Selama ini, jika aku melihat cerita yang mirip dengan kisahku di Novel, tokoh yang merasuk akan menggunakan pengetahuannya dari buku untuk melawan para penjahat. Atau mereka akan bersikap yang berlawanan dengan sikap tokoh jahat yang mereka rasuki untuk merubah orang-orang disekitarnya. Karena itu aku merubah semua kebiasaan buruk Amanda. Dari gaya rambutnya yang suram, cara berpakaiannya dan juga sikapnya yang tertutup. Tapi langkah yang aku ambil ternyata terlalu gegabah.
Karena ketika aku pulang ke rumah, ibu tiriku sudah menunggu aku ke rumah. Di sampingnya ada dua orang laki-laki dengan badan kekar. Mereka berdua kemudian menyeretku dan melemparkan aku ke gudang yang gelap dan menguncinya dari luar. Aku berteriak sampai suaraku hampir habis, tapi tidak ada yang peduli. Padahal aku yakin sekali ada banyak pekerja yang berlalu lalang di depan pintu gudang.
Aku mendesah kemudian terduduk di lantai. Pinggangku sakit karena ketika aku di lempar ke dalam gudang, pinggangku jatuh lebih dulu. Kelebatan ingatan tentang penyiksaan yang dialami oleh Amanda, tiba-tiba saja bermunculan di kepalaku. Jantungku berdebar tidak beraturan sampai terasa menyakitkan. Keringat dingin mulai keluar dari pori-poriku, membuatku sadar bahwa Amanda sangat takut dengan tempat gelap ini. "b******k! Kenapa jadi seorang penjahat di Novel sesulit ini." Aku mengumpat sambil menengadahkan kepalaku ke pintu. "Bagaimana Amanda bisa bertahan dengan kehidupan semacam ini?" gumamku lagi.
Setelah beberapa hari menjadi sosok Amanda, aku menyadari satu hal. Amanda seorang sengaja di ciptakan untuk hidup sendirian di dunia ini oleh penulis sialan itu. Tidak ada satu orangpun yang berada di pihak Amanda. Padahal pada waktu ini, dia belum melakukan apapun. Dia hidup dengan baik, tidak pernah menyakiti siapapun, dia juga tidak memiliki ambisi pada harta keluarga atau semacamnya. Selain itu ibunya juga bukan perebut suami orang. Justru ibu Amanda yang dinikahi lebih dulu oleh Hanara. Tapi kenapa semua orang seolah menyalahkannya? Apa sebenarnya salah Amanda? Aku yakin sekali jika aku menanyakan hal ini pada semua orang mereka tidak akan bisa menjawabnya karena Amanda memang tidak pernah berbuat apapun. Dia hanya gadis kikuk yang berharap bisa memiliki seseorang di sisinya. Sungguh kisah hidup yang menyedihkan padahal dia memiliki banyak uang di tabungannya.
Kehidupanku sebelumnya memang tidak mudah. Aku adalah anak yang dibuang dan ditinggalkan di Panti Asuhan. Pendidikan, Karier dan juga kehidupanku butuh usaha yang tidak main-main. Tapi untuk seseorang yang tidak terlalu beruntung seperti aku, setidaknya aku punya banyak teman. Meskipun Bossku di kantor menyebalkan, tapi dia masih sering mentraktir aku makan siang ketika kami berhasil menyelesaikan sebuah proyek. Tapi Amanda di kehidupan ini benar-benar tidak memiliki satu orangpun yang berpihak padanya.
"Katanya anak itu mau dibawa sama Tuan Tono malam ini. Orang-orangnya sudah datang membereskan barang-barangnya." Di tengah keheningan yang mencekam di ruang gelap ini, aku mendengar percakapan para pelayan. Dalam hati aku mengumpat.
"Salah sendiri dia berani melawan Nyonya besar. Sudah untung dia beri makan dan di beri pendidikan yang bagus malah membangkang. Bagus deh kalau pembawa sial itu pergi, kita jadi tidak perlu mengurus kamarnya lagi kan." balas pelayan yang lain. Mereka semua kemudian cekikikan. Mentertawakan kemalangan Amanda yang menyedihkan. Mendengar semua itu, tanpa sadar air mataku jatuh. Rasanya benar-benar menyakitkan di posisi Amanda.
***
Aku berdiri dan memeriksa keadaan gudang. Ada sebuah Fentilasi yang cukup besar di atas tumpukan karung berisi beras di dalam sini. Mengingat tubuh yang aku rasuki sangat ramping, aku yakin sekali aku bisa keluar dari sana. "Aku harus melarikan diri! Aku tidak bisa hanya pasrah menempuh jalan menuju terciptanya penjahat Wanita yang iri dengan kehidupan Tokoh Utama Wanita yang mulus." gumamku penuh tekad.
Untungnya aku dilempar bersamaan dengan tas sekolahku, itu artinya semua hartaku ada di dalam sana. Atm, surat-surat berharga, aku bahkan membawa pasporku kemanapun karena aku pikir akan berguna dalam keadaan genting. Jika aku melarikan diri sekarang, itu artinya sekolahku mungkin tidak akan bisa aku selamatkan. Padahal tinggal beberapa bulan lagi aku lulus. Tapi persetan dengan sekolah, yang penting aku selamat dulu dari si p*****l Tono itu. Tapi aku harus kemana? Aku tidak mungkin bisa keluar sekarang karena masih ada banyak orang. Prediksiku, Tono tidak mungkin akan membawaku malam ini karena itu aku masih memiliki waktu hingga besok pagi. Waktu paling aman untukku melarikan diri adalah tengah malam.
Tadi siang aku bertemu kembali dengan om Bima di toko Baju. Tapi melihat dari ekspresinya, sepertinya dia tidak memiliki niatan untuk menerima tawaranku. Niatnya aku memang hendak membujuknya dengan menggunakan beberapa cara licik berdasarkan informasi buku yang aku miliki, tapi melihat keadaanya, aku tidak memiliki waktu yang cukup. Sementara Amanda tidak memiliki teman yang baik, bahkan Wildan yang merupakan kekasihnya tidak bisa melindunginya di sekolah, apalagi melindunginya dari ibu tiri dan laki-laki bernama Tono itu. Aku berpikir keras sambil mondar-mandir di gudang. Harus pergi kemana jika aku melarikan diri? Mengingat status ayahku yang seorang Konglomerat, aku akan langsung ketahuan jika bersembunyi di hotel atau semacamnya. Jika tengah malam, akan sulit juga mencari taksi ditempat ini. Rumah om Bima terlalu jauh dari tempat ini, aku tidak yakin bisa melarikan diri dengan selamat ke sana meskipun aku berhasil mendapatkan taksi nantinya.
Laki-laki itu juga belum tentu ada di rumah mengingat pekerjaanya yang mengharuskan dia sering bepergian. Kalau tidak salah adiknya yang belum lama ini menikah dengan Rayhan sudah memiliki anak. Karena itu dia sering menginap disana karena keponakannya sangat dekat dengannya. Aku tidak akan diijinkan masuk oleh para pengawalnya jika dia tidak ada di rumah dan aku juga tidak tahu dimana rumah Rayhan dan adiknya om Bima.
Aku mendesah lelah sambil mengacak rambutku frustasi. Untuk melarikan diri saja bisa jadi sangat rumit untuk Amanda yang tidak memiliki siapapun ini. Sungguh kehidupan yang sangat menyedihkan. Tapi setelah melihat uang di tabunganku sangat bengkak, aku tidak bisa menyerah begitu saja dalam hidup kedua ini.
Satu-satunya tempat yang dekat dengan komplek perumahanku adalah rumah si Tokoh Utama Adrian. Tapi mendatangi rumahnya membuatku takut mengingat jalan cerita Amanda yang kelak akan dibunuh olehnya. Apakah jika aku datang ke rumahnya, aku akan baik-baik saja? Sejujurnya karakter Adrian dan Lisa adalah karakter yang paling aku benci di Series ini meskipun mereka adalah tokoh utamanya.
Aku duduk kembali dengan tenang, memejamkan mataku dan berusaha untuk berpikir Rasional. Seharusnya jika aku tidak jatuh cinta pada Adrian, maka semuanya akan aman saja. Jadi mendatangi rumahnya dalam pelarian ini akan baik-baik saja. Tapi itu jika aku diijinkan masuk oleh para penjaganya yang terkenal sangat ketat itu. Mendekati rumahnya saja aku yakin tidak mudah, tapi rumahnya letaknya paling dekat dari rumahku sekarang. Melarikan diri kesana, seharusnya adalah yang paling aman.
Aku terus berpikir keras hingga hari semakin gelap. Susana di luar dari yang Ramai berubah menjadi sangat hening. Aku sempat tidur juga selama beberapa jam dan terbangun karena perutku keroncongan. Mereka benar-benar tidak memberiku makan sedikitpun setelah menjebloskanku ke dalam gudang yang dingin dan gelap ini. Aku rasa iblis saja masih memiliki belas kasihan dibanding orang-orang di rumah ini.
Setelah memastikan tidak ada lagi suara di luar, aku naik keatas karung beras teratas dan berhasil menjangkau jendela itu. Beruntungnya tidak sulit membukanya menggunakan jepit rambut besi yang aku miliki. Aku bersyukur pernah mempelajari pengetahuan bertahan hidup ketika masih di panti dulu. Aku keluar dari sana dengan mulus, tapi lagi-lagi tidak semudah itu bisa melarikan diri dari rumah sialan ini. Karena baru beberapa langkah aku keluar dari gudang dengan leccet disana sini setelah melewati jendela yang sempit itu, aku ketahuan.
"Mbak Amanda mau kemana? Kenapa sih banyak tingkah banget jadi orang?" ucap seorang satpam yang melihatku dengan tatapan malas. Aku melempar pot bunga yang bisa aku raih ke arahku hingga dia terjatuh kemudian lario secepat kilat ke arah gerbang belakang. Laki-laki itu berhasil bangkit tapi kemudian terjatuh kembali karen sambil berlari aku menumpahkan air minumku di lantai yang licin. "Mbak Amanda kabur! dia melarikan diri!" teriakan laki-laki itu menggelegar. Membangunkan satpan yang sedang mengantuk di pos gerbang yang hendak aku lewati. Beruntung aku sudah lebih dulu keluar sebelum dia sepenuhnya sadar apa yang terjadi.
Hujan turun dengan sangar deras dan petir menyambar. Seolah Penulis sialan itu tidak merestui pelarianku yang tidak sesuai dengan latar belakang karakter yang dia buat. Sepanjang jalan aku menyusuri kebun-kebun dan entah sudah berapa semak yang menggores kulit putihku, aku terus mengumpati penulis cerita sialan ini. Kenapa dia bisa sangat kejam ketika menciptakan sosok Amanda? Apa salah gadis ini? "Sialaaaan! Membusuk saja sana di Neraka penulis jahat!" teriakku di tengah hujan yang mulai membuatku pusing. Setelah mengumpat seperti itu, tiba-tiba saja aku terjatuh lumnayan keras di aspal. Semua emosi campur aduk di dalam d**a dan membuat air mataku terus mengalir bersamaan dengan air hujan.
Setelah beberapa kali hampir tertangkap, aku berhasil masuk ke dalam komplek rumah Adrian. Komplek super elit yang hanya berisi rumah-rumah mewah. Dan Rumah paling mewah yang ada di tengah komplek itu dengan desain modern klasik yang indah, aku tahu itu adalah rumah si b******k Adrian itu.
"Apakah saya bisa bertemu dengan Tuan Adrian?" aku bertanya dengan sopan pada penjaga yang sedang mengobrol dengan penjaga lain di pos satpam.
"Kamu tidak tahu ini jam berapa anak kecil? Lagian bertemu dengan Tuan Kami tidak semudah itu." jawab laki-laki yang aku tanyai. Aku mengerti kenapa mereka bersikap begini, aku jelas orang asing. Aku terus berusaha membujuk mereka tapi raut wajah curiga semakin terlihat jelas dari mereka. Ketika aku hampir putus asa, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Dan ketika kaca mobilnya di turunkan, aku seperti terhipnotis oleh sosok wanita cantik yang terlihat sangat anggun. Aku bersumpah belum pernah melihat wanita secantik itu seumur hidup. Di sampingnya ada sosok yang tidak terlihat jelas oleh mataku yang buram oleh air mata dan air hujan.
"Nyonya bisa tolong saya panggilkan om Bima? Saya tidak tahu harus pergi kemana lagi?" ucapku sambil memberikan wajah semenyedihkan mungkin karena menurut kisah yang aku baca, seharusnya Lisa adalah orang yang penuh belas kasih.
"Tidak ada yang bernama Bima disini! Sana pulang! Kamu ganggu kalau bertamu ke rumah orang jam segini!" Suara tegas dari laki-laki di samping Lisa membuatku semakin menunduk. Entah kenapa wibawanya membuatku takut.
"Jangan begitu mas! kamu kok jahat sih jadi orang. Nik, bawa gadis ini masuk ke dalam!" Lisa berbicara dengan lembut kemudian memberikan aku senyuman yang manis meskipun suaminya yang kejam itu sudah membawa mobilnya masuk ke dalam tanpa mempedulikanku. Setelah itu aku masih mendengar perdebatan mereka. Tapi karena aku sudah berhasil masuk ke dalam kediaman Adrian, seharusnya aku sudah aman. Tapi rasa lega itu entah kenapa membuat kepalaku jadi berputar. Dan setelah itu aku tidak ingat apapun lagi.
***