Apakah benar kebetulan itu ada? Atau kah semua kebetulan itu adalah takdir yang sederhana? Tidak ada yang dapat memahaminya sampai kau merasakannya sendiri. Gly harus kena apes saat melewati Jalan Juanda yang terkenal dengan polisi rese. Ya emang sih, dia gak pake helm. Dia memang melanggar peraturan. Biasanya masalahnya kelar hanya dengan uang. Tapi kali ini, Gly kehilangan dompetnya. Dia hendak mengejar pencopet itu, tapi keburu ditangkap polisi karena gak pakai helm.
“Tapi pak, tas saya baru aja dicopet. Saya janji akan kesini kalau tas saya udah ketemu.”pinta Gly dengan penuh permohonan.
“Jangan banyak alasan kamu. Yang melanggar aturan bukan cuma kamu.”
“Saya serius pak. Astaga!”
Gly heran banget. Dia lagi terancam begini malah dituduh yang engga-engga. “Tas saya entar hilang beneran pak.”
“Kamu dari mana?”
“Baru balik dari kampus.”
“Kamu seorang mahasiswi? Kok kelihatannya engga.”
Ini namanya mengulur waktu. Gly kesal menjawab pertanyaan yang tidak jelas itu. Rasanya pengen nabok. Ia memperhatikan sekitar dan tak sengaja melihat Pamungkas sedang menikmati semangkuk mie ayam. Dengan sigap, Gly meminta tolong pada cowok itu. Dia menarik Pam untuk bicara dengan polisi.
“Dia teman saya pak. Bapak bisa nanya sama dia.”
Pam bingung dong. Bisa-bisanya dia dipaksa ikut campur masalah itu. Polisi menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Dan karena Pam, polisi percaya kalau Gly beneran mahasiswi. Gly memang berpenampilan urakan. Gak pantas disebut sebagai mahasiswi.
“Tolongin dong mas. Anterin saya.”
“Hah? Anterin gimana?”
“Anterin saya ngejar pencopet itu. Dia barusan udah pergi ke utara.”
“Relakan aja. Toh kamu gak mungkin tahu dimana dia sekarang. Udah terlalu jauh.”
“Gue pake GPS mas. Lo tinggal kasih bantuan mobil aja. Please!”ujar Gly dengan ekspresi memohon. Dia tidak tahu lagi solusi untuk hal ini. Di dalam tas itu, semua dokumen penting tersimpan. Ditambah lagi kartu-kartu lain yang sangat berbahaya jika hilang. Uangnya sih cuma lima puluh ribu. Itu orang juga bakal menyesal kalau tahu uangnya cuma sedikit.
“Argh, apa gunanya gue bantuin. Lo juga udah banyak salah sama gue. Apalagi kalau diingat-ingat, waktu di rumahnya Nat….”
“Gue janji bakal lakuin apapun untuk menebus kesalahan gue. Tapi please, anterin gue buat balikin tas gue.”
Gly benar-benar pasrah. Dia bisa memahami perasaan Pam. Gimana gak kesal kalau dikerjain kayak kemarin-kemarin. Ditambah lagi, Gly tahu kalau dia temannya Nat. Sudahlah rasa enggan itu semakin menjadi.
“Lo janji?”
“Janji!”
Mobil melaju kencang melewati kemacetan. Gly mengarahkan jalan yang paling cepat. Dia udah kenal semua jalan di kota ini. Ya, dia memang perempuan yang tingkahnya kayak cowok. Dia gak tomboy, tapi jalan pikirannya kayak cowok.
“Cepetan mas. Gue takut dia bergerak. Dia lagi stay di warung indomie.”
“Iya-iya.”
Setelah lika liku jalan yang cukup panjang, mereka tiba di tempat itu. Gly hafal betul plat nomor motor pencopet itu. Dia mendatanginya dengan wajah sangar.
“Balikin tas gue!”ucapnya tegas. Si pelaku kayaknya syok banget. Dia sampai jatuh dan gemetar. Bahkan Gly menarik kerahnya dengan ancaman yang tidak main-main.
“Gara-gara lo, motor gue ditahan di kantor polisi. Sekarang lo harus ke kantor polisi!”
“Saya mohon! Saya khilaf. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi. Kali ini saja, lepaskan saya.”ucapnya dengan penuh pinta. Gly jadi gak enak hati. Dia diam dan dilihat oleh semua orang yang ada disana.
Dunia ini memang penuh dengan belas kasihan. Hukum saja bisa timpang, apalagi rasa kasihan. Ketika seseorang berbuat salah, maaf bisa saja diberikan. Dan maaf itu bisa diapresiasi atau disia-siakan. Manusia dan dunia ini terlalu random dan unik. Tak ada yang bisa memprediksi bagaimana reaksi seseorang terhadap sesuatu.
Mobil melaju ke kantor polisi. Bagaimanapun juga masalah di kantor polisi belum kelar. Gly merenung sepanjang perjalanan. Bukannya lega, dia malah iba dengan keadaan pencopet itu. Kenapa seseorang bersalah? Karena dia punya alasan. Terkadang alasan itu bisa diterima dengan akal sehat.
“Lo kenapa?”
“Argh, gak apa-apa.”
“Tapi lo hebat juga ya. Belajar bela diri itu susah loh.”
“Udah dari kecil gue belajar. Gimana gak pro? Makanya, jangan macam-macam kalau gak mau kena tabok.”
“Eits, lo yang macam-macam sama gue.”
“Haha, iya juga sih.”balas Gly sambil tertawa. Ternyata cewek itu baik juga. Itulah yang ada di pikiran Pam. Cowok manly yang punya standar tinggi terhadap wanita. Bahkan kalau lagi search orang di Tinder, dia mencari yang paling sesuai dengan kriterianya. Punya pendidikan tinggi, pekerjaan bagus, penampilan rapi dan wangi. Duh, udah kayak rekrutmen employee ya. Tapi begitulah Pamungkas menetapkan standarnya.
Mereka sampai di kantor polisi dan memberikan keterangan. Gly pasrah dibebankan denda yang tidak terlalu besar. Baiklah, dia bisa menerima hal itu. Dia memang melanggar peraturan dengan tidak mengenakan helm.
“Terima kasih pak!”ucap Gly dengan penuh hormat.
“Makasih ya mas, atas tumpangannya.”
“Ya, sama-sama.”
“Eh, soal janji itu. Lo mau apa?”
“Lain kali aja. Lagian ini udah malam.”
“Ah, baiklah.”
“Oh ya, nomor handphone lo berapa? Gue takut lo kabur karena gak mau menuhin janji.”
“Ish, emangnya gue pencopet?”balas Gly kesal. Dia menuliskan nomor nya di handphone Pam. Dia langsung pergi setelah itu.
Bagi Pamungkas, cewek itu jadi menarik. Semua yang dia lakukan hari ini membuat Pam jadi ingin tahu. Perempuan seperti apa dia? Dia bukan cewek biasa yang suka dijadikan permaisuri. Dia perempuan yang suka berjuang dan berperang. Unik dan berbeda.
Dalam perjalanan, dia mendapat telepon dari Nat. Tumben sekali makhluk yang satu itu nelpon. Dia paling cuek di antara ribuan manusia di muka bumi ini. Di dalam sejarahnya, dia cuma nelpon kalau lagi ada urusan yang krusial banget.
“Hallo..”
“Pam, aku butuh pendapat.”
Tuh kan. Dia kalau nelpon pasti ada maunya. Dia bukan tipe sahabat yang nelpon karena kangen. Atau alasan sejenisnya. Tapi sudahlah, tidak ada yang salah dengan hal itu. Yang paling utama adalah saling pengertian.
“Give me a case!”
“Gardin mau liburan sama teman-temannya ke Bali. Dan yang pasti, aku gak ikut. Mereka mau disana satu bulan. Mereka nginep di hotelnya Tante Bianca.”
“So, what's the problem?”
“Kata Karla, biarin aja. Kalau menurutmu?”
Di masa lalu, pernah ada kejadian buruk. Kejadian yang hampir menghilangkan nyawa. Dan Gardin menjadi bagian dari kejadian itu. Kenapa Nat begitu posesif? Dia tak ingin kejadian itu terulang lagi. Dia masih trauma meski Gardin tidak mengetahui hal itu. Dia cuma tahu sekolah dan hidup sesuka hati.
“Biarin ajalah Nat. Mereka nginepnya di hotel juga. Kamu bisa pantau dari rumah.”
“Iya sih. Ya udah. Terima kasih untuk pendapatnya.”
“Tunggu dulu Nat. Kenal sama temannya Karla yang namanya Gly kan?”
“Hmm, kenal. Dia mahasiswi paling berisik di kelas. Kerjaannya tertawa terus padahal gak ada lawakan. Kenapa?”
“Gak apa-apa. Cuma nanya.”
“Oh, ya udah.”
Panggilan dimatikan. Nat emang gak pernah peka dengan hal seperti ini. Padahal Pamungkas ingin curhat. Tapi dia keburu gak peduli.