Pagi yang cerah untuk jiwa yang cerah. Karla membuka jendela kamarnya dengan hati yang riang gembira. Bagaimana tidak, pesta kemarin malam berlangsung damai dan tentram. Tante Bianca mulai luluh pada peran Karla kali ini. Walau belum bisa mendamaikan hati Nat dan Gardin, dia bisa membuat mereka datang ke pesta itu.
Wangi udara begitu menarik baginya. Dia menghirupnya dengan hati tenang. Tidak ada lagi masalah finansial. Dia sudah punya uang untuk membayar kuliah. Bukan cuma satu semester, tapi dua semester sekaligus. Gila. Inilah yang disebut durian runtuh. Gak perlu manjat, duriannya sudah langsung ada di tangan.
Dia mandi sambil bersenandung. Dia turun ke lantai satu untuk sarapan. Dia harus bersiap untuk bekerja. Ini adalah minggu kedua dia bekerja. Bukan sesuatu yang mudah. Tapi dia berusaha untuk bisa menyesuaikan diri terhadap orang-orang disana. Bukan dengan percaya terlalu banyak. Dia sudah trauma dengan pengkhianatan orang-orang di masa lalu.
“Kalian masih terus begini? Baikan dong.”ledeknya seraya memasukkan suapan pertama ke dalam mulut. Kayak kulkas yang dinginnya mirip kutub utara. Begitulah mereka bereaksi. Bikin gak selera makan aja.
“Habis makan, kamu tunggu saya. Saya mau bicara.”ucap Nat tiba-tiba.
“Mau ngomong apa? Disini aja?”
“Jangan membantah!”sanggah Nat dengan suara kerasnya. Gardin tetap tak peduli dan menikmati makanannya dengan lahap. Dengan pasrah, Karla menurutinya saja. Apalagi yang mau Nat bicarakan? Bukankah sudah cukup pembicaraan kemarin? Lagian, ini udah mau telat masuk kantor. Dia butuh satu jam untuk sampai ke tempat itu. Duh, menyebalkan.
After breakfast, Gardin buru-buru pergi. Dia gak mau telat masuk sekolah. Karla duduk sambil menunggu Nat bicara.
“Buru. Mau ngomong apa?”
Bukannya bicara, Nat malah mengambil tasnya. Dia merapikan diri dan mencari sepatu di antara banyaknya sepatu di rak.
“Kita pergi sekarang. Nanti kamu telat.”
“Lah, bukannya mau ngomong sesuatu?”
“Nanti bisa sambil jalan. Buruan!”desaknya dengan tegas. Karla sedikit kesal, tapi tetap saja melakukan apa yang Nat suruh. Ini lagi apa sih? Di anterin ke kantor sama Nat? Semoga gak ada yang menyadari hal itu. Masih mending ke kantor sih, daripada ke kampus. Karla masih trauma disebut cewek yang jadi simpanan sugar daddy. Hello, Nat masih sangat muda. Dia gak pantas dipanggil sugar daddy. Mending dipanggil sugarboo. Itu lebih menarik kan? Hell, kenapa Karla jadi peduli pada hal itu?
“Gimana di kantor? Gak ada masalah kan?”tanya Nat penuh perhatian.
“Fine. So far, gak ada yang aneh.”
“Jangan terlalu dekat sama orang lain. Takut kamu dijadikan korban kalau ada sesuatu. Belajar dari masa lalu.”
“Iya.”balas Karla dengan muka ditekuk. “Terus, jadinya mau ngomong apa?”desak Karla lagi.
“Gak sih. Emang sengaja mau nganterin kamu ke kantor.”
Karla tidak paham mendengar ucapan itu. Apakah itu ucapan yang baik atau engga. Entahlah. Tapi Karla cuma bisa diam. Senang gak dikasih perhatian kayak gini? Tentu saja.
“Dan terima kasih, kamu udah dekat sama Gardin. Meskipun aku iri, tapi aku tetap senang.”
“Dekat sama Gardin bukan sebuah prestasi. Siapa pun bisa.”
Nat malah tertawa. “Iya. Semua orang bisa, kecuali aku.”
Ucapan itu memang terlihat sederhana. Namun, aslinya sangat menyesakkan. Karla tidak tahu secara pasti. Hanya saja, rasa sayang itu hanya milik Nat seorang. Gardin tak pernah sesayang itu pada Nat. Itulah yang selama ini terlihat.
Mobil melaju cepat melewati kendaraan lainnya. Dan bisa dipastikan, Karla gak bakal telat masuk kantor. Dia tiba lebih cepat dua puluh menit dari biasanya.
“Makasih ya, udah nganterin.”ucap Karla sebagai bagian dari sopan santun. Itulah yang ia pikirkan. Jangan baper dengan tingkah siapapun. Bisa saja itu cuma sifat baik yang berlebihan. Jadi jangan baper!
“Ah, ini buat kamu.”ucapnya sambil memberikan paper bag. Karla mengernyitkan dahi seakan mempertanyakan isi dari paper bag itu. “Makan siang. Saya memasak banyak hari ini.”lanjutnya. Dia langsung pergi tanpa mendengar ucapan terima kasih dari Karla.
Keadaan ini memang sangat aneh. Dan entah kenapa, terlihat asing dari manusia pada umumnya. Biasanya nih ya, cewek yang masakin buat cewek. Kenapa sekarang malah kebalikannya? Weird!
***
Everything’s gonna be ok. Apapun yang terjadi, semua akan baik-baik saja. Bahkan untuk hal yang sulit sekalipun, tetaplah berjuang. Itulah yang mereka yakini sebagai mahasiswa yang punya segudang masalah. Mau tahu apa aja? Kerjaan di kantor, jadwal kuliah, tugas kuliah, pribadi dan keluarga hingga waktu tidur. Seakan 24 jam tidak cukup. Waktu terlalu sedikit kalau dipikir-pikir.
Seiring datangnya malam, mereka tetap berada di kampus dengan badan berkeringat dan bau yang menyeruak. Tiada yang peduli dengan bau itu. Yang paling penting, tugas ini bisa diupload sebelum deadline alias pukul 12 malam.
“OKE GUYS. UDAH GUE UPLOAD! SEMUA BERES!”
Semua orang bisa bernafas lega. Dikebut sama tugas memang rasanya deg-degan banget. Tapi kalau udah kelar, puas banget rasanya. Kayak lagi nahan boker, terus berhasil boker. Ya, itulah pemisalan yang sangat related.
“Gue pulang duluan ya.”
“Gue juga.”
“Lo mau mesen ojol?”tanya Gly heran. Cuma Gly yang tahu kalau Karla sering di anterin sama Nat. Dia ternyata bisa menjaga rahasia. Asalkan jangan dipancing aja. Sekali dipancing, dia bisa ngasih tahu semua isi hati nya. Begitulah Gly diciptakan.
“Hooh, Gly.”
“Ayo, gue anterin.”
“Lo gila?”
“Apaan sih? Gue kan udah tahu kalau lo tinggal sama doi.”
“Oh, iya.”
“Ayolah. Udah jam segini, lagian gue juga searah sama rumahnya Pak Nat.”
“Tapi lo tunggu diluar ya. Gak usah masuk rumah.”
“Iya, bawel. Sudah ditolong, masih aja banyak tingkah.”ucap Gly dengan muka bete. Tapi Karla langsung memeluknya. Semakin akrab, Karla semakin tahu sifat Gly. Dia baik tapi ceplas ceplos.
Motor melaju kencang. Kemacetan menghilang sesaat dari jalanan. Dibanding hingar bingar, jalanan itu tampak sepi. Toko sudah tutup dan mereka hanya ditemani lampu jalanan. Tapi rasa ketakutan perlahan hilang karena mereka berdua. Kalau sendirian, pasti rasanya agak horor.
Mereka sampai di rumah tanpa menunggu waktu yang terlalu lama. Gly segera pamit karena emang gak pengen ketemu sama Nat. Selain segan, dia juga agak takut. Kalau Nat lagi marah, auranya bikin merinding.
Dia membuka pintu dan mendapati Nat sedang duduk di depan televisi.
“Kamu sibuk banget sampai pulang semalam ini?”
“Iya. Semua kan karena deadline dari bapak.”
“Kamu tahu Gardin dimana? Dia belum pulang.”
Tiba-tiba pintu terbuka. Dan orang yang mereka bicarakan datang. Gardin langsung melipir ke kamarnya tanpa peduli reaksi Nat.
“Argh, dia kenapa lagi sih?”
“Tenang aja. Biar aku yang ngomong sama dia.”ucap Karla memberikan ketenangan. Dia langsung ke lantai dua. Mengetuk pintu kamar Gardin. Cowok itu keluar dengan wajah datar.
“Lo dari mana? Kenapa pulang jam segini?”
“Apa itu penting? Gue mau tidur.”
“Nat khawatir sama lo, Gar.”
“Udahlah kak. Gue mau tidur.”
“Ya udah. Lo tinggal bilang, lo abis dari mana?”
“Kerja.”balas Gardin singkat. Dia segera mengusir Karla dengan menarik badannya keluar. Dia kelihatan capek. Dan saat Karla ingin kembali, disana sudah ada Nat.
“Katanya, dia habis kerja.”
“Gak bisa dibiarkan. Dia pasti bohong.”
“Gak bohong kok. Dia memang sering jualan online. Kamu aja yang gak tahu. Dia mau mandiri Nat. Biarin aja.”ucap Karla menjelaskan. Nat tidak bisa percaya. Dia punya uang kok. Kenapa harus kerja sendiri? Rasanya tidak perlu. Karla mengajaknya keluar rumah. Duduk di teras dengan pemandangan bintang di angkasa.
“Ini aku beli tadi di Indomaret.”ucapnya sambil menaruh ice cream. Dia menikmatinya dengan hati yang tenang.
“Kayaknya, kamu harus bicara empat mata sama Gardin. Aku gak tahu sih, tapi kalian punya masa lalu yang tidak selesai.”
“Masa lalu yang mana?”
“Mana aku tahu? Aku cuma nebak. Yang tahu cuma kalian.”
“Argh, padahal aku udah janji bakal jagain dia. Tapi dia selalu tidak peduli.”
“Udah. Makan dulu tuh.”ajak Karla sambil menunjuk ice cream itu. Mereka merenung dengan pikiran masing-masing. Hidup di dunia ini memang penuh dengan lika liku. Terkadang masalah datang seperti angin yang berhembus. Bisa diselesaikan dengan mudah tapi bisa juga tidak bisa diselesaikan. Sama seperti masalah yang dialami Nat dan Gardin. Siapa yang mengira bahwa kejadian di masa lalu tak kunjung selesai. Mereka hidup dengan dilema itu untuk waktu yang lama. Menjalani hidup bertahun-tahun dengan perasaan yang mengganjal.