Sesuatu terjadi di kereta. Ini emang jarang terjadi, tapi sudah menjadi hal biasa bagi beberapa orang. Terutama yang sudah bertahun-tahun menggunakan kendaraan itu.
Terjadi kerusakan di Stasiun Tanjung Barat. Secara otomatis, semua kereta yang menyusul akan ikut kena dampaknya. Mau gak mau harus nunggu. Dan yang lebih parah, nyari kendaraan lain. Terpaksa melewati kemacetan dengan pikiran yang gak karuan.
Beruntung, Karla bareng sama Kiel. Mereka bisa pesan Grab dengan biaya yang murah. Ya, berdua lebih baik daripada sendiri. Dan terpaksa, mereka terlambat masuk kelas. Biarkan saja, semoga dosen tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
“Hampir tiga puluh menit.”keluh Karla sambil merapikan diri sembari menunggu lift menuju ke lantai 3. Lantai 3 adalah langganan untuk kelas ekstensi. Kelas yang dinginnya minta ampun. Tapi kalau AC gak dinyalain, panasnya yang minta ampun.
“Gak apa-apalah. Pak Nat juga jarang marahin yang telat.”
“Eh, kata siapa? Dia suka nyindir tahu. Lo gak sadar?”
“Enggak. Gue bodo amat sih dan gak ngeh.”ucap Kiel sambil tertawa. Cowok memang tidak terlalu peduli sama hal begituan. Beda sama cewek yang langsung kesal dan baper. Karla masih ingat, teman sekelasnya pernah diledekin sedemikian rupa oleh Nat. Bukannya marah, dia malah tertawa. Menikmati jokes yang tidak berkualitas itu. Kok bisa sih? Kalau dia cewek, mungkin Nat sudah dihujat dengan kata-kata kotor.
Mereka mengetuk pintu dan mendapat tatapan datar dari Nat. Tak ada komentar dari cowok itu. Karena kursi belakang sudah penuh, terpaksa mereka duduk paling depan. Beda sama antrian di klinik kecantikan, di kelas ini, orang yang pertama kali datang akan mendapat kursi paling belakang. Ya, kursi itu paling diincar karena tidak harus tegang oleh tekanan dosen.
Awalnya sih biasa saja. Semua mendengarkan dengan baik. Pengajaran Nat selalu menarik hati mahasiswa. Why? Dia memang pintar mengajarkan suatu logika. Dapat dimengerti dengan mudah karena dibubuhi contoh yang relate dengan kehidupan sehari-hari.
Karla sangat bersemangat karena ada Kiel disampingnya. Cowok itu menambah pengetahuan Karla tentang topik hari ini. Mereka berdua tertawa sambil membahas sesuatu. Wajar dong. Tugas yang dikasih Nat udah kelar dari tadi. Beda sama yang lain. Mereka masih sibuk membahas soal itu. Bahkan Gly terlihat garuk kepala. Kayaknya dia frustasi karena belum memahami jalan pikiran yang diinginkan soal.
Tahu apa yang terjadi?
“Saya heran melihat kalian. Udah telat masuk kelas, masih aja gak menghargai saya. Kalau mau berisik dan ngobrol, kalian bisa keluar kelas!!”ucapnya tegas dengan mimik wajah penuh kemarahan.
“Kalau kalian gak lulus, baru tahu rasa ya. Biar diperpanjang aja masa kuliah kalian!”
Dia menambahi banyak kata yang seakan memberi arahan. Semua merasa tersindir. Tapi beda dengan Karla. Dia tahu kok, ucapan itu ditujukan untuknya dan Kiel. Entah kenapa dia tiba-tiba marah. Saking anehnya, dia memberikan tugas baru. Padahal tadinya mau ngasih di pertemuan minggu depan. Sialan gak sih?
Aura kelas berubah horor sejak Nat marah. Semua mendengus kesal saat kelas itu sudah selesai. Kepala semakin pusing.
“Dia kenapa sih?”ucap Rere kesal.
“Dirasuki hantu kali ya. Tiba-tiba marah gak jelas.”ledek Winny sambil memperhatikan langkah kakinya.
“Dia lagi nyindir kali. Gara-gara gue telat.”balas Karla dengan wajah sedih.
“Emang lo kenapa sih pake telat segala? Hampir tiga puluh menit lagi.”
“Kereta anjlok, Re. Gua bahkan harus pesan Grab sama Kiel. Biar keburu.”
“Terus, kenapa bisa bareng Kiel?”tanya Gly sambil mengunyah permen karet yang baru saja dibuka. Dia itu ladangnya makanan. Dia selalu bawa banyak permen. Terus dibagi-bagi sama teman dekat. Ya, orang royal emang begitu. Tidak peduli untung rugi. Maunya sekedar berbagi.
“Kantornya dia di sebelah kantor gue. Terus gak sengaja ketemu tadi siang. Jadinya janjian aja.”ungkap Karla memberikan kebenaran. Mereka berpisah karena pulang dengan jalan masing-masing. Seperti biasa, Karla mau pesan ojol. Dia gak mau lagi pulang bareng sama Nat. Takut jadi sumber gosip untuk mahasiswa yang gak sengaja lihat. Mereka bakal syok kalau tahu Nat adalah sugardaddy yang mereka maksud. What the hell! Nat punya reputasi yang luar biasa di kampus ini.
“Lo ngapain?”tanya Gly saat dia berjalan tapi gak disusul oleh Karla.
“Pesan ojol.”
“Bareng gue aja. Barang gue masih di rumah Pak Nat.”
“Astaga! Gue lupa.”
Tiba-tiba Gly memukul badan Karla dari belakang. Bikin Karla syok dengan mata melotot. Kenapa lagi sih cewek yang satu ini? Gak ada hujan, gak ada angin. Kenapa tiba-tiba mukul. Udah gitu, pukulannya sakit banget. Gak karuan.
“Kenapa sih?”
“Lo kan yang ngasih tahu sama abang gue?”
“Ngasih tahu apa?”
“Jangan pura-pura bodoh.”
Karla berusaha mengingat. Dia masih belum sadar sampai akhirnya dia memahami situasi ini. Emang sih, dia yang mengirim alamat kepada Kak Ray. Oh my God, dia bahkan lupa bilang sama Gly. Cewek itu masih tertidur pulas waktu dia pergi bekerja. Mau ngasih tahu gimana? Tapi itu bukan alasan. Karla emang lupa banget.
“Sorry Gly. Gue beneran lupa.”
“Gara-gara lo, gue harus bahan malu di depan Mas Pam.”
Gly cerita tentang yang terjadi tadi pagi. Tentang Pamungkas yang berhadapan dengan Ray. Udah kayak penjahat melawan superhero. Dan yang terutama, Gly malu banget. Fakta bahwa keluarganya separah ini. Ugh, tidak bisa dibayangkan. Mungkin Pam sudah ilfeel melihatnya sekarang.
“Ya udah sih. Mas Pam juga gak bakal gimana-gimana.”
“Diem aja deh. Bukan lo yang ngerasain.”
“Iya. Maafin dong!”bujuk Karla sambil menarik tangan Gly. “Kenapa gak nginep aja malam ini?”
“Mana bisa. Tadi si Ray udah murka banget.”
“Hmm, kalau gitu lain kali.”goda Karla. Setidaknya, Gly gak marah lagi. