6. Lamaran yang Tidak Romantis (Bima)

2522 Kata
Aku bukan orang yang pandai masalah percintaan. Pernikahan pertamaku berakhir karena aku dan mantan istriku kesulitan untuk bisa saling memahami. Pada akhirnya kami saling menyakiti dan menjadi sangat buruk. Lalu aku juga pernah dekat dengan beberapa wanita lain tapi sampai detik ini tidak ada yang benar-benar membuat aku kehilangan ketenangan seperti sekarang. Sesampainya di rumah Adrian, aku melihat gadis kecil nakal itu sedang duduk dengan teh hangat di tangannya. Kaki dan beberapa bagian lengannya dipenuhi plester. Sepertinya luka-lukanya sudah di obati oleh Lisa. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya terlihat pucat. Aku mendesah berat merasakan banyak emosi di dalam diriku. Tapi belum sempat aku menghampirinya, Adrian sudah lebih dulu menarikku masuk ke dalam. "Kelihatannya anak ini disiksa di rumahnya. Dia pingsan karena belum makan dan juga dehidrasi. Dia tidak mau bicara apapun tapi orang-orangku menemukan dia sedang dikejar oleh anak buah dari ibu tirinya. Dan berdasarkan informasi yang berhasil mereka korek, orang-orang itu menyebut Amanda adalah tawanan yang melarikan diri." Penjelasan Adrian membuat amarahku perlahan naik. Sekali lagi aku menoleh ke arah dimana Amanda berada. Gadis pembuat onar yang terus menawari aku sebuah pernikahan dengan ceria itu ternyata benar-benar menyimpan semua masalahnya sendiri. "Lalu apa yang akan kamu lakukan Bim?" Pertanyaan itu membuatku mendesah perlahan sambil mengusap wajahku sedikit kasar. "Jujur aja aku bingung harus gimana." jawabku lirih. Adrian melipat kedua tangannya di d**a sambil tersenyum. "Kelihatannya dia menarik karena bisa membuat seorang Bima datang secepat kilat ke sini sekarang." balasnya dengan senyuman meledek. Aku tahu apa yang ada di pikirannya sekarang, tapi anehnya aku tidak bisa menyangkalnya. Amanda memang sudah menarik perhatianku sejak awal. Mungkin sejak kami pertama kali bertemu. "Ibunya adalah mantan atasan ibuku dan ayahnya adalah orang yang aku curigai sebagai dalang pembunuhan ibuku. Apa yang harus aku lakukan dengan anak yang berada diantara aku dan dendamku ini huh?" "Dendammu jelas tidak ada hubungannya dengan Amanda Bim. Menurutku dia justru korban juga. Kamu memiliki Sena ketika ibumu meninggal. Lalu bagaimana dengan Amanda? Bahkan kakaknya sendiri tidak berpihak padanya. Bayangkan, bagaimana luka yang harus dia tanggung? Ayahnya juga tidak bisa diharapkan. Aku dengar dia juga dibully di sekolahnya. Aku mengerti kenapa dia mendatangimu. Jika ada yang bisa dia datangi, dia tidak akan mendatangi orang lain untuk meminta bantuan Bim." Ucapan Adrian sangat masuk akal. "Dan ada yang aneh dengan anak itu, sepertinya kamu perlu membawanya ke dokter." Adrian menambahkan. Membuat aku langsung menoleh sambil mengerutkan dahi bingung. "Aneh? Apa maksudnya?" "Setelah bangun dari pingsan, dia terlihat kebingungan dan tidak ingat kenapa dia bisa ada disini. Ketika aku berbicara tentang kamu, dia juga tidak mengenalimu. Sepertinya dia sangat syok atau semacamnya." balas Adrian yang membuatku langsung menoleh ke arah Amanda. Sejujurnya ketika aku datang dan melihatnya tadi, auranya memang terlihat berbeda, dia sedikit suram dan tidak ceria seperti biasanya. Tapi untungnya, dia menurut ketika aku mengajaknya masuk ke mobil. "Apakah paman akan menjualku?" Pertanyaan Amanda membuat aku menoleh sambil mengerutkan dahi. "Pa-paman?" tanyaku sedikit tergagap. Gadis nakal ini memang beberapa kali memanggilku om, tapi Paman? bukankah ini sedikit keterlaluan? Tapi anehnya wajahnya terlihat polos dan tanpa ekspresi jahil seperti biasanya ketika memanggilku paman. "Bukankah paman adalah orang yang membeli aku dari ibu tiriku?" pertanyaan ini membuat aku menghentikkan mobilku di pinggir jalan kemudian menatapnya dengan tatapan yang intens. Apa yang terjadi pada gadis ini? Kenapa dia berbiccara seolah tidak mengenalku sebelumnya? Apa yang dikatakan Adrian memang benar, tapi aku juga tidak bisa langsung mengajaknya ke dokter untuk kasus ini karena dia masih punya keluarga. Sorot matanya redup dan aku baru sadar kalau sejak tadi dia terus berusaha mengedepankan rambutnya hingga menutupi sebagian wajahnya. Padahal Amanda yang aku kenal adalah anak yang dengan percaya diri mengikat rambutnya ke belakang dan bahkan berani menatap mataku ketika berbicara. "Kalau boleh, tolong jangan jual aku ke tempat yang buruk. Aku bisa melakukan apapun termasuk bekerja. Aku bisa menghasilkan uang untuk paman dengan cara yang baik. Lagipula aku masih terlalu kecil jika harus berhubungan dengan para laki-laki. Jadi bisakah paman jangan menjualku ke tempat hiburan atau semacamnya?" ucapnya lagi sambil menunduk. Aku lihat tangannya gemetaran hebat. Seharusnya dalam keadaan takut seperti itu, seorang gadis pasti menangis. Tapi tidak ada air mata yang keluar dari matanya sedikitpun. Tapi aku justru menemukan rasa takut yang sangat dalam dari ekspresinya. "Paman tidak akan menjualmu." ucapku pada akhirnya. Meskipun masih bingung, aku memutuskan untuk mengikuti alurnya dan kembali melajukan mobilku. Tapi ekspresinya justru jadi lebih ketakutan. "Tolong jual saja aku paman. Aku tidak mau kembali ke rumah itu." ucapnya dengan ekspresi memohon. Tangannya meremas erat ujung bajuku dan matanya memerah. "Aku tidak akan membawa kamu ke sana. Kita akan pulang ke rumah paman." balasku lembut. Aku sampai merasa tidak mengenali diriku sendiri saking lembutnya. Aku bukanlah orang yang bersikap selembut ini. Selain itu aku juga benci anak kecil selain keponakanku dan aku juga membenci orang yang kekanakan. Tapi entah kenapa Amanda terlihat berbeda di mataku. "Paman tidak..." dia menjeda ucapannya cukup lama, tapi aku tahu apa maksudnya. "Paman tidak akan menyentuhmu sejengkalpun." potongku cepat. Mendengar itu, senyuman tipis terbit di sudut bibirnya. Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Rumahku yang sepi menjadi cukup riuh karena para penjaga mulai membicarakan kehadiran Amanda. Aku memberikan pakaian tidur Sena yang masih tertinggal di rumah setiap kali dia menginap untuk dipakai Amanda dan menyiapkan kamar tidur untuknya selama dia mandi. Setelahnya aku juga membuatkan teh hangat dan bubur. Aku benar-benar membuat makanan untuk orang lain yang tidak dekat denganku. Aku sampai bingung kenapa aku bersikap sampai seperti ini pada gadis nakal itu. Tubuh Amanda tidak jauh berbeda dengan tubuh Sena yang ramping, karena itu setelah piama lucu itu pas sekali di tubuhnya dan membuatnya terlihat sedikit menggemaskan. "Duduk! dan makan buburnya! Setelah itu tidur." perintahku sedikit keras. Aku memang terbiasa memberikan perintah dengan keras. Sena terbiasa dengan itu. Tapi Amanda terlihat terkejut mendengarnya. "Kata Lisa kamu belum makan kan? Jadi Paman membuatkan kamu bubur. Kalau kamu tidak memakannnya paman akan sangat sedih." ucapku lagi dengan nada suara yang lebih lembut. Amanda mengangguk dan terlihat lebih tenang. Memakan bubur buatanku dengan lahap tanpa menatapku sedetikpun. Gadis nakal ini masih terlihat ketakutan