Hari sudah tiba. Hari pertama di rumah ini cuma ada Karla dan Nat. Bagaimana ini bisa terjadi? Dan tentu saja, detik-detik yang berlalu, dihabiskan Nat dengan kepanikan akan keadaan Gardin. Beda dengan Karla yang panik bagaimana mereka melewati hari-hari tanpa Gardin. Ini akan jadi momen paling canggung sedunia.
Karla sibuk membaca jurnal di handphonenya. Guna meningkatkan kemampuan, penting banget nyari informasi dari sumber-sumber valid. Jangan hanya mengandalkan Wikipedia yang bisa diedit sesuka hati. Semakin valid informasi yang diperoleh, semakin percaya diri untuk berdebat tentang suatu kasus.
“Sekarang udah di mana? Oh, ya udah, jangan sampai telat ya. Kalau ada apa-apa bilang. Terus, kamu juga bisa tanya Tante Bianca. Iya, hati-hati.”
Ini sudah kelima kalinya Nat menelefon Gardin. Well, dia emang sudah gila. Masih baru berpisah dengan Nat udah kalang kabut kayak orang gila. Karla sampai mendesah kesal. Dia lagi di meja belajar biar bisa konsentrasi. Tapi Nat bikin konsentrasinya buyar.
“Bisa diam gak sih? Aku jadi gak bisa fokus.”tegas Karla dengan wajah kesal. Nat menyadarinya dan duduk di depan Karla. Dia duduk dan menghela nafas. Dia sedih dan bingung harus bagaimana. Seperti perasaan kosong yang tidak jelas arahnya. Bukannya konsentrasi, Karla jadi makin gundah. Berasa dilihatin sama Nat. Gimana mau fokus?
“Bisa pindah tempat duduk aja?”
“Ah, iya.”Balas Nat dengan ekspresi melongo. Karla jadi kasihan. Walau dia menyebalkan, tapi tetap aja bikin khawatir. Padahal Karla bukan siapa-siapa. Dengan berat hati, Karla membuka kulkas dan mencari sesuatu yang bisa dinikmati. Matanya tertuju pada freezer yang berisi ice cream. Beruntung, stok ice cream-nya masih utuh. Dia mengambilnya dan membawanya kepada Nat.
“Dinginkan kepala dulu deh. Daripada mikir yang engga-engga.”
“Kamu tahu saya lagi panik?”
“Hantu pun tahu. Muka lemes gitu.”
“Saya masih gak percaya membiarkan Gardin pergi sendiri.”
“Dia udah dewasa, Nat. Dia juga perlu kebebasan.”
“Kamu gak tahu kenapa saya begini.”
“Ya, dari mana aku tahu?”
Nat berpikir sejenak. Dia belum pernah menceritakan hal ini kepada Karla. Satu-satunya orang luar yang tahu soal masa lalunya adalah Pamungkas. Seketika Nat berusaha untuk yakin. Karla bukan sembarang orang kan? Dia seseorang yang spesial di rumah ini.
“A long time ago, kami mengalami kecelakaan. Dan itu jadi tonggak masalah di rumah ini. Aku takut jika itu terjadi lagi pada Gardin. Ya, anggaplah ini sebuah trauma.”aku Nat jujur.
“Sorry ya. Aku malah bikin ingatan itu datang lagi.”
“It’s OK. I think, semua orang punya kisah buruk dalam hidupnya.”
Tak ada manusia yang luput dari kisah sedih. Sebagai mana bahagia itu ada, sedih juga cukup mendominasi dalam hidup manusia. Tak peduli kasta siapa yang paling tinggi, tapi luka itu beneran nyata.
“Oh ya, kayaknya kita harus bagi tugas lagi for a month. Sampai Gardin balik. Aku bakal bikin daftarnya.”
Nat mengangguk setuju. Karla bergegas ke meja belajar. Dia harus membaca beberapa lembar lagi hal penting yang mungkin akan masuk dalam ujian. Waktunya semakin terbuang dengan bicara pada Nat. Tapi itu terasa lebih menenangkan ketimbang melihat Nat kalang kabut sendirian.
Semakin lama, semakin lelah mata itu bekerja. Karla memijit-mikir dahinya. Berharap energinya bisa kembali lagi. Namun, itu saja tidak cukup. Dia mengambil segelas air dingin untuk melegakan dahaga yang menyiksa. Tiba-tiba terdengar sebuah motor terparkir di depan rumah. Saat Karla hendak melirik, Nat datang dengan buru-buru.
“Ah, itu Gofood. Aku sengaja mesan makanan.”Ucapnya dengan wajah sumringah. Tak lama, dia kembali dengan plastik besar yang berisi makanan.
“Ayo makan, kamu pasti udah lapar kan?”
“I-iya sih.”
“Belajarnya nanti aja. Ini udah jam makan malam.”
Karla menyanggupi sambil menyiapkan piring dan gelas. Nat membeli pecel ayam, sate, tahu dan tempe. Dan porsinya cukup banyak untuk makan berdua. Dia memang cukup royal sebagai manusia. Tipe orang yang lebih baik lebih daripada kurang. Jadi nih ya, kalau lagi ada acara syukuran, dia bakal masak banyak banget makanan. Kalau habis, dia sedikit kecewa. Tapi kalau masih sisa, dia akan senang. Kok bisa ya ada orang yang seperti itu?
“Tadi Gardin Nelson aku. Katanya udah sampai.”
“Oh, jadi gara-gara itu jadi senang banget?”
“Ya. Tapi bukan itu alasan utamanya.”
“Terus apa?”
“Rahasia.”
Karla mencibir di belakangnya. Dia paling benci sama orang yang cerita tapi ujung-ujungnya bilang kalau itu rahasia. Niat ngasih tahu gak sih?
Sesuai dugaan, keduanya makan dengan lahap. Kalau udah bekerja keras, makannya pasti lahap. Itu udah kayak sesuatu yang pasti dalam hidup manusia normal.
“Aku kira, kamu gak suka makan beginian.”
“What? Jangan berlebihan.”
“Terlahir kaya kan bikin kesenjangan dalam hidup manusia. Terutama pada orang biasa kayak aku. Terutama dalam hal makanan. Orang biasa tak akan ragu makan di pinggir jalan. Sebaliknya, orang kaya tak akan ragu makan di hotel bintang lima.”
“Ya, itu benar. Tapi kan, selalu ada yang unik dari sebuah perkumpulan yang identik? Makanya kita terlahir unik dan punya primary ke.”
“Stop ngaitin sama pelajaran.”
‘
“OK, sorry.”balas Nat sambil tertawa. Bahkan dalam hidup sehari-hari, harus ada perbincangan soal pemroragam. Sangat tidak asyik.
Setelah makan malam usai, mereka berberes. Sudah jadi kebiasaan. Piring harus dicuci bersih biar pagi disambut dengan tawa. Jangan ada kegaduhan di dapur kecuali untuk kondisi tertentu. Ya, peraturan itu dibuat untuk dipatuhi. Dan selama ini, tak ada yang berani melanggarnya. Bahkan Gardin sekalipun. Dia sangat patuh.
Tiba-tiba, pintu diketuk dengan begitu keras. Suara yang bikin Karla melonjak kaget. What’s going on? Apakah ada pencuri? atau pembunuh berantai? Oh My God. Baru sehari ditinggal Gardin, mereka harus mengalami hal ini. Apakah Gardin memang jimat keberuntungan untuk rumah ini? Semoga saja tidak.
“Tenang! Kamu tunggu disini.”ucap Nat berusaha membuat Karla tidak panik.
“Pak, mau kesana?”
“Iya. Kan ada tamu.”
“Tapi, kalau ada orang jahat?”
“Kamu tolong saya kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Kamu disini aja.”lanjut Nat dengan penuh keyakinan. Dia berjalan perlahan dan melirik dari jendela. Seperti sosok perempuan berambut panjang. Dia membuka pintu dengan wajah panik. Laki-laki memang cenderung begitu. Ketika mereka takut, mereka akan menyembunyikannya. Ya, bertingkah seolah mereka paling gentleman di dunia ini. Dan saat pintu terbuka, matanya menyipit. Dahinya mengkerut karena cukup kaget.
“Malam pak.”ucap Gly dengan wajah lesu.
“Kamu ngapain kesini jam segini?”
“Gly? Lo ngapain?”
“AH, KARLAAA!!!”teriaknya disusul tangisan yang menjadi. Dia memeluk Karla kayak gak ketemu bertahun-tahun. WELCOME TO DRAMA SHOW!!
Karla mengajaknya duduk di sofa. Sedang Nat berusaha menenangkan diri dari ketakutan yang barusan menghantuinya. Mahasiswi yang satu itu emang rada-rada. Dia sering terpantau melakukan hal random di kelas. Mulai dari cemilin kopi sachet hingga terkantuk saat ujian.
“Gue kabur dari rumah Kar. Soalnya nyokap marahin gue. Argh, kayaknya gue bukan anak kandungnya deh.”ucap Gly dengan ekspresi gak karuan. Pernyataan itu membuat Karla melihat ke arah Nat. Nat menaikkan bahunya pertanda tidak paham akan apa yang terjadi.