~bersandar~

1169 Kata
Kerja kelompok kali ini memiliki topik tentang manajemen bisnis. Bagaimana mahasiswa menemukan solusi untuk suatu masalah yang berkaitan dengan case yang diberikan. Case yang diberikan cukup banyak hingga berlembar-lembar. Mereka harus mengerahkan separuh energi untuk bisa kelar menyelesaikan masalah itu. “Gimana kalau untuk masalah ini kita kasih solusi dengan menjabarkan SWOT nya? Jadi biar lebih detail.” “Gue setuju. Plus kita tambahin narasi yang mendukung hal itu.” “Okey, sekarang gue yang nulis di laporan.” “Siap!” Kerjasama seperti ini memang sudah biasa untuk mereka. Tahu diri aja sih, kalau mau dapat nilai bagus yah kasih kontribusi. Jarang banget mahasiswa ekstensi yang sibuk organisasi. Mereka lebih suka kerja dan ngumpulin duit untuk masa depan. Itu alasan yang cukup logis kan? “Eh, lagi kerja kelompok ya?”tanya seseorang yang tiba-tiba muncul. Dia adalah Pamungkas. Karla menelan ludah melihat kehadirannya. Padahal udah dibilangin jangan keluar sebelum mereka pergi. Peraturan dibuat untuk dilanggar. “Ah, iya.”balas Winny ramah. “Kenalkan, saya yang punya tempat ini.”ucap Pamungkas memperkenalkan diri. “Sebenarnya, banyak yang ngekos disini. Cuma lagi pada gak di rumah aja.”ucapnya menjelaskan. Rasanya penjelasan itu gak dibutuhkan, mereka lagi sibuk ngerjain tugas.  “Kalian mau minum apa? Kasihan pada seret. Lagian kamu, temannya datang kok gak ada persiapan sih?”ledek Pam menunjuk pada Karla. Karla cuma bisa diam dan pasrah. “Apa aja deh mas. Lo buruan pergi karena sangat mengganggu.”ucap Gly dengan suara kerasnya. Pam langsung melihat ke arahnya. Cewek gila itu membuat Pam kesal. Dia segera pergi.  Wajahnya bete sambil membuka pintu kamar Nat. Nat tertawa melihat kedatangan cowok itu. Padahal waktu pergi, dia udah sumringah banget. Katanya mau kenalan sama teman-temannya Karla. Mungkin dia mendapat perlakuan tidak baik. “Kenapa?” “Itu modelan mahasiswa kok gitu sih?” “Kenapa emangnya?” “Ada yang merasa terganggu waktu gue datang kesana. Bahkan gue diusir.” “Hahaha. Jelas banget mereka terganggu. Gak ada yang lebih penting daripada kelarin tugasnya. Makanya, lihat keadaan kalau mau nimbrung.” “Bodo ah. Gue kesel.”balas Pam sambil merebahkan diri di atas kasur. Dia tertidur selama beberapa saat. Nat memilih untuk mengoreksi tugas mahasiswanya. Dia gak mau membuang waktu dengan percuma. Yang penting, pintu kamar terkunci dengan baik. Tidak ada masalah untuknya. Sampai Pam merasa sangat bosan. Dia bangun dan ingin minum. Ketika sampai di dapur, dia melihat Gly sedang meneguk minuman dengan sangat membabi buta. Cewek yang sangat aneh. Bahkan diam-diam dia memakan kue yang ada di kulkas. Kue sisa makan kemarin malam.  “Ehm!” Pam ingin memberikan sinyal bahwa dia akan datang. Dia gak mau membuat cewek itu jantungan kalau dia datang tiba-tiba. Dia melirik sambil tersendak. Tuh kan, dibilangin juga apa. “Ah, maaf mas. Saya sudah izin sama Karla. Katanya boleh makan kue yang ada di kulkas. Saya kelaparan.” “Terserah. Saya gak pernah permasalahkan itu.”balas Pam cuek. “Argh, baguslah!”balas Gly dengan sumringah. Dia mengambil lagi potongan kue yang lain. Dia benar-benar tidak waras. Makannya banyak banget woy. “Wah, akhirnya kenyang!”gumamnya sambil memegang perutnya. Dia gak takut gendut apa? Itu kan yang paling ditakuti cewek-cewek jaman sekarang? Apa dia bukan cewek? Atau dia cewek jadi-jadian? Dia hendak pergi, tapi kembali dan berdiri di depan Pam yang sedang pusing sambil menikmati air di gelasnya. Dia kaget waktu cewek itu berdiri di depannya. “By the way, gue sebenarnya tahu kalau lo bukan yang punya tempat ini. Ini rumahnya Pak Nat kan?”ucapnya dengan senyuman licik. Bener deh, cewek kayak gini udah beneran kayak orang gila.  “Gak usah kaget. Gak usah! Gue emang terlahir jadi cenayang.” “Heh, tunggu dulu!”teriak Pam. “Lo gak boleh ngasih tahu yang lain. Ini semua demi Karla. Kalau lo ngasih tahu, apa yang terjadi sama dia?” “Suka-suka gue!”balas Gly cuek. “Heh, gak bisa gitu dong. Lo harus paham keadaan Karla sekarang. Dia bisa dituduh yang engga-engga. Lo teman yang baik apa bukan sih?”tegas Pam lagi. Dia hendak marah tapi Karla keburu datang.  “Eh, pada kenapa ini?” “Kar, dia sudah tahu kalau rumah ini punya Nat. Terus dia katanya mau ngasih tahu sama yang lain.”ujar Pam panik. Paniknya udah kayak cewek. “Iya. Dia udah lama tahu kok. Gak usah panik gitu. Udah sana!”ucap Karla dengan santai. “Lo juga. Bikin orang panik aja.”omelnya pada Gly yang malah tertawa. Mereka bergegas pergi. Tapi Gly malah tertawa seakan menyindir Pam. Dia berhasil membohongi cowok itu. Pam merasa sangat kalah. Tapi dia gak bisa berbuat apa-apa. Dia diam dengan emosi yang memuncak. Dunia ini udah mau kiamat. Dia menarik nafas dan duduk di kasur. Nat gak mengindahkannya karena sangat sibuk. Pam melempar bantal dan berteriak. Barulah Nat melihatnya. Rupanya dia butuh perhatian. “Kenapa lagi sih?” “Nat, ada ya cewek kayak gitu?” “Cewek kayak apa?” “Gue dibohongi. Dan dengan bangga ngetawain gue. Cewek gak sopan!” “Jangan dipikirin Pam.” “Awas aja kalau gue ketemu cewek itu lagi. Gue bakal balas dendam!”ucapnya dalam hati. Dia masih bisa membayangkan senyuman licik cewek itu. Benar-benar sangat menyebalkan. Bisa bikin darah mendidih. Ya, saking kesalnya.  *** “Akhirnya kelar. Makasih ya Kar!” “See you tomorrow!” Selain tugas beres, mereka sudah pergi. Dua kelegaan dalam satu waktu. Karla segera bergegas. Rasanya ingin istirahat karena sudah terlalu lama menggunakan otak. Kepala sampai panas. Dia baru ingat punya tanggung jawab pada Nat dan Pam. “Tok! Tok! Tok!” Dia mengetuk pintu kamar Nat dan membukanya. Dia melihat Pam di kasur sedang bermain uno seorang diri. “Mas, teman-teman gue udah pergi.”ucapnya. “Yah, terserah aja.”balas Pam dengan datar. “Kok gitu sih, lo bukannya mau pulang?” “Gak jadi. Gue nginep.” “Ya udah.”balas Karla singkat. Dia hendak pergi tapi Nat langsung menyergapnya dengan pertanyaan lain. “Udah beres yang saya suruh minggu lalu?” “Hmm, apa ya?” “Tugas koding yang sangat sederhana itu loh.” “Argh, belum. Besok aja lah.” “Gak. saya ajarin hari ini. Saya tunggu di depan.”lanjutnya tanpa rasa iba. Emang dia pikir ngerjain tugas seharian gak capek? Kok maksa banget sih? “Ta-tapi…” “Saya tunggu di bawah ya.”ucapnya sambil berjalan meninggalkan tempat itu. Kepala sudah pusing, ditambah lagi harus ngebahas soal itu. Argh, sangat melelahkan. Karla memilih untuk mandi agar lebih segar. Butuh energi ekstra untuk belajar bersama Nat. Bukan cuma karena pelajarannya yang menyebalkan, tapi juga karena dia harus melihat Nat. Bisa-bisa dia gak fokus karena satu dan lain hal. Pikirannya semakin kemana-mana. Bagaimana tidak? Sepertinya, dia mulai menyimpan rasa sama Nat. Benarkah Nat sebenarnya tipe idealnya banget? Hanya sayang, dia berprofesi sebagai dosen. Profesi yang membuat Karla trauma. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Bagaimana jika hidupnya semakin kacau jika bersandar pada rasa ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN