Pada akhirnya, Alvin bisa mengantar Ayla pulang sampai didepan rumahnya. Segera Ayla melompat turun dari motor Alvin. Menapak diatas tanah, dan segera berlari masuk kedalam rumah.
“Bener-bener deh ya, gadis batu. Jauh-jauh dianterin sampai depan rumah. Nggak juga ditawarin buat mampir sebentar. Kasih teh, atau air putih gitu.” Ucap Alvin menggerutu kesal. Cowok itu berdecak beberapa kali. “Ckckck.” Menggelengkan kepalanya. Dan, mengembalikan posisi tas ransel kembali kepungungnya. “Kalau gini mah, beneran memang gadis batu. Nggak ada perasaan lagi. Nggak tau apa. Haus.” Lagi Alvin menggerutu. Menghidupkan mesin motornya, melesat cepat, diatas jalan.
Sampai didalam rumah, Ayla mengobrak abrik isi kamarnya. Mencari celengan babi, berwarna merah muda. “Kok nggak ada sih? Aku taruh dimana ya?” Tanya Ayla pada dirinya sendiri. Gadis itu berkacak pingang. Mengaruk kepala, pusing tujuh keliling. Benda yang dicarinya tak bisa ditemukannya. “Oh iya, Oma pasti tau.” ucapnya, rasanya seperti mendapat pencerahan. Gadis itu berlari keluar kamar dan berteriak keras. Sehingga teriakannya terdengar menggema memenuhi seluruh ruangan. “Oma… .”
“Oma di dapur, ada apa?” sahut wanita paruh baya bernama Anik, nenek Ayla.
Nafas Ayla terlihat terengah-engah. Berdiri diambang pintu dapur, dan berkata. “Oma, Oma lihat celengan Ayla di kamar nggak?” tanya Ayla.
Meletakkan lauk keatas meja makan, melirik pada Ayla, Anik menjawab pertanyaan Ayla dengan santai. “Dilemari.”
“Ooh… .” jawab gadis itu dengan lirihan panjang. Ayla kembali berlari masuk kedalam kamar. Menuju lemari yang disebutkan neneknya. “Disini kamu ternyata.” katanya senang. Meraih benda tersebut, Ayla langsung membanting celengannya keatas lantai.
“PYAAR… .”
Suara itu terdengar menggema memenuhi seluruh penjuru kamar Ayla. Beberapa lembaran uang ratusan juga puluhan berserakan disana. Gadis itu mengambil dua lembar uang ratusan dan kembali lari keluar rumah. “Lhoh.. kok nggak ada.” Lirihnya. Menyadari Alvin sudah tak ada lagi didepan rumahnya.
***
Tanpa terasa hari berlalu dengan begitu cepat. Matahari pagi kembali menyapa bumi. Membawa kehangatan, juga harapan. Pintu gerbang SMA NUSANTARA kembali terbuka lebar. Satu persatu pasukan berseragam putih abu-abu, menyusuri setiap sudut memenuhi koridor, pun juga memenuhi tempat parkir. Setiap ruangan mulai ramai. Teriakan, canda, dan tawa terdengar menggema.
Ayla berjalan melewati koridor, kemudian menaiki puluhan anak tangga menuju ruang kelasnya berada, dilantai dua, disamping ruang computer. Semua mata menatapnya sinis. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seolah mencari keistimewaan gadis itu. “Nggak ada istimewanya juga.” Ucap seseorang, ketika Ayla melewatinya. Tak peduli. gadis itu terus melanjutkan langkah kakinya.
Kriiing… Kriiing… Kriiing…
Bel berbunyi dengan sangat nyaring. Pasukan putih abu-abu itu seketika masuk kedalam kelas masing-masing. Yang masih berada di lapangan, berlarian. Sedang, yang diluar gerbang, terpaksa terkunci, sampai menunggu doa pagi selesai. Ayla sudah duduk di bangkunya. Di pojok paling belakang, sengaja mengucilkan diri.
Ibu Rosa, memasuki ruangan, dengan membawa kabar. Ujian semester akan segera dilaksanakan. “Oke anak-anak. Untuk hari ini tidak ada pelajaran, semua diwajibkan membersihkan kelas. Untuk menyambut ujian tengah semester satu, minggu depan. Baiklah, saya akhiri sampai disini, silahkan bekerja sama. Ciptakan kekompakan layaknya keluarga. Tetap bersama, berjuang bersama, dan semoga kelak akan mencapai kesuksesan bersama. Terima kasih atas waktunya. Assalamualaikum…. .” Ucap Bu Rosa mengakhiri pengumuman pagi itu. Setelah itu berlalu pergi meninggalkan kelas.
“Yeeeiii...” seru seluruh penghuni kelas tersebut. Dan… Itu berarti pulang pagi. Yei... Yang namanya pelajar pasti semua langsung senang dong ya. Dapat kabar seperti itu. Sehari penuh, terbebas dari yang namanya belajar. Yah.. Hitung-hitung menyegarkan otak. Maka tak heran sih, jika mereka semua berseru, kegirangan. Secepatnya mereka bergegas, mengemasi barang-barang pribadi mereka, mengembalikannya lagi kedalam tas, dan menyisihkannya didepan kelas. Setelah itu, tugas terpenting bagi para cowok, dengan kekuatan yang mereka miliki, secepat kilat, semua kursi kini sudah nangkring cantik diatas meja.
Dan selanjutnya, adalah tugas bagi kaum hawa. Yaitu, menyapu, dan mengepel lantai seluruh isi kelas. Gadis-gadis yang biasanya selalu tampil modis, harus merelakan penampilan mereka sedikit terganggu, demi menunaikan tugas mulia dari sang guru. Rambut yang biasanya terurai indah di belakang punggung, berubah digelung. Sepatu cantik, yang biasanya membungkus kaki, sengaja dilepas takut terkena air. Semuanya kebagian tugas bekerja tanpa terkecuali.
Untuk menambah semangat, sengaja pengendali operator memainkan musik dangdut dengan begitu keras. Jadi ya, begitulah mereka bekerja sambil berjoget bersama. Hore… Hampir setengah jam berlalu. Tugas bersih-bersih telah selesai. Para gadis, mengembalikan lagi alat kebersihan, yang baru mereka gunakan kedalam gudang.
“Capek banget deh La,” ucap Adelia pada Ayla yang saat itu berada didalam gudang.
“Iya sama, aku juga. Haus lagi.” jawab Ayla.
Setelah menaruh kembali sapu, dan kain pel juga beberapa kemoceng ke tempat asalnya. Ayla dan Adelia. Keluar. Sebelum pulang mereka menyempatkan diri mampir ke kantin, sekedar membeli minuman dingin, untuk menyegarkan tubuh.
“Ah… Seger banget.” Kata Adelia, menengadah sambil mengusap lehernya. Rasanya begitu nikmat, setelah tubuh terbakar oleh kerja keras, ditutup dengan jus buah dingin yang sungguh menyegarkan. Hilanglah sudah dahaga.
Ayla menghela nafas panjang, melirik sekilas pada Adelia yang duduk didepannya. Dan, tepat dibelakang Adelia, gerombolan kelas dua belas terlihat juga disana. Segera Ayla berdiri dari tempat duduknya, dan menghampiri salah satu dari mereka. “Kak Alvin.” Panggil Ayla, pada salah satu cowok yang duduk disana.
Ayla menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan pada cowok yang dipanggilnya ‘Kak Alvin’. Semua mata kini tertuju pada Ayla. Dan, tatapan itu membuat Ayla sedikit ngeri. Terlebih, mengingat kejadian kemarin. Buru-buru gadis itu meletakkan uang yang dipegangnya keatas meja didepan Alvin, dengan ucapan. “Ini buat ganti bensin Kak Alvin kemarin.” Dan gadis itu segera melesat pergi.
Setelah Ayla menghilang, semua mata itu berpindah pada lipatan uang berwarna merah muda itu. Setelahnya, semua mata itu saling melempar lirikan satu sama lain, penuh pertanyaan.
“Waah… .” lirih Alvin. Cowok itu sedikit melakukan peregangan pada tubuhnya. Meraih dua lembar uang itu dan menatapnya, menerawang diudara. “Ini maksudnya apa coba!” tanya Alvin dan dijawab gelengan kepala oleh sahabatnya.
“Memangnya kamu nganterin itu cewek sampai mana sih? Mahal banget, itu duit bisa dipakai buat beli bensin berhari-hari.” Celetuk Fandi. Dan dibalas gelak tawa oleh mereka.
“Hahahahahaaa…”
“Kayaknya kamu punya bakat terpendam deh Vin, buat jadi tukang ojek beneran.” Sahut lainnya. “Lihat saja, sekali ngojek, dibayar dua ratus ribu Man...”
“Whahahahahaa…”
Alvin hanya geleng-geleng kepala. Sungguh tidak mengerti dengan cara berpikir Ayla. Cowok itu berdecak. “Ckckck.” Setelah itu berkata lagi. “Iya kali ya, memang udah bakatnya aku. Jadi tukang ojek bermodal tampang cakep kayak aku gini. Pasti bisa bikin aku cepet kaya.” Ungkapnya penuh percaya diri. Dan kembali disambut gelak tawa gerombolannya.
“Hahahahahahahaa… .”
“Dah lah.. Aku balik dulu.” Pamit Alvin pada gerombolannya.
“Beneran mau balik Vin?” tanya Fandi.
“Iya lah, mau ngojek. Kali aja ntar bayarannya lebih gede lagi. ‘kan lumayan.” Jenakanya.