Rencana Liburan
Kedamaian di minggu pagi dimulai dari waktu aku bangun tidur, rupanya belum berakhir sampai ketika matahari hampir berada di atas kepala. Itu adalah waktu ketika jam makan siang hampir tiba, tapi sengaja sekali aku sering mengulurnya ketika mendapati sesuatu yang mengasyikkan. Minggu ini Zein mengajakku ke perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas bersama, sengaja aku bersorak ria padahal bukan untuk mengerjakan tugas yang membuatku senang, ialah karena akhirnya aku ada waktu untuk berduaan dengannya, sekaligus mencari buku fiksi adalah kegemaranku yang mutlak.
Sekejap setelah dipaksa berpikir keras untuk menyelesaikaan tugas, aku tak mau mengalihkan pandangan dari buku yang sangat membuatku tertarik. Di kursi barisan ke lima aku duduk, berdempet dengan tembok yang dingin, itu bagus ketika mengingat suasana di luar pastilah begitu panas.
“Sedang baca apa lagi? Ayo kita pulang, nanti aku diomeli Bunda karena makan siang telat.”
Zein berdiri di samping meja tempat aku meletakkan buku dan memangku dagu sambil membacanya. Sebentar lagi sebenarnya, kira-kira dua paragraf sebelum kemudian aku mengalihkan pandangan padanya.
“Bukunya keren. Hei, Zein, percaya gak kalau kemungkinan kita sebenarnya punya jiwa di tempat lain?”
“Hm? Mana percaya. Ayo pulang atau aku tinggal.”
Pintu perpustakaan terbuka, susah payah aku mengikutinya dari belakang. Tak sempat aku meminjam buku yang barusan k****a karena rasanya tak akan bosan meskipun berulang kali membacanya.
“Coba banyakin baca buku yang nonfiksi, Mei. Biar pertanyaanmu gak aneh-aneh.”
“Sama aja buku, ah. Sama-sama buat dibaca.”
“Terserah deh.”
Sepeda yang terparkir di samping perpustakaan tampak tidak terlalu banyak, dua di antaranya punyaku dan Zein yang terparkir berdampingan. Kubuka kunci sepeda begitu juga dengan Zein, sampai saat ini sepeda masih menjadi kendaraan favorit di antara banyak mobil dan motor yang berlalu lalang. Hari minggu ini masih damai, rasanya bahkan aku selalu merasakan kedamaian di setiap waktunya. Gampang saja buatku untuk tersenyum dan selalu berpikir jika hidup begitu indahnya. Apa ada orang yang berpikiran sama juga denganku? Karena hidup itu hanya sekali, ‘kan?
“Zein, minggu depan ke sini lagi, yuk. Mau pinjam buku yang barusan.”
“Hm? Oh ya baru inget. Gak bisa, Mei. Mau temenin Tania pergi les renang.”
Telingaku panas, tapi untungnya cuma sebentar. Hari minggu masih berlanjut kemudian aku tersenyum senang karena makan siang di depan mata, masakan ibu tidak pernah mengecewakan. Bisa merasakan masakan seorang ibu setiap hari itu rasanya begitu indahnya.
***
Ada yang bilang jika liburan akan sangat menyenangkan jika dihabiskan bersama orang-orang tersayang. Akan aku akui itu jika kali ini aku berhasil membujuk sahabatku yang bernama Zein. Sahabat dari kecil, bahkan kita pernah mandi di satu bath up yang sama ketika masih Sekolah Dasar kelas dua.
Mengunjungi pusat sains, sepertinya Zein akan suka tempat itu. Dulu sekali aku dan Zein sering pergi berjalan-jalan. Tak sepenuhnya jalan-jalan berdua karena kita ditemani orang tua setiap akhir pekan di awal bulan. Iya, itu dulu sekali. Sekarang, setiap berjalan bersamanya saja aku harus waspada. Zein sudah punya pacar. Namanya Tania, dia gadis manis yang pernah ada. Aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang mulai berhati-hati jika berada di dekatku. Detik ini juga aku harus tahan menerima penolakan kalau Zein tak mau pergi ke pusat sains hanya berdua denganku. Aku paham, dia tak ingin menyakiti hati pacarnya. Tapi aku adalah Meika, sahabat Zein yang harusnya Tania tak menganggapku sebagai saingannya, tapi begitulah wanita ketika sudah punya pacar. Mereka akan selalu waspada pada siapapun yang berada di dekat pacarnya. Kalau saja aku punya perasaan cinta pada Zein, barulah Tania boleh menganggapku sebagai saingannya. Tapi kenyataan seperti itu memang terjadi. Betul sekali, aku sangat mencintai Zein dan jangan sampai Tania tahu. Biar aku berjuang sendiri dengan caraku.
***
Tak akan ada liburan yang menyenangkan kali ini mulai minggu depan. Aku tak sengaja mendengar di kelas kalau Zein dan Tania akan pergi kencan di taman hiburan. Ya ampun aku baru ingat kalau Zein tak suka dengan tempat seperti itu. Dia punya trauma dengan wahana komidi putar saat kecil. Melihatnya mengangguk menerima permintaan Tania, aku seperti ditimpa kenyataan kalau aku bukanlah prioritasnya dan baginya aku hanyalah butiran debu yang selalu menempeli kehidupannya.
Jam kosong aku manfaatkan berdiam diri di pojokan kelas, meratapi nasib karena teman-temanku pasti punya agenda liburan masing-masing yang tentu akan menyenangkan. Termasuk dua orang yang juga sedang mengobrol di sampingku.
"Kiv, kayanya lebih seru kalau lebih banyak orang. Apalagi gunung itu terkenal angker sih, mana berani kalau berdua doang."
"Siapa yang mau kita ajak coba? Kebanyakan mereka lebih suka diajak ke mall."
Aku mendengar jelas apa yang mereka bicarakan, tapi aku tak peduli karena masih asyik meratapi nasib. Rakai, salah satu dari mereka melirikku.
"Sshh...Mei...Meika"
Aku berbaik hati memenuhi panggilannya karena kalau tidak, perhatian semua orang di kelas akan tertuju padaku yang sedang berdiam diri di pojokan.
"Apa sih Kai.."
"Mau gak ikut kita?"
"Kemana?"
"Climbing, pas liburan nanti."
"Hah? Seorang Meika mendaki gunung? Gak banget deh, mending rebahan di rumah."
"Tuh kan," ujar Kive
Aku berkata begitu bukan berarti pemalas. Kupikir kegiatan seperti itu hanya bisa dilakukan seorang lelaki. Kecuali Kive, menurutku dia bukan wanita tulen. Wajar saja dia sangat menyukai kegiatan yang memacu adrenalin. Lagipula daripada mendaki gunung, lebih baik kugunakan waktuku untuk menonton drama dan memabaca buku yang sempat tertunda karena tugas sekolah.
Rakai mendengkus, baginya kegiatan mendaki harus dilakukan beramai-ramai. Bukan hanya berdua saja dengan wanita jadi-jadian macam Kive.
"Eh aku pernah dengar kalau Zein suka hal yang berbau dengan alam. Coba kamu ajak dia, Kai."
Kali ini tinggal aku yang mendengkus, Zein memang suka hal yang berbau dengan alam, secara dia pernah bergabung dengan klub pecinta alam, tapi aku yakin Zein menolaknya. Kan dia sudah punya agenda kencan liburan nanti, ingat?
Aku melihat Rakai menghampiri meja Zein dan mengobrol dengannya. Tania juga ada di sana, aku ingin mengetahui jawabannya walaupun aku sudah tahu Zein akan menolaknya. Ya, aku yakin sekali.
"Kiv, Zein dan Tania mau ikut katanya."
Aku melebarkan mata. Sejak kapan instingku meleset seperti ini? Lagipula aku tak yakin Tania menerima sepenuh hati rencana liburan itu. Seorang wanita metropolitan menjajaki medan terjal akan terasa mustahil. Sama sepertiku, tapi karena ada Zein, kenapa tidak? Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Kai, aku mau ikut dong,” ujarku antusias
"Tadi bilang mending rebahan di rumah, gimana sih."
"Gak apa, ikut aja. Makin ramai Makin asyik," balas Kive
Kive dan Rakai berpandangan penuh kemenangan. Tampaknya mereka begitu bahagia banyak orang yang mengikuti agenda liburan mereka. Sementara aku tersenyum senang karena bisa merasakan mendaki bersama Zein. Tak sepenuhnya berdua, Iya aku tahu jadi diamlah.
***
Sebenarnya tak enak hati meminta Zein datang ke rumah. Ibuku, dia orang yang amat protektif. Mendengar anaknya akan pergi mendaki rasanya aku seperti diceramahi habis-habisan. Singkatnya, ibuku ingin bilang kalau aku memiliki fisik yang lemah untuk melakukan kegiatan itu. Padahal ingin sekali aku beritahu kalau aku pernah tiga kali memenangkan adu panco di kelas. Pernah juga aku menjadi juara lomba lari mengelilingi kolam ikan. Tapi aku tak memberitahunya, karena aku tahu itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan.
Zeinlah yang bertugas membujuk orang tuaku. Ini strategi ampuh, karena orang tuaku tak meninggalkan sedikitpun keraguan pada seorang Zein.
"Lagian kenapa tiba-tiba mau ikut mendaki?"
"Ya gitu deh. Soalnya bosan kalau di rumah terus. Makasih udah ngebujuk Ayah sama Ibu."
"Santai. Kan udah dibilang, kalau ada apa-apa bilang aja."
Ya, aku ingat perkataannya yang katanya kalau butuh sesuatu tinggal bilang padanya. Tapi itu sedikit sulit karena hampir setiap hari aku membutukannya. Harusnya Zein tahu aku juga membutuhkannya mengelap peluhku sehabis pelajaran olahraga atau mengantarkanku ke uks jika nyeri saat datang bulan menyerangku. Sayangnya, semua itu hanya Tania yang mendapatkannya.
"Zein, katanya Ayahmu mau pergi ke Singapura ya?"
"Iya, lusa dia pergi. Bunda juga ikut."
"Oh, kalau begitu setiap waktu makan datang saja ke rumah. Ibuku yang bilang begitu."
"Gak usah deh, jadi ngerepotin Ibumu terus."
"Bukan Ibu yang masak kok, aku yang masak."
"Serius? Seorang Meika bisa memasak?"
"Jangan ngeledek ya Zein. Pokoknya datang aja ke rumah nanti."
Zein mengiyakan perkataanku. Sudah lama rasanya tidak berkumpul dalam satu meja makan lagi. Terakhir kali saat merayakan kelulusan SMP dua setengah tahun yang lalu. Di halaman belakang rumahku, dua keluarga sepakat mengadakan pesta untuk kelulusan anak-anak mereka. Rasanya hari itu adalah hari terbaik yang pernah ada.