Sudah hampir lima jam dia duduk di depan laptop. Kertas-kertas berserakan di lantai menambah suasana crowded di kamar itu. Dia memukul kepalanya dengan genggaman tangan agar bisa bekerja dengan baik. Terkadang otak harus dipaksa agar mau bekerja dengan baik.
Jus jeruk di gelasnya sudah habis setengah. Dan cheese cake yang ia beli tadi siang sudah ludes habis. Terkadang, rasa lapar itu cepat menghilang kalau lagi stress. Jadi cuma butuh yang manis-manis untuk meningkatkan mood. Kalau abis, tinggal beli cemilan yang lain. Dan itu cukup banget untuk mengganjal perut.
“Tugas sampah!”keluhnya karena tidak ada perkembangan. “Kalau gini terus, pecah kepala ini.’ucapnya bergumam. Dia mengangkat kepala menengadah. Kapan ya tugas kelar kalau gak dikerjain?
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Terlihat Gardin datang dengan paper bag starbucks. Dia menaruhnya di atas meja. Membuka isinya yang adalah star chocolate cake dan caramel macchiato.
“Lah, kenapa nih?”
“Buat lo.”
“Wah, curiga gue. Ini udah lo kasih racun ya?”
“Makasih karena udah menyakinkan Nat biar gue bisa liburan.”
Karla tertawa. Ternyata kebaikan yang sederhana itu diapresiasi dengan begitu baik. Dia gak pernah minta buat dikasih gift atau say thanks. Dia menerima sogokan itu sambil menikmatinya dengan lahap.
“Sama-sama. Lain kali, lo yang bantuin gue.”
“Iya, bawel!”
“Oh ya kak. Kemarin Kak Pamungkas nanyain teman lo itu. Yang pernah ke kantor polisi sama lo.”
Karla berusaha mengingat kejadian tidak mengenakkan itu. Kalau diingat-ingat, peristiwa itu sangat menyebalkan. Ditambah lagi, Gardin dan Nat sama-sama tidak enak hati waktu itu. Dan nama yang terlintas di pikirannya adalah Gly.
“Gly?”
“Ah, iya. Kak Gly.”
“Hmm, kenapa lagi ya mereka. Padahal di pertemuan terakhir udah gak ada masalah.”
“Maybe, dia jadi saingannya Vino.”
“Why Vino?”
“Katanya Vino ngefans sama Kak Gly.”
“Wah, tapi kayaknya Mas Pam bukannya suka. Dia malah benci banget sama Gly.”
“Oh iya?”
“Iya, Gar. Terakhir mereka berantem karena hal gak penting.”
Mereka ngobrol sebentar sebelum Gardin kembali ke kamarnya. Katanya dia mau beres-beres untuk liburan dua hari lagi. Dia udah gak sabar. Ditambah lagi, ini kali pertama dia liburan without Nat. Dia adalah kakak yang posesif dan menyebalkan. Karla tidak mau memikirkan hal itu. Dia kembali fokus pada tujuannya. Ngeberesin tugas yang deadline-nya sudah di depan mata. Kalau gak diberesin sekarang, bisa bahaya di masa depan.
Setelah berkutat cukup lama, dia menyerah. Rasanya ingin menangis. Dia menelefon Gly. Ya, sebagai orang yang tahu banyak rahasianya, Karla gak segan-segan lagi sama cewek itu.
“Kenapa Kar?”
“Lo udah beres masalah case itu?”
“Hampir. Gue minta bantuan kakak kelas.”
“What? Kenapa gak ngajak sih?”
“Kita punya case yang berbeda Kar. And again, lo punya Sugarboo di sana. I think, gak ada problem lah.”
“Najis. Sugarboo apaan?”
“Cowok yang bisa lo ajak bersenang-senang. Dia tampan, pintar dan punya segalanya. Tidak ada yang tidak sempurna di dalam dirinya.”
“Gak jelas lo. Please, kasih gue kontak kakak kelas itu. Gue mau minta saran.”
“No. Udah cukup gue nyusahin dia. Lagian Kar, lo tinggal tanya sama Pak Nat. Dia tuh pintar.”
“Ide yang bagus, tapi…”
“Udah ya Kar. Gue dipanggil my mom. Bye!”
Rasa ingin ngebanting handphone meningkat tajam. Tapi memang berani? Bukankah itu sama saja dengan membuang uang? Hey, uang itu segalanya. Tapi ya, ide Gly tidak terlalu buruk. Nat punya potensi di bidang apapun. Termasuk mata kuliah yang tak pernah ia ajarkan. Dan menurut gosip yang beredar, dia lulus kuliah dengan nilai cumlaude. Impresif.
Dia coba lagi untuk kesekian kalinya. Tapi otak itu sudah jenuh. Dibanding berusaha, lebih baik menyerah. Karla bergegas merapikan catatannya. Dia segera keluar kamar untuk mencari bantuan. Dengan pertimbangan ribuan kali, dia mengetuk pintu dan membukanya. Seperti dugaan, Nat lagi di meja kerja sambil menatap layar laptop.
“Kenapa?”
“Pak, boleh minta tolong?”
“Apa?”
“Ngerjain tugas.”
“Hmm, boleh. Tapi kerjainnya jangan disini ya. Saya pengen banget nyoba kafe yang ada di seberang. Kamu siap-siap biar kita langsung pergi.”
“Ah, baik pak.”balas Karla secepat kilat. Udah bisa dipastikan, kalau Nat ikut andil, tugas itu akan selesai dengan mudah. Benar kata Gly. Terkadang masalah yang besar bisa jadi mudah jika dituntaskan oleh dua kepala. Jadi jangan pernah malu untuk bertanya. Agar tidak ada kata tersesat.
Anehnya, saat tiba di sana, Nat memesan banyak sekali makanan. Dia melakukan itu tanpa bicara dulu sama Karla. Dan setelah makanan itu disajikan, dia menyuruh Karla makan. Dia ngasih tahu semua kegiatan itu sama Gly. Dan Gly bilang, mungkin itu reward untuk Nat. Ya, sebagai balasan karena dia bakal ngajarin Karla nyelesaiin semua tugas itu. Semua hal tidak ada yang gratis. Jadi, harus ada yang dikorbankan. Mungkin ini salah satunya.
“Pak, kita kesini buat belajar kan? Kenapa jadi makan?”
“Saya lapar. Lagi gak mood makan di rumah.”
“Oh,,,”
“Habis ini kita ke mana?”
“Hah?”
“Mau ke mall atau ke hotel?”
“Hah?”
“Saya bercanda.”
Abis ngomong gitu, dia gak ketawa sedikitpun. Gila. Bercandaan macam apa ini? Apakah orang datar punya candaan yang engga banget? Arah, bikin merinding aja sih.
“Beneran bercanda kok. Cepat abisin makanannya biar saya bantu kamu solve the problem.”
Karla mengangguk mantap. Dengan segera dia menikmati makanan yang dihidangkan. As expected, Nat ngajarin dengan detail banget. Oleh karena ini bukan kodingan, Karla bisa ngerti setiap apa yang disampaikan Nat. Ajaib. Masalah ruwet itu berubah menjadi masalah yang amat sederhana. Kok bisa ya?
“Nah, sekarang kamu tinggal ambil kesimpulan?”
“Ah, iya. Benar pak.”Balas Karla sambil terus mencatat poin penting dari pembasan hari ini. And well, gak perlu menunggu lama. Masalah selesai dengan sempurna. Dia langsung submit tugasnya dan beres. Dunia ini memang terkesan tidak adil untuk orang yang punya kapasitas otak di bawah rata-rata. Beruntung banget orang yang terlahir jenis. Mereka bisa solve everything tanpa masalah yang besar.
“Gila, gimana otak bapak bekerja ya? Kok bisa jadi kelar?”
“Sama saja. Tergantung niat.”ucap Nat mematahkan hati Karla. Orang pintar emang cenderung sombong. Sombong adalah bagian paling menyebalkan dari mereka.
“Kalau gini ceritanya, kita bisa pulang sekarang! Aku udah ngantuk banget pengen tidur.”
“Sebenarnya, saya juga butuh bantuan kamu.”ungkap Nat seperti hal genting di film horor. Dia mulai cerita kalau beberapa hari yang lalu, alumni angkatannya mengabarkan akan mengadakan reunian. Nat benci acara itu, tapi sudah sejuta kali dia menolaknya. Sekarang, dia tidak punya alasan lagi. Beberapa dari mereka mengancam akan datang ke rumah jika Nat tak datang ke acara itu.
“Terus?”
“Saya benci ditanyai kapan nikah. Saya benci dijadikan bahan gosip yang tidak berdasar. Oleh karena itu, kamu bantu saya biar pura-pura jadi pacar saya.”
“Hmm, tidak masalah.”
Mata Nat terbelalak. Karla bicara seakan hal ini not a big deal. Aslinya, ini adalah perkara yang cukup pelik. Teman-teman Nat berasal dari beragam latar belakang. Mereka punya kemampuan yang luar biasa dalam public speaking. Takutnya, Karla malah mengumbar soal kenyataan yang mereka hadapi.
“Mereka bukan sembarang orang Kar. Kau bisa mati kutu di depan mereka.”
“Terus maunya gimana? Aku udah capek nih. Terserah aja mau bagaimana.”desak Karla dengan muka kusut. Kepalanya masih aja disuruh mikir. Ini sudah semakin malam, dan sudah saatnya untuk beristirahat.