~hampir kepergok~

1226 Kata
Setelah tahu Karla punya pacar, Raffles jadi sering nelpon. Sekedar nanya kabar atau sekalian nanyain soal Nat. Siapa sih yang gak mau punya menantu dari keluarga terpandang? Itulah akibat dari kebohongan yang luar biasa. Dia akan kecewa kalau tahu kebenarannya. Karla membaca pesan berantai dari Raffles. Dia menarik nafas panjang dan berusaha berpikir jernih. Dia mengambil gelas di atas meja dan langsung meminum air yang ada disana. Sudah hampir jam 2, Jejo tak kunjung datang.  Tak lama, perempuan itu datang dengan penampilan luar biasa. Semua yang dia gunakan pasti mahal. Tapi wajahnya masih saja penuh kesombongan. Dia merasa sangat bangga sudah membuat Karla ketar-ketir.  “Hi, apa kabar?”sapanya dengan senyuman paling licik sedunia. “Lo senang udah main curang?” “Cih, lo yang main curang. Bisa-bisanya ngobrol sama mantan gue. Malah jelek-jelekin gue lagi.” “Tapi lo beneran gila ya. Lo sampai jadi simpanan sugar daddy? Gila!” “Heh, lo juga sama kan? Jangan sok suci. Lo juga gak punya kerjaan kan? Gue tahu kok, lo dipecat dari kantor yang lama. Itu karma buat lo.” Rasanya ingin menjambak rambut cewek itu. Tapi Karla berusaha menarik nafas agar bisa mengontrol emosinya. Dia gak mau jadi tontonan banyak orang di restoran ini. Dia tak boleh terpancing. “Terserah lo deh. Jadi lo mau apa?” “Lo bayar uang apartemen. Gue gak peduli tempat itu laku apa engga.” “Lo bakal ngapain kalau gue gak mau?” “Lo masih mau nawar? Gue bakal sebarin foto ini. Gue tau kok siapa saja teman-teman lo di kampus. Mereka gak tau kalau lo ternyata begini.” “Hmm, baiklah.”ucap Karla dengan pandangan tertuju ke depan. “Gue lapar banget. Kita makan dulu, baru dilanjutkan.”ucapnya dengan penuh keyakinan. Jejo tidak masalah dengan hal itu. Apalagi, dia juga udah lapar banget.  Makanan yang disajikan cukup bervariasi. Tempat ini menerapkan layanan yang dibagi jadi tiga. Makanan pembuka, utama dan penutup. Pantas saja suasananya modern, classy dan expensive. Keliatan banget dari luar gedung.  Karla mengambil tisu dan membersihkan mulutnya. Kalau soal rasa, restoran ini cukup enak. Masih bisa direkomendasikan ke orang lain. Tiba-tiba dering ponsel Jejo terdengar ramai. Dia hendak mengambil handphonenya, tapi Karla menghentikan niatnya. “Gue pergi ya. Lo bisa ngirim foto itu kalau lo mau.”ucapnya tegas. Perkataan yang membuat Jejo mengerutkan dahi. Kok jadi gini sih? Dia melihat handphonenya dan menyadari apa yang dimaksud Karla. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali diam. Dia merasa kalah. Dan sebaliknya, Karla tersenyum dan percaya diri keluar dari tempat itu. *** Tante Bianca dan Gardin membuat rencana untuk Karla. Bukan hal susah untuk mencari tahu informasi tentang Jejo. Semua bukti itu bisa memberatkan Jejo tentang hidup. Dan ketika Karla menemui Jejo, mereka mengirimkan bukti itu. Anggap itu sebagai ancaman. Jejo akan berpikir seribu kali untuk mengumbar soal Karla. Ya, walau sebenarnya Karla bukan seorang simpanan sugar daddy. Tapi dia tak ingin statusnya terkuak. Tidak elok jika teman sekelasnya tahu kalau dia tinggal bersama Nat. Kalaupun ketahuan, semoga saja setelah dia lulus. Karla merasa sangat lega lepas dari masalah ini. Setidaknya dia gak harus kepikiran soal Jejo. Dia maunya untung sendiri. Emangnya mudah dapat uang? Ditambah lagi, apartemen yang dulu mereka tinggali termasuk apartemen mewah. Jadi biaya sewanya cukup mahal. Dengan menggunakan ojek online, dia tiba di kampus. Dia sengaja izin dari kantor dengan harapan masalahnya dengan Jejo berakhir. Kejadian hari ini sudah cukup membuatnya sumringah. Dia segera ke perpustakaan untuk sekedar membeli ice cream.  “Mbak, aku mau yang coklat vanila.” “Sekalian, saya strawberry vanilla.”ucap  seseorang disampingnya. Dan dia adalah Nat. Karla cukup syok berpapasan dengan cowok itu. “Eh, selamat siang pak.”sapanya dengan sopan. Dia gak mau dong ada yang menyadari kedekatan ini. Terlebih lagi, Nat juga ngajar di kelas lain. Takut aja gitu, ada yang ngeliat.  “Ah, saya perlu bicara sama kamu. Ini biar saya yang bayar.”ucapnya dengan begitu mudah. Karla tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menunggu dan membiarkan Nat membayarnya. Kemudian mereka berjalan keluar dari gedung itu.  “Kenapa pak?”tanya Karla saat suasana sudah tak ramai. “Tidak ada apa-apa. Saya cuma pengen jalan-jalan bareng.” “Kalau begitu, saya permisi.” “Jangan pergi atau saya kasih nilai C!” “Ish, maunya apa sih?”seru Karla kesal. “Ayo, disana ada kursi kosong.”lanjutnya tanpa peduli. Mereka duduk di kursi kosong yang ada di bawah pohon. Tempat itu sepi dan hanya ada beberapa orang yang berfoto ria. Kelihatannya mereka bukan mahasiswa, tapi hanya pengunjung yang ingin jalan-jalan. “Tadi malam saya pulang larut. Kamu udah tidur.”ucap Nat. “Kenapa kamu gak masuk kelas?” “Lembur pak. Saya kan udah bilang.” “Biasanya kamu gak pernah lembur.” “Itu biasanya. Kan ada yang luar biasa.” “Terus, kamu ada rahasia apa sama Tante Bianca?” “Hah?” “Saya tahu kalau kamu ketemu sama tante. Dia update instastory.” Perkataan itu bikin Karla hening. Ternyata ini efek negatif dari media sosial. Padahal Karla udah pengen rahasiakan masalah ini dari Nat. Takut aja, dia jadi kepikiran plus panik. Dia terlalu perhatian pada Karla. Sejak awal, dia sudah bertingkah bak pahlawan kesiangan.  “Gak ada rahasia apa-apa. Cuma ngobrol aja.” “Oh, gitu.” Kembali hening. Tampaknya Nat juga penuh pikiran. Dan tante Bianca tak sejahat yang Karla kira. Dia emang pengen jual rumah, tapi selain itu, dia punya perhatian yang berlebihan. Terutama pada Gardin yang masih butuh kasih sayang seorang ibu.  “Oh ya pak. Udah baikan sama Gardin?”tanya Karla seakan jadi orang yang sok tahu. Nat menggeleng. “Apa kita ke villa aja? Tante Bianca nawarin. Sekalian ajak Mas Pamungkas.” “Heh, kenapa malah ngajakin Pamungkas?” “Aku tahu kok. Mas Pam belum nikah kan? Kamu malah bohong.” “Kamu sudah tahu?”ucap Nat dengan nada datar. Dia merasa malu sudah berbohong. Well, bohongnya masih gak seberapa dibanding kebohongan kepada Raffles, mamanya Karla. Tapi itu cukup memalukan. Terutama jika Pamungkas tahu.  “Jadi, Pam tahu kalau gue bohongan lo?” Karla mengangguk sambil tertawa. Bikin Nat panik cukup menghibur bagi Karla. Dia terlihat bingung mau memberikan penjelasan kepada Karla. “Dasar! Entah buat apa harus bohong? Lagian, apa salahnya kalau Mas Pam masih single alias jomblo?” “Saya gak suka kamu puji dia.”ucap Nat dengan nada serius. Nada yang bikin Karla merinding. Hello, ini sama aja kayak lagi digombalin. What the hell. Seketika dunia berhenti. Jantung berdetak gak karuan. “Saya lebih baik jujur kan?”ucap Nat lagi. Cowok itu emang udah gila. Kenapa malah begini sih?  “Karla!!!”teriak seseorang memecah keheningan di antara mereka. Dan dia adalah Rakiel. Cowok dengan lambaian tangan hendak berjalan mendekat ke arah Karla dan Nat. Karla mulai panik dan segera berdiri. “Baik pak. Terima kasih.”ucapnya dengan penuh hormat. Dia langsung pergi menemui Kiel. Dan untuk menghindari pertemuan, Karla langsung menarik Kiel dengan genggaman tangannya. Dia merangkul cowok itu agar menjauh dari tempat Nat berada. Dia gak tahu kalau Nat sedang membatin di dalam diamnya. Gimana rasanya melihat orang yang lo cintai berpegangan tangan dengan cowok lain? Rasanya sakit dan memuakkan. Nat ingin sekali memisahkan tangan itu. Tapi dia masih ingin Karla baik-baik saja. Dia tak mau ada beban yang semakin besar di hati cewek itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN