Kang ojek

1157 Kata
Sore itu, suasana di SMA NUSANTARA sudah sepi. Hanya menyisakan beberapa siswa pengurus OSIS dan juga gerombolan kelas dua belas yang masih betah menghabiskan waktu sore mereka di kantin. Seorang gadis bernama Ayla berdiri didepan gerbang. Sambil menggigit kuku jarinya cemas. Sepuluh menit lamanya, gadis itu berdiri disana seorang diri, menunggu angkot yang tak kunjung lewat. Ayla memutuskan untuk menelpon orang rumah, berharap ada yang mau menjemputnya. Merogoh saku rok abu-abunya. Ayla mengeluarkan benda berbentuk persegi dari sana. Naas, nasip baik tak berpihak padanya. Layar ponselnya tampak meredup. Gambar daya di sudut pojok layar tampak terlihat berwarna merah, berkedip-kedip sesaat, kemudian menggelap. “Kok, lowbat sih.” Gumamnya. Ayla menepuk pelan layar yang sudah tak bisa lagi bertahan. Ia semakin bingung. Tak ada seorang pun teman yang bisa dimintai pertolongan. Yaah.. tak heran sih, gadis itu terlalu membatasi diri. Bahkan nomor teman satu kelasnya pun tidak ada yang tersimpan di kontaknya. Kedua mata bening Ayla mulai berkaca-kaca. Membuat pandangannya sedikit terhalang oleh genangan air mata. Gadis itu meremas kedua jemarinya. Panik. Ditengah kepanikan yang tengah melanda perasaannya. Seorang cowok dengan motor ninja berwarna hitam, berhenti didepan Ayla. “Belum pulang?” Tanya cowok itu pada Ayla. Malu mengangkat wajahnya karena tak bisa menahan lebih lama lagi genangan air yang menumpuk di pelupuk mata. Ayla sengaja, menunduk, menyembunyikan wajahnya, takut menatap mata lawan bicaranya. “Belum, masih nunggu jemputan.” Ujarnya. Cowok yang ternyata adalah Alvin itu, terlihat menatap Ayla dengan tatapan menyelidik. Ini anak kenapa sih, kok aneh banget. Lirihnya dalam hati. “Hey.. Aku ngomong sama kamu lho, bukan sama pagar.” Ucap Alvin menyindir. “Nggak usah takut gitu kali. Aku nggak bakal gigit kok.” Katanya dengan nada menggoda. Ayla hanya menggelengkan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Dan, semakin membuat Alvin gregetan, saking penasaran. Cowok itu pun melepas helm yang sudah bertengger di kepalanya. Turun dari motor besarnya, dan menghampiri Ayla. Sengaja menarik dagu gadis itu agar mau menunjukkan wajahnya. “Kamu nangis?” seru Alvin, kaget melihat air mata yang membasahi pipi Ayla, pun juga sembab dikedua matanya. Segera Ayla mengelak, melepas tangan Alvin yang masih menahan dagunya. “Nggak kok, Cuma kelilipan debu aja tadi.” Ucapnya berbohong. Kembali berusaha menyembunyikan wajahnya dari penyelidikan Alvin. “Memang debunya sesakit itu ya? Sampai bikin air mata kamu ngalir deras kayak gini.” Tanya Alvin sambil menunjuk pada kedua mata Ayla. Alvin begitu keras kepala, meskipun Ayla berusaha menyembunyikan wajahnya, cowok itu tak kekurangan akal untuk kembali menarik wajah Ayla. Dan selanjutnya, perlakuan Alvin membuat sekujur tubuh Ayla terasa membeku ditempatnya. Kedua tangan Alvin terulur, mengusap jejak basah dikedua sudut mata Ayla. “Sorry, aku nggak ada maksud buat bikin kamu ketakutan, dan sampai nangis kayak gini.” Katanya lagi. “Udah, cup cup cup. Jangan nangis lagi, ntar manisnya luntur lagi, kena air mata.” Ayla berdecak. “Ck.” Kesal. Untuk sesaat gadis itu tidak tau harus berbuat apa. Perhatian Alvin, entah kenapa membuatnya kembali tenang. Tangisnya sudah berhenti. Tapi wajahnya masih tampak datar. “Nah gitu dong. Kan cantiknya nggak jadi luntur.” Jenaka Alvin. Dan berhasil membuat Ayla turut menyunggingkan senyum. “Kan, jadi tambah cantik kalau senyum gini.” Tambah Alvin dengan nada menggoda. Selanjutnya Ayla hanya mendeham, menormalkan kembali wajahnya agar terlihat datar. “Hemb.” Dan itu justru terlihat lucu dimata Alvin. Cowok itu terkekeh geli. “Hehehee… .” “Ayok. Aku anterin kamu pulang.” Kata Alvin menawarkan. Ayla menggeleng cepat. Menolak tawaran Alvin secara gamblang. “Nggak usah, aku bisa kok pulang sendiri.” Memasang kembali helm dikepalanya, Alvin berkata sambil menaikkan kedua bahunya. “Yah... Terserah, kalau nggak mau aku anter.” katanya lagi.”Cuma ya.. jangan nyalahin aku kalau sampai nanti kamu digodain sama anak-anak.” Setelah helm dikepalanya sudah terpasang dengan nyaman, Alvin menoleh pada segerombolan temannya yang saat itu berada dibalik gerbang, dibelakang Ayla. “Tuuh.” Katanya sambil menunjuk menggunakan dagunya. “Udah ya.. aku balik dulu.” Pamit Alvin. Setelah turut mengikuti arah pandang yang ditunjukkan oleh Alvin. Ayla tampak berpikir keras. Melihat wajah-wajah, dibelakangnya membuatnya bergidik, membayangkan akan digoda oleh mereka. Memang sih gerombolan Alvin terkenal suka godain juniornya. Iya kalau yang digodain suka. Nah Ayla, paling anti dengan hal yang seperti itu. Apalagi… gadis itu melirik pada layar ponsel yang tampak menggelap itu. Dan tak bisa lagi diajak kompromi. Menolak tawaran Alvin, dan menunggu angkot Pak Mat, iya kalau datangnya cepat, kalau nggak, alamat jadi sasaran anak buah Alvin dong. Kedua bulu mata lentik Ayla terlihat berkedip-kedip, ia tampak menggigit bibir bawahnya. Bimbang. Namun, Alvin adalah satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkannya. Maka sebelum Alvin benar-benar melajukan kendaraan roda duanya, gadis itu menyela. Menahan lengan Alvin agar tak meninggalkannya sendiri. “Tunggu!?” seru Ayla. “Iya deh, anterin Ayla pulang.” Katanya takut-takut pun juga ragu. “Tapi tenang aja. Sampai rumah, aku ganti kok uang bensinnya.” “Iya kali, tukang ojek.” Gerutu Alvin. Yah… meskipun begitu tetap saja, Alvin tersenyum penuh kemenangan. Dalam hati cowok itu berseru senang. Yes. Nggak apa-apalah biar sekali-kali ngerasain, gimana rasanya jadi tukang ojek. Melempar lirikan pada teman-temannya dibalik gerbang. Alvin mengacungkan jari jempolnya. Sip. Dan… Dibelakang Alvin. Ayla terlihat kebingungan. “Ini gimana cara naiknya?” Dong. Dibalik gerbang. Gerombolan itu menepuk dahi mereka masing-masing. Gubrak. Alvin menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Melirik pada Ayla yang sudah jelas menggunakan rok. Alvin yang sudah bersiap, tiba-tiba dibuat bingung sesaat. “Iya ya, gimana naiknya, ‘kan kamu pake’ rok.” Katanya. Dan lagi gerombolan dibalik pagar, menepuk dahi mereka. Duh. Berguling-guling. Otomatis ‘kan? Naiknya juga yang harus pakai cara khasnya cewek. Nggak yang langsung naik, terus nemplok kayak cowok. Sedang tinggi jok bagian belakang motor Alvin, terlalu tinggi untuk ukuran tinggi badan Ayla. Duh, kok susah banget ya buat naik motor saja. Rumitnya sudah mengalahkan rumit rumus fisika. Dan pasti bakal lebih rumit lagi, kalau Ayla naiknya pakai cara cewek. Harus pakai rumus fisika , ditambah kimia, terus, dibagi lagi pakai rumus matematika. “Gini aja deh,” kata Alvin. “Kamu naiknya pake’ cara cowok gimana? Kayaknya lebih efisien deh, dari pada pake’ cara cewek. Bakal lebih susah.” Ujarnya. “Iya, gimana caranya?” Tanya Ayla masih bingung. Ketahuan ‘kan, kalau nggak pernah naik motor. “Gini. Kamu peganggan sama pundak aku,” kata Alvin. Dan Ayla melakukan seperti yang dikatakan Alvin. “Terus kamu panjat pijakan itu, pake’ kaki kanan kamu.” Tuturnya. Dan Ayla pun juga melakukannya. “Gini?” Tanya Ayla memastikan, dan segera dibenarkan oleh Alvin. “Iya,” jawab Alvin. “Sekarang, panjat kaut pijakan itu, hitungan ketiga kamu lompat. Satu, dua, tiga,” Seperti yang dikatakan Alvin, Ayla melakukannya dengan baik dan benar. Kini gadis itu sudah duduk nyaman di jok belakang. “Udah siap?” tanya Alvin. “Udah.” Jawab Ayla. Hingga pada akhirnya, Alvin bisa melajukan kembali kendaraan roda duanya melaju diatas aspal. Dan kemudian membaur ditengah padatnya kendaraan yang lainnya. Swiing…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN