~uang~

1284 Kata
Nat menarik tangan Karla menuju ke kamarnya. Karla sampai merona mendapat perlakuan tidak enak ini. Kok bisa? Entahlah. Muncul pikiran bahwa ini adalah adegan di salah satu drama romance. Pikirannya penuh dengan halusinasi. Padahal dia sedang berhadapan dengan Nat, dosennya sendiri. “Kenapa sih?”ucapnya bertolak belakang dengan hatinya. “Dia mau kemana? Kenapa berpakaian rapi?” “Oh, maksudnya Gardin?”tanya Karla memastikan. Nat mengangguk. “Dia mau ke acaranya keluarga Narwaya.” “Gak mungkin. Dia juga benci sama orang itu.” “Dia pengen dapat duit.” “Kamu bohong!” “Ya udah kalau gak percaya.”ucap Karla hendak berdiri. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Kejujuran adalah kunci dari menghindari masalah. Mending deh kena masalah di saat sekarang, daripada masa depan yang dipertaruhkan. “Tunggu dulu.”desak Nat lagi. “Kamu senang bisa dapat uang dari Tante Bianca?” “Senang banget. Kalau kamu ikut, aku bisa dapat uang lebih.”ledek Karla sambil mencibir. “Tapi gak apa-apa banget kok. Setidaknya ada Gardin. Udah ih, aku mau siap-siap dulu.” “Kamu juga ikut?”tanya Nat mengernyitkan dahi. Dia gak percaya kalau Karla malah ikut-ikutan. “Of course. Aku gak mungkin ngebiarin Gardin pergi sendiri.” “Aku juga ikut.”ucap Nat tiba-tiba. Karla langsung diam. Dia berbalik dan melotot. Ini namanya rejeki nomplok. Tentu saja dia senang. Bukan cuma demi uang. Karla seakan ingin ikut campur. Dia tak ingin Nat melarikan diri dari masa lalu. Pamungkas udah cerita banyak. Tentang keluarga Narwaya yang merupakan paman kandung dari Nat dan Gardin. Mereka punya hubungan yang buruk karena di masa lalu, keluarga itu yang menyebabkan orang tua Nat kecelakaan. Ya, perbuatan tidak langsung yang bersumber dari keluarga itu. Jika Nat dan Gardin mau pergi kesana, mungkin mereka bisa lepas dari belenggu masa lalu. Ini semua tanpa sepengetahuan Bianca. Dia cuma tahu Gardin akan ikut. Tidak dengan Nat. Tapi sekarang, mereka berdua sedang bersama Karla menuju ke kediaman Keluarga Narwaya. Kejadian langka dan belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Kediaman Narwaya terlihat sangat mewah dengan gedung besar, tinggi dan memukau. Karla sampai melongo melihat rumah itu. Dan pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya adalah “Gimana cara bersihinnya ya?” Dia lupa kalau banyak pembantu yang siap membereskan setiap kepingan kecil yang mengganggu pandangan mata. Dia memang terlalu ndeso untuk suasana ini. Mereka diminta surat undangan sebelum masuk. Dan ketika penjaga membaca surat undangan itu, mereka langsung diberikan penghormatan luar biasa. Oh tentu saja, dua orang ini termasuk tamu VVIP. They deserve it. Karla hanya kena cipratannya aja. Dan ya, itu termasuk bonus yang sangat menarik dan menguntungkan. “Gila. Bagus banget Gar.”komentar Karla yang membuat Gardin tertawa. Karla yang polos itu berhasil membuat suasana tidak terlalu canggung. Antara polos atau memang tidak punya pengalaman dengan jamuan makan malam seperti ini.  Terlihat jelas siapa yang paling excited. Karla seperti terjebak di antara sultan. Untung saja dia punya baju baru yang compatible dengan acara ini. Jadi gak terlalu mencolok kalau dia itu orang miskin.  “Wah, jadinya datang semua?”tanya Tante Bianca yang tiba-tiba muncul. Karla terkesima melihat penampilan itu. Dress panjang berwarna biru cerah dengan tatanan rambut yang indah. Usianya langsung berubah jadi lebih muda. Bahkan jika dibandingkan dengan Karla, mungkin dia terlihat lebih muda. Inilah yang disebut the power of money. “Ah, iya tan. Kebetulan gak ada kerjaan di rumah.”ucap Gardin membuat sembarang alasan.  “Kamu juga mau datang. Makasih ya, Nat.” “Aku datang untuk menghargai undangan aja. Dan kuharap, tante mengurungkan niat untuk menjual rumah kami.” “Untuk masalah itu, kita bahas lain kali. Ayok, tante kenalin ke teman-teman tante.”ajak Bianca dengan ramah. Karla memilih untuk pergi dari kerumunan itu. Dia merasa tidak pantas berada di antara mereka.  Dia memutuskan untuk menikmati makanan yang bisa diambil sepuasnya. Jenis makanan juga bervariasi. Jadi tidak akan bosan menikmatinya sampai acara ini selesai. Siapa sangka, seseorang mendatanginya sambil duduk tepat di kursi kosong depannya. Cewek itu menatapnya dengan senyum yang menyungging. Bukan sapaan hangat, tapi tatapan licik yang mengganggu perasaan. Karla sampai batuk waktu tahu cewek itu adalah Jejo. Argh, kenapa harus dia? Perempuan yang sudah membuat masa lalunya payah. Ditambah lagi, dia kayak gini karena Jejo. “Hey, Je. Lo disini juga?” “Iya. Tapi aneh banget. Kenapa lo disini juga?” “K-Kenapa aneh?” “Ini acara orang kaya dan berkelas. Kok bisa lo ada disini? Apa jangan-jangan lo…” “Stop. Lo gak berhak menilai gue.”tegas Karla kesal. Dia semakin tidak suka dengan Jejo. Ditambah lagi, apartemen gak kunjung laku. Mereka semakin dekat dengan kerugian finansial.  “Saking frustasinya lo jadi simpanan om-om?”tebak Jejo. “Otak lo gak bener ya. jangan -jangan lo yang kesini dengan bantuan om-om?” “Nggak. Gue disini sama pacar gue.” “Lo kira gue gak tahu? Lo udah putus sama pacar lo kan?” Terlihat benar apa yang Karla katakan. Dia tahu hal itu dari grup kelas cewek yang sering memberikan informasi valid. Ya, mereka sibuk nyari tahu soal pribadi orang lain. Gak lebih dari lambe turah versi nyata. “Gue udah punya pacar lagi kok. Lo gak perlu tahu.” “Ya udah. Sana lo pergi. Bikin sakit mata.”balas Karla kesal. Terlihat dari jauh Bianca melambaikan tangan padanya. Dia segera pergi dengan tatapan sinis pada Jejo. Biarin deh. Daripada terikat hubungan toxic. Gly pernah bilang, kalau benci sama orang mending langsung bilang. Daripada ditahan-tahan, ujungnya malah sakit hati. Bianca terlihat cerah. Ya, tidak seperti biasanya. Dia selalu kusut saat datang ke rumah. Tentu saja, menghadapi Nat dan Gardin seperti uji nyali baginya. Apapun yang Bianca katakan, mereka tidak pernah melakukannya. “Iya, tan.” “Makasih ya. Kamu udah bantuin saya.” “Gak masalah.”balas Karla sambil tertawa.  “Ini buat kamu.”ucap Bianca sambil memberikan amplop coklat yang tebal. Jujur saja, Karla sumringah sekali menerima benda itu. Tapi dia juga agak khawatir. Benarkah dia berhak atas uang ini? “Kamu gak usah sungkan. Saya kan udah janji. Dan satu lagi, saya harap kamu terus ada di rumah itu. Jangan sampai putus sama Nat. Dia jadi lebih tenang sekarang.”ucap Bianca dengan sikap ramahnya. Dia memang berkelas. Karla selalu dibuat iri oleh wanita independent seperti dia. Dia menerima amplop itu dengan perasaan campur aduk. Tapi setidaknya, Nat dan Gardin tahu soal transaksi ini.  Dia tidak tahu kalau Jejo memantau dari jauh. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengambil foto. Ini adalah bukti konkrit. Sekarang dia bisa memberitahu dunia kalau Karla adalah perempuan bayaran. Dia bahkan menerima uang dari mucikari.  Jejo sangat menikmati hal ini. Mengumpulkan bukti bisa membuat cerita ini jadi terlihat valid. Ya, meskipun kebenarannya belum diketahui pasti. Gosip adalah fakta yang tertunda. Kebencian Jejo pada Karla semakin menjadi. Di tempat lain, Gardin dan Nat memasang wajah bak malaikat. Mereka bersandiwara bahwa semuanya baik-baik saja. Setidaknya jangan mengacau sampai acara ini selesai. “Lo udah dapat uangnya?”tanya Gardin saat Karla sedang kebingungan mencari mereka. “Astaga. Ngangetin aja lo.” “Gimana?” “Sudah dapat. Abis itu, gue dikasih bonus lagi.” “Good job.”balas Gardin sambil memberikan tos lima jari. Mereka tertawa bahagia. Kapan lagi dapat duit dengan mudah? Terutama Gardin yang sibuk berjualan online hanya demi menabung. Dia ingin segera pergi dari rumah itu. Dia tidak suka bergantung pada Nat. Nat selalu menganggapnya beban. Ya, beban itu harusnya sudah lama pergi. Gardin hanya tidak punya uang yang cukup. Jika pergi tanpa persiapan yang jelas, bisa-bisa dia mengemis minta kembali pada Nat. Dia tidak mau hal itu terjadi. Pergilah saat sudah siap. Semua akan baik-baik saja jika persiapan sudah jelas. Ya, Nat ingin pergi. Sangat ingin!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN