Pesan itu bikin Karla panik. Pesan yang dikirim Jejo dengan narasi menggelikan yang tidak bisa diterima akal sehat. Bagaimana tidak? Dia mengirim foto Karla bersama Nat. Dan yang lebih parah, dia mengirimkan foto berupa transaksi uang bersama Tante Bianca.
“Gue tau lo jadi simpanan sugar daddy kan? Bahkan gue punya bukti lo sama mucikari. Pantesan lo langsung bisa keluar dari apartemen. Kalau gak mau foto ini gue sebarin, lo bayar uang apartemen untuk sisanya. Kalau nggak, lo tahu akibatnya kan.”
Ini gila. Jejo sudah berubah jadi iblis berkepala manusia. Kok bisa sih dia jadi sejahat ini? Kenapa dia jadi benci banget sama Karla? Tapi dibanding itu, Karla gak bisa ngebayangin semua orang tahu kalau dia tinggal di rumah Nat. Dia menggaruk kepalanya dengan jantung yang berdegup kencang.
“Gimana ini? Gue harus gimana?”
Pertanyaan itu melintas berkali-kali. Memenuhi pikirannya hingga bikin dia gak bisa fokus pada satu hal. Lembaran kertas di atas mejanya. Dia menelpon Jejo, tapi gak dibalas. Dia udah gak tahu cewek itu tinggal dimana. Mereka benar-benar lost contact sejak kejadian di apartemen itu. Ini bukan soal uang saja. Karla gak mau diperas di lain waktu. Untuk bayar uang apartemen, dia masih sanggup. Walau memang harus nyicil dari gaji bulanannya.
“Karla, kalau mock up udah beres, tolong dibantu follow up agen A ya. Sekalian beresin kalau ada perubahan.”ucap pria itu sambil tersenyum. Karla mengangguk menyanggupi. Ini bukan waktunya untuk berdiam. Dia punya tanggung jawab besar yang tak bisa ditunda. Dia berusaha menetralkan pikirannya agar bisa fokus pada pekerjaan.
Seharian dia tidak bisa memberikan performa yang bagus. Tugas yang seharusnya selesai dengan cepat jadi tidak bisa selesai tepat waktu. Karla bahkan harus di kantor sampai pukul setengah tujuh.
“Loh, bukannya mau kuliah Kar?”tanya salah satu rekan kerjanya.
“Kayaknya gak usah deh, mbak. Aku izin aja dulu. Lagian ini masih ada beberapa yang belum beres.”
“Lagian lo kenapa sih hari ini? Kayak gak fokus banget.”
“Iya nih, mbak. Banyak pikiran.”
“Santai aja. Lo kerjain aja pelan-pelan. Pasti beres.”hibur perempuan itu. Karla tetap berusaha keras. Dia menghabiskan waktu sampai jam 8. Dan ketika dia beres hendak pulang, dia mendapat pesan dari Nat.
Nat : Kamu dimana? Kok gak masuk kelas?
Nat : Kamu gak apa-apa kan?
Nat : Atau kamu ada masalah di jalan?
What the hell! Dia baru ingat kalau hari ini Nat yang ngajarin. Karla mencoba mencari alasan paling pas. Dia jarang banget bolos kuliah. Gak cuma dia, tapi hampir semua orang yang ada di kelasnya. Kalau bolos, rasanya rugi banget. Berasa jadi orang bodoh di pertemuan berikutnya.
Dia berjalan gontai dengan pikiran gak karuan. Perutnya yang keroncongan bikin dia berhenti dan berjalan menuju ke food court yang ada di gedung sebelah. Mending makan dulu sebelum pulang. Tak lupa dia membalas pesan Nat agar cowok itu gak panik.
Dia duduk sambil menunggu pesanannya datang. Hingga akhirnya dia malah didatangi sama Gio. Dia adalah mantan pacar Jejo yang membuat hubungan Karla dan Jejo hancur. Gio terlihat ramah dengan senyuman di wajahnya.
“Eh, lo disini Kar?”
“Hai Gi. Iya nih, kebetulan abis beres kerja jadi langsung makan aja.”
“Ahh, lo udah kerja lagi?”
Pertanyaan itu bikin Karla kesal. Dia gak pernah ngasih tahu Gio soal hal ini. Pasti dia tahu dari mantan pacarnya yang iblis itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Jejo. Hal pribadi orang malah disebar sembarangan.
“I-Iya…”balas Karla seadanya. Dia cuma pengen percakapan ini berakhir. Tapi Gio tiba-tiba duduk di kursi kosong depannya.
“Gue bingung sama Jejo. Gue kira setelah putus dari gue, dia jadi lebih baik. Ternyata malah sebaliknya.”
“Maksud lo apa?”
“Lo beneran gak tahu?”tanya Gio gak percaya. “Dia pacaran sama cowok aneh. Tua banget sampai gue mikir kalau dia itu simpenan om-om.”
“Lo jangan gitu. Gue gak percaya Jejo kayak gitu.”
“Lo terlalu polos, Kar. Gue aja bingung banget. Kenapa dia update status di acara Keluarga Narwaya. Coba lo pikir deh. Dia bukan orang kaya. Ah, udahlah. Bicara sama lo gak ada gunanya. Gue pergi aja deh.”
Gio pergi begitu saja. Dia meninggalkan Karla dengan wajah melongo. Dia mulai cocokologi soal sikap Jejo waktu ketemu beberapa hari yang lalu. Dia langsung nuduh Karla sebagai simpanan om-om. Ternyata itu perbuatannya sendiri.
“Gila!”gumamnya tidak percaya. Dibanding dia yang penuh problematika, Jejo jauh lebih parah. Saking tidak punya uang, dia malah jadi parasit di hidup orang lain. Emang sih, dia juga baru kelar kontrak di perusahaan. Tapi dia bisa nyari kerja lagi. Kenapa harus ngambil solusi yang nggak banget.
Dengan pikiran kosong, Karla berpikir keras. Sampai dia memutuskan untuk mengirimkan Jejo pesan.
Karla : Gue tahu lo lagi ngomongin diri sendiri. Gio bilang kalau lo jadi simpanan om-om. Lo gila ya?
Tak lama, dia mendapat balasan dari Jejo.
Jejo : Bego lo ya! Gue punya bukti, sedangkan lo nggak. Pokoknya, lo harus bayar gue. Kalau nggak, siap-siap aja. Harga diri lo bakal hancur.
Shit! Cewek gak sadar diri! Dia lagi ngatain dirinya sendiri kah? Ada aja manusia kayak gitu. Karla langsung pulang setelah mendengar berita yang tidak mengenakkan itu. Dia dikirimi pesan sama Nat, tapi malas banget balasnya. Mending fokus pada jalan biar cepat sampai rumah. Ketika dia sampai, terlihat Bianca dan Gardin lagi makan malam.
“Eh, kok cepet balik kak?”tanya Gardin heran.
“Gue gak kerja hari ini.”balas Karla lesu.
“Lah, kenapa?”
“Ada banyak kerjaan.”
Dia berjalan gontai ke lantai 2.
“Abis mandi, kesini ya. Makan bareng.”ucap Bianca. Karla mengangguk tanpa berekspresi. Dia mandi dengan pikiran yang melayang-layang. Dan sampai di meja makan, dia masih mengeluh. Bikin suasana jadi suram. Padahal makanannya lagi enak banget.
“Lo kenapa sih?”protes Gardin.
“Kalau kamu ada masalah, kasih tahu kami. Siapa tahu kami punya solusi.”ucap Bianca dengan ketegasannya. Karla malah mendesah lagi. Udah kayak berbeban paling berat sedunia.
Lalu dia meletakkan handphonenya di atas meja. Dia ngasih tunjuk pesan yang dikirim sama Jejo. Terlihat jelas mimik wajah mereka kaget. Siapa juga yang mengira kalau Karla terlihat seperti cewek murahan. Padahal dia ada disini hanya karena belas kasihan. Tak cuma itu, dia datang ke Acara Narwaya hanya untuk mendapat uang. Anggap itu sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang. Tapi fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
“Aku harus gimana?”tanya Karla dengan penuh keputus-asaan. Gardin terlihat emosi ditambah lagi, Karla nangis. Tidak tega melihat orang lain menderita sendirian. Padahal ini semua terjadi atas kerjasama mereka berdua. Dan jelas dia takut, ini terlihat sangat kejam jika disebarkan di media sosial.