Sudah tiga hari Karla dan Nat tidak bertegur sapa. Mereka beraktivitas tanpa mengindahkan satu sama lain. Dan kini, sarapan pagi tampak seperti neraka dunia. Semua makan tanpa ada yang bicara.
“Gar, ambilin tas gue dong di atas.”ucap Karla saat Gardin hendak ke lantai 2.
“Iya kak.”
Nat sampai mendongak. Bisa-bisanya Gardin patuh sama cewek itu. Bahkan Nat jarang ngobrol sama dia. Sekarang mereka tampak seperti kakak adik betulan. Karla pergi tanpa pamit. Entah mau kemana dia pergi. Sedangkan Gardin, pamit seperti biasa.
“Lo mau kemana sepagi ini?”
“Ke kampus. Beresin tugas yang belum kelar.”
“Oh,,”
“Lo beneran udah baikan sama Vino?”
“Yaps.”balas Gardin mengangguk. Gardin bilang, mereka sudah berbaikan. Bahkan, teman-teman Gardin yang dulu seakan jadi kacung. Ya, mereka yang berkhianat dan meninggalkan Gardin. Gardin bisa paham kalau mereka memang takut sama Vino. Tapi mereka tidak punya hati. Bahkan untuk menjelaskan kalau Gardin tidak bersalah. Ditambah lagi, Vino tak sejahat yang Gardin sangka.
“Jadi lo masuk circle nya Vino? Gila. Lo jadi orang keren dong.”puji Karla dengan ekspresi antusias.
“Begitulah. Tapi lo jangan bilang ya sama Nat. dia gak suka gue berteman sama anak nakal.”
“Gak bakal. Gue lagi kesal sama dia. Lagian, berteman itu gak harus pilih-pilih.”
Gardin turun lebih dulu. Setelah itu, Karla melanjutkan perjalanan ke kampus. Dia berjalan gontai menuju ke perpustakaan. Tempat itu jadi yang terbaik untuk healing. Damai tanpa keributan tapi juga difasilitasi wifi yang setrong.
Karla merenung karena kepikiran ucapan mamanya kemarin malam. Dia mendapat pesan dari Raffles yang bikin kepalanya pecah.
“Kalau kamu udah mantap, buruan nikah. Mama setuju kamu sama Nat. Jangan ditunda-tunda.”
Pesan itu bukan sekedar pesan biasa. Raffles akan ngomongin itu mulu. Dia kalau udah ngebet bikin telinga sakit. Nyerocos mulu kerjanya. Padahal dia sedang dibohongi. Ya, hubungan itu cuma sekedar skenario belaka.
“Eh, lo disini?”
“Kiel?. Ah, haii..”
“Kebetulan banget ya.”
“Iya nih. Lo lagi ngapain?”
“Yah, beresin tugas doang sih. Boleh duduk disini kan?”
“Oh, ya. Gue sendirian kok.”aku Karla sambil tersenyum ramah. Akhirnya, mereka bareng-bareng mengerjakan tugas.Kalau sudah ada di zona fokus, tak ada yang peduli pada interupsi dari orang sekitar. Walau ini adalah perpustakaan, banyak orang yang berlalu lalang.
“Udah beres?”
Karla menggeleng. Tugas kali ini susah banget. Bahkan udah nanya ke Winny, dia belum bisa ngasih kepastian. Ada aja case yang gak bisa diselesaikan dalam satu waktu. Butuh berhari-hari memikirkan logika yang tepat untuk case itu.
“Sini, gue bantuin.”tawar Kiel sambil mengambil alih laptop itu. Karla jadi merasa terbantu. Gak cuma dikerjain, tapi juga diajarin. Jadi ya, sangat menguntungkan. Dan ya, problem kelar tanpa harus banyak mikir.
After beres ngerjain tugas, mereka ke toko ice cream yang deket banget sama perpustakaan. Itu semua ide dari Kiel. Dia berdalih mau traktir Karla. Agak aneh sih, tapi gak mungkin ditolak. Apalagi cowok itu baru aja ngajarin dia materi penting.
“Lo punya pacar gak sih?”tanya Kiel tiba-tiba. Ini kayak pertanyaan jebakan yang susah dijawab. Tapi Karla berusaha untuk positif thinking.
“Hmm, engga.”
“Baguslah.”
“Kok bagus?”
“Gue ada kesempatan dong.”
Hening. Gila! Ini baru aja ditembak atau gimana? Ungkapan perasaan macam apa ini? Ini mah gak ada persiapan. Siapa juga yang mengira Kiel suka sama Karla? Mereka tidak terlalu dekat.
“Sebenarnya gue..”
“Stopp. Gak usah dilanjutin Kar. Gue gak butuh jawaban sekarang kok. Tapi gue mau kita dekat aja.”ujar Kiel sambil terus berjalan. “Gak apa-apa kan?”lanjutnya menyakinkan. Karla mengangguk.
***
“Lo ditembak?”
Pertanyaan itu terlontar seperti bom atom yang menyerang Hirosima dan Nagasaki.Gly gak memberikan kesempatan bagi Karla untuk bernafas. Saking syok, Karla mengirim pesan pada Gly. Pesan yang bikin Gly berlari kencang dari stasiun kereta ke fakultas Ilmu Komputer.
“Diem ih. Suara lo kayak toa.”
“Kiel itu cowok paling keren di kelas kita Kar. Lo harus terima sih.”
“Gak bisa. Lo kira gue mau mempermainkan perasaan orang?”
“Lo gak suka sama dia?”
“Bukan gak suka. Gue cuma gak ada rasa.”
“Yah, it’s different. But, lo suka sama orang lain?”
“Hah? Kagak. Gue lagi free feeling.”
“Ok. Terserah lo aja deh.”
“Kok gitu?”
“Kalau gue paksa, lo bakal marah. Gue cuma mau bilang, Kiel itu cowok yang diinginkan semua wanita. Winny aja suka sama dia.”
“Kalau gitu, biar Winny yang sama dia.”
“Dia suka sama lo.”
“Argh, bodoh.”
“Lo suka sama Pak Nat kan. Fiks tanpa koma.”
“Heh, jangan asal mengambil kesimpulan.”balas Karla kesal. Suka sama Pak Nat? Tidak. Tidak mungkin.
Sebuah panggilan yang membuatnya mengalihkan pandangan dari Gly.
“Halo, dengan Karla?”
“Iya.”
“Kami dari kantor polisi. Adik anda sedang ada disini.”
“Adik? Saya gak punya….Gardin?”
“Iya. Gardin Sanjaya H. Dia melakukan kekerasan pada teman sekolahnya. Saya mohon anda ke kantor polisi secepatnya.”
Karla terdiam saking syoknya. Gly berusaha membuatnya sadar.
“Kenapa Kar?”
“Kayaknya gue harus pergi.”
“Kemana?”
“Ke kantor polisi.”
“Ayo, gue temenin. Gue kan bawa motor.”
“Gak usah. Entar lo gak bisa masuk kelas.”
“Gak apa-apa. Lagian ya, ini jadi absensi perdana gue sepanjang sejarah.”
Semua akan lebih mudah jika ada bantuan dari orang lain. Itulah yang dirasakan oleh Karla. Kehadiran Gly sedikit banyak memberikan dampak yang luar biasa. Contohnya saja, dia bisa ke kantor polisi tanpa harus menunggu lama. Mau jujur sama Nat, dia tidak berani. Gardin akan marah besar kalau Karla melakukan hal itu. Dengan terpaksa, Karla nyeritain soal Gardin pada Gly. Dan Gly makin banyak menyimpan rahasia.
Mereka sampai di kantor polisi dengan kepala panas, pikiran cemas dan pakaian gak karuan. Karla menghela nafas melihat Gardin duduk bersama Vino dan gengnya. Apakah membiarkan Gardin berteman dengan Vino salah? Penglihatan Karla, Vino bukan anak nakal yang sampai melakukan kriminal untuk mencapai tujuan. Ya, meskipun dia membully Gardin di masa lalu.
“Permisi pak. Saya wali anak itu.”ucap Karla sambil menunjuk ke arah Gardin. Gardin dan teman-temannya malah menunduk tidak bisa menatap Karla.
“Mereka membuat anak itu hampir mati.”ucap Pak Polisi sambil menunjuk ke arah cowok berseragam yang ada di sisi seberang. “Anak yang lain tidak mau memberikan nomor orang tuanya. Saya bingung harus bagaimana.”lanjutnya.
Karla berjalan menuju ke tempat mereka. Tak ada kepala yang tegak, semuanya menunduk.
“Apa yang kalian lakukan sampai jadi gini? Kalian itu masih bocah, bisa-bisanya ngebully sampai separah ini.”
Semuanya diam.
“Gue bakal aduin sama orang tua kalian. Dan teruntuk lo.”ucapnya menunjuk pada Gardin. “Gue bakal nelfon Nat sekarang.”
Semua masih diam.
“Mending lo tanyain deh. Kenapa mereka kayak gitu. Jangan langsung marah-marah.”ucap Gly mencoba menjadi pihak netral. Ya, diberbagai kondisi dibutuhkan pihak netral. Biar seimbang aja antara kebaikan dan kejahatan. Tapi pikiran Karla terbuka menerima ide itu. Dia duduk di kursi sambil menghela nafas.
“Jadi, apa yang terjadi?”tanyanya dengan kepala dingin. Ini bukan masalah sederhana karena mereka membuat seseorang terluka. Begitulah yang Karla tahu dari informasi polisi.