padahal kemarin dia dengan berani mengajakku menikah. Setelah selesai makan, aku tidak membiarkannya mencuci piring meskipun dia bersikeras ingin melakukannya. Tangannya terluka dan dia terlihat mengantuk. Aku tidak mungkin membiarkan gadis dalam keadaan seperti itu untuk mencuci piring. "Tidur saja, besok pagi kita bicara!" ucapku diangguki olehnya dengan lemah. Aku kemudian duduk di sofa sambil mendesah berat. Mengacak rambutku sendiri karena sekarang aku sedang menyembunyikan anak gadis orang di rumahku dengan kesadaran penuh. Bima tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku adalah orang yang tidak mau mengambil resiko demi orang lain. Apalagi orang yang baru beberapa hari aku kenal. Tapi Amanda bnenar-benar ajaib. Dia membuat hatiku seperti tidak mematuhi otakku. Tapi sekarang aku dibuat pusing. Apa yang harus aku lakukan padanya besok? Haruskah aku mengembalikannya ke keluarganya atau terus menyembunyikannya? Orangku yang ada di kediaman Amanda belum bisa mendapatkan informasi yang aku inginkan karena mereka masih baru disana. Yang aku dapatkan hanya kebenaran bahwa Amanda kabur dari rumah. Karena itu aku masih belum bisa menilai situasinya. Mengembalikan Amanda ke rumahnya bisa menjadi ancaman untuk gadis itu, tapi terus menyembunyikannya akan membuat aku terlihat seperti penculik. "Apa yang akan anda lakukan Boss?" tiba-tiba saja Steven datang menghampiri. Laki-laki kepo ini aku yakin sekali sudah gatal ingin mendengar kemajuanku dengan Amanda. Tapi karena dia datang sambil membawakan aku kopi, kali ini aku maafkan. "Tidak tahu." jawabku putus asa. "Meskipun kita tidak tahu bagaimana keadaan sebenarnya di dalam kediaman Hanara, tapi melihat gadis itu sampai kabur dari rumah di tengah malam dalam keadaan hujan lebat dan bahkan tidak peduli dengan lukanya, itu artinya rumahnya berbahaya untuknya. Dia sudah susah payah melarikan diri, jika Boss mengembalikannya ke sana bukankah akan jadi buruk?" "Tapi menyembunyikan dia seperti ini akan membuatku masuk penjara Steven!" "Kalau begitu hanya ada satu solusi yang bisa menyelematkan situasi ini sekaligus menyelematkan Nona Amanda. Bonusnya dendam Boss juga akan terbantu." balas Steven dengan senyuman penuh arti. Aku mendengus sebal karena aku tahu apa yang dia maksud. "Aku tidak mau menikahi anak kecil! Jangn bahas ini lagi!" ucapku ketus. "Ya kalau begitu, kita tidak punya solusi lain Boss. Satu-satunya solusi yang mungkin adalah mengembalikannya ke rumah karena jika kita terus menyembunyikannya maka akan jadi masalah. Lagian dia bukan siapa-siapa Boss kan? untuk apa Boss peduli apa yang akan terjadi padanya di rumah nanti kan?" nada bicara Steven terdengar menyebalkan. Aku sendiri bingung kenapa dia kelihatan ngebet sekali menjodohkan aku dengan Amanda, padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Beberapa anak buahku yang llain juga terlihat bersemangat sekali melihatku dengan Amanda. "Pulang saja sana ke rumahmu Steven! Kamu membuat kepalaku semakin pusing. Lagian rumah kamu dekat kenapa tidak pernah pulang." Usirku jengkel. Asistenku itu hanya tersenyum tipis kemudian beranjak pergi ke ruangan lain tanpa mengindahkan ucapanku lagi. *** Pikiran berat itu membuatku terjaga sampai pagi. Amanda keluar dari kamar dengan wajah yang masih suram. Rambutnya dia tempatkan hampir menutupi wajahnya. Penampilan ini sangat sesuai dengan informasi yang di dapatkan oleh anak buahku. Aku hanya masih belum mengerti kenapa sebelumnya dia berubah menjadi orang yang berbeda. "Paman buatkan kamu Sandwich dan s**u. Makan dulu! Nanti kita bicara setelahnya." ucapku sambil melirik makanan yang aku buatkan untuknya. Amanda mengangguk saja tanpa menjawab kemudian duduk di meja makan. Sementara aku memilih pergi dari sana dan mandi. Begitu aku keluar dari kamar, gadis itu sudah duduk di sofa ruang tengah. Menatap lurus ke arah remot televisi. Dari ekspresinya dia terlihat seperti ingin menyalakan televisi, tapi tidak berani melakukannya. "Amanda, ayo kita bicara!" ajakku. Gadis itu terlihat mengerutkan dahinya tapi kemudian mengangguk dan mengikuti aku ke halaman belakang. Di sana ada sofa nyaman di tengah kebuh hijau yang akan membuat suasana jadi lebih santai dan tenang untuk bicara. Aku biasa menjadikan tempat itu sebagai tempat aku berbicara serius dengan Sena dulu. "Baiklah, mari kita luruskan semuanya. Kamu kabur dari rumah karena kamu di sekap dan tidak diberi makan. Lalu kamu mendatangi rumah Adrian yang lebih dekat untuk memanggilku bukan?" Aku menjeda ucapanku karena matanya terlihat berkedip dengan lucu seperti kebingungan. "Tapi keadaanya sangat sulit untuk menampungmu Amanda. Kita tidak memilliki status dan kamu seharusnya masih menjadi tanggung jawab keluargamu. Karena itu aku tidak bisa menampungmu disini. Jadi solusi paling baik adalah mengembalikanmu ke rumah meskipun kamu tidak suka. Bagaimana kalau aku bicarakan masalah ini dengan ayahmu agar kamu tidak disekap lagi?" ujarku melanjutkan. "Tapi Paman, namaku bukan Amanda." "Hah?" Aku menatap bingung dengan suara kaget yang sedikit keras. Kemudian aku tertawa sumbang dan sedikit kesal karena berpikir gadis nakal ini sedang mengerjaiku. "Kalai ini Paman sedang bicara sangat serius Amanda! Kalau kamu menanggapinya sambil bercanda seperti ini, Paman akan mengusir kamu dari rumah ini." dengusku kesal. "Nama aku beneran bukan Amanda, tapi Manda. Tidak pakai A di depan. Kata ibu huruf A itu bawa sial." jawabnya lagi dengan wajah polosnya. Aku mendesah berat kemudian menyugar rambutku frustasi. "Dan aku tidak kabur dari rumah. Tapi aku di jual sama ibu tiriku ke paman kan?" pertanyaannya kembali membuatku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku benci anak kecil, aku juga benci orang yang polos dan bodoh, karena itu tidak ada dalam sejarahku pernah dekat dengan orang yang polos. Dan Amanda yang sebelumnya mendatangiku bukan Amanda yang polos. Dia sangat pemberani, tegas dan nakal. Aku berpikir ketertarikanku padanya adalah karena dia memilliki karakter yang seperti itu. Tapi gadis menarik itu tiba-tiba berubah menjadi gadis polos yang terllihat bodoh dan lemah. Aku benar-benar hampir frustasi dibuatnya. Aku ingin mengamuk tapi melihat ekspresinya yang terlihat serius dengan wajah yang polos, aku urung melakukannya. Kalimat Adrian semalam kembali terlintas di kepalaku. Memang ada yang tidak beres dengan gadis ini. "Tidak, kamu tidak dijual ke Paman." "Kalau begitu aku boleh pulang paman?" tanyanya terlihat bersemangat. Aku bingung dengan keadaan ini sungguh. Tapi akhirnya aku mengangguk dengan pasrah dan Amanda terlihat senang. Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang mengingat gadis ini masih memiliki orang tua dan aku juga tidak memiliki bukti untuk melaporkan mereka. Pada akhirnya aku sendiri yang mengantarnya pulang ke kediaman Hanara. Semua orang terlihat sedang dimarahi oleh istri baru Hanara karena tidak menemukan Amanda. Aku memang tidak langsung masuk dan berhenti dulu di pinggiran untuk memantau keadaan. Dan hal itu membuat aku melihat Hanara dan putranya keluar dari mobil dengan wajah panik. Selanjutnya yang terjadi adalah ibu tiri Amanda dimarahi habis-habisan oleh Hanara. Kakak Amanda juga kelihatan marah atas hilangnya gadis nakal yang sekarang sedang terlelap di sampingku ini. Aku pikir mungkin saja banyak yang aku salah pahami tentang keluarga ini, karena itu aku akhirnya melajukan mobilku masuk ke dalam gerbang yang memang sudah terbuka lebar. Orang-orang yang sedang ribut itu terkejut atas kedatanganku. "Selamat siang tuan Hanara, semalam saya..." belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, dari arah samping terdengar suara teriakkan dan pintu mobill yang dibuka paksa. Gadis itu terlihat sangat marah dan matanya memerah menyorotkan kekecewaan. "Kenapa om membawaku kembali ke rumah sial ini!" teriak Amanda marah. Melihat itu aku sadar kalau Amanda yang semalam hilang, sudah kembali. Reaksi keluarga Hanara juga tidak kalah terkejut. Tapi belum sempat mereka berbicara, Amanda sudah melompat dan mendorong semua yang menghalanginya. Gadis itu berusaha kabur dari rumah itu. "Aku akan mengiris tanganku kalau kalian berani menangkapku. Ibu tiri sialan! Kakak sialan, Ayah lebih sialan, dan om Bima sialaaan! Kalian akan aku tunggu di neraka!" teriak Amanda histeris sambil mengarahkan pisaunya ke pergelangan tangannya. Entah dari mana dia mendapatkan pisau itu. "A-amanda, ayo kita bicarakan baik-baik!" ucapku mulai panik karena darah mulai mengalir dari tangannya yang tergores sedikit oleh pisau. "Keluarga sialan! Aku berdoa kalian semua membusuk di Neraka karena sudah menyiksa Amanda sampai seperti ini!" teriaknya lagi tidak mengindahkanku. Air mata berjatuhan di pipinya dan ekspresnya benar-benar terlihat putus asa. "Amanda, ayo kita bicara lebih dulu." Hanara berusaha bersikap lembut. Aku bisa mellihat laki-laki yang kabarnya tidak peduli pada Amanda itu sedang ketakutan. Tapi aku sendiri tidak tahu, apakah laki-laki b******k ini takut karena menyayangi putrinya atau karena alasan lain. Yang jelas aku prihatin dengan keadaan Amanda. Melihat dari reaksinya, kellihatannya kondisi di dalam rumahnya lebih buruk dari yang aku bayangkan. Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh. Kenapa dia memanggil dirinya sendiri dengan Amanda? Seharusnya dia bisa mengatakan aku atau saya pada dirinya sendiri. Bukankah umumnya orang seperti itu? Seolah yang sedang bicara di dalam diri Amanda sekarang bukanlah Amanda tapi orang lain. "Om mengajak kamu datang ke rumah untuk membicarakan pernikahan! Bukankah kita sudah sepakat untuk menikah Amanda?" Aku tidak memiliki cara lain, hanya hal ini yang aku pikirkan untuk menghentikannya. Teriakan histeris Amanda terhenti, tapi semua orang di rumah itu sekarang terlihat langsung menatapku dengan tatapan kaget. "Ayo menikah! Jadi kan kita menikah?" tanyaku lagi berusaha mengalihkan perhatian Amanda sambil sesekali melirik ke arah pisau yang masih dipegangnya. "Apa yang anda maksud dengan pernikahan tuan Bima! Putri saya masih sekolah!" Hanara terlihat kesal. Tapi ucapanku berhasil menghentikkan Amanda yang sedang mengiris tangannya semakin dalam. "Siapa yang akan menikah dengan siapa?" suara seorang laki-laki memecahkan keheningan selama beberapa detik tadi. Aku menoleh ke asal suara dan menemukan kekasih Amanda sedang berdiri di dekat gerbang bersama dua orang wanita yang terlihat sangat terkejut dengan ucapanku barusan. Sepertinya aku baru saja membuat masalah besar yang akan merepotkan gara-gara gadis nakal sialan itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN