~berlian~

1161 Kata
Ternyata benar kalau memperbanyak relasi sangat menguntungkan manusia. Entah bagaimana ini terjadi, apartemen itu akhirnya mendapat penyewa. Dan semua ini karena bantuan Pam.  Atas rekomendasinya, seseorang mau menyewa tempat itu. “Makasih ya mas. Lo benar-benar malaikat tak bersayap.” “No problem. Lagian, tempat itu emang bagus kok. Sayang aja kalau dibiarkan.” Beberapa hari yang lalu Gardin dan teman-temannya membersihkan tempat itu. Mereka merenovasinya dengan sukarela. Ya, hanya diberikan satu ayam goreng utuh yang lagi viral, mereka sudah senang. Anggap sebagai sogokan yang tidak terlalu memberatkan. Dan lihat hasilnya sekarang.  “Terus, gimana sama teman lo itu. Well, bukan teman. Mantan teman.” “Hmm, gak ada masalah. Semua beres.” “Nice. Kalau gitu, gue balik ya. Lo mau kuliah kan habis ini?” “Gak. Lo ikut gue.”ucap Karla seakan memaksa. “Kemana?” “Gue traktir makan.” “Gak. Gak usah.” “Entar gue merasa ditolak loh.” “Ah, baiklah baik.”balas Pam pasrah. Bukannya dibawa ke tempat makan, malah dibawa ke kampus.  “Kok kesini sih?” “Ini sudah jam enam lewat. Mending makan di kampus. Entar gue telat mas. Ga apa-apa kan?” Ya jelas. Udah terlanjur sampai. Gak mungkin juga maksain harus pergi ke tempat lain. Tidak apalah. Sekalian cuci mata. Siapa tahu ada cewek cantik yang tersembunyi disana. Ya, kampus kan cocok banget buat nyari pacar. Sambil menyelam minum air.  Karla memesan makanan paling enak versinya dia. Ya, ayam goreng mentega dengan sop tulang. Rasanya enak banget. Dan yang paling utama, harganya murah meriah. Cocok untuk kantong mahasiswa. “Nih, silakan dinikmati.” “Hmm, baik.”balas Pam sambil menikmatinya. Ternyata dia juga terpukau dengan rasanya. Dia menikmatinya sesuai dengan prediksi Karla. Potongan demi potongan terasa sangat nikmat. Bumbu yang terkandung pada makanan ini mampu memberikan kesan yang sulit dilupakan. Rasanya tidak akan ditemukan di tempat lain. “Woy Kar! Nitip tas!”ucap seseorang membuat Karla kaget. Tas itu langsung dilempar ke wajahnya. Karla kesal dan melempar tas itu ke samping Pam. Dia bete banget karena cewek itu memang kadang berbuat sesuka hati. Pam sibuk makan sampai tidak peduli.  “Eh, tas gue mana?”tanya Gly saat kembali dengan semangkuk ketoprak dengan dua telur sekaligus.  “Tuh!”ucap Karla sambil menunjuk ke depan.  “Oh. Nitip ya!”ucapnya pada cowok di depannya itu. Pam melihat ke arahnya. Dan dia langsung tersedak. Sebenarnya mereka sama-sama kaget, tapi Pam jauh lebih kaget. Apalagi dia punya kisah yang buruk dengan cewek jenis langka seperti Gly. Argh, kalau dibayangkan bikin merinding. “Minum mas! Ini.”ucap Karla secepat kilat. “Kayak liat hantu aja.”lanjutnya. “Ehm,,, kalau merasa terganggu gue nyari meja sendiri aja.”ucap Gly hendak pergi. “Bego banget. Udah, disini aja.”paksa Karla. “Lagian ya, kalian sudah saling kenal. Apa susahnya?” “Hmm, iya juga sih. Ya udah.”balas Gly tanpa peduli reaksi tidak nyaman yang ditunjukkan oleh Pam. Dia menikmati ketoprak itu dengan lahap. Udah kayak gak makan satu tahun. Pam cenderung diam dan tidak banyak bicara. Dia pasti kalah kalau bicara sama Pam. Dia berusaha untuk tenang sampai petaka  ini berakhir. Ya, sebentar lagi mereka akan berpisah. Jangan menambah masalah. Tetap tenang, semua akan baik-baik saja. “Eh, gue titip bentar ya.” “Mau kemana?”tanya Pam bingung. “Dipanggil Nat. Katanya mau nitip sesuatu.” “Oh yaudah.”balas Pam dengan sedikit rasa takut. Dia berusaha tenang agar tidak membuat masalah dengan perempuan gila itu. Tapi ketenangannya terusik juga. “Soal kemarin, maaf ya mas. Gue gak sengaja!” “Gak sengaja? Lo udah bohong dan bikin gue panik?”balas Pam dengan emosi yang meluap-luap. “Santai aja sih. Cuma bercanda!”ucap Gly sambil tertawa. Dia bahkan tidak merasa bersalah. Dasar cewek aneh. Pam berusaha untuk tidak peduli, tapi cewek itu kembali berulah. “Mas, gue duduk di samping lo ya.” “Eh, kenapa sih?” Tak lama, dua cowok itu langsung duduk di kursi kosong. Mereka terlihat seperti playboy cap kampak. Ya, cowok berpenampilan biasa dengan celana pendek. Mereka tak terlihat seperti mau kuliah. Ya, mungkin mereka anak reguler yang lagi gabut. Jadi sengaja datang ke kampus cuma sekedar cari hiburan. “Sesuai dugaan. Lo masih disini.” “Jangan ganggu gue lagi.” “Kenapa? Gue cuma pengen tahu, kenapa lo belum punya pacar sampai sekarang? Lo pasti masih mikirin gue kan? Lo itu jangan sok hebat. Padahal di masa lalu lo yang salah. Sekarang playing the victim. Benar kan bro?” “Iya. Mentang-mentang bisa semua jurus bro. Dia jadi songong waktu dapat medali pertama.” “Lo iri kan? Makanya, latihan yang benar.” “Iri? Iri kata lo?” “Iya. Iri tanda tak mampu. Dan lagi, gue udah punya pacar. Dia pacar gue.”ucap Gly sambil merangkul tangan Pam. Pam langsung melihat dengan tatapan bingung. What the hell. Kebohongan itu berhasil membuatnya menelan ludah. “Iya kan, sayang?”ucapnya dengan suara merayu. Suara yang mendayu seakan ucapannya barusan adalah kebenaran. Tapi, itu bulshit bro! Rasanya Pam ingin mengungkapkan semua itu di depan cowok-cowok itu. Sayangnya, cowok itu juga tak terlihat baik. Mereka bisa mempermalukan Gly jika tahu cewek itu berbohong.  Mereka itu cowok-cowok yang gak mau menghargai wanita. Lelaki kardus yang doyan mencari kesenangan sendiri. “Iya. Kalian siapa?” “Hahaha. Dia gak tahu kita siapa? Lo gak pernah cerita? Atau lo baru pacaran sama dia?” “Buat apa dia cerita soal kalian ke saya? Kalian cuma bocah gak penting.” “Hah, lo berani sama gue?” “Kalian semester berapa? Kenapa berani sekali pada orang yang lebih tua? Tutur kata kalian juga tidak mencerminkan seorang mahasiswa. Saya kenal beberapa dosen disini. Natio Harefa, Laksmi Andari dan Pak Trisno. Kalian kenal mereka?” Seketika mereka bertiga terdiam. Bahkan Gly ikut diam. Dia sudah bermain-main dengan orang yang punya banyak kenalan. Dan bahkan diantaranya dosen yang mengajar di kelas ekstensi.  “Ah, ma-maaf mas.”ucap mereka bergantian. “Attitude itu yang paling penting bagi seorang mahasiswa. Kalian jangan asal bicara. Nanti kampus juga tercoreng gara-gara kalian. Padahal kalian masuk ke tempat ini dengan perjuangan. Kalian harus ingat, orang tua kalian……” Pam bicara bak seorang dosen. Topik pembicaraannya gak lepas dari arahan dan bimbingan. Persis kayak guru BK. Dia mengakhirinya saat Karla kembali.  “Begitu saja. Kalian bisa pergi.” “Baik, mas!” “Eh, ini pada kenapa?” “Gak apa-apa. Gue balik ya. Ini udah makin malam.” “Okey mas.” Gly terdiam dalam keheningan. Dia gak nyangka ternyata Pam cowok yang cukup ajaib. Padahal dia sudah berlaku sembarangan sama cowok itu. Bahkan membuatnya merasa tidak nyaman dengan perkataannya sendiri. Gly menyesal sudah melakukan hal buruk sama cowok itu. Dia pikir, Pam cuma sekedar pembantu atau penjaga taman di rumah Nat. Ternyata dia salah satu dari kumpulan berlian. Dan Gly menjadi lumpur yang menyusahkan berlian itu. Dia sangat menyesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN