Tujuh

795 Kata
   Pagi itu suasana di meja makan begitu hening dan sepi. Biasanya setiap pagi selalu saja ada yang diributkan oleh Kevin dan Kinar. Dan di saat itu terjadi, Papa nya akan selalu menengahi pertengkaran mereka berdua. Namun pagi ini suasana nampak berbeda setelah kejadian tadi malam. "Kinar, Papa ingin bicara sama kamu." ucap Pa Soeprapto setelah beliau selesai dengan sarapan pagi nya. "Ya tinggal bicara aja, Pa." sahut Kinar sambil menyantap sarapan nya. "Papa harap kamu mau merestui hubungan Papa dengan Tante Sarah. Dia orang yang baik, Kinar. Papa ingin kamu mencoba untuk dekat dengan Tante Sarah. Kamu pasti akan tau jika dia memang benar-benar orang yang baik setelah mengenal nya lebih dekat."    Seketika mood Kinar langsung menurun drastis saat mendengar perkataan Papa nya. Dia lalu menghentikan sarapan nya dan berdiri dari kursi nya, bersiap untuk pergi dari meja makan tersebut. Namun langkah Kinar langsung terhenti ketika mendengar ucapan Papa nya. "Bulan depan setelah kamu beres dengan Ujian Nasional, Papa akan menikahi Tante Sarah. Dengan atau tanpa restu kamu, Papa akan tetap menikahi Tante Sarah. Karena keputusan Papa sudah bulat untuk menikahi nya." ujar Pa Soeprapto. Kinar lalu memandang Papa nya dengan tajam. Setelah itu dia berlalu meninggalkan meja makan dengan perasaan marah dan kecewa. ****    Hampir dua minggu Raka dibuat uring-uringan. Hal itu karena Nara tak ada menghubunginya. Dia sudah mencoba menghubungi Nara dan mengirim pesan pada nya, tapi tak ada satu pun balasan dari Nara.    Terakhir kali Nara menghubunginya dia terdengar seperti orang yang sedang menangis. Saat itu Nara bercerita pada nya kalau dia sedang memiliki masalah dirumah nya. Karena itu Raka begitu khawatir pada Nara.    Keresahan Raka terlihat oleh Agus. Agus merupakan salah satu pelayan di cafe Raka yang paling dekat dengan Raka.    Agus yang merasa aneh dengan tingkah laku Raka yang lain dari biasanya, memutuskan untuk menghampiri Raka. "Mas Raka kenapa? Kok kayak yang gelisah gitu." tanya Agus keheranan. "Ga apa-apa ko, Gus. Cuma lagi banyak pikiran aja." jawab Raka sambil tersenyum kecil. "Mas Raka mau cerita? Barangkali aku bisa membantu?" Agus menawarkan diri nya.    Raka menghembuskan napas nya perlahan. Mungkin dia memang harus meminta pendapat dari Agus. "Kamu tau kan aku memiliki kenalan di dunia maya?" "Maksud mas Raka, Nara?" tanya Agus memastikan "Iya Nara. Sebenarnya aku sedikit khawatir dengan dia. Sudah dua minggu ini dia menghilang. Ga ada kabar nya sama sekali. Apa dia bosan ya chat dengan aku?" tanya Raka dengan raut wajah yang begitu sedih. "Mas Raka merindukan Nara?" goda Agus sambil tersenyum meledek pada atasan nya tersebut. Dan lihatlah wajah atasan nya itu, langsung kikuk dengan wajah memerah saat diberi pertanyaan olehnya. "Ngaco kamu Gus. Ya engga lah. Aku cuma khawatir aja sama dia. Karena terakhir dia menghubungi aku, dia terdengar seperti sedang menangis." Raka mengelak dengan suara yang terbata-bata. "Oh.. aku kira Mas Raka kangen sama Nara. Hehe.." goda Agus kembali.    Pembicaraan Raka dan Agus langsung terhenti ketika terdengar bunyi pesan masuk dari handphone Raka. Senyum langsung terukir dari bibir Raka saat melihat isi pesan masuk tersebut. "Itu Nara ya, Mas Raka?" tanya Agus sambil tersenyum menggoda. "Hehe.. ada deh. Mau tau aja kamu, Gus." jawab Raka dengan tersenyum malu-malu. "Ya udah, aku kembali ke depan aja ya Mas. Soal nya aku liat sekarang perasaan Mas Raka jauh lebih baik setelah dapat pesan SMS dari Nara. Hehe." Agus lalu berjalan keluar dari ruangan Raka. Jujur Agus merasa senang karena sekarang atasan nya itu sudah mulai membuka hati nya lagi untuk wanita. **** Nara: Hai Raka, apa kabar?    Isi pesan dari Nara sukses membuat Raka kegirangan saat membacanya.  Raka: Hai juga, Nara. Kabar aku baik. Bagaimana dengan kabar kamu sendiri? Apa kamu baik-baik saja? Nara: Sepertinya kabar aku sedang tidak baik :-( Raka: Apa permasalahan kamu dengan keluarga kamu sudah selesai? Nara: Belum, Raka. Oh ya Raka, apa aku boleh tau alamat tempat tinggal kamu di Bandung? Raka: Boleh. Memang ada apa? Kamu mau ke Bandung? Nara: Ya. Sepertinya aku ingin berlibur kesana. Sekalian bertemu dengan kamu. Apa kamu keberatan?' Raka: Tidak. Aku sama sekali tidak keberatan. Kapan kamu akan datang ke Bandung? Nara: Nanti akan aku beritahu kamu lagi. Terima kasih sebelumnya Raka. Raka: Tidak masalah. Datanglah.. aku menunggu kamu.    Senyum langsung terukir dari bibir Raka ketika dia membaca kembali pesan SMS nya dengan Nara. Raka merasa begitu bahagia hanya karena hal kecil seperti ini. Ah.. rasa nya sudah lama sekali Raka tak merasakan kebahagiaan seperti ini.    Aku jadi ga sabar buat ketemu sama kamu Nara, batin Raka dalam hati.    Raka benar-benar tak sabar menunggu hari itu. Hari dimana Nara akan datang ke Bandung untuk bertemu dengan nya. Memikirkan pertemuan pertama nya dengan Nara saja sudah membuat jantung Raka berdegup dengan sangat kencang nya. Apalagi jika dia benar-benar bertemu langsung dengan Nara. Entah apa yang akan terjadi nanti? Mungkin jantung nya akan keluar dari tubuh nya? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN