"Innovel Writing Contest_The Next BIG Name" Episode 1 Kopi Pahit
"Jennenge Paito Yo Pait"
"Pait iku Kopi, Kopi iku Ireng"
"Wis Ireng, bikin seppet Nang moto"
***
Nama Paito ya Pahit
Pahit itu kopi, kopi itu hitam
Sudah hitam, bikin sepah dipandang mata.
Selalu saja kalimat itu yang mereka ucapkan.
Terutama teman teman di sekolahku.
Nama julukan ku "Kopi Pahit".
Terkadang aku merasa sedih, mengapa aku terlahir sebagai laki laki yang sepertinya tidak memiliki sedikitpun yang bisa dibanggakan.
Namaku Paito, kelas 3 SMA di Kecamatan Udanawu Blitar.
Aku 3 bersaudara, kedua kakakku adalah perempuan. Aku adalah anak bungsu.
Ayahku sudah meninggal sejak aku duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama.
Aku ikut membantu Ibuku untuk mengurus sawah dan ternak kambing kami. Tidak ada waktu bergaul dengan teman teman sebaya.
Aku menjadi pendiam dan sangat tidak percaya diri.
Setiap pagi sebenarnya aku enggan pergi ke sekolah. Jika boleh memilih aku lebih memilih untuk berhenti sekolah. Tapi ibuku bersikeras agar aku bisa menjadi sarjana. Kedua kakakku sudah menikah dan mereka tidak melanjutkan kuliah. Jadi aku adalah harapan satu satunya dikeluargaku untuk menjadi seorang sarjana.
Karena itu adalah wasiat terakhir dari ayahku sebelum beliau meninggal. Ibu dan kedua kakakku bertekad untuk terus menyekolahkanku sampai ke jenjang kuliah.
Mereka memilihkan ku sekolah ke SMA dikecamatan daripada di desa kami tinggal. Jaraknya sekitar 9 km dr rumah kami. Aku harus naik sepeda sekitar 3km, dan Dilanjut naik Angkutan ke sekolahan ku.
Sepeda tua bekas peninggalan ayah ku kendarai setiap pagi. Berangkat lebih awal agar tidak terlambat. Pukul 05.15 wib aku sudah mengayuh sepeda menuju terminal angkutan.
"Kamu sekolah di SMA Negeri 1 Udanawu mas?",
Tiba tiba seorang gadis yang ternyata sangat cantik, putih kulitnya berambut panjang hitam dan berponi yang duduk tepat di depanku.
Aku memandangnya hampir tak berkedip.
"I iya..",jawabku singkat sambil menunduk kembali seperti biasa. Aku tidak pernah berani mendongakkan kepalaku ketika naik angkutan. Karena aku tidak percaya diri.
" Aku murid baru mas, nanti tolong antarkan aku ke ruang TU ya?", Pintanya kepadaku yang otomatis membuatku sangat terkejut.
Baru kali ini ada gadis yang mengajakku bicara dan dia malah memintaku menemaninya ke ruang TU.
Aku mengangguk cepat, tak bisa berkata apa apa.
"Yuk..SMA 1 kiri...", kata kernet angkutan pertanda sudah sampai ke sekolah.
Aku turun duluan..dan dia menyusul ku.
"Oh iya, kenalin namaku Jihan"
Sambil menyodorkan tangannya ke arahku dia tersenyum sangat manis.
"Aku Paito" sambil aku membalas jabatan tangan putihnya yang ternyata juga sangat lembut.
"Oh iya ito, rumahmu dimana? angkutannya searah dengan rumah nenekku", tanyanya sambil menjejeri langkahku yang agak cepat.
"Aku di Desa Kebonduren Han," jawabku sok akrab.
"Oh...., kalo rumah nenekku di depan Pom Bensin Dandong tadi",Jelasnya dengan ramah.
Sungguh sempurna dia. Sudah cantik, ramah pula.
"Eh kopi hitam mimpi apa bisa bareng ama s**u??", ledek Tio teman sekelas ku.
Aku hanya diam dan berlalu seperti biasa.
"Siapa dia ito?, maksudnya kopi hitam itu kamu? dan s**u itu aku?",tanya nya heran.
"Eeh.. anak anak disini manggil aku kopi hitam Han, Karen kulitku hitam", jawabku sambil meringis malu.
"Kok nakal banget ya, harusnya gak boleh seperti itu, dan kamu diem aja?", tanya nya lagi.
"Aku gak mau cari masalah Han, biarin saja mereka bicara apa. Aku hanya ingin selesein sekolah ini tepat pada waktunya",
"Kamu orang baik Ito," sambil melayangkan senyum manisnya lagi yang langsung menusuk jantungku. Berdebar kencang rasanya jantung ini. Semoga saja tidak terdengar oleh Jihan.
"Ini kantor TU", sambil kutunjukkan tempatnya .
"Aku ke kelas dulu ya", kataku pamit kepada Jihan.
"Makasih ya Ito, nanti pulangnya kita bareng ya. Aku belum ada temen soalnya",
Aku mengangguk dengan cepat sambil berlalu menuju ke kelas.
"Kopi pahit, kamu bareng siapa tadi?", tanya Tio yang duduk di mejaku.
"Dia murid baru disini", jawabku tanpa melihat wajah Tio.
"Siapa namanya? Dari mana? Asal sekolahnya?", rentetan pertanyaan yang aku sendiripun tidak bisa menjawabnya.
"Gak tau, aku gak tanya",
"G*blok, sudah bareng kok gak tanya", sambil mendorong kepalaku ke arah belakang.
Sebenarnya aku sudah tidak tahan dengan sikap Tio selama ini. Dia sangat meremehkan ku. Aku di Bully setiap hari. Dikelas, dikantin, di mana saja ketika bertemu dengannya.
Aku memilih menyendiri duduk di ruangan pesuruh sekolah yang tinggal di sini. Namanya Mbah Mijan. Penyendiri, dan tidak banyak bicara. Tapi bersama nya aku justru merasa tenang dan aman. Kadang kami menghabiskan jam istirahat bersama tanpa bicara apapun.
***
Tet..Tet..Tet..
Bel tanda pulang sekolah berbunyi.
Semua murid mulai berhamburan keluar kelas.
Aku memilih menunggu sampai kelas sudah sepi. Aku teringat Jihan, yang mengajakku untuk pulang bersama. Hari ini aku merasa sedikit bahagia. Aku buru buru keluar kelas, dan mencari sosok gadis cantik Jihan disekeliling sekolah. Karena aku tidak tahu dia masuk di kelas berapa.
Dari jauh aku melihat Jihan berdiri di pintu gerbang depan sekolah. Aku buru buru melangkah kan kakiku lebih cepat lagi.
Hampir sampai di pintu gerbang, aku melihat Sepeda motor Kawasaki Ninja berwarna Hijau menghampiri Jihan, mereka mengobrol dan Jihanpun akhirnya membonceng.
Hatiku kecewa, dan bertanya tanya apa dia lupa dengan ucapannya tadi? Apa dia sudah lupa aku lah yang pertama mengenalnya.
Jalanku kembali lunglai. Aku berjalan sendiri seperti biasanya. Tidak ada teman satupun yang jalan bersamaku sampai ujung gang sekolah.
***
"Sudah pulang Nak..", Ibuku yang selalu menungguku setiap jam sekolahku tiba.
"Iya Bu," sambil membuka sepatu dan mencium tangan ibuku.
"Gimana sekolahmu?", pertanyaan yang sama setiap hari.
"Baik baik saja Bu", jawaban yang sama pula setiap hari aku berikan.
Aku merasa kembali lagi ke kehidupan ku biasanya. Setelah sebentar bermimpi indah berharap Jihan akan memberikan kebahagiaan dalam hidupku yang pahit ini. Ya pahit sepahit nama dan wajahku. Huufft.
***
Tet tet tet...
Bel tanda jam istirahat berbunyi.
Seperti biasa, aku pergi ke kantong membeli tempe mendoan kesukaanku lalu pergi ke ruangan Mbah Mijan.
Tidak seperti biasanya, Mbah Mijan tersenyum kepadaku.
"Kamu itu kok gak kumpul sana sama temen temenmu", pertanyaan pertama sejak setahun aku mengenal mbah Mijan.
"Ndak Mbah, mereka gak mau temenan sama aku", jawabku sambil mengunyah tempe mendoan favorit.
"Trus kamu manut gitu aja?",
Pertanyaan yang tidak aku pahami.
Aku cuma mengangkat bahu sambil tetap makan tempe mendoan.
Mbah Mijan masuk kedalam kamarnya, seperti mencari sesuatu di lemarinya. Selang beberapa menit, Mbah Mijan keluar menghampiriku dan duduk disampingku.
"Kamu mau punya banyak temen dan disukai banyak gadis?", tiba tiba Mbah Mijan bertanya yang sontak membuatku keselek tempe.
Aku ambil minuman yang sempat aku beli dikantin tadi.
"Apa Mbah? Mana mungkin Mbah, Wong Ndak ada satupun anak disekolah ini mau kenalan dengan ku", sambil meringis dan melanjutkan makanku.
"Mbah bisa buat kamu disukai banyak gadis",
Mataku langsung terbelalak menoleh ke wajah Mbah Mijan yang tampak serius.
"Mbah Serius? memangnya gimana caranya?", kataku gak kalah serius.
Besok kan hari Ahad. Kamu datang kesini.
Sambil berdiri Mbah Mijan meninggalkanku dengan sejuta rasa penasaran.
Apa Mbah Mijan bercanda atau memang benar benar serius?.Tapi melihat wajahnya sepertinya serius. Aaahh... sudahlah.. aku kembali ke kelas saja. Daripada nanti aku terlambat makin jadi bully an anak sekelas.
***