Dunia ini tidak lepas dari tipu daya. Begitulah yang dialami Gardin saat memilih berteman dengan Vino. Teman-temannya bahkan mantan pacarnya berubah jadi iblis yang tak bisa dihalau dengan sekali tebas. Orang itu mereka lukai karena mengira dia salah satu dari musuh. Ternyata mereka ditipu. Tanpa mengetahui siapa orang dibalik tirai, mereka melakukan penghakiman tanpa ampun.
“Dasar bodoh! Seharusnya kalian satu lawan satu. Jangan beraninya keroyokan.”ucap Gly sambil menikmati pilus yang ada di tangannya. Dia paling gak bisa berhenti ngemil. Meski begitu, berat badannya tak pernah melewati standar ideal. Betapa beruntungnya dia diberi rahmat berupa badan yang tidak bisa melebar.
“Kok lo ngomong gitu sih?”tanya Karla bingung.
“Itu mah perkara anak SMA Kar. Mereka aja yang bodoh. Korbannya sampai begitu.”
“Lo gak bakal paham harga diri kami.”ucap Vino seperti preman profesional.
“Harga diri? Lo sepele sama gue?”
“Emang lo siapa?”
“Gue juga mantan geng cadas. Gue pernah mukul 10 orang dalam satu hari. Ya, masa lalu yang seru tapi gak baik.”balas Gly seraya melayangkan pandangan jauh. Fakta itu cukup mencengangkan bagi Karla. Dia gak tahu kalau Gly mantan preman.
“Lo bohong!”ucap Vino tak percaya.
“Hahaha. Lo mau gue ajarin apa? Tinju, karate, muay thai? Gue bisa.”ungkap Gly. dia bahkan menunjukkan kemampuannya yang bagai hidden gem itu. Karla sampai melongo dan gak bisa mikir. Kok bisa ada orang seperti Gly di dunia ini? Karena diberikan banyak bukti, akhirnya mereka percaya.
Tak ada yang bisa dilakukan selain menerima hukuman. Tapi Gly punya cara licik. Dia berniat berdamai dengan korban. Andai dengan minta maaf saja cukup, semua akan terasa lebih mudah. Tapi tidak ada yang bisa menjamin nya. Atas bujuk rayu dan kemampuan Gly yang luar biasa, korban mau memaafkan mereka. Dengan jaminan, dia akan mendapat perawatan gratis. Dan ditambah lagi penjelasan kepada orang tuanya. Orang tua mana saja pasti kaget kalau tahu anaknya pulang dalam keadaan luka-luka.
Setelah perdebatan panjang, semua berakhir. Karla pulang bersama Gardin. Sedangkan yang lain pulang ke tempat masing-masing. Dia tidak jadi kuliah demi melakukan hal ini.
“Lo bisa gak sih damai satu hari aja? Bikin masalah mulu.”
“Maaf kak.”
“Pokoknya jangan menambah masalah. Dan ucapan Gly tadi gak usah didengerin. Jangan coba-coba untuk balas dendam.”
Gardin hanya mengangguk. Entahlah, apakah dia mendengarkan atau tidak? Atau dia cuma mendengarkan tanpa ikut mengaplikasikan? Who knows.
Mereka turun dari busway dan berjalan beberapa menit untuk sampai di komplek rumah. Dan ketika itu, Karla bisa melihat darah di leher Gardin. Dia ingin bertanya tapi ia urungkan karena wajah sedih Gardin. Dia tampak kelelahan. Rasanya tidak tega mendesaknya dengan berbagai pertanyaan.
“Dari mana lagi?”tanya Nat dengan suara tegasnya. Kehadirannya membuat Karla kaget. Gardin malah diam saja.
“Ah, kami habis makan malam.”
“Kamu jangan ikut bohong sama saya. Saya baru bicara sama gurunya. Perbuatanmu benar-benar gak bisa dimaafkan. Bolos sekolah? Ditambah lagi berantem sama teman sekelas?.”
Karla kaget dong. Sialan! Sebuah kesalahan tak bisa disembunyikan selamanya. Akan ada waktu semuanya terungkap. Dan itulah yang terjadi pada Gardin. Waktu yang gak pas karena Gardin baru aja kena masalah. Ditambah lagi mood-nya lagi kacau.
“Aku benar-benar gak habis pikir. Jadi selama ini kamu ngapain? Belajar yang benar atau emang nyontek doang?Kamu tuh cuma jadi beban! Kamu tahu sendiri keluarga kita gimana. Tapi gak tau diri sedikitpun.”
“EMANG! Aku emang gak tahu diri. Kalau bisa, aku juga pengen keluar dari rumah ini!”tegas Gardin dengan suara keras.
“Kamu ngelawan?”
Gardin berlari menuju kamarnya. Sedang Nat sibuk mengomel dengan teriakan yang sampai ke seluruh isi rumah. Karla hanya bisa diam sambil membatin. Mau ikut campur tapi tidak punya hak.
Seketika Nat duduk dengan kepala menunduk. Dia sangat kecewa pada dirinya sendiri. Seorang kakak akan merasa demikian jika terlalu mencintai adiknya. Kesalahan adiknya terasa seperti kesalahannya sendiri. Itulah yang bisa Karla lihat dari sosok Nat yang terlihat lemah di depan adiknya. Ya, meski Gardin tidak pernah menyadarinya.
Karla mengambil inisiatif untuk ke dapur dan membawakannya segelas teh panas. Semoga bisa meredakan emosi yang memuncak di hati Nat.
“Kami baru dari kantor polisi. Tapi semua sudah beres.”aku Karla jujur. Dia gak mau lagi Gardin terlihat jadi seorang pembohong. Kenapa gak jujur aja? Toh, semua rahasia akan terbongkar di waktu yang tepat.
Nat mendongakkan kepalanya saking tidak yakin. Seorang Gardin yang baik itu malah berakhir di kantor polisi? Tidak masuk akal.
“Semua udah beres. Cuma ada salah paham.”
“Salah paham apa sampai ke kantor polisi?”
“Udah. Gak usah dipikirin.”tegas Karla dengan mimik memerintah. Dia gak mau ada kekuatiran yang berlebihan. Dia malah mengambil laptop dan meminta Nat mengajarinya. Jarang-jarang kan? Entahlah, Karla ingin mencairkan suasana. Jangan terlalu fokus pada masalah.
Mereka menghabiskan malam dengan belajar. Dan anehnya, Karla malah ngerti diajarin sama Nat. Tidak tahu kenapa, dia mulai tertarik pada sosok Nat. Dia terlihat memukau dengan semua skill di dalam otaknya. Apapun yang Karla tanya selalu bisa dijawab. Dan jawabannya sangat masuk dalam logika. Itu membuat Karla tersenyum dan bersemangat. Apa dunia sudah gila?
Pepatah berkata, “Cintai dulu dosennya, baru kau bisa cinta dengan mata pelajarannya.” Dan itu terjadi pada Karla tanpa direncanakan terlebih dahulu. Dia tidak paham dengan dirinya sendiri.
***
Pamungkas datang dengan menggunakan kaos oblong. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia cukup kaget melihat suasana hening di rumah ini.
“Eh, pada kenapa sih?”ucapnya pada Nat.
“Gak apa-apa.”balas Nat singkat. Pamungkas melihat ke arah Gardin yang sedang sarapan. Dia mendekat ke arah cowok itu sambil memberikan tos lima jari. Dan dibalas dengan seadanya. Kenapa lagi dengan penghuni rumah ini?
“Pacar gue mana?”tanya Pamungkas sambil mencari seseorang. Gardin dan Nat langsung menoleh. Pamungkas memang tahu bagaimana cara membuat dua orang yang kayak kulkas bereaksi. Cukup berikan kejutan yang tidak biasa.
Karla berjalan turun dengan burger di mulutnya. Burger sisa kemarin yang gak habis. Daripada dibuang, mending dimakan lagi.
“Ini yang gue cari.”ucapnya sambil merangkul Karla erat.
“Eh, ngapain udah disini mas?”
“Nyari kamu dong. Dua orang itu gak mau ngomong sama gue. Kita ngobrol berdua aja yuk?”ucap Pamungkas genit. Dia mah emang sengaja kayak gitu. Dan Karla tahu kalau dia tidak berniat menggoda. Kelihatan banget dari gesturenya. Sekedar pura-pura.
Pamungkas mengajaknya bicara di luar. Di kursi depan yang menghadap ke jalanan. Ya, untuk mengorek informasi tentang apa yang terjadi pada Nat dan Gardin.
“Oh, gara-gara itu? Lagian, si Gardin juga gak ada pikiran. Kenapa harus bohong?”
“Lo sama aja kayak Nat. Judging.”
“Heh, kok lo gitu sih?”
“Gardin juga punya alasan kali. Gak semudah yang lo pikirin.”
“Iya sih. Masa SMA emang problematik sama hal-hal kayak gini. Padahal gue mau ngajak main. Eh,mereka lagi gitu.”
Mereka menghela nafas bareng-bareng. Cukup kecewa dengan keadaan saat ini. Terutama Karla yang dapat merasakan keadaan mereka berdua.
“Gue boleh nanya mas?”
“Boleh.”
“Apa dulu mereka punya masalah?”
“Hmm, perasaan gak ada deh.”
“Gue pikir, Gardin banyak menyembunyikan perasaannya. Dia kayak gak bisa bertindak lepas kalau sama Nat.”
Pamungkas terlihat berpikir keras. Berusaha mengingat masa lalu keluarga ini. Kenapa bisa terlihat baik-baik saja padahal tidak. Meski begitu, Pamungkas tidak tahu apa-apa. Dia cuma tahu, kecelakaan orang tuanya membuat perubahan besar pada keluarga ini. Perubahan yang aneh tapi perlahan-lahan dapat diterima satu sama lain. Tidak ada yang bisa memahami mereka berdua. Bahkan, Bianca sendiri tidak bisa memahaminya. Pamungkas ingin memberi perhatian lebih, tapi dia sedang di luar negeri saat mimpi buruk itu terjadi.