sangat memuakkan. Berciuman penuh nafsu didalam ruang kantor, apa dia mereka tidak bisa menyewa tempat untuk melakukan hal seperti ini.
"Ini aku bawakan makan siang." Jane terus mengoceh seolah Indira tidak ada disana.
"Cicipi masakan ini ya Suamiku, tadi aku dibantu oleh maid." Cerocos Jane.
"Sejak kapan Arga menyukai acar timun?" Sinis Indira, tanpa ditanggapi Jane.
"Jane lo bisa keluar? Lo bisa gak ganggu?" Ucapan Arga sebenarnya membuat Jane sakit hati, tapi demi memenangkan hati suaminya ini, dia tidak akan mengalah pada siapapun termasuk Indira.
"Kalau kau tidak suka bilang langsung saja. Aku akan membungkusnya kembali, tak perlu pakai juru bicara. Ingat Ga, ini kantor banyak yang melihat, dan Kau ..." tunjuknya pada Indira, "Sudahlah, jalang memang sangat susah untuk mengerti."
PLAKKK!!!
Sebuah tamparan keras yang dihadiahkan oleh Indira pada Jane membuat badan Jane terhuyung dan jatuh bersamaan dengan tempat makan yang dipeganganya, isinya jatuh berhamburan keluar, sekarang terlihat sangat berantakan sekali.
Arga terkejut melihat apa yang terjadi barusan, Indira bahkan dengan berani sekarang menampar wajah istrinya. Ada sedikit rasa kesal disana, tapi saat dia melihat Jane yang bertindak biasa saja, dia mengurungkan niatnya untuk menegur Indira.
"Suruh dia keluar atau aku yang keluar dengan keadaan seperti ini?" Ucapan yang tertuju pada Arga dari Jane ini membuat Indira makin kesal.
"Sabar Honey, kau keluar saja dulu, nanti setelah kerja aku datang ketempatmu." Ucap Arga sambil mengecup bibir Indira dengan lembut, diiringi dengan hembusan nafas berat Jane yang menyaksikannya, benar-benar rasanya ingin memukul Indira sampai mati! Indira keluar dengan senyuman manis dan tatapan sinis melihat ke arah Jane, seolah dia adalah pemilik hati Arga yang sesungguhnya, Jane menatap lawannya dengan penuh amarah. Sesaat setelah Indira keluar, Jane merapikan pakaiannya dan membersihkan makanan yang tertumpah di lanta. Arga hanya diam melihatnya tanpa ada keinginan untuk membantu, walaupun tadi sempat terbesit dipikirannya untuk membantu Jane. Setelah semuanya selesai, Jane membuka sling-bagnya dan berjalan kearah kursi Arga.
"Kenapa lagi? Masih belum puas dengan yang tadi?" Suarat berat Arga hanya membuat Jane tersenyum kecut..
Jane berjalan melewatinya mendekati cermin besar dibelakang kursi Arga dan memakai bedak tipis untuk menutupi wajahnya yang mulai memerah karena tamparan yang dia terima barusan.
"Ga, ini kantor, kau bisa melakukan apapun ditempat yang privasi. Apa kau tidak takut dengan karirmu? Apa ini tidak menimbulkan gosip yang panas?" Jane berkata cuek, sambil mengenakan beberapa peralatan make up nya didepan cermin itu. Jane bisa berkata dengan suara yang terdengar tenang, tapi hatinya sangat tidak tenang. Apalagi dia kembali menyaksikan ciuman suaminya untuk orang lain. Ciuman itu sangat penuh makna cinta dan itu dilakukan didepan matanya. Sangat tidak berperasaan sama sekali.
"Jangan biarkan Indira membuatmu hancur Ga. Bedakan antara tempat privasi dan publik. Kamu sangat tau resikonya.” Ucap Jane sambil memasukkan make-upnya kedalam tas.
"Aku pulang dulu Ga. Sampai jumpa nanti malam. Itu juga kalau kau berniat pulang."
Jane mengambil barangnya dan keluar dari ruangan Arga dengan tersenyum. Senyum yang penuh dengan kepalsuan. Senyum yang membuat hatinya sangat terluka.
***