"Kamu.. Nara?" tanya Raka pada wanita itu. Wanita itu pun bangkit dari duduk nya. Dia lalu berbalik menghadap Raka. Dan ketika kedua pasang mata itu bertemu, mereka berdua terlihat shock di pertemuan pertamanya.
"Kamu.. Raka?" Nara balik bertanya dengan ekspresi kaget nya. Nara kira lelaki yang bernama Raka itu masih muda dengan rentan usia dua puluh sampai dua puluh lima tahun. Nara tak menyangka jika Raka yang dia kenal lewat media sosial itu ternyata memiliki usia yang terpaut jauh dengan nya.
Nara merutuki kebodohannya karena tidak menanyakan usia Raka sewaktu mereka berkenalan dulu. Bahkan yang lebih parah, mereka belum pernah bertukar foto satu sama lain.
Kalau sudah ketemu seperti ini kan mau gimana lagi. Nara ga mungkin kabur juga karena walau bagaimana pun dia harus menghargai Raka yang telah datang menjemputnya.
"Kamu masih SMA?" tanya Raka tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang gadis masih berseragam SMA dengan rambut kuncir kuda nya ini ternyata adalah teman di dunia maya nya.
Raka kira sosok Nara adalah sosok wanita dewasa. Namun apa yang dilihatnya sekarang sungguh membuat dia kaget setengah mati. Hancur sudah harapan Raka selama beberapa hari ini.
Tadinya Raka berharap sosok Nara dapat menggeser posisi Andini di hati nya. Tapi saat mengetahui sosok Nara ternyata masih SMA, membuat harapan itu pupus seketika.
****
"Aku ga nyangka ternyata kamu masih anak SMA." sindir Raka sambil menatap Nara yang sedang makan di hadapan nya. Karena saat ini mereka sedang berada di salah satu restoran cepat saji untuk mengganjal perut Nara yang tengah kelaparan karena belum sarapan.
"Aku juga ga nyangka ternyata Raka yang aku kenal udah Om-Om." balas Nara dengan tersenyum mengejek.
Raka lalu mendengkus ketika mendengar balasan dari Nara. "Kenapa kamu ga bilang sih kalau kamu tuh masih SMA?" tanya Raka dengan ketus.
"Om ga nanya." jawab Nara dengan singkat nya.
Raka menghela nafas nya sambil menepuk-nepuk d**a nya agar lebih bersabar menghadapi gadis ABG di hadapan nya ini. "Bisa panggil Kakak, Aa atau Mas aja gitu? Jangan panggil aku Om. Aku kan belum setua itu." protes Raka tak terima karena dirinya dipanggil Om oleh Nara.
Nara lalu menghentikan kegiatan sarapan nya saat mendengar nada protes Raka. Setelah itu dia menatap wajah Raka dengan seksama. "Memang usia Om sekarang berapa tahun?" tanya Nara.
"Aku masih tiga puluh dua tahun. Belum terlalu tua kan?" jawab Raka dengan percaya dirinya.
Seketika mata Nara langsung melotot saking kaget nya saat mendengar jawaban dari Raka. "Astaga!!! Tiga puluh dua tahun?" teriak Nara heboh. Sontak teriakan Nara tersebut mengundang perhatian pengunjung yang lainnya. Alhasil saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian disana.
"Bisa ga teriak seperti itu? Suara kamu mengundang perhatian pengunjung lain, Nara." bisik Raka sambil menutup wajah dengan kedua tangan nya karena malu.
"Maaf. Abis Nara kaget." cicit Nara seraya menundukan wajah nya.
"Jadi, usia Om sekarang ini tiga puluh dua tahun?" Nara mengulang kembali pertanyaan nya.
"Iya. Memang nya kenapa?" Raka balik bertanya.
"Ya kalau usia nya udah tiga puluh dua tahun memang lebih pantas di panggil Om. Kalau di panggil Kakak, Aa atau Mas udah ga cocok." jawab Nara sambil terkekeh geli.
"Lagian usia Nara kan masih tujuh belas tahun. Ga sopan kalau manggil orang yang usia nya jauh lebih dewasa dari Nara dengan panggilan Kakak." ucap Nara membela dirinya.
Raka lalu mendengus sebal mendengar pembelaan Nara barusan. "Yaudah terserah kamu aja." gerutu Raka dengan wajah cemberut.
"Cepetan abisin sarapan nya. Udah ini aku anter kamu cari penginapan." perintah Raka. Dia tak ingin berlama-lama berada di dekat Nara seperti saat ini. Karena bisa dipastikan semakin lama dia berada di dekat Nara, stok kesabaran nya pasti akan cepat habis.
"Emm.. Om.. Nara boleh minta satu permintaan?" ucap Nara dengan suara yang dibuat semanis mungkin. Berbanding terbalik dengan kata-kata tadi saat sedang mengejek Raka.
"Permintaan apa?" tanya Raka masih dengan wajah cemberut nya.
"Nara boleh numpang tinggal dirumah Om aja? Soal nya uang bekal kabur Nara udah menipis. Tuh liat cuma tinggal tiga puluh lima ribu lagi." rajuk Nara sambil memperlihatkan isi dompet nya yang memang benar-benar tersisa tiga puluh lima ribu.
"Maka nya kalau mau kabur-kaburan itu harus punya persiapan dulu. Kalau kayak gini kamu malah nyusahin orang lain." omel Raka dengan wajah kesal.
"Ya maaf. Boleh ya Om? Nara janji deh ga akan lama-lama. Setelah Papa batalin rencana pernikahan nya, Nara bakal pulang lagi ke Surabaya." bujuk Nara sambil menggoyang-goyangkan lengan Raka.
"Kamu tinggal di hotel aja!! Atau cari kost. Nanti biar aku yang bayar. Aku ga pernah bawa cewek kerumah. Apalagi kamu bakal nginep beberapa hari disana. Apa kata tetangga dekat rumah aku nanti? Mereka pasti ngira aku bawa kabur anak gadis orang." tolak Raka dengan tegas.
Nara memasang wajah memelas nya. "Nara takut kalau tinggal di hotel sendirian, Om. Apalagi kalau kost, Nara ga biasa." bujuk Nara sambil menggelengkan kepala nya tanda tak setuju dengan usul Raka.
"Boleh ya, Om. Cuma beberapa hari aja ko. Nara janji ga bakal nyusahin Om Raka selama tinggal dirumah Om Raka." Nara merengek manja seperti anak kecil.
"Memang kamu ga takut tinggal berdua sama aku? Aku laki-laki normal loh. Ga takut aku apa-apain gitu?" Raka menggoda Nara dengan seringai bulu nya. Dia mencoba untuk menakut-nakuti gadis di depan nya agar tak mau tinggal dirumah nya. Karena Raka tak ingin ada gosip yang beredar di lingkungan tempat tinggal nya gara-gara mengajak Nara tinggal disana. Dia bisa disangka p*****l yang membawa kabur anak gadis orang.
"Aku percaya ko Om Raka ga bakal berani macam-macam sama aku." jawab Nara dengan penuh keyakinan dalam diri nya.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Karena wajah Om Raka itu wajah laki-laki yang ga berpengalaman. Haha.." ejek Nara yang hampir saja membuat Raka mengumpat kasar ketika mendengar nya. Namun segera dia tahan. Mengingat mereka yang saat ini berada di tempat ramai.
Raka menarik nafas lalu menghembuskan nya secara perlahan. Setelah itu dia menatap mata Nara dengan tajam. "Terserah kamu aja. Yang jelas aku udah ingetin kamu dari awal. Jangan salahin aku kalau suatu saat nanti, akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan."
"Nara pastikan hal itu ga akan pernah terjadi." sahut Nara dengan keyakinan penuh. Mau tak mau Raka menyetujui permintaan Nara. Karena dia tak tega juga membiarkan gadis ABG seperti Nara tinggal sendirian. Apalagi Nara jauh dari orang tua nya. Membuat Raka mau tak mau harus menjaga dan melindungi Nara selama dia tinggal di Bandung.