~rumah~

1102 Kata
Ini jadi reuni pertama sejak mereka lulus dari diploma. Semua udah sibuk sih, jadi cukup sulit menemukan waktu yang tepat untuk bertemu. Banyak yang berubah tapi banyak yang masih sama seperti dua tahun lalu.  “Jadi gue ketemu sama dia dari Tinder. Lo pasti gak percaya, gue nikah sama cowok antah berantah. Tapi gue beruntung sih, ternyata dia orang yang baik.” “Terus, kok lo bisa yakin sama dia?” “Ternyata, adiknya dia sekelas sama gue. Dan rumahnya gak jauh dari rumah gue. Jelas banget ini jadi sinyal yang tepat. Itu jadi pertimbangan gue banget sih.” “Emang sih, aplikasi dating itu worth it banget tahu. Sudah berapa orang teman gue yang berhasil nikah.” “Ayo yang jomblo. Ini kesempatan baik.” Mereka tertawa dengan berbagi pengalaman masing-masing. Dan Karla bersebelahan dengan Jejo. No one knows kalau mereka lagi jadi musuh. Dan untuk menghindari gosip, mereka pura-pura dekat kayak dulu. Keduanya saling menyimpan rahasia. So, gak ada yang berani bertingkah. “Terus, lo gimana sekarang Kar?” “Yah, sibuk kuliah aja sih. Begitulah, repot dan capek.” “Lo keren sih. Masih semangat buat kuliah lagi. Gak kayak gue, udah keburu malas.” Acara reuni itu seperti acara biasa. Sibuk ngobrol, makan dan tertawa. Bagian paling seru adalah ngomongin gosip terbaru yang lagi panas. Itu bisa menaikkan mood semua orang. Siapa sih yang gak suka bergosip? Mungkin ada, tapi jumlahnya tidak banyak. “Jadi lo berdua masih tinggal bareng?” “Iya, masih.”ucap Jejo secepat kilat. Karla melirik ke arahnya. Dia pasti gak mau kalau sifat aslinya keluar. Kenyataan bahwa dia jadi simpanan om-om. Argh, mengingatnya saja bikin Karla merasa miris. “Hebat ya persahabatan kalian.” Uek! Bikin mau muntah. Dulu sih iya, sekarang ogah banget. Waktu terus berjalan hingga mereka terpaksa harus pulang. Ya, waktu terasa sangat cepat berlalu. Karla menunggu di depan resto. Dia memesan transportasi online. Ini sudah terlalu malam dan berbahaya jika naik kendaraan umum. Dia melihat Jejo berdiri di sampingnya. Dia bersikap cuek sambil menguncir rambutnya. Ketika mencari kunciran, terjatuh bungkusan rokok. Dengan buru-buru dia memasukkannya ke dalam tas. “Oh, ternyata lo udah merokok sekarang?” “Begitulah. Hidup harus banyak peningkatan.” “Itu bukan peningkatan. Lo mau hancurin badan lo sendiri?” “Hahaha, lo masih percaya mitos itu?” “Itu bukan mitos. Lagian ya, ada ribuan merk permen yang bisa lo coba. Kenapa harus rokok?” “Terserah lo mau ngejudge gue kayak apa.” “Lo pikir gue kayak lo? Gue cuma mau bilang, hiduplah yang benar. Entar lo bisa kena akibatnya.”ucap Karla sambil melambaikan tangan kepada driver yang hampir melintas. “Udah ya, gue duluan!”lanjutnya dengan segera bergegas naik ke mobil itu. Meski dia membenci Jejo, dia juga ingat bagaimana mereka menikmati hari bersama. Anggaplah saran yang barusan dia berikan sebagai rasa iba dari sesama manusia. *** Setelah menaruh sepatu di dalam rak, Karla berjalan lambat agar tak mengganggu siapapun. Dia hendak naik tangga, tapi matanya tertuju pada Nat yang sedang duduk dengan kepala tertunduk. Dia memegang kepalanya seakan sedang berpikir keras. Apakah dia ada masalah? Karla berdehem untuk memberikan sinyal kehadiran. Dia berjalan mendekat dan duduk di depan Nat. Cowok itu malah tersenyum. Bikin salting aja sih. Udah gitu, senyumnya adem banget.  “Kenapa? Ada yang gak beres?” “Hmm, gak ada kok.” “Bohong banget. Kasih tahu aja sih.”desak Karla. Ternyata masalah itu bersumber dari Gardin. Dia selalu jadi sumber masalah. Pake acara minta pergi liburan lagi. Tak lama lagi, mereka akan libur sekolah. Otomatis ada satu bulan waktu bebas. Dia ingin melakukan sesuatu yang menarik.  “Ya udah, biarin aja.” “Kamu kira gampang jadi saya? Kalau dia kenapa-napa gimana?” “Lagian ya, dia cuma mau pergi liburan bareng Vino. Dan perginya juga ke Bali. Dekat banget Nat.” “Tapi saya benar-benar khawatir.” “Santai aja. Aku kenal Vino kok. Dia anak yang baik.”ucap Karla berusaha menyakinkan. Ya, baik dalam arti yang lain. Kalau Nat sampai tahu kalau Vino preman pentolan sekolah, dia akan menolak mentah-mentah. Jadi coba berikan fakta lain dibalik seorang Vino. “Kok kamu bisa kenal?” “Ketemu waktu rapat guru itu loh. Terus, dia…”Karla coba berpikir memutar balikkan fakta. “Dia dekat banget sama Gardin. Mereka udah kayak sohib. Pokoknya positive vibes gitulah.” “Oh ya? Terus, dia rajin belajar juga kan?” “Hm,, tentu saja. Jadi, gak usah khawatir.” Nat itu udah kayak bapak yang ngurusin anaknya. Dia tahu banget kalau Gardin udah dewasa, tapi tetap aja bikin dia khawatir. Dia merasa kalau Gardin masih anak kecil. Begitulah pemikiran seorang bapak terhadap anaknya. Meski waktu berlalu, anak itu tetaplah anak kecil buatnya. “Kalau kamu izinkan, mungkin kalian bisa jadi lebih dekat. Kan bagus tuh, sambil menyelam minum air.” Nat terlihat berpikir. Emang sih, terkadang memenuhi keinginan seseorang bisa membuat orang tersebut luluh.  “Hmm, baiklah.” “Nah, gitu dong.”balas Karla antusias. Tapi kemudian dia ingat sesuatu. Kalau Gardin gak di rumah, dia tinggal berdua sama Nat. Oh My God, kenapa dia melewatkan hal ini? Tinggal berdua sama cowok itu bukannya bikin persepsi yang negatif? Gimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?  Mereka punya masa lalu yang ambigu. Mulai dari dating online hingga ketemu secara tiba-tiba. Dan berujung tinggal berdua selama satu bulan. Gimana kalau dia mengambil kesempatan dalam kesempitan? “Oh ya, lusa saya mau bikin kuis dadakan. Kamu belajar dari sekarang.” “Ih, kenapa kuis lagi sih? Cepat banget.” “Biar skill kalian teruji. Lagian, biar ada tambahan nilai. Kamu mau dapat nilai C?” “Ah, iya pak.” Karla bergegas ke kamar dengan muka bete. Kuis sampah! Setiap hari harus mikir ini itu. Kapan bisa istirahat? Kerjaan di kantor jadi beban, ditambah lagi dia harus belajar untuk kuis. Benar-benar hidup yang suram. Tak ada warna lain selain hitam dan putih. Bikin muak saja. Dia membuka laptop dan merebahkan diri di kasur. Dia mulai memahami isi slide yang bikin mumet. Lelah membuat tubuhnya tak bisa dikontrol. Ngantuk menyerang dan dia terlelap dalam tidur. Semakin hari hidupnya memang semakin melelahkan. Tapi entah mengapa, ketika sampai di rumah ini, semua berubah jadi ketenangan. Rumah ini sudah seperti pelabuhan terakhir yang tak akan membuatnya kuatir dan awas terhadap apapun. Kenapa rasanya seperti kampung halaman? Seharusnya rumah memang begini. Tempat yang terbaik dibanding semua tempat yang ada di bumi ini. Tempat yang selalu ada di segala kondisi. Ketika melangkah di tempat itu, hati akan terasa damai. Dunia menjadi seperti surga. Meski tak semua dapat merasakannya, Karla merasakan hal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN