~cowok jelek~

1292 Kata
Beberapa orang berpikir kalau bangun pagi itu menyusahkan. Tapi udara pagi selalu berbeda dari yang lainnya. Udara segar yang bikin pikiran tenang. Ditambah lagi, suasana tidak terlalu crowded. Tidak ada orang aneh bin ajaib yang berkeliaran. Itulah yang bikin Pamungkas selalu menyempatkan diri jalan santai di pagi hari. Ah, dia gak berniat olahraga. Dia orang yang cukup malas berolahraga. Dibanding itu, dia lebih suka makan. “Bro, gue duluan ya.” “OK, bro!” “Oh ya, tukang pecel yang dulu udah balik lagi. Kalau lo pengen beli.” “Oh iya? Thanks bro!”Balas Pamungkas pada temannya itu. Teman masa SMA yang gak sengaja bertemu dengannya di tempat itu. Dunia ini emang kadang sempit. Orang dari masa lalu tiba-tiba muncul kayak durian runtuh. Pamungkas langsung melipur mencari sumber makanan. Dia lagi libur hari ini. Kerjanya cuma kalau lagi mood. Meski begitu, gajinya melebihi gaji orang yang kerja tiap hari. Itulah bedanya bekerja dengan otak dan otot. Tanpa menyinggung salah satunya, kedua hal ini punya perbedaan yang cukup signifikan. Dia sengaja mesan dua porsi. Pasti Nat lagi di rumah kan?  Setiap hari Senin, dia punya jadwal siang. Sekalian menumpang ngaso. Setelah membeli pecel legendaris itu, dia bergegas ke rumah Nat. Matahari mulai memperlihatkan teriknya yang semakin mengganggu mata. Dengan cepat dia berjalan. Dan dia melihat Gly di depan rumah Nat. Ngapain dia ada disini? Perasaan, Karla udah kerja jam segini. Dan yang lebih aneh, dia sedang berdebat sama cowok. “Gue gak mau!” “Lo kenapa sih? Manja banget jadi orang.” “Bodo amat.”Balas Gly hendak pergi. Tapi cowok itu malah menarik tangannya untuk naik mobil. Merasa ada yang tidak beres, Pamungkas memisahkan mereka dengan tekanan yang cukup keras. Dia menarik tangan Gly dan memberikan pandangan tajam pada cowok itu. “Lo apa-apaan sih? Sama cewek kok pakai kekerasan?”Ucapnya seperti orang paling baik sedunia. Dia dan cowok itu saling bertatapan tajam.  “Eh, Mas Pam?”Ujar Gly kaget. “Jangan pengecut jadi cowok. Kalau lo mau, berhadapan sama gue sini.”ucap Pam tegas. Dia masih tetap memegang tangan Gly erat. Cowok itu tersenyum kecut dengan pandangan kesal. Dia menggeleng kepala sambil melihat ke arah Gly yang terdiam. “Mas, dia Abang gue.”ucap Gly memecahkan setiap persendian yang ada di tubuh Pam. Rasanya pengen kabur dan hilang ingatan. Bisa gak kejadian barusan dihapus? Oh my to the God. Bagaimana ini? “Lo cari cowok yang benar. Ganteng juga nggak.” Perkataan itu menampar wajah Pam secara tidak langsung. Ternyata rasanya sakit dikatain begini. Tadinya mau jadi superhero. Kenyataannya malah salah sasaran. Boleh mati gak? Itulah yang ada di pikiran Pamungkas. “Dia bukan pacar gue.”ucap Gly kesal. “Baguslah. Buruan, mama udah nunggu. Kayak anak kecil aja.” “Gak mau. Gue mau tinggal disini.” “Gak bisa. Lo punya rumah malah nyusahin orang lain.”Tegasnya dengan nada memaksa. Ray, satu-satunya Abang Gly yang menyebalkan. Kalau ngomong blak-blakan. Dia tegas dan selalu punya masalah dengan Gly. Mereka berdua dipaksa romantis untuk memenuhi keinginan orang tua. Ray datang kesini juga demi bokap nyokap. Kalau gak, najis banget rasanya. “Gue belum izin sama yang punya rumah.”ucap Gly bikin alasan. Alasan yang cukup masuk akal. Ya kali, datang ke rumah orang tapi pulang tanpa say thank you. Ray berpikir sejenak sebelum bicara lagi. Sudah cukup lama dia mengurus adiknya yang menyebalkan itu. Dia juga harus berangkat kerja. “Pokoknya beres kuliah, lo pulang ya. Awas aja kalau gak pulang, gue acak-acak yang punya rumah ini. Biar lo malu.” “Iya.” “Lo juga. Jangan sok keren. Dia gak suka cowok jelek.”ucap Ray sebagai kalimat penutup untuk Pamungkas. Pamungkas ingin sekali membalas semua ejekan itu. Tapi dia tidak berani. Entahlah, semenjak dia tahu kalau Ray kakaknya Gly. Dia merasa tidak punya kuasa untuk membela diri. Mobil itu menjauh dan menghilang dari pandangan mata. Gly dan Pam sama-sama menghela nafas. Seperti iblis yang menjauh dari manusia polos yang tidak bersalah. “Mas, ngapain kesini?” “Ahh, gue beli pecel. Tadinya mau ngajakin Nat sarapan.”balas Pam sambil menggaruk kepalanya. Gly merasa sangat bersalah. Dikatain sama Ray memang sesakit itu. Apalagi untuk mereka yang tidak mengenal Ray. Ray itu selalu dianggap toxic people sama orang baru. Dan sangat mungkin jika Pam berpikir demikian. “Daripada sayang, buat gue aja. Pak Nat udah pergi dari tadi pagi.”Ajak Gly. Mereka langsung masuk rumah dengan suasana yang masih horor. Beberapa kali Pam menarik nafas panjang. Gly langsung menaruh piring dan gelas untuk sarapan pagi ini. “Maafin Abang gue ya. Dia emang gitu orangnya. Dia bicara kayak gitu ngasal kok.” “Ah, gak masalah.” “Ingin gue injak paru-parunya. Harusnya dia gak usah lahir ke dunia ini. Kenapa dulu mama gak aborsi ya waktu dia masih janin?”ucap Gly dengan sumpah serapah. Bikin Pam melotot. Ternyata mereka berdua tidak terlalu beda. Meski Ray masih satu level di atas, tapi Gly juga suka ngomong sesumbar. “Nyusahin banget emang.”keluh Gly. Dia melihat ke arah Pam yang terpaku dan syok. “Eh, maaf mas. Gue ngomongnya ngelantur. Jangan dipikirkan ya.”ujar Gly merevisi ucapannya. Dia kembali ingat kalau Pam itu orang berpendidikan tinggi. Dan satu lagi, dia punya banyak kenalan dosen di kampus. *** Ternyata teman kantor itu selalu sama. Mereka akan mengorbankan orang lain demi diri sendiri. Lagi dan lagi, Karla harus mengalaminya. Dia disalahkan untuk kasus yang bahkan bukan dia penyebabnya. Ketika suatu keputusan diambil oleh koleganya, maka dia yang harus menerima akibatnya. Dia memilih menikmati makan siang di Family Mart. Pesan paket ayam murah dengan minuman dingin yang juga murah. Dia duduk dengan perasaan gundah. Rasanya sakit disalahkan untuk sesuatu yang tak pernah dilakukan. Rasanya seperti difitnah. Tiba-tiba, seseorang duduk di kursi kosong yang ada di depannya. Kiel tersenyum sambil menaruh kopi dingin miliknya di atas meja.  “Hey,,,,,,” “Tumben lo makan disini?” “Lagi bosan makan di kantin.” “Semua baik-baik saja? Kok kayak beda gitu?” Punya seseorang untuk dijadikan tempat curhat adalah hal penting. Setidaknya beban ini bisa diluapkan meski pasti tak ada solusi. Kiel mendengar dengan penuh rasa simpati. Seseorang yang lagi banyak problem tak perlu diberi reaksi berlebihan. Cukup beri rasa simpati. Itu udah lebih dari cukup. “Dunia kerja emang kayak gitu. Tapi sebenarnya itu gak bisa dibenarkan.” Karla mengangguk setuju. Dia lelah dengan semua ini. Tapi kehilangan sumber uang jauh lebih menyakitkan. “Pertama, lo harus sabar dan tahan banting. Kedua, lo anggap kejadian itu bukan apa-apa.” “Itu gak mudah, Ki.” “I know. Tapi lo bisa kalau berusaha. Mereka pasti bakal heran waktu liat reaksi lo. Dan lo bisa memperbaiki fitnah yang sekarang dengan kinerja yang bagus. Dengan cara itu, manajer bisa menilai sendiri.” “Lo bisa Kar. Semangat!”ucap Kiel dengan penuh dukungan. Sikap yang membuat Karla sedikit tenang. Kiel menambah percaya dirinya dengan kejadian yang dialami cowok itu sendiri. Dia juga tak langsung jadi seperti sekarang. Cukup banyak hal yang dia lalui. Bahkan fitnah hingga bentakan dari teman kerja. Tapi kesabaran selalu membuahkan hasil. “Thanks ya Ki. Lo bikin gue jadi semangat.” “Sama-sama. Entar ke kampus bareng ya. Lo balik jam berapa?” “Hmm, I think jam 5 deh.” “OK, gue tunggu lo.” “Eh, tapi…..” “Ga apa-apa. Jangan ditolak, please.” Karla mengangguk setuju. Kiel emang pulang satu jam lebih cepat dari Karla. Tapi menyenangkan jika punya teman ngobrol di KRL. Setidaknya mereka lepas dari rasa bosan selama satu jam di kendaraan umum yang crowded itu. Saking banyaknya pengguna, desakan yang luar biasa tak bisa dihindari. Begitulah kehidupan di kota. Semua serba cepat. Kalau lambat, akan rugi banget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN