Malam ini setelah makan malam dengan Papa dan Kakak nya selesai, Nara segera masuk ke dalam kamar nya. Tak lupa dia mengunci pintu kamar nya.
Nara lalu berjalan ke arah lemari pakaian. Dia mengambil tas ransel dan beberapa potong pakaian yang berada di dalam sana. Setelah itu dia memasukan beberapa potong pakaian itu ke dalam tas ransel nya.
Saat ini tekad Nara sudah bulat. Dia akan kabur dari rumah nya. Besok adalah hari terakhir ujian nasional dan dia akan kabur setelah pulang sekolah besok. Dan tujuan kabur Nara adalah ke Bandung. Ke rumah kenalan nya yang belum lama dia kenal.
Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa Nara bisa mengambil tindakan senekad ini? Jawaban nya adalah karena menurut Nara, ini satu-satu nya cara agar Papa nya tidak jadi menikah dengan Tante Sarah.
Dan jika kalian bertanya apa Nara tidak takut kabur ke rumah kenalan nya yang bahkan belum lama dia kenal? Jawaban nya adalah tidak. Karena entah mengapa Nara begitu percaya pada orang yang baru di kenal nya itu.
Setelah selesai menyiapkan segala keperluan untuk acara kabur nya besok, Nara lalu membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur. "Maafin Nara, Pah. Maaf karena Nara harus pergi untuk sementara waktu meninggalkan Papa. Nara sayang Papa." ucap Nara sambil menangis terisak.
Besok pagi nya Nara berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Dia harus menghindari bertemu dengan Papa nya dan Kak Kevin. Karena mereka pasti akan curiga jika melihat Nara membawa dua tas sekaligus. Tas selendang yang biasa Nara pakai ke sekolah dan juga sebuah tas ransel.
Saat diperjalanan menuju sekolah Nara, Pa Budi yang merupakan supir keluarga Pa Soeprapto keheranan saat melihat Nara membawa dua tas ke sekolah nya.
"Non, kenapa bawa dua tas?" tanya Pa Budi sambil menatap Nara yang sedang duduk di kursi belakang melalui kaca spion dalam mobil.
"Mau nginep dirumah Melly, Pa Budi. Sekarang kan hari terakhir ujian nasional." jawab Nara dengan lugas. Dia tak ingin terlihat mencurigakan di depan Pa Budi.
"Oh.. mau melepas penat ya, Non?" ledek Pa Budi sambil terkekeh geli.
"Hehe.. iya Pa Budi. Mau melepas penat. Jadi nanti Pa Budi ga usah jemput Kinara ya."
"Siap, Non."
Sesampai nya di sekolah, Nara menitipkan tas ransel nya tersebut pada salah seorang Ibu kantin di sekolah nya. Dia mengatakan alasan yang sama seperti apa yang di katakan nya pada Pa Budi. Untung saja Ibu kantin tersebut tak menaruh curiga pada nya karena Ibu kantin tersebut begitu mengenal Nara dan sahabat-sahabat nya. Mengingat Nara dan sahabat-sahabat nya tersebut sering makan dan nongkrong di kantin nya yang berada di luar sekolah tersebut. Setelah menitipkan tas ransel nya, Nara lalu berjalan memasuki ruang ujian nasional nya.
Aku harus mengerjakan soal ujian nasional ini secepat mungkin. Biar aku bisa pulang lebih awal. Aku ga mau sahabat-sahabat aku mengetahui rencana kabur aku ini. Mereka pasti akan mengadu sama Papa dan Kak Kevin, batin Nara.
Dan ketika ujian nasional hari terakhir dimulai, dengan segera Nara mengisi lembar demi lembar soal tersebut. Tak lupa Nara mengecek ulang lembar jawaban nya karena takut ada yang dia lewatkan. Setelah dirasa cukup, Nara segera mengumpulkan lembar soal dan jawaban nya pada pengawas ujian.
Setelah itu dia melesat pergi ke kantin untuk mengambil tas ransel nya. Lalu setelah dia mengambil tas ransel tersebut, dia langsung meluncur ke stasiun Surabaya Gubeng.
"I'm coming Bandung!!" teriak Nara ketika sudah berada di dalam taksi yang akan membawa nya ke stasiun.
****
"Hallo, Assalamu'alaikum. Raka, aku udah ada di Bandung. Aku sekarang lagi di Stasiun Bandung. Apa kamu bisa jemput aku? Aku ga tau daerah sini." ucap Nara setelah panggilan telepon nya telah tersambung pada Raka.
"Iya, Waalaikumsalam. Kamu tunggu sebentar ya. Aku jemput kamu sekarang. Kamu jangan kemana-mana. Nanti kamu bisa nyasar." perintah Raka. Dapat Nara dengar suara Raka yang terdengar panik di seberang sana. Membuat Nara terkikik geli saat mendengar nya.
"Hehe. Ok kalau gitu. Nanti kamu kasih tau aku ya kalau udah sampai."
"Ok. Kamu hati-hati ya disana. Tunggu aku di tempat yang rame jangan di tempat sepi. Takut nya ada orang jahat. Kalau gitu aku tutup telpon nya ya. Aku akan sampai dalam lima belas menit. Paling telat aku sampai tiga puluh menitan." ujar Raka dengan begitu cerewet nya.
"Hehe. Iya. Kamu juga hati-hati dijalan nya ya. Jangan ngebut-ngebut. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
****
"Mau kemana, Mas?" tanya Agus keheranan saat melihat Raka yang berjalan tergesa-gesa.
"Mau jemput Nara nih, Gus." jawab Raka dengan raut wajah yang begitu panik.
"Nara? Nara yang teman chat Mas Raka itu? Dia lagi di Bandung?" tanya Agus tak percaya.
"Iya nih, Gus. Barusan Nara telpon katanya dia udah sampai di Bandung. Nara meminta aku menjemput nya. Soalnya dia baru pertama kali datang ke Bandung." terang Raka menjelaskan pada Agus.
"Ciiee.. ciee.. yang mau ketemuan sama Nara. Sukses ya Mas." goda Agus pada Raka yang sontak membuat wajah Raka merah merona. Raka juga tersenyum malu-malu di depan Agus.
"Gus, aku boleh pinjam motor kamu? Soalnya kalau pakai mobil aku, takutnya nanti macet terus dia kelamaan nunggu aku Gus." pinta Raka dengan wajah memelas.
"Pakai aja Mas. Sepuasnya mas Raka juga ga apa-apa." jawab Agus sambil terkekeh geli.
"Makasih ya Gus. Nanti aku traktir deh. Aku pergi dulu ya Gus. Titip cafe ya. Assalamu'alaikum." pamit Raka dengan tersenyum ceria.
"Waalaikumsalam." jawab Agus sambil tersenyum senang. Agus benar-benar merasa senang karena pada akhirnya Raka bisa menemukan wanita yang bisa membuat nya tersenyum bahagia seperti itu. Agus berharap Raka dapat bangkit dari kisah masa lalu nya yang kelam itu.
****
"Hallo, Assalamu'alaikum. Kamu dimana, Na? Aku sudah sampai. Ini lagi di parkiran." tanya Raka sambil celingak celinguk mencari keberadaan Nara.
"Aku di dalam, Raka. Aku lagi nunggu kamu di ruang tunggu khusus penumpang." jawab Nara di seberang sana.
"Okay. Aku kesana sekarang. Kamu pakai baju apa, Na?" tanya Raka kembali sambil berjalan ke dalam Stasiun.
"Aku pakai sweater biru muda."
"'Okay. Kalau begitu kamu tunggu ya. Aku lagi jalan kesana."
Raka lalu berjalan memasuki pintu masuk Stasiun dan mencari-cari keberadaan Nara disana. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya Raka melihat seorang wanita dengan sweater biru muda nya sedang duduk membelakanginya. Wanita itu berkulit putih dengan rambut panjang kuncir kudanya.
Seketika jantung Raka berdegup dengan sangat cepat nya saat berjalan mendekati wanita itu. Hati nya bertalu kencang tak karuan. Keringat dingin pun mulai bercucuran di sekitar dahinya. Raka lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku celana nya. Dia mengusap keringat itu dengan tangan yang gemetar.
Raka lalu memberanikan diri menyapa wanita tersebut ketika dia telah berada di belakang nya. "Kamu.. Nara?" tanya Raka pada wanita itu. Wanita itu pun bangkit dari duduk nya. Dia lalu berbalik menghadap Raka. Dan ketika kedua pasang mata itu bertemu, mereka berdua terlihat shock di pertemuan pertamanya.