Emil membasuh darah yang merembes di telapak tangan Rey dengan revanol berwarna kuning sebelum memberikan obat aniseptik. Rey meringis menahan rasa perih yang menjalar setelah rasa dinginnya hilang. "Luka selubang kancing gini aja bikin heboh dua rumah. Huh, dasar lebay!" cibir Emil kesal melihat kakaknya masih duduk dan kepalanya bersandar pada sofa. "Namanya juga luka, mana ada yang enak," sahut Rey tak mau kalah diremehkan adiknya. "Ya nggak bikin heboh pakai pura-pura pingsan juga kali," tukas Emil cepat. Ara yang duduk di samping anaknya cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dua anaknya yang kerap kali bertengkar. "Kamu juga aneh-aneh saja Rey, masak cuma kebentur tembok saja pingsan," timpal Ara yang ikut meledek anak sulungnya. "Aku cuma pusing saja tadi, yang bilang

