~alam~

1134 Kata
Dengan jaket tebal, mereka menyusuri jalan tikus menuju ke air terjun yang berlokasi tidak jauh dari villa. Air terjun itu cukup jarang dikunjungi wisatawan. Air terjun yang masih baru dan belum terlalu dikenal oleh banyak orang. Karla termasuk yang paling excited karena dia belum pernah ke air terjun. Mungkin karena dia juga tidak terlalu suka alam. Dia lebih suka jalan-jalan ke mall atau paling jauh ya ke pantai. Kalau ke tempat kayak gini, ada rasa takut di dalam dirinya. Alam itu kadang bersahabat tapi kerap menunjukkan aura mistis yang bikin takut. Dia selalu salut sama mereka yang doyan naik gunung. Mereka patut diberikan apresiasi. Pam sibuk ngobrol sama Gardin. Dapat dilihat reaksi Gardin sama cowok itu. Dia lebih suka bicara dengan Pam dibanding saudaranya sendiri. Bicara soal masa kecil sampai hal detail yang bikin mereka tertawa.  Karla sendiri sibuk ambil foto. Dia lupa kalau tujuan ke tempat ini hanya untuk membuat Nat dan Gardin berdamai. Ternyata semua sibuk dengan diri sendiri. Tapi ya, pemandangan di tempat itu sangat perlu diabadikan. Indahnya pohon hijau hingga air yang mengalir perlahan di bebatuan. “Dasar cewek! Kerjaannya eksis terus.”ucap Nat sambil terus berjalan. “Iri?” “Ih, buat apa saya iri? Dibanding iri, saya miris melihat orang seperti kamu.” “Apaan sih?” “Kalau ketemu sama alam itu dinikmati. Jangan sibuk foto-foto doang. Gak ada nikmat-nikmatnya. Foto mah bisa diambil di Google.” “Komentator bola? Ribet banget mengomentari orang.”balas Karla kesal. Apa salahnya jadi cewek yang doyan update Instastory? Kalau gak suka tinggal di skip. Kebahagiaan orang tuh beda-beda. Rasanya pengen menceramahi Nat dengan sejuta argumen. Saat Karla berjalan, dia hampir jatuh karena batu yang luput dari pandangannya. Dia sibuk melihat handphone sampai gak tahu kalau kakinya tersangkut rumput liar. Nat langsung menolongnya dengan menarik tangan cewek itu.  “Ma-makasih.”ucap Karla terbata-bata sambil mengokohkan pertahanannya. “Daripada kamu jatuh gara-gara ini, mending saya yang mengambil fotonya.”ucap Nat sambil mengambil handphone Karla. “Eh, ta-tapi.” “Saya bisa multitasking. Sekarang, nikmati deh udaranya.”ucap Nat tegas. Persis kayak nyuruh mahasiswa ngerjain soal di depan kelas. Karla masih terbawa suasana di kelas. Dia melakukan apa yang Nat suruh. Cowok itu tak cuma sekedar bicara. Dia mengambil beberapa foto tapi tak seintens Karla.  Ternyata menyenangkan melakukan apa yang Nat suruh. Di tempat ini ditemukan ketenangan. Seketika hati menjadi tentram. Semua orang bergembira dengan melompat ke dalam genangan air. Matahari semakin terik dan itu menambah keinginan mereka untuk nyebur. Suasana berubah menjadi lebih fun. Waktu terasa begitu cepat. Mereka segera pulang sebelum malam datang. Perjalanan itu cukup melelahkan. Tenaga sudah terkuras habis, pantas saja mereka kembali dengan badan lemah dan lunglai. *** Nat duduk di sisi kolam renang sambil mendengarkan lagu. Dia sengaja bawa speaker mini yang suaranya ngebass banget. Dia suka duduk menyendiri. Sudah sering Karla melihatnya di depan rumah sambil menatap langit. Padahal malam ini langit sedang tidak bagus. Dia tetap melakukan ritual itu dengan hikmat.  Gardin membuka pintu karena tidak sadar ada Nat disana. Dia cukup kaget waktu saling berpandangan dengan Nat. Tapi dia memutuskan untuk kembali ke dalam villa. “Gardin!”panggil Nat sambil melambaikan tangan. Seakan nyuruh cowok itu untuk datang ke arahnya. Malam semakin larut. Terdengar suara heboh dari villa sebelah. Sepertinya cuma villa ini yang paling sepi. Semua penghuninya sudah tepar. “Abang mau minta maaf. Soal ucapan yang waktu itu.” “Gak apa-apa.” “Ini serius.” “Iya.” “Dan kalau ada apa-apa, kamu bisa bilang. Jangan kayak orang musuhan. Aku gak mau kayak gitu.” “Iya.”balas Gardin singkat. “Udah kan? Aku mau nelpon teman dulu. Ada tugas minggu depan.”lanjutnya secepat kilat. Nat mengangguk dengan ragu. Kemudian Gardin langsung pergi. Dia tak terlihat tulus mengatakan bahwa ini baik-baik saja. Bikin Nat makin kepikiran. Kenapa susah sekali bicara sama dia? Kayak ngomong sama batu. Sulit sekali mendapat respon yang natural. Kayak ada yang mengganjal. Dia kembali pada zona santai. Tapi pintu terbuka lagi. Kali ini bukan Gardin yang ada disana, tapi Karla. Cewek itu tersenyum. Senyum yang mencurigakan. Bahkan Nat mengira dia sedang kesurupan. Cewek itu berjalan dengan sebotol wine di tangan kanannya. Dia berjalan sempoyongan. Lalu duduk di samping Nat dengan tubuh yang tidak stabil.  “Kamu minum wine?” “Hahaha.” “Dapat dari mana ini?” “Hadiah dari Tante Bianca. Gak baik dianggurin. Tadi Mas Pam udah minum juga kok. Ternyata enak.” “Udah gila!”ucap Nat dengan suara tegasnya. Dia merebut botol itu dari tangan Karla. Bikin Karla cemberut. Wajahnya memerah dan dia memukul Nat dengan tangannya. Nat sampai kaget melihat kelakuan cewek itu. Setelah dipukul berkali-kali, dia malah memeluk kaki Nat yang sebelah kiri. Perbuatan yang bikin Nat merinding disko.  “Ka-kamu ngapain?” Karla masih tetap memeluk kakinya. Nat berusaha keras untuk melepaskan genggaman itu. Setelah berjuang keras, akhirnya terlepas. Dia menjauh agar tak ada kejadian kedua. Emang sih, kalau udah mabuk apapun bisa terjadi. Terutama soal kegilaan yang dibuat oleh Karla kali ini.  “Aish, sombong banget sih lo!”ucapnya dengan cemberut. “Oh iya, kamu kan Pak Nat. Dosen sok pintar!”lanjutnya sambil garuk-garuk kepala. “Ayo, mending kamu dikurung di kamar. Daripada bikin ulah.”ucap Nat sambil menarik tangannya. Tapi Karla melepaskan diri.  Dia mengambil botol wine yang ada di meja. Dia berlari ke sisi lain kolam renang. Nat sampai menarik nafas panjang melihat kelakuan cewek itu. Karla meneguk sisa wine yang masih banyak. Dia benar-benar sudah gila. Dia melempar botol itu ke dalam kolam. Dia tertawa terbahak-bahak. Tak ada yang sadar akan tawa yang menakutkan itu karena suara dari villa sebelah menguasai semua tempat. Suara petasan, gitar, hingga teriakan. “Indah banget dunia ini. Hahaha.”teriaknya dengan mata tertutup. Kemudian dia menjatuhkan diri ke dalam kolam. Ini benar-benar tidak masuk akal. Dia sampai segila ini hanya karena satu botol wine.  Nat langsung menolongnya dengan melompat ke dalam kolam. Dia berusaha keras membawa badan itu keluar dari sana. Akan berbahaya jika dia tetap ada disana. Dia tidak akan peduli pada keselamatannya ketika sedang mabuk. Selama beberapa saat Karla terlihat tak sadar, hingga dia mengeluarkan air dari dalam mulutnya. Nat langsung bernafas lega. Takut aja dia kenapa-napa. Dia masih tidak sadar dengan pikiran mengawang-awang. Matanya memerah dan sayu. Nat langsung menggendongnya ke kamar. Dibalutnya tubuh itu dengan selimut agar tidak terlalu dingin. Nat tidak sanggup jika harus mengganti pakaian cewek itu. Selain melanggar norma, dia juga tidak sanggup melakukannya. Hingga muncul ide brilian. Dia mengambil hair dryer yang ada di atas meja. Dia coba untuk mengeringkan tubuh itu perlahan. Tentu saja berusaha untuk tidak membuat cewek itu sadar. Setelah yakin pakaian itu kering, dia mengambil selimut untuk menghangatkan badan cewek itu. Setelah memastikan semua baik-baik saja, dia segera pergi tanpa lupa menutup pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN