Tameng

2179 Kata
Rey tak dapat berkonsentrasi penuh pada meeting pagi ini. Sejak semalam ia tidak bisa lepas memikirkan kejadian yang menimpanya dan singa betina. Kadang ia merasa kesal tapi tak jarang ia mengulum senyum melihat singa betina itu marah padanya, meskipun ia harus siap dengan segala bentuk perlakuan brutal pada tubuhnya di kemudian hari jika mereka terlibat kesenjangan yang disamaratakan oleh takdir. Kepalanya yang membentur kaca mobil, rambutnya yang ditarik, juga lehernya yang dicekik. Seumur-umur dia mengenal perempuan, sifatnya selalu manja seperti Mamanya atau Emil, adiknya. Sedangkan singa betina di samping rumahnya malah galak bukan main. "Ada yang ditanyakan, Pak?" tegur Pak Roni begitu presentasi sudah berakhir. Dirinya yang kaget dengan injakan sepatu dari Dery pada kakinya, terkesiap dan langsung menoleh ke arah Dery yang duduk di sampingnya. "Sementara tidak ada pertanyaan," sahut Dery mengerti dengan isyarat dari Rey. Begitu meeting selesai, Rey dan Dery kembali ke ruangan milik Rey. "Kenapa lu, Bro? Dari tadi kayak nggak konsen. Lagi mikirin apa?" tanya Dery begitu keduanya berjalan berdampingan menuju ruangan Rey. "Gak ada apa-apa. Semalam memang kurang tidur," alasan Rey mengalihkan perhatian agar Dery tidak bertanya lebih lanjut. "Mikirin cewek masa kecil itu lagi?" tebak Dery membuat langkah Rey terhenti dan menoleh ke samping. "Penting ya bahas dia?" Dery mengendikkan bahunya. "Mungkin aja, makanya aku tanya," sahut Dery cepat. "Aku sedang memikirkan perusahaan di Bandung yang sedang dalam masalah," ujar Rey sembari melepas jasnya dan meletakkan di punggung kursi. "Lalu?" tanya Dery. "Sudah kuselesaikan, tapi butuh bantuan dari perusahaan Pak Rangga, satu-satunya solusi untuk memecahkan masalah ini. Kamu tahu sendiri bukan, kalau Perusahaan Abimana memiliki jaringan bisnis yang tersebar luas hampir di seluruh Indonesia. Kita butuh sokongan dari mereka," jelas Rey. "Bukannya kamu sudah terima proposal kerjasama dari Pak Rangga? Memangnya belum kamu setujui?" Rey menggeleng, membuat Dery menghembuskan nafas berat. "Aku punya sedikit masalah nama baik di depan Pak Rangga, makanya, sampai sekarang belum aku setujui." Rey mengingat dua kali ia kehilangan muka gara-gara kepergok Rangga akibat ulah brutalnya dengan anak gadis semata wayang. Bahkan, kemarin mereka sampai kepergok dalam keadaan yang memalukan. "Nama baik? Nama baik yang mama sih, bukannya selama ini reputasimu selalu bagus di mata kolega bisnis, apalagi Pak Rangga? Lalu nama baik yang mana lagi ini?" tanya Dery meminta penjelasan. Rey hanya diam memandang kosong lalu lintas jakarta yang padat dari jendela tembus pandang ruangannya. Ia tidak bisa menjawab aibnya sendiri. ******* Sila melangkah dengan berat hati ke kantor milik penjahat bibir. Begitu Pak Rangga memintanya datang perihal kerja sama yang diajukan papanya pada Rey tempo hari. Maunya ia menolak, namun apa mau dikata jika atasannya sangat galak meskipun pada anaknya sendiri. "Maaf, ruangan Pak Rey di mana?" tanya Sila begitu sampai di lantai dasar dan bertanya pada resepsionis cantik namun terkesan banyak tambalan macam mobil kena ketok magic. Diketok langsung cling, ilang deh mukanya. "Sudah ada janji bertemu?" tanya si resepsionis. "Bilang saja perwakilan dari Abimana," jawab Sila. Tak lama kemudian ia ditunjukkan arah menuju ruangan Rey yang terletak di lantai paling atas. Begitu lift terbuka, Sila langsung masuk. Rupanya ia sendirian di dalam lift, namun begitu Sila menekan tombol untuk menutup suara seorang laki-laki berteriak lantang. Dengan tangan panjangnya, laki-laki tersebut menahan pintu lift dan segera masuk bergabung dengan Sila yang kini sedikit mundur. "Sorry, aku buru-buru," ucap si lelaki yang meminta maaf sambil tersenyum ramah pada Sila dan singa betina yang cantik dengan balutan kemeja baby pink membuatnya terlihat menawan itu membalas tak kalah ramah. Apalagi di mata Dery yang langsung berbinar melihat perempuan cantik di manapun tempatnya. Sinyal playboy nya langsung memancar dengan kuat. "Sepertinya ... kamu bukan pegawai disini ya?" tanya Dery begitu menyadari wajah Sila terlihat asing baginya. "Iya, saya bukan pegawai disini. Saya ada keperluan dengan Pak Rey," jawab Sila dengan ramah. "Kamu dari Abimana?" tebak Dery yang diangguki Sila. "Benar, Bapak tahu saya?" Dery mengangguk sambil memperhatikan wajah gadis di hadapannya tanpa berkedip. "Pak Rey tadi bilang kalau utusan dari Abimana akan datang. Kenalkan, saya Dery." Sila membalas jabat tangan Dery dan memperkenalkan diri, " Saya Sila, sekretaris Pak Rangga." Dery langsung tersenyum penuh arti begitu nama gadis itu disebutkan. Oh, jadi ini yang bikin Rey klepek-klepek. Nggak nafsu makan, kurang tidur dan sering frustasi? Pintu lift terbuka, baik Dery maupun Sila berjalan keluar dan menuju arah yang sama. " Saya juga mau ke ruangan Pak Rey, mari saya antar," tawar Dery yang diangguki Sila. Meskipun resepsionis sudah menjelaskan arah ruangan Rey namun tidak ada salahnya ia menerima tawaran Dery. ****** "Kasihan juga kalau kurang kasih sayang seperti itu," ucap Dery dengan wajah penuh iba pada kisah anak jalanan yang diceritakan Sila di ruangan Rey. "Ehmmmmm Ehmmmm!" Deheman Rey membuyarkan percakapan Dery dan Sila yang tampak begitu akrab. Rey yang barusan kembali dari mengambil dokumennya tertinggal di mobil, kaget setengah mati melihat keakraban Dery dan Sila. Rey meremas dokumen yang dipegangnya dengan keras begitu melihat Sila yang terlihat sangat manis menebar senyum murah meriah pada Dery, sedangkan dengan dirinya selalu mendapatkan luka, bahkan sampai menyayat ulu hatinya saat ini melihat keakraban keduanya. "Eh Rey, ini Sila mau ketemu kamu. Ya udah aku tinggal dulu ya Sil, sampai ketemu lagi," pamit Dery cepat-cepat pada Sila sambil melambai mesra membuat Rey melemparkan tatapan membunuh pada Dery. "Kamu akrab sekali sama dia?" tanya Rey pada Sila dengan menampilkan wajah dingin. "Suka - suka aku mau akrab sama siapa!" ketus Sila. Rey menghembus nafas berat. Benar juga, memang bukan urusannya mau akrab dengan siapa. "Maaf memintamu datang kemari, harusnya aku yang datang kesana," ucap Rey merasa tidak enak hati. Sebenarnya ia sudah menghubungi Rangga untuk datang ke kantornya namun ditolak, malah meminta anak sekaligus sekretarisnya yang datang menemui Rey. "Tidak masalah, lagi pula saya tahu kok, Anda pasti sedang sibuk disini," jawab Sila acuh dengan permintaan maaf Rey yang dianggapnya tidak penting lagi. Toh, sekarang dia sudah duduk di kantor milik penjahat bibir di hadapannya. Mengingat julukan tersebut, Sila buru-buru mengeluarkan masker dari dalam tasnya dan memasangnya menutupi mulut, membuat Rey mengernyit heran. "Kamu kenapa pakai itu? Di sini bukan jalanan yang banyak polusi, aku juga sudah mandi dengan bunga tujuh kelamin." Rey bingung dengan wajah Sila yang mendadak sedang mode 'bencana kabut asap'. "Buat perlindungan aja. Yah ... siapa tahu kamu khilaf atau lagi kesambet setan." Rey ingin terbahak mendengar alasan Sila namun ditahannya. "Terserah kamu sajalah," balas Rey. Kemudian, keduanya pun larut dalam pembahasan mengenai kerjasama kedua perusahaan. ********** "Apa itu?" tanya Rey begitu pulang dari kantor sudah disuguhi puding lezat yang dikeluarkan Emil dari dalam lemari es. "Puding, mau?" tawar Emil pada kakaknya. Rey melirik sekilas dari tempatnya berbaring di sofa melihat televisi bersama dengan adiknya. Begitu melihatnya, Rey menggeleng, pasalnya ia tidak begitu suka makanan manis. "Kak, tadi dapat salam dari Novi, Risa, Nuria, Abel dan juga Bu Dona." Rey melirik adiknya jengah. Selalu saja setiap hari dia mendapat salam dari teman-teman adiknya yang mengaku fans berat Rey, karena Emil pernah mengajak teman-temannya datang ke rumah saat Rey sakit. Apalagi Bu Dona, mendengar nama itu saja sudah membuat Rey bergidik ngeri. Dia salah satu yang mengaku fans Rey, sama seperti murid-muridnya. Dona adalah salah satu guru di sekolah Emil yang masih JoJoTiBa (Jomblo-Jomblo Tidak Bahagia). Gara-gara Rey pernah menjemput Emil yang sedang sakit dan dirawat di UKS, kebetulan guru yang berjaga atau sedang piket saat itu adalah Dona. Pertemuan Dona dan Rey yang terbilang keberuntungan bagi Dona dan kesialan bagi Rey berlanjut dengan kiriman makanan yang hampir setiap hari dititipkan Emil untuk kakaknya. "Ck, dasar remaja labil. Gurumu juga, jangan-jangan yang kamu makan juga dari dia," decak Rey. "Kakak sudah bilang, jangan terima apa pun darinya," lanjut Rey menasihati. "Kakak tuh jadi idola di sekolahku tau," balas Emil sambil menyuapi mulutnya dengan puding yang melumerkan lidahnya. "Iya, tahu kalau kakak memang memesona." Emil mendecih dengan kenarsisan kakaknya. "Percuma mempesona, satu perempuan saja nggak bisa dapetin. Itu tandanya kakak tuh lelaki tapi gak jantan," ejek Emil yang langsung dilempari bantal oleh Rey. Emil mengelak dan berlari menuju kearah dapur. Ting Tong! Suara bel rumah membuat Rey meninggalkan sejenak aksi mengejar adiknya yang terkekeh di depan lemari es. Begitu membuka pintu, menyembullah wajah dengan gincu merah dan bedak lapis sepuluh di hadapan Rey. Kaget dengan apa yang dilihatnya, Rey langsung menutup pintu meninggalkan senyum si tamu yang mendadak pudar sambil mengerutkan kening. "Mil, itu kenapa sales bedak ada di depan rumah kita?" teriak Rey sambil berkacak pinggang pada adiknya. "Sales bedak? Masak ada sales datang malem begini kak?" Heran Emil. "Dona, guru kamu," jelas Rey kesal. "Apa? ya ampun tuh orang beneran dateng kesini? Eh kak, tadi Bu Dona kasih puding buat aku tapi dia minta alamat kita." ujar Emil panik. Rey mendelik kesal dan langsung mengacak rambutnya sendiri. "Kamu samperin sana, kakak ke kamar. Jangan bilang kalau ka—" Ting Tong..... Suara bel kembali terdengar membuat Emil berlari membuka pintu sedang Rey bergegas menaiki tangga ke kamarnya. Teringat ponselnya tertinggal di sofa, ia pun membalikan badannya dan berjalan ke arah sofa. Baru saja Rey akan kembali ke kamar setelah mengambil ponselnya, suara Dona menyapa di balik punggungnya membuat Rey terpaksa berhenti dan membalikan badan ke arah Dona. "Malam, Mas Rey. Maaf ... malam-malam saya mengganggu," ucap Dona basa-basi dengan sedikit mendesah dan mengedipkan sebelah matanya. Rey yang melihatnya hanya meringis menahan perutnya yang tiba-tiba bergejolak ingin muntah. "Hem," jawab Rey jengah dan malas meladeni sapaan perempuan penuh tambalan di wajahnya. "Kak....!" teriak Emil yang berdiri di depan pintu yang terbuka. Dona dan Rey pun menoleh kearah Emil yang melambai. "Kenapa?" teriak Rey juga karena jarak keduanya sedikit berjauhan. "Mau sate gak, tuh kak Sila sama Iko lagi beli, mumpung gerobaknya masih di depan rumah mereka," ucap Emil. Mendengar nama singa betina disebut, seketika membuat senyum miring Rey tercetak di bibirnya. Menghiraukan Dona yang ikut berjalan di belakang, Rey mempercepat langkah menuju teras rumah untuk melihat posisi singa betina yang ternyata sedang berdiri di samping pembakaran sambil mencomot sate yang selesai dibakar dengan mencelupkan ke bumbu kacang dengan tambahan kecap di piring dan melahapnya. Melihat singa betina sedang asyik mengunyah, Rey membuka gerbang rumahnya dan menghampiri Sila yang mendelik karena tangan kirinya ditarik oleh Rey. Dengan terseok, Sila mengikuti langkah Rey masuk ke halaman rumahnya. Sila ingin berteriak tapi mulutnya masih sibuk mengunyah sate. "Bu Dona mau sate? Kalau mau, silakan pesan di sana. Saya dan pacar saya juga sudah pesan, nanti kita makan bersama di dalam. Kita makan sepiring berdua ya, Sayang," ucap Rey sambil melirik mesra ke arah Sila di sampingnya yang menggigit tusuk sate seraya mendelik kaget. Dona yang duduk menunggu Rey di kursi teras rumahnya syok melihat laki-laki pujaanya menggandeng mesra perempuan aneh dengan mulut belepotan bumbu kacang sambil menggigit tusuk satenya. Uhuk... Uhuk... Ayam yang Sila telan mendadak tersangkut akibat penuturan dan tatapan memuja Rey barusan padanya. Masih dengan terbatuk-batuk, Rey langsung berlari masuk mengambil air minum dan buru-buru menyodorkan pada Sila sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu. "Hati-hati dong, Sayang. Makannya pelan-pelan, jangan buru-buru," nasehat Rey menenangkan Sila yang sudah mulai reda batuknya. "Ngapain kam—" Rey membekap mulut Sila yang hendak protes dengan perlakuan manis penuh tipu muslihat Rey padanya. " Maaf, Bu Dona kami masuk dulu, pacar saya memang sedikit cemburu jika ada perempuan yang menemui saya," pamit Rey pada Dona yang tampak terpukul karena Rey sudah memiliki kekasih. Masih membekap mulut Sila dengan tanganya, Rey sedikit menyeret tubuh gadis itu masuk ke dalam rumahnya. "Heh kadal! Tanganmu bau. Lupa cebok pasti nih," omel Sila setelah Rey melepaskan bekapan tangannya. "Sory ... sory, bantu aku bentar buat ngusir perempuan di depan," melas Rey memohon pada Sila. "Enak aja! usir sana sendiri pakai sandal kek, gagang pintu kek atau bawa satpam aja suruh seret dia, ngapain minta tolong aku?" saran Sila yang kesal karena dirinya dijadikan tameng untuk mengusir perempuan menir di depan. "Nggak mempan, lagian cuma sekali ini saja. Ayolah please...!" "Gak mau." "Mau lah." "Gak." "Sekali." "Pokoknya gak mau!" ketus Sila sambil bersedekap. "Maaf saya mau pa-" Dona membekap mulutnya begitu melihat pemandangan yang mengiris hatinya terpampang nyata di depannya. Niat hati ingin menguping keributan yang terdengar sampai ke teras rumah Rey yang sepertinya berasal dari pertengkaran tuan rumah dengan kekasihnya diikuti rasa penasaran dan tidak terima, membuatnya ingin melihat ke dalam. Namun yang didapatinya malah melihat seorang laki-laki pujaanya tengah mengurung tubuh kekasihnya menempel di tembok, bibir keduanya saling berbalas lumatan. Dona melangkah keluar dan segera pamit pada Emil yang kebingungan dengan rona kesedihan gurunya setelah keluar dari dalam rumah. Emil melongokkan kepalanya masuk dan langsung terkekeh melihat kakaknya sudah benar-benar normal. CEKREK...! "Duileh... yang perjaka ketemu perawan, bawaanya nempel mulu. Laporin Papa, ah biar dikawinin." Rey langsung melepas pagutannya pada Sila dan langsung mengejar adiknya yang terbahak melihat kekesalan kakaknya. "Papa... Kak Rey nyiumin cewek di rumah...." teriak Emil yang mengelak dari kejaran Rey di dalam rumah. Sila yang masih bersandar di tembok hanya bisa memegangi dadanya yang berdetak tak karuan. Diusapnya pelan bibirnya yang sedikit bengkak dan panas. Sila berlari ke rumahnya sambil memegangi bibirnya. Iko yang bingung dengan kakaknya hanya bisa memandangi punggung perempuan tersebut. "Iko, malam ini tidur sama mbak. Pakai baju lengkap sama bawa kopi," ucap Sila berpesan sebelum tubuhnya benar-benar hilang masuk ke dalam rumah. -------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN