Masa muda memang tidak lepas dari kelabilan dan emosi yang menggebu-gebu. Bahkan bagi Gly yang sudah berumur dewasa masih saja mengalami hal tersebut. Gampang emosi dan kabur hanya karena masalah sepele. Satu-satunya tempat persinggahan adalah rumah ini. Dia membawa tas besar seakan mau pindahan. Geblek emang.
“Jadi mama lebih ngebela abang gue yang jelek itu. Kayaknya gue bukan anak kandung.”
“Jangan gitu. Kalau lo bukan anak kandung udah diusir dari dulu.”balas Karla membuat semua persepsi Gly buyar. Dia ikut kesal sama Karla. Cewek itu kayak ngebelain orang rumah daripada dia. Gly menangis lagi. Dia emang jantan banget sebagai perempuan. Tapi untuk urusan kasih sayang, dia manja banget. Bisa dilihat dari responnya terhadap kasih sayang orang tua. Terkadang penampilan emang gak bisa jadi penilaian. Badan sangar tapi hati hello kitty.
Karla mendengar curhatnya untuk waktu yang lama. Nat memilih menjauh dari drama itu. Dia gak bakal bisa ikut nimbrung. Cewek itu sulit dimengerti. Otaknya terbuat dari apa sih? Tapi tetap aja, pria tanpa sentuhan wanita adalah hampa. Sekadar apapun pikiran cewek, cowok akan tetap butuh mereka.
“Terus, sekarang gimana?”
“Gue boleh nginep disini ya. Please Kar. Lo gak mungkin tega kan biarkan gue tinggal di kolong jembatan?”
“Lo gila? Gue gimana izinnya sama Pak Nat?”
“Pasti lo bisa Kar. Please.”
“Argh, pusing gue lama-lama.”
“Ah, kita minta tolong sama Gardin aja. Dia pasti ngerti keadaan gue.”
“Dia lagi liburan di Bali. For one month.”
“What the hell. Jadi lo tinggal berdua doang sama Pak Nat?”ucap Gly dengan tatapan curiga. Dia menunjukkan ekspresi penuh rasa penasaran. Bagaimana pun juga, pria dan wanita dewasa tinggal berdua. Ini bisa memicu sesuatu yang lama terkubur.
“Jangan mikir yang engga-engga. Lo kira Pak Nat cowok sembarangan?”ucap Karla seakan ngebela Nat. Dia yakin kok, Nat gak mungkin punya niat yang seperti Gly pikirkan.
“Cowok itu sama saja Kar. Mereka punya sesuatu yang sulit dikontrol.”
“Diam ah! Bentar gue tanyain ke dia.”
“Yesh, makasih Kar. Lo baik banget.”puji Gly dengan maksud dan tujuan tertentu.
Karla melengos menuju kamar Nat. Dia menarik nafas panjang sembari memikirkan kata yang tepat untuk diungkapkan kepada pria itu. Gimana caranya biar dia ngizinin Gly tinggal sementara. Setidaknya malam ini saja. Harga diri lebih besar dari apapun. Kalau Gly pulang malam ini, orang rumah akan menjadikannya bahan tertawaan. Dan gak cuma satu hari, dia bisa jadi bahan tertawaan selama berminggu-minggu.
“Hmm, aku boleh minta tolong. Please, sekali ini saja.”pinta Karla dengan penuh permohonan.
“Apa?”
“Izinkan Gly nginep disini. Satu malam aja.”
“Gak. Kamu kira ini penampungan? Jangan banyak tingkah.”
“Tapi, kasihan dia.”
“Dia punya rumah. Suruh pulang ke rumahnya.”
Tuh kan, bisa ditebak bagaimana Nat menanggapi hal ini. Dia gak mau ribet. Terutama untuk hal yang tidak penting baginya. Loh, lalu kenapa Karla diizinkan tinggal di rumah ini? Mungkinkah dia salah satu yang penting untuk Nat?
Karla hendak pergi dan menyerah. Namun, dia terlalu sedih melihat wajah Gly. Kasihan banget temannya itu. Dia gak tega. Rasa kasihan bikin otaknya berputar. Come on, pasti ada ide untuk membuat keputusan Nat berubah.
“Saya merasa takut. Pria dan wanita tinggal berdua saja tanpa ikatan. Bisa saja saya mendapat perlakuan yang tidak-tidak.”
Nat menoleh dengan tatapan heran. Dia kelihatan kesal dengan pertanyaan itu. Dia beranjak berdiri mendekat ke arah Karla. Bahkan bikin Karla salah tingkah. Ini terlalu dekat untuk orang yang tidak ada hubungan. Wajah Nat tepat berada satu jari kelingking di depan wajah Karla. Dia memundurkan wajahnya agar tidak terlalu dekat.
“Apaan sih?”
“Emang kamu mau gimana? Kamu mikir saya gimana?”
“Yah, bisa aja kan.”
“Kamu mau diapain emang? Kalau dikasih tahu, saya mau aja.”
Karla langsung mendorong tubuh itu menjauh dari dia. Ini tidak nyaman. Seakan ada setumpuk api yang membuat pipinya memerah. Jantung juga bertindak tidak biasa. Rasanya kayak lagi lomba lari.
“Pokoknya saya merasa perlu perlindungan. Kalau ada Satpol yang menggerebek, saya punya alasan.”ucap Karla dengan begitu cepat. Bicaranya udah kayak rel kereta api yang tak mau berhenti. Nat kembali duduk di kursinya. Dia membuat Karla menunggu beberapa saat. Lalu dia menoleh.
“Terserah saja. Tapi kalau dia bikin kekacauan, kamu yang tanggung jawab.”
“Oke. Lagian, Gly bukan tipe orang yang bikin kacau.”
“Pamungkas bilang kalau dia berantakan dan gak jelas. Ya, sama kayak yang saya lihat di kelas.”
“Ish, gitu doang mesti banget diomongin.”ucap Karla mencibir. Dia segera pergi dan memberikan kabar baik itu untuk Gly. Mereka berpelukan kayak Teletubbies. Karla bisa mengerti keadaan Gly. Dia sering bercerita tentang hidup yang kadang seperti air dan api. Terutama soal kisah dengan mantan kekasihnya. Dikhianati membuatnya sulit menerima orang baru. Itulah alasan dia mulai membatasi diri dengan pria. Dia mulai gerak cepat mencari teman perempuan. Di masa lalu, dia punya banyak teman cowok. Seiring dengan berjalannya waktu, dia mau nyari teman cewek. Meski kadang dia merasa tidak nyambung. Dan cewek kan gampang baper. Bahkan Gly sendiri menyadari kalau temenan sama cewek itu ruwet.
Selama ini, sering terjadi cekcok antara Rere dan Winny. Walau begitu, mereka bisa baikan lagi. Tapi efeknya udah ke mana-mana dan bikin suasana jadi gak enak. Itulah sedihnya pertemanan cewek. Kalau udah kesal, semua bisa jadi kacau balau. Gly sebagai pahlawan kedamaian lebih memilih menunggu semuanya pulih. Ada waktu untuk mereka baikan. Sedangkan Karla memilih untuk cuek. Terserah deh, yang penting Karla gak ikut-ikutan jadi sumber permusuhan.
Malam ini terasa berbeda. Karla punya teman tidur yang membuatnya ingat pada Jejo. Dulu mereka dekat bagai lem yang menempel pada kertas. Sekarang seperti musuh yang tak mungkin berdamai. Dunia ini emang unik merancang masa depan seseorang.
Dering panggilan membuat Karla gak bisa tidur. Dan dia heran, kok Gly bisa tidur saat panggilannya begitu banyak. Karena udah gak tahan, Karla menjawab telepon itu. Tertulis nama kontak, “Si kampret”. Entah siapa maksudnya.
“Halo,,,”
“Gly, lo di mana?”
“Ah, ini siapa ya?”
“Gue abangnya. Ini siapa?”
“Karla. Teman kuliahnya.”
“Argh, bikin panik aja. Jadi dia lagi di rumah mu?”
“Iya kak. Dia nginep disini. Jadi gak apa-apa.”
“Ya udah. Makasih ya udah jawab teleponnya. Dia emang menyusahkan terus. Maaf juga kalau udah ngerepotin.”
I think, dia abang yang baik. Ya, untuk orang lain memang demikian. Beda di mata adiknya sendiri. Setelah bicara, semua kembali damai. Karla bisa tidur dengan tenang. Tak ada lagi gangguan yang menginterupsi tidur. Ketika matanya coba untuk larut dalam mimpi indah, kejadian tadi malah melintas. Ketika Nat mendekat ke arahnya. s**t!! Wanginya masih tercium sampai sekarang. Inikah yang dinamakan salah fokus? Di masa lalu, Karla langsung mencoret Nat dari daftar cowok idaman. Sekarang kok malah mulai berubah? Rasanya ingin meniadakan semua syarat yang ada daftar pria idaman itu.
Dia kembali menutup matanya dengan selimut. Mari hancurkan semua bayang-bayang tentang Nat. Dia harus tidur sebab besok harus kerja. Jangan karena satu orang, semua rencana hancur berantakan. Ayo, tidur! Ini sudah jam 1 pagi. Besok harus bangun pagi. Kegiatan yang tak bisa dihindari. Capek sih, tapi lebih capek kalau gak punya uang. Betul sekali jika uang itu sumber kebahagiaan. Karla bisa merasakannya jika hari gajian sudah tiba. Dia bisa belanja dan menikmati makanan paling mahal sekalipun.
Setelah berusaha keras, akhirnya dia tertidur. Anehnya, Gly udah tidur pulas dari tadi. Padahal baru pertama kali dia tidur di kamar ini. Bagaimana bisa dia tidak butuh penyesuaian. Dasar orang aneh.