Pagi datang, malam menghilang. Dosa dan kenajisan malam itu masih terasa. Bau menyengat tercium memenuhi ruangan kamar. Terik matahari pagi menambah kesengsaraannya. Dia melepas selimut itu dan memegang kepalanya yang masih pusing. Pandangan samar perlahan-lahan menjadi jelas. Dia membuka pintu kamar dan mulai mengingat perbuatannya kemarin.
Dia mengajak Pam menikmati wine yang dikirimkan oleh Bianca. Benda itu sangat menarik perhatian Karla. Dia emang gak pernah minum alkohol, jadi kepo banget bagaimana rasanya.
“Oh Tuhan, gue lakuin apa kemarin?”gumamnya. Dia bergegas ke lantai bawah untuk mencari sosok manusia yang mungkin bisa memberinya penjelasan. Dia melihat Nat sedang memasak sesuatu. Seperti biasa, dia memang orang yang paling cepat bangun.
“Pak, aku kemarin mabuk ya?”tanya Karla masih tidak percaya.
“Duduk dulu!”perintah Nat seperti pesuruh. Dan dengan sigap, Karla duduk. Dia ingin segera mendengar penjelasan tentang apa yang terjadi kemarin.
Dia malah disajikan sup aneh. Ya, sup yang tidak terlihat enak. Dibanding itu, terlihat sangat menjijikan. Seketika, Karla ingin mual.
“Makan dulu, biar sisa mabuknya hilang.”
“Jadi, aku beneran mabuk?”
“Iya. Kita bicara setelah kamu habisin sup itu.”ucap Nat tegas. Karla mengalah dengan menyendok sajian itu ke dalam mulutnya. Sajian yang awalnya bikin mual, tapi setelah dimakan, perut jadi enakan.
“Kau mabuk sampai bikin aku kena imbas. Bisa-bisanya minum wine satu botol penuh. Kata Pam, kau bahkan belum pernah minum alkohol.”
“I-iya. Aku cuma penasaran.”
“Tak bisakah penasaran pada hal lain? Kenapa mesti wine? Kalau tak kuselamatkan, kau bisa tenggelam di kolam renang.”
Setelah mendengar penjelasan itu, Karla jadi ingat akan apa yang terjadi kemarin. Argh, sial! Kenapa ya dia selalu bikin masalah? Terutama di depan Nat. seharusnya dia tidak minum benda mengerikan itu. Rasanya emang gak enak, tapi lama-lama jadi enak. Eh, kayak penjual bakso boraks aja.
Ingatan itu membuatnya malu. Dia menunduk dan merasa bersalah. Ternyata mabuk itu dilarang karena punya alasan. Sangat merugikan dan memalukan.
“Pam sama Gardin udah pulang duluan. Tadi ada yang jemput mereka. Kebetulan Pam ada urusan penting.”
“Yah, seriusan?”
“Iya. Kenapa kamu kecewa gitu?”tanya Nat heran. Karla kira urusan Nat dan Gardin belum kelar. Dia sangat menyayangkan. Kapan lagi bisa membuat dua orang itu berdamai? Tidak ada lagi waktu yang tepat. Tapi jiwa iseng Karla muncul. Dia ingin balas dendam.
“Aku masih kangen sama Mas Pam.”ucap Karla dengan ekspresi tenang. Kayaknya seru ngerjain cowok itu.
“Saya kan sudah pernah bilang. Jangan berharap sama dia.”
“Emang kenapa sih? Aku kan punya tipe cowok juga. Dan Mas Pam paling ideal dijadikan pacar.”
“Bodo amat. Cepat beres-beres. Kita pulang bentar lagi.”ucap Nat sambil bergegas pergi. Dia marah? Ya, dia pasti sedang marah. Entah kenapa, Karla senang melihatnya marah. Seakan balas dendamnya berhasil tersampaikan.
Hujan ringan mulai turun memenuhi jalan. Nat dan Karla mempercepat langkah untuk segera pulang. Meski masih pagi, mereka berusaha untuk pulang cepat. Takut kalau nunggu sore malah makin macet. We know, selain disebut kota hujan, Bogor juga disebut kota macet kalau lagi weekend. Tapi semua kegundahan itu bisa diatasi dengan membuat perancangan jadwal yang tepat. Kalau gak mau kena macet, mending pulang pagi-pagi sekali.
“Tuh, pakai jaket saya aja. Punya kamu udah basah kan kemarin?”ucap Nat sambil menunjuk jaketnya yang ada di kursi belakang. Dengan sigap, Karla mengambil jaket itu. Dia memang udah kedinginan dari tadi. Suasana puncak selalu dingin kayak kulkas.
“Oh ya, aku minta maaf. Kita udah bikin acara kayak gini, tapi gak ada progress apa-apa.”
“Maksudnya?”
“Kamu kan belum baikan sama Gardin. Aku jadi merasa bersalah.”
“Siapa bilang? Kami sudah baikan.”
Nat nyeritain soal apa yang terjadi kemarin. Ya, kejadian sebelum Karla mengacaukan malam Nat yang menyenangkan. Semesta memberinya waktu untuk bicara empat mata dengan Gardin. Adiknya itu masih saja keras kepala, tapi setidaknya Nat sudah bicara lagi sama dia.
“Kenapa gak bilang dari tadi sih? Argh, kok jadi lega gini ya.”
“Saya pikir kamu bakal lupa.”
“Gak lah. Emang tujuan utama kita kan itu.”
“Kamu kan selalu fokus sama Pam. Bisa aja jadi beneran lupa.”
“Argh, terserahlah.”balas Karla kesal. Dia pura-pura tidur walau sebenarnya gak tidur. Dia mendongakkan kepala waktu Nat memarkirkan mobil.
“Mau ngapain lagi?”
“Beli oleh-oleh. Saya perlu kasih ke teman-teman dosen. Emangnya kamu?”
“Sombong banget!”balas Karla dengan cemberut. Nat segera turun dan mulai melakukan pencarian untuk dibawa pulang. Dia termasuk cowok aneh sih. Cowok yang tidak masalah menghabiskan waktu untuk membeli oleh-oleh. Hallo, ini bukan nya sifat cewek ya? Dari awal Nat emang udah beda banget cewek pada umumnya.
Mereka sampai di rumah saat hari sudah sore. Karla langsung menuju kasur untuk tidur. Dia merasa masih kurang tidur. Mungkin efek mabuk tadi malam. Dia masih gak nyangka. Dia sudah mabuk untuk pertama kalinya dalam hidup. Ini prestasi atau kebobrokan sih?
***
Dering telfon membuat Karla terbangun dari tidurnya yang cukup lama. Dia melirik jam, ternyata sudah pukul 5 sore. Dia mencari handphonenya dan melihat ada sepuluh panggilan tidak terjawab. Diantaranya Winny dan Gly. Ada apa sih? Tiba-tiba Winny menelpon lagi. Dengan sigap dia mengangkatnya.
“Hallo, kenapa Win?”
“Kar, lo lupa ya? Kita ada kerja kelompok hari ini. Besok harus dikumpulin.”
“Astaga. Mati gue. Gue on the way sekarang deh.”
“Eh, gak usah. Kebetulan, kami lagi di komplek rumah yang lo sewa. Kita ngerjain di tempat lo aja ya?”
Oh my God! Bisa-bisanya ada kejadian kayak gini. Matilah! Pasti Gly yang ngasih tahu soal rumah ini. Apa dia keceplosan lagi? Dasar cewek gila!
“Tapi Win, gue takut sama yang punya.”
“Santai. Kita kan cuma beresin tugas kok. Okelah, see you!”
“Tapi….”
Panggilan dimatikan. Karla berdiam sejenak hingga dia sadar dan berlari ke lantai 1. Dia melihat Nat dan Pam sedang duduk sambil menikmati durian.
“Eh, Kar. Ini ada durian!”ajaknya dengan ramah sambil melambaikan tangan. Karla berpikir keras solusi untuk masalah ini. Dia berlari dan mengutarakan keinginannya. Ini gak bikin dia panik seorang, Nat juga ikutan panik.
Dua buah motor honda terparkir di luar gerbang. Karla segera menyambut dengan senyuman hangat yang sebenarnya pura-pura. Dia melirik ke arah Gly dengan rasa kesal yang luar biasa. Gly hanya bisa menunduk dengan rasa bersalah.
“Hai guys! Ayo masuk!”
“Gila. Keren banget ternyata. Lo beneran ngekos disini? Gue mau lah kalau kosannya kayak gini.”komentar Winny sambil melihat ke seluruh sisi. Bagi Karla, itu adalah niat paling buruk yang ada di dunia ini.
“Lo telat. Tempat ini sudah penuh Win. Kapan-kapan gue kabarin kalau ada yang kosong!”balas Karla mengalihkan. Dia mendekat ke arah Gly dan mencubitnya dengan kekuatan penuh. Kenapa harus tempat ini? Mereka bisa loh ketemuan di MCD atau kafe lainnya. Sekarang, Karla ketar ketir. Takut kalau teman-temannya tahu soal hal ini. Tinggal bersama Pak Nat akan jadi sesuatu yang menggemparkan. Semua orang pasti akan berpikiran negatif padanya. Kok bisa seorang Karla yang biasa tinggal di rumah Pak Nat? Apakah dia menyerahkan tubuhnya untuk tempat tinggal ini? Atau sebenarnya mereka menikah diam-diam?
Ya, mungkin itu bisa dijadikan judul untuk headline news di masa depan.