3. Amanda yang Baru, Terlahir Kembali

1213 Kata
Amanda Aurora Hanara benar-benar orang yang sempurna dimataku. Wajahnya mirip seperti aktris, tubuhnya sangat proporsional, tabungannya sampai membuatku kesulitan untuk menghitung jumlah angkanya. Aku masih ingat jelas kehidupanku sebelumnya dengan berat badan lebih dari delapan puluh kilo. Aku susah payah menurunkan berat badanku hanya demi menarik perhatian teman kantorku tapi semuanya sia-sia. Karena sebelum aku kurus, dia sudah lebih dulu memiliki kekasih. "Dengan tubuh yang sempurna seperti ini, makan tidak perlu menjadi b***k perusahaan, bukankah akan menjadi sangat serakah jika aku mengharapkan kehidupan yang lancar saja?" aku bergumam sendiri sambil menatap pantulan wajahku di kaca. Kemarin aku akhirnya berhasil bertemu dengan Bima, meskipun tidak selancar yang aku bayangkan. Seandainya Rani ada di dekatku, ingin rasanya aku berteriak kepadanya dengan kencang kalau Bima yang kami pikir mirip kernet Bus itu ternyata sangat tampan. Tubuhnya memang digambarkan besar oleh penulis sialan itu, tapi ternyata maksud besar disini bukanlah gendut atau semacamnya. Tubuhnya besar karena dia rajin Olahraga. Otot tangannya saja sangat seksi, aku yakin sekali perutnya pasti jauh lebih seksi. Tatto gambar Naga yang ada di lengannya membuatnya mirip seperti pemimpin Mafia di Film barat yang biasanya diperankan oleh Aktor yang tampan. Aku sendiri sampai kehabisan kata-kata menggambarkan keindahannya saat mata kami pertama kali bertemu. Dan melihat dari kulit dan bentuk matanya, sepertinya dia bukan hanya keturunan Indonesia. Matanya sedikit sipit dengan kulit yang cantik. "Mengincarnya adalah keputusan yang bagus karena dia ternyata sesuai seleraku. Tapi sebagai ahli taktik kepercayaan Adrian, tidak mungkin dia akan menerimaku dengan mudah. Jika dia langsung menerima tawaranku maka pembaca pasti akan berpikir cerita ini tidak masuk akal. Karena itu yang aku lakukan hanya jangan menyerah. Lagipula masih ada setengah tahun lagi sebelum aku lulus sekolah, itu artinya si b******k Tono itu tidak akan bisa melakukan apapun padaku saat ini. Mungkin akan lebih baik jika aku membereskan dendam Amanda di sekolah dulu." bisikku lagi, pada diriku sendiri yang sekarang sedang menatap bangga dengan bentuk wajahku yang terpantul di kaca. Pagi ini aku merubah gaya rambutku yang biasanya terlihat suram. Aku memotong poniku sedikit kemudian mengikatnya ekor kuda ke belakang. "Lihat deretan parfum mahal ini! Di kehidupan sebelumnya aku bahkan tidak bisa membeli satu botolpun." Aku bergumam sambil terkikik gembira. Menyemprotkannya ke tubuhku sesuka hati tanpa peduli dengan harganya. Kehidupan Amanda benar-benar kehidupan impianku sebelumnya, karena itu meskipun tidak adil karena aku tiba-tiba saja merasuk ke tubuh seseorang yang ditakdirkan sebagai Antagonis ini aku tidak akan pasrah begitu saja. Setelah menarik napas panjang, aku akhirnya memberanikan diriku membuka pintu kamarku. Setiap pagi akan menjadi perang mental bagi Amanda. Meja makan yang selalu terasa dingin. Para pembantu yang tidak berpihak padanya dan bahkan sering menyabotase makanannya, kedua kakak yang tidak menyayanginya dan ibu tiri yang pura-pura bersikap manis padahal dia yang paling jahat. Jangan lupakan ayah tidak berguna yang selalu diam saja melihat apapun yang terjadi pada putrinya. Begitu aku keluar dari kamar, tatapan semua orang langsung berubah menjadi tatapan iblis. Menurut ingatan Amanda yang juga ada dikepalaku, biasanya dia akan jalan pelan-pelan menuju meja makan sambil menunduk. Dia sengaja memanjangkan poninya agar matanya sedikit terhalang karena saking takutnya menghadapi semua orang. Tapi aku Amanda yang berbeda, jangan harap bisa menindasku seperti sebelumnya. "Anak tidak tahu diri ini sudah berani keluar dari kamar terakhir kali. Maksudmu kami harus menunggu tuan putri ini di meja makan sebelum sarapan di mulai huh?" kakak tiriku bernama Linari, atau bisa dipanggil Lina. Dia adalah makhluk paling pedas di rumah ini. "Kalau tidak suka sialahkan keluar dari rumah ini." jawabku santai sambil mengambil roti tawar di meja kemudian mengolesinya dengan selai. Mengabaikan Nasi Goreng yang sudah tersaji di mejaku. Aku tahu makanan itu kemungkinan di masukkan sesuatu lagi seperti pasir, batu dan sebagainya. "Kamu bilang apa Amanda?" ibu tiriku bertanya dengan dingin. Wanita ini bernama Ratna. Tapi dia lebih suka dipanggil sebagai Nyonya Hanara dibanding menggunakan namanya sendiri. Seorang wanita yang kelihatannya sangat bangga menyandang nama Hanara di belakangnya. Padahal dia hanya pelakor yang berkedok istri Sah. "Kalau tidak suka denganku, silahkan keluar dari Rumah Ini. Bukankah ini Rumah Ibuku. Kalian semua menumpang disini, jadi yang tahu diri!" balasku tanpa menoleh. Aku makan Roti dengan tenang, tidak peduli dengan tatapan semua orang. Setelah itu aku membuang s**u di gelasku ke atas tanaman yang ada di dekatku dan mengisi gelasnya dengan air putih. "Amanda! Jangan kurang ajar!" akhirnya aku mendengar suara Ayah tidak berguna itu. Karenanya aku menoleh dan tersenyum tipis ke arahnya. Raut wajahnya terlihat sangat kaget. "Anda juga menumpang disini dan menumpang juga di perusahaan milik ibuku. Karena itu anda juga harus tahu diri." balasku sambil beranjak. Kemampuan bela diriku lumayan berguna ketika aku berhasil menghindari gelas yang dilempar ke arahku oleh kakak sulungku yang seperti iblis itu. "Amanda jangan kurang ajar!" teriaknya lantang. "Kurang ajar?" aku bertanya sambil tersenyum kemudian melemparkan nasi gorengku ke arahnya dan dari sana ada pasir dan juga batu yang berhamburan. "Sebagai calon pewaris, seharusnya kamu lebih dulu mengajarkan semua pekerja disini dan nyonya rumah yang mengurus mereka tentang adab menyajikan makanan sebelum menasehati Nona rumah ini untuk sopan santun." tambahku kemudian melangkah pergi dari sana dengan senyuman puas. Satu tahap dari perubahan hidup Amanda baru saja berhasil aku lalui dengan berani, meskipun sebenarnya tanganku berkeringat saking gugupnya. Tapi melihat wajah mereka yang terkejut lumayan menghiburku, karena itu sepanjang jalan menuju sekolah aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Tidak pernah berpikir akan ada kesempatan untuk memaki orang jahat tanpa takut tidak bisa makan. Karena dulu meskipun sangat kesal pada Bossku di kantor, aku hanya memendamnya sendiri karena jika kehilangan pekerjaan maka aku akan kesulitan bahkan untuk makan sekalipun. Amanda di kehidupan sebelumnya adalah seorang yatim piatu yang uang di dalam Atmnya hanya tersisa tiga ratus ribu di akhir bulan. Tapi sejujurnya aku sedikit penasaran, kenapa Amanda Hanara bisa memiliki tabungan sampai sebanyak itu jika dia dibenci keluarganya? Aku juga tidak bisa percaya pada siapapun di rumah untuk aku korek informasinya. Sejujurnya tidak semua ingatan Amanda ada di kepalaku. Ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab sekeras apapun aku mengingat. Bahkan buku harian bocah ini saja hanya berisi makian untuk dirinya sendiri dan penyesalannya tentang hidup saja. Tidak ada hal yang penting. "Amanda, ayo kita bicara!" Sesampainya di sekolah, Wildan yang sudah menungguku di depan gerbang langsung menghampiri. "Aku tidak mau tuh." balasku santai kemudian melangkah pergi menuju kelasku dengan tidak peduli. Di tengah jalan aku bertemu dengan trio pengganggu. Tapi aku memilih tidak mempedulikannya sambil berusaha menulikan telingaku dari ucapan mereka dan panggilan Wildan yang mengganggu. Sejujurnya kehidupan sekolah Amanda sangat berisik sekali sampai rasanya aku ingin berteriak sambil memaki agar mereka semua diam. Tapi catatan buruk Amanda sudah terlalu banyak di sekolah ini. Jika aku melakukannya maka aku akan dikeluarkan dari sekolah dan mempercepat perjodohanku dengan Tono b******k itu. "Amanda tolong jangan seperti ini sama aku. Kenapa kamu jadi berubah seperti ini? Siapa laki-laki yang kemarin kamu temui di depan itu Amanda? Aku hanya takut kamu salah pergaulan dan..." "Apakah kamu tidak bisa diam huh? kepalaku sakit mendengarmu terus bicara. Sana kembali ke kelasmu! Jangan menghampiriku di kelas terburuk ini nanti Tuan Muda Wildan yang sangat terhormat ini bisa ketularan bodoh." balasku sudah mulai muak. Mimik wajahnya kaget sekali. Begitupun dengan teman-teman sekelasku dan tiga pengganggu yang masih berdiri di pintu. Aku tertawa di dalam hati. "Lihatlah b******k! Amanda yang baru akhirnya terlahir di dunia novel sialan ini." teriakku di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN