Episode 2 Hari yang mendebarkan

1286 Kata
Seperti hari hari biasa, aku terbiasa bangun sangat pagi. Hari ini ibu menyuruhku untuk membantunya membersihkan kandang kambing kami. Aku pun tidak pernah menolak permintaan ibuku. Lagian aku tidak punya teman untuk bermain keluar rumah. Jadi aktivitasku hanyalah rumah dan kampus. Setiap hari. Sesekali aku berkunjung ke rumah kakakku yang tinggal tak jauh dari rumahku. Disana aku bermain dengan keponakan keponakanku. Ya, hanya mereka temanku bermain. "To.., kamu kok gak pernah ajak pacarmu main kesini?, Tu si Malik hampir tiap hari bawa pacarnya ke rumahnya", tanya kakakku yang aku tau dia sebenarnya sudah tau kalau aku tidak punya pacar. Teman saja tidak ada. Aku males menjawab pertanyaan yang sebenarnya kakakku sudah tau jawabannya. Aku tau dia hanya ingin mengajakku mengobrol. Tapi entahlah, aku menjadi malas sekali mengobrol. Kulihat jam sudah menunjuk pukul 10.30wib. Tiba tiba aku teringat Mbah Mijan. "Waduh.., Mbah Mijan menunggu ku gak ya?" "Siapa To?", tanya kakakku yang ternyata memperhatikanku. "Aku pamit mbak, ada janji sama orang", "Temen apa pacar to??", Teriak mbakku yang mungkin merasa aku rada aneh. Aku menaiki motor butut peninggalan ayahku. Aku memilih lewat jalan belakang tebing untuk mempercepat menuju kampus dan jalananpun tidak begitu ramai. Buru buru aku memarkir sepeda motorku yang meskipun aku parkir dipinggir jalan tidak bakal ada yang mau mengambilnya. Sepeda Motor Honda Kalong namanya orisinil dan sudah kusam serta berkarat. Aku berlari menuju ruangan Mbah Mijan. Sekolah tampak sepi sekali, tak ada seorangpun yang berada disini. Aku lewati lorong panjang menuju ruang belakang kampus yang tampak seram menurutku mungkin karena sepi. "Mbah..Mbah..Mbah Mijan...", Kupanggil panggil sambil ku mengedarkan pandanganku berharap melihat sosok Mbah Mijan. Sepi, tidak ada suara apapun terdengar. Bulu kudukku berdiri. Nyaliku ciut seketika. Aku merinding dan buru buru kubalikkan badan "Aaaaaahhhhgghh.." Aku kaget setengah mati. Mbah Mijan berdiri tepat di belakangku memakai baju berwarna serba hitam. "Mbah ngagetin saja", sambil kuelus dadaku yang detak jantungku gak karuan. "Ayo ikut Mbah..", seraya berjalan menuju gudang dibelakang sekolah. Aku tolah toleh melihat situasi yang sebenarnya aku masih merasa seram. Tiba tiba Mbah Mijan berhenti. "Ada apa mba?", tanyaku penasaran karena Mbah Mijan menghentikan langkahnya secara tiba tiba. Mbah Mijan tampak berbicara namun tak mengeluarkan suara. Aku bingung dibuatnya. Bulu kudukku berdiri dan suasana tampak semakin seram. Mbah Mijan melanjutkan langkahnya. Dan aku sungguh sangat takjub. Aku melihat ternyata di belakang kampusku ada pemandangan seindah ini yang aku tidak tahu selama ini. Danau kecil dengan air berwarna hijau jernih, terlihat jelas ikan ikan hias berwarna kuning keemasan. "Aku baru tau Mbah, kalau di sini ada pemandangan seindah ini?", tanyaku terheran heran kepada Mbah Mijan. "Kamu jangan beritahu siapa siapa, ini tempat rahasia", kata Mbah Mijan yang membuatku semakin bingung. "Buka baju kamu, dan masuk ke danau. Mandi disana, tenggelamkan seluruh badanmu sampai kepala didalam air danau selama 1 menit saja", kata Mbah Mijan kepadaku yang membuatku sangat bingung. Tapi entah kenapa aku langsung menuruti keinginannya. "Buka semua kain yang melekat di badanmu, tanpa terkecuali", Mbah Mijan menegaskan . Sambil malu malu aku membuka semua bajuku dan kini aku telanjang bulat. Buru buru aku masuk ke dalam danau. Air yang sangat jernih dan terasa hangat. "Berendam jangan sampai ada seujung rambutmu yang tidak terendam didalam", permintaan Mbah Mijan serasa menghipnotis ku. Aku menuruti semua perintahnya. Kupejamkan mataku, lalu mulai kutenggelamkan tubuhku sampai akhirnya aku berada di dalam danau. Kubuka mataku perlahan lahan, alangkah takjubnya aku melihat pemandangan di dalam danau justru jauh lebih indah dari pemandangan diluar sana. Tampak samar aku melihat sosok perempuan berambut panjang memakai kain yang melilit ditubuhnya menghampiriku. Perempuan itu terlihat sangat cantik dan semakin mendekat ke arahku. Tangannya meraih tubuhku,dan tiba tiba diciumnya bibirku dan dipegangnya kemaluanku. Aku merasakan kenikmatan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Saat mataku terbuka aku baru sadar aku sudah berada di ruangan Mbah Mijan. Apakah aku bermimpi? Tapi sepertinya ini benar benar nyata. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, tapi Mbah Mijan tidak kutemukan. Aku segera bergegas memakai bajuku dan segera keluar dari sekolah. Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku sangat merasa aneh. Aku terbayang bayang sosok perempuan didalam danau itu. Dan kemana perginya Mbah Mijan? Besok aku akan menemuinya di tempat biasa. Ada banyak hal yang akan aku tanyakan padanya. *** "To.. makan dulu nak..", ibuku memanggil dari dapur. "Paito??" Sambil memandangiku dan memegang pipiku ibu terlihat seperti ada yang aneh diwajahku. "Ada apa Bu?, kenapa ibu melihat Ito seperti itu?", tanyaku heran tidak seperti biasanya ibu melihatku begitu tampak takjub. "Nakk..ini bener kamu?, kenapa sepertinya ibu merasa kamu terlihat sangat berbeda?", kata ibu yang membuatku semakin bingung saja. "Apanya yang beda Bu?, Iyo lapar makan yuk Bu", alih alih agar ibu berhenti melihatku begitu yang membuatku tampak aneh. "Bu, Ito pergi ke rumah Mbak Siti", teriakku sambil menyalakan sepeda motor. Disepanjang perjalanan menuju rumah mbak Siti, aku semakin heran. Ada apa sebenarnya, Apa yang terjadi denganku? Mengapa semua orang yang aku temui dijalan memandangiku seperti ibu tadi melihatku. Aku hanya tersenyum kepada mereka yang melihatku tak berkedip. "Mbak.. mbak Siti..", Aku masuk ke dalam rumahnya sambil celingukan mencari dimana kaku itu. "Paito??, kamu kok terlihat berbeda?", Pertanyaan kakakku kali ini malah membuatku tambah bingung. "Sebenernya ada apa sih ni mbak? mulai dari ibu, trus orang orang desa sini Sampek mbak melihatku kayak ngelihat hantu apa ya?" Tanyaku rada sedikit kesal juga. "Ndak to.. kamu justru malah kelihatan Guanteng poll", kata mbakku sambil mengacungkan 2 jempolnya ke arahku. Aku malah semakin bingung dibuatnya. "Jadi adikmu ini kemarin kemarinnya jelek yo!" "Ya Iyo.., tapi sekarang Guanteng poll" Kejujuran yang benar benar menyakiti hatiku. Aku segera mencari cermin dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi denganku. Mataku terbelalak melihat sosok di dalam cermin. Apa itu benar benar aku? Paito, si Kopi hitam. Aku merasa berbeda, Tampak sangat berbeda. Ada rasa bangga dan bahagia yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Ini benar benar keajaiban. Entah dari mana asalnya. "Tunggu..., apakah ini ada hubungannya dengan kejadian di danau tadi?", "Danau apa to?", mbak Siti ternyata masih memperhatikanku. "Eee.... Ndak ada mbak, bukan apa apa, Ito pulang dulu ya mbak, ibu sendirian kasian", Aku sambil ngeluyur dan menyalakan sepeda motorku. Seperti tadi, Orang orang desa yang berpapasan denganku melihatku seperti melihat pangeran tampan dari Kerajaan . Hatiku sangat bahagia hari ini. Aku berharap ini bukanlah mimpi disiang bolong. Aku mencubit lenganku sendiri. "Auuuww", Terasa sakit, berarti ini nyata. Bukanlah mimpi semata. Aku tersenyum lebar, merasakan ini keajaiban yang aku tunggu tunggu. *** Ini adalah hari pertama yang bersejarah bagiku . Biasanya kedatanganku ke sekolah tidak berarti apa apa. Rumputpun Enggan untuk menyapa. Tapi berbeda dengan hari ini. Semua mata tertuju kepadaku. Teman Laki laki yang melihatku menyapa dengan ramah. Hai Sob.. Hallo Ito.. Hai Friend... Bukan lagi.. Si Kopi Pahit. Sedangkan teman perempuan yang melihatku, mereka semua tersenyum manis seolah olah mengeluarkan senyuman termanis mereka. Aku sunggu bahagia. Jam istirahat pun tiba, beberapa teman dikelas mengajakku untuk ke kantin bersama, tapi aku menolak mereka karena aku ingin menemui Mbah Mijan. Aku buru buru keluar kelas dan menuju ke ujung koridor tempat Mbah Mijan istirahat. "Mbah..Mbah Mijan..", Tak ada yang menjawab dari dalam ruangan. Saat kubalikkan badan ,Mbah Mijan sedang minum kopi pahit di ujung tembok ruangannya. Aku pernah mencicipi kopi nya yang ternyata tanpa gula. Rasanya pahit sekali seperti diriku dulu. Tidak dengan diriku sekarang ini. "Mbah Mijan.. ", Mbah Mijan tetap saja tidak menyahut. Dia terus meminum kopinya pelan pelan. "Mbah, kemarin Mbah Mijan kemana? kok aku cari gak ada?, trus aku mau tanya sesuatu", "Gak perlu kamu tanyakan, aku sudah tau. Yang terpenting keinginanmu sudah tercapai. Dan kamu tidak boleh membicarakan hal ini kepada siapapun, apapun alasannya", Jelasnya. Aku hanya mengangguk kan kepala. Tetapi tetap saja ada yang mengganjal dihatiku. Aaah... Sudahlah.. yang terpenting Paito sekarang bukanlah kopi pahit. *** (Jangan lupa koment ya biar ide cerita semakin menarik**).
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN