Curahan Hati

2168 Kata
"Cepetan dong, Ko!" bentak Sila yang terlihat hidungnya kembang kempis menahan amarah. Sekali lagi. Ya, sekali lagi ia kecolongan penjahat bibir. "Sabar Mbak, ini juga lagi dibawain. Gak lihat apa kedua tanganku udah penuh ini," jawab Iko yang tengah repot sendiri menutup kembali pintu kamar Sila dengan kakinya karena kedua tangannya sudah penuh membawa dua gelas kopi hitam. "Kenapa belum pakek baju sih!" gerutu Sila karena Iko masih mengenakan kaos singletnya. "Panas Mbak, lagian kenapa juga suruh pakai baju kalau mau tidur . Kayak kita mau kondangan aja," gerutu Iko protes. "Oke, nggak apa-apa kalau kamu pilih nggak pakai baju. Tapi? resiko tanggung penumpang" Iko mengernyit bingung dengan maksud kakaknya. "Kamu berdiri disitu," tunjuk Sila ke arah pintu. Iko yang masih bingung pun hanya menuruti perintah kakaknya. Sila tersenyum girang kemudian membalut kepalan tangan kanannya dengan kain hingga tebal mirip sarung tinju. Iko langsung membelalakkan mata begitu kakaknya berjalan ke arahnya sambil tersenyum culas. Sila melempar bantal kearah Iko yang ditangkapnya dengan sigap. "Kamu siap?" belum juga Iko mengangguk, bantal yang dipegangnya sudah bergerak. BUGH.....! BUGH ...! BUGH.....! "Penjahat bibir sialan!" BUGH.. "Kadal berbisa!" BUGH ....! BUGH....! BUGH...! "Setan kelayapan!" BUGH..... "Mentang-mentang aku cewek, kamu bisa seenaknya menindasku!" BUGH....! BUGH....!BUGH...! "Dasar laki-laki buaya, penebar bisa sialan, penjahat moral, sarap!" BUUUUUUGGGGHHHHHH! "Hah.... hah... hah..." Sila terengah-engah dengan peluh yang membanjiri wajahnya. Iko yang memejamkan mata kini mulai membuka perlahan kelopak matanya saat dirasa tubuhnya tidak lagi bergoncang. Iko melirik dari balik bantal tentang situasi yang ada di sekelilingnya. Ditatapnya kakak kesayangan yang tengah menunduk sambil terpejam. Nafasnya masih tersenggal, begitupun keringatnya yang bercucuran. Iko menghampiri Sila ikut duduk di tepi ranjang. "Udah marahnya?" tanya Iko pelan. Sila mengangguk. "Maunya lagi, tapi ntar aja kalau kamu udah pakai baju." Sila melirik lengan adiknya yang sedikit memar karena tinjuan yang harusnya mengenai bantal malah meleset mengenai lengannya. Itulah kenapa Sila meminta adiknya memakai baju atau apapun pelindung badan agar tidak terjadi salah tinju. Memang salahnya sendiri tidak memberitahu Iko tujuan ke kamarnya memakai baju lengkap. Adiknya itu memang terbiasa tidak pakai baju saat tidur baik siang maupun malam jika di rumah sendiri. Jika sedang tidur di rumah saudara barulah Iko memakai kaos singlet agar terlihat sedikit lebih sopan. "Lain kali aku pakek rompi anti peluru sekalian" Sila tersenyum dengan jawaban adiknya. "Sorry, Ko. Mbak lagi kesel tadi," ungkap Sila yang ditanggapi Iko dengan santai. "Dan aku jadi samsak buat pelampiasannya. Menakjubkan..!" Sila menoleh ke arah adiknya sambil menepuk pundaknya agar tetap sabar menghadapi kakak seperti dirinya. "Lagi kesel sama siapa sih, mbak?" tanya Iko penasaran dengan tingkah kakaknya yang membabi buta sambil meraih kopi yang diletakkan di meja rias dekat dengan posisinya duduk. "Biasa, siapa lagi kalau bukan tetangga sebelah tu," jawab Sila dengan menggerakkan dagunya. "Gara-gara habis diemut bibirnya?" Sila membelalakkan matanya dengan tebakan adiknya yang seratus persen sangat benar, meskipun dengan bahasa yang membuat Sila semakin sebal. "Tahu dari mana kamu?" Iko tersenyum sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Nih, dari sini. Emil tadi yang kirim." Disodorkan ponselnya yang tengah menampilkan aksi melumat bibir dalam kurungan sangkar penjahat bibir di layar. Sila merebut dan langsung terpaku menganga melihat bukti setengah nyata dirinya, ah maksudnya bibirnya dan bibir kadal berbisa itu menempel. "Sangat menghayati, woow!" Iko bertepuk tangan penuh kekaguman. Hatinya bersorak sorai melihat kakaknya yang galak akhirnya bisa jinak oleh tetangga yang ia kira penikmat 'pisang' karena sekalipun tidak pernah terlihat memiliki hubungan dengan perempuan. "Apaan sih, Ko. Kamu ngeledek mbak?" Sila menyikut adiknya yang masih bertepuk tangan. "Lagian, ini nggak seperti yang terlihat," bela Sila. "Aslinya lebih nikmat ya, Mbak, sampek merem gitu ekspresinya." Sila menimpuk adiknya yang terkekeh. "Sok tahu amat, emang kamu pernah?" Iko menatap horor kakaknya. "Aku nggak tukang sosor kayak kak Rey, mbak. Lagian adikmu ini masih terlalu dini buat gituan. Jangan samain sama sinetron di TV yang anak kecil udah berani sosor menyosor." Sila mengangguk dengan pikiran adiknya. "Tumben otakmu lagi bener." Iko mencebik. Sila pun ikut meraih kopinya dan menikmati sedikit demi sedikit membasahi kerongkongannya. "Mbak," "Hem.." "Baru tahu aku kalau kak Rey agresif begitu. Wajar kali ya, mungkin dia kebelet lepas perjaka." Sila tersedak kopi yang diseruputnya. Dengan sigap Iko menepuk punggung kakaknya. Agresif? Sila membenarakan bahkan menambahkan kata gila sesudahnya. Lepas perjaka? Semoga saja cepat terlaksana karena Sila berharap hidupnya akan tenang jika penjahat bibir itu lenyap dari kehidupannya untuk memulai kehidupannya yang baru. **** "Kak, ketiduran ya?" Emil menggedor pintu kamar mandi Rey yang sedari tadi tak kunjung terbuka bahkan sudah lebih dari dua jam. Karena tak kunjung terbuka, Emil kembali menggedor pintu kamar mandi. Dan pada akhirnya ia lelah sendiri. Melihat kamar kakaknya yang acak-acakan akibat beberapa waktu lalu kamar itu dihantam badai frustrasi, ketagihan, dan sedikit penyesalan. Emil pasrah dan akhirnya ia tertidur di kasur Rey. Air dalam bak mandi sudah dingin, begitu pula tubuh yang berendam di dalamnya. Rey membuka matanya perlahan saat dirasa gedoran pada pintu kamar mandi juga suara Emil tidak terdengar lagi. Dihembuskan nafasnya lega. Tak diperdulikan lagi air yang melingkupi tubuhnya kini malah semakin membekukan sekujur tubuhnya. "Sory sory, bantu aku bentar buat ngusir perempuan di depan." "Enak aja! usir sana sendiri pakek sandal kek, gagang pintu kek atau bawa satpam aja suruh seret dia, ngapain minta tolong aku?" "Gak mempan, lagian cuma sekali ini saja. Ayolah please...!" "Gak mau." "Mau lah." "Gak!" "Sekali." "Pokoknya gak mau!" DUGH..! "Ap... hemptf......" Rey mengerang frustasi mengingat kejadian beberapa jam lalu. Meminta Sila berpura-pura menjadi kekasihnya malah berujung pada nafsu primitifnya yang tiba-tiba menyeruak. Masih diingatnya ciuman paksa pada singa betina tadi. Awalnya hanya meminta Sila sedikit 'mesra' agar Dona segera pergi dan berharap berhenti mengejar dirinya, namun gara-gara ia dan Sila berdebat akibat penolakan singa betina tersebut membuat Rey yang mendapati Dona tengah mengintip keributan keduanya, ia langsung mengambil inisiatif mendorong tubuh Sila hingga menempel ke tembok, bahkan kepala singa betina itu sampai berbunyi karena terbentur tembok. Tanpa pikir panjang akibat yang ditimbulkan nantinya, Rey mengurung tubuh singa betina itu dan melumat bibir Sila yang masih belepotan saus kacang. Ciuman rasa sate dan sambal kacang yang manis, gurih dan sedikit sangit itu membuat Rey malah terbang ke awan seraya bertemu bidadari mendorong gerobak sate. Meski Sila meronta, namun apalah daya jika tubuh Rey begitu kuat melingkupinya. Sila yang meronta bahkan menginjak-injak kaki Rey pun tak dihiraukan. Sila yang tenang pada akhirnya malah membuat Rey semakin melancarkan aksinya menerobos celah basah bibir singa betina yang sedari dulu sangat mempengaruhi kinerja otak serta nafsunya. Bibir perempuan satu-satunya yang ia rasakan karena Rey begitu menjaga hubungan dengan perempuan mana pun. Bukan karena dia tidak tertarik tapi sampai detik ini belum ada satu perempuan pun yang membuatnya sangat menginginkan seperti pada Sila. ********* "Tumben baru dateng?" tanya Iko begitu dilihatnya Emil baru datang ke rumahnya saat dirinya sedang memakai sepatu. Biasanya Emil akan datang saat Iko masih sarapan atau kelayapan di kamar sibuk menyiapkan dirinya berangkat. "Bangunku kesiangan, biasa ... lagi bulanan jadi pas subuh nggak bangun. Mana kak Rey malah ninggalin aku di kamarnya lupa bangunin pula," kesal Emil yang semalam tertidur di ranjang kakaknya. Dan pagi tadi kamar itu sudah kosong tinggal dirinya sendirian. "Kakakmu berangkat pagi amat?" Emil mengangkat bahunya acuh. "Ayo ah, cus berangkat. Eh, kamu bawa apaan tuh?" tunjuk Emil pada benda berwarna coklat di atas meja. "Itu boneka horti, bagus kan?" "Kamu bikin sendiri?" tanya Emil yang membolak-balikkan boneka tersebut. "Iya aku bikin sendiri. Mau aku kasih ke Shela," jawab Iko. "Shela? mana mau cewek dikasih boneka ginian. Mentang-mentang kamu cinta alam sekitar, jadi nggak peka sama keinginan para perempuan sekitar," cemooh Emil. "Biar beda Mil, kalau boneka ini kan bisa tumbuh rumputnya. Keren!" bela Iko. Memang boneka seperti ini selain untuk pajangan juga bisa sebagai tanaman yang dirawat layaknya tumbuhan lain. Disiram kemudian jika rumputnya semakin panjang bisa dipangkas. "Beda sih boleh, ini juga keren. Tapi, kalau cewek model Shela gitu sukanya dikasih boneka yang imut kayak aku atau nggak, kasih bunga atau coklat aja." Iko memandang sekilas lagi pada boneka horti yang masih tergeletak di meja. Diraihnya kemudian dimasukkan ke dalam tas. Segera ia melangkah menghampiri sepeda motornya dan melaju bersama Emil di boncengannya. **** "Sayang, bibirmu laksana candu untukku. Tahukah kamu jika aku sangat merindukan lembut basah kecupanmu," seloroh Dery yang langsung dilempari gulungan kertas oleh Rey. Dery terbahak sedangkan Rey sendiri malah semakin jengah dengan gaya palyboy sahabatnya. "Aku penasaran, kalau aku sesekali ikut incip-incip bibir Sila boleh ya Bro." BUGH! Dery meringis begitu sebuah buku setebal kamus melayang mengenai dahinya. Rey benar-benar mengepalkan tangan serta mendelik tajam begitu mendengar seloroh Dery barusan. Berbagi bibir singa betina? Oh, sebelum pikiran itu tercetus, ingatkan Rey untuk menebas kepala dan merobek bibir yang mengatakannya. Bibir singa betina cukup untuknya saja seorang. "Ampun, Bro, aku tahu diri juga kalau mau nikung temen. Sialan, sakit nih dahi." Derry mengusap dahinya. "Cemburu boleh, overprotective juga silahkan, tapi nggak main kasar juga kali," lanjut Dery yang tidak menyangka guraunnya sangat mempengaruhi emosi sahabatnya. "Sorry, Bro, kelepasan." Rey pun meminta maaf namun tak beranjak juga dari kursinya. Kenapa hanya mendengar seseorang ingin berbagi soal singa betina itu membuat Rey langsung kalap? **** Sepulang kerja, Rey berniat mendatangi rumah singa betina untuk meminta maaf karena kejadian kemarin. Dan ia berharap gadis itu tidak mengamuk. Masalah ciuman kemarin membuat Rey ketar-ketir. Ia trauma kejadian masa kecilnya akan terulang lagi. Semua masalah selalu karena ciuman. Dulu saat mereka kecil, Sila pergi meninggalkan dirinya yang mengemis maaf dan sekarang saat keduanya sudah dewasa, Rey harus segera meminta maaf karena ciuman kemarin agar singa betinanya tidak menjauh, lagi. Pukul delapan malam Rey mengetuk pintu rumah Sila yang langsung dibuka oleh Iko. "Eh, Kak Rey, ada apa?" Tanya Iko yang masih berdiri berhadapan dengan Rey. "Kakakmu ada?" Iko mengangguk. "Ada di kamar tuh, dari pagi nggak kerja katanya lagi nggak enak badan," jelas Iko. Rey tiba-tiba merasa khawatir begitu tahu Sila sakit. Berbagai pikiran menghampirinya. Apakah ia sakit karena ciumannya kemarin atau karena merasa kesal hingga memendam rasa jengkel sampai sakit? Rey menggeleng kepalanya mencoba menepis asumsi konyolnya. "Om Rangga kemana?" tanya Rey yang mengalihkan pikiran dengan melihat garasi yang masih kosong tanda mobil Rangga tidak berada di tempat. "Papa ke Jogja tadi siang sama Mama, ada keluarga Eyang yang meninggal," jelas Iko. "Kakak mau nemuin Mbak Sila? ke kamarnya saja langsung." Mendengar kata 'kamar' membuat Rey langsung berbinar. Kamar singa betina ya? Apakah ranjangnya besar atau warna spreinya putih agar terlihat merah jika nanti selesai bertempur untuk pertama kali? Ataukah AC nya dingin yang membuat dua orang akan bergelung hangat di dalamnya? Ya ampun ... pikiran Rey sangat liar. "Kok malah bengong, ayo masuk Kak. Kamar Mbak Sila di atas yang ada namanya di pintu. Dan, berhubung kak Rey disini, aku tinggal bentar mau beliin Mbak Sila bakso sama obat," pamit Iko. Belum juga Rey mengangguk Iko sudah melesat pergi dengan sepeda motornya. Rey masuk dan naik ke lantai atas mencari dimana kamar Sila. Begitu melihat nama singa betina itu menempel di pintu, Rey langsung mengetuknya perlahan. "Masuk!" terdengar suara dari dalam membuat Rey segera membuka pintu yang tidak dikunci. Melongokkan kepalanya sejenak melihat situasi, ia pun masuk. "Nggak usah beli bakso dulu, sini kerokin mbak. Masuk angin nih kayaknya," ucap Sila yang masih memejamkan mata sambil tengkurap. Rey yang merasa bingung akhirnya sadar mungkin dikira Sila yang barusan masuk adalah Iko. Rey ingin menyela bahwa ia bukan Iko, tapi bentakan Sila yang terlalu lama menunggu dan sudah tidak sabar ingin dikeroki membuat Rey mengurungkan niatnya. Mendengar bentakan singa betina saja nyalinya ciut. "Lama amat sih Ko? Tuh, koin sama minyak kayu putihnya ada di meja." Rey melirik ke arah meja dan segera mengambil benda yang dimaksud Sila. "Kerok kayak biasanya," perintah Sila yang mulai meloloskan kaos pendeknya masih dengan mata terpejam dan posisi tengkurap. Rey menelan ludahnya susah payah begitu disuguhi tali warna hitam yang melingkar di punggung dan pundak Sila. "Cepetan Ko!" bentak Sila yang langsung menyadarkan Rey daei keterpanaanya melihat pemandangan yang menguras imannya. "Tali Behaku lepasin aja, Ko. " Melihat santapan menggiurkan di depanya membuat Rey meneteskan air liur. Dengan tangan yang gemetaran ia menyentuh tali hitam yang melintang di punggung. Begitu kulit jemarinya bersentuhan dengan kulit mulus punggung Sila, getaran pada jemarinya bertambah kencang. Dengan hati-hati dan meneguk salivanya berulang kali, Rey melepaskan kaitan bra yang dirasanya sangat sulit. Apakah sesulit ini melepas tali beha? Jantung Rey berdegup tak karuan. Batinnya memberontak ingin menelusuri kulit halus singa betina yang terbaring pasrah kemudian mengecupi dengan sedikit menggigiti lembut permukaan kulit itu. "Ko!" bentakan Sila yang kesekian kali membuat Rey langsung memulai aksinya tanpa melepas tali bra yang belum berhasil dibuka. Rey yang bingung juga bagaimana cara kerikan hanya menggaruk kepalanya. Dengan sembarangan sesuai yang ia tahu, Rey mengolesi sedikit minyak di punggung atas dan mulai menggerakkan koin dari arah dalam ke luar. Karena tidak berpengalaman ia pun melakukanya dengan perlahan takut melukai kulit Sila. Sila yang merasa kerikanya tidak terasa sama sekali mencoba membalikkan tubuhnya untuk melihat kenapa tangan Iko tampak gemetaran dan tidak bertenaga. Sila sedikit mengangkat kepalanya menoleh ke belakang. Dan tubuhnya pun sedikit terangkat. Begitu berhasil menoleh ke belakang, Sila langsung melihat.................. -----------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN