Aktivitas paling menghibur buat mereka adalah ngemall. Terutama di hari sabtu yang cerah ini. Kelas udah beres jam 11, dan kebetulan gak ada tugas penting yang harus dibereskan. Winny, Rere dan Gly pergi ke mall yang gak terlalu jauh dari kampus. Sekedar mencari printilan lucu atau wisata kuliner.
Gly sibuk mengunyah permen berukuran besar itu. Dia paling suka nyobain makanan baru. Walau rasanya mencurigakan, tetap aja pengen nyoba.
“Eh, abis ini nonton yuk?”
“Iya, ada film baru. Judulnya The Konjureng. Katanya bagus.”
“Boleh tuh. Pesen yuk.”
“Ih, coba Karla bisa. Seru pasti.”
“Katanya dia ada acara ya?”
“Ho Oh.”balas Gly singkat. Cuma dia yang tahu kemana Karla pergi. Dia lagi honeymoon dengan Pak Nat. Oke, anggap ini bahasa hiperbola. Setelah makan dengan puas, mereka segera masuk ke area studio dengan antusias yang sangat tinggi.
Pandangan Gly tertuju pada cewek itu. Cewek yang kini duduk bersama seorang pria paruh baya. Gly mengenalnya karena pernah ditunjukkan Karla di i********:. Dia adalah cewek jahat itu. Ya, Jejo. Ternyata benar, dia jadi parasit di tubuh bapak-bapak. Mau jadi parasit gak apa-apa sih, tapi bikin Karla menderita tidak mudah dimaafkan. Harus dibalas dengan setimpal.
“Eh, gue ke toilet bentar ya.”
“Loh, bukannya kita baru dari sana.”
“Tahu nih, perut gue lagi aneh. Udah ya, tunggu gue disini.”
Gly bergegas agar berhasil memberi pelajaran pada Jejo. Beruntung banget, toilet tidak terlalu ramai. Dia memberikan semprotan kecil untuk membasahi kaki cewek itu. Di dalam, Jejo berteriak dengan marah. Memang ini termasuk bullying. Tapi Gly gak peduli. Enak aja tuh cewek. Dia mau hidup tenang setelah bikin Karla kalang kabut?
Setelah itu, dia mengunci pintu dari luar. Cewek itu mendobrak berkali-kali. Gly langsung pergi. Bentar lagi pasti ada yang datang ke toilet. Ya, anggap aja ngasih sedikit pelajaran. Gly mempercepat langkah untuk menemui Winny dan Rere.
***
Atas permintaan Karla, Gardin mau nginep di villa. Rencana itu akhirnya terealisasi pagi ini. Pamungkas udah nungguin di depan rumah dengan mobil berwarna kuning miliknya. Tak lama, Nat datang dengan tampilan rapi. Meski pakai kaos, dia tetap menggunakan kaos yang berkerah. Kaku banget!
“Lo mau ke kantor apa liburan?”ledek Pamungkas sambil tertawa.
“Heh, semua orang punya style masing-masing ya. Jangan menyinggung.”
“Ya emang. Tapi lo terlalu kaku.”
“Terserah dong.”jawab Nat dengan wajah cemberut. Dia langsung menaruh tas nya di dalam bagasi. Dia selalu percaya diri walau dengan tampilan yang sedikit kuno. Tapi tetap aja, wajah tampannya selalu menonjol. Mau pakai baju robek pun, dia tetap ganteng kok.
Tak lama, Karla muncul dengan senyuman di wajahnya. Dia bergegas menuju mobil untuk menaruh barang-barangnya.
“Idih, pacar gue udah datang. Cantik banget!”ucap Pam sambil terus melihat ke arah Karla.
“Pacar apaan?”tanya Nat bingung.
“Jadi, gue udah anggap dia pacar. Dia aja yang masih labil. Udah gue tembak bulan lalu.”ucap Pamungkas sambil merangkul Karla. “Iya kan, Kar?”lanjutnya.
Karla mengangguk pertanda setuju. Nat kelihatan bingung dan penasaran. Pengen nanyain tapi Gardin keburu datang. Dia langsung menaruh barang dan duduk di belakang. Dan Karla duduk disampingnya. Sedang Pam dan Nat duduk didepan. Pam yang akan menyetir dengan tenaga dalam.
“Mas Pam, lo pernah ke villa itu? Kata Tante Bianca, villa itu paling mewah di puncak.”tanya Karla sambil menikmati choki-choki yang dibeli kemarin. Dia beli beberapa bungkus. Jadi gak bakal abis.
“Belum. Ini berdua juga belum pernah kok. Gara-gara lo aja mereka pergi.”
“Eh, beneran?”tanya Karla pada Gardin. Gardin cuma diam sambil mengangguk. Dia malas ngomong sih. Cowok kaku sama kayak Nat. Tapi Gardin cukup beda kalau sama teman dekatnya. Kalau udah sohib, baru aslinya keluar. Keluar sampai tumpah-tumpah. Dikira air kali ya.
Perjalanan berlangsung cukup lama karena memang jalan ke puncak kalau weekend ramai banget. Jalanan macet ditambah lagi panas yang semakin pekat. Tapi semua itu tak terasa karena banyak kesibukan di dalam mobil. Ada yang sibuk makan sambil ngedrakor, ada yang sibuk main game.
Saking lelahnya, dua orang yang duduk dibelakang tertidur. Sedang Nat gak boleh tidur. Demi keselamatan bersama, harus ada satu orang yang terjaga menemani supir. Dan Nat adalah orang itu.
“Ngomong-ngomong, lo ada masalah apa sih sama gue? Kenapa lo bilang kalau gue udah punya istri?”
“Hahah, bercanda dong bro.”
“Bercanda apanya? Dia percaya lagi sama lo.”
“Mana gue tahu dia bakal percaya.”ucap Nat sambil tertawa.
“Bilang aja lo takut tersaingi.”
“Apaan sih?”
“Lo ngelakuin itu karena suka sama dia kan?”
“Hah? Kagaklah.”balas Nat.
“Ok. Kalau gitu, gue aja yang dekatin dia.”
“Heh, kau kan punya gebetan.”
“Masih gebetan. Gue mau koleksi gebetan yang banyak.”balas Pam sambil tertawa. “Ini gue serius loh.”lanjutnya. Perkataan itu membuat Nat kepikiran. Kalau Pam serius, bisa bahaya. Apalagi Karla emang demen sama dia di pertemuan pertama. Ini namanya sedang terancam.
“Jangan gitu ah. Gak baik main-main sama cewek.”
“Siapa bilang gue main-main? Gue serius.”ucap Pam tegas.
Siapa duluan dia dapat. Ungkapan ini relate banget sama segala sesuatu. Termasuk jodoh. Pernah gak sih kepikiran kalau kita melakukan sesuatu, itu akan mempengaruhi kemana kita di akhir cerita?
Mereka sampai di villa itu. Disambut beberapa orang dengan pakaian seragam. Tempat yang sangat besar dan mewah. Karla kembali terkesima dengan tempat itu. Dia langsung rebahan di kamar yang ditunjuk oleh petugas.
“Argh, bagus banget. Gue mau foto ah, langsung kirim sama Gly.”gumamnya sambil mengambil beberapa foto. Gly pasti akan senang mendengar curhatannya. Tipe orang yang langsung heboh kalau dengar cerita yang menarik.
Tapi tiba-tiba Nat datang. Dia menutup pintu. Dia seperti buru-buru bicara sama Karla.
“Lah, mau ngapain?”
“Kamu harus tahu, jangan mau dekat-dekat sama Pam.”
“Apaan dah? Gak jelas banget.”
“Katanya dia mau jadiin kamu gebetan. Dia cuma mau main-main. Jangan mau ya.”
“Iya, udah. Sana pergi aja!”
“Saya serius.”
“Iya. Udah sana!”tegas Karla sambil mengusir cowok itu. Heboh banget sih jadi orang. Sudah jelas kalau Pam gak pernah berniat begitu sama Karla. Dia pernah cerita soal kisah cintanya. Dan tidak ada tanda-tanda mau pacaran sama Karla. Walau bodoh dalam pemrograman, Karla punya radar dan peka sama hal beginian.
Apa mungkin Pam bilang sesuatu sama dia? Kenapa dia heboh banget?
Sialan! Pasti Mas Pam memancing di darat. Dia bicara sesuatu yang bikin Nat panik. Dasar! Sekarang Karla yang jadi korban. Padahal rencana ini untuk menyatukan Gardin dan Nat. Kenapa jadi melebar kemana-mana?
Karla kembali fokus pada pemandangan alam yang luar biasa. Dia mengabadikannya dengan foto selfie. Argh, udara di tempat ini sangat menyegarkan. Beda banget dengan di Jakarta. Jika diberi kesempatan untuk punya rumah impian, Karla pasti akan memilih rumah di pedesaan. Pikiran tenang, kesehatan terjaga dan hidup tentram.
Saking ademnya, dia tertidur saat duduk di kasur. Sudah lama tak tidur tenang. Setiap hari terasa menyesakkan karena diburu waktu. Pekerjaan dan kuliah yang kejar-kejaran mengganggu ketentraman hidup. Emang sih, lama kelamaan terbiasa. Tapi tetap aja jam tidur tidak teratur. Kelelahan yang dialami dalam satu minggu terbayar lunas dengan datang ke tempat ini. Terutama dengan mereka yang begitu berarti bagi Karla. Untuk pindah pun, dia sudah tak ada rencana. Jika memungkinkan, Karla ingin tinggal disana untuk waktu yang lama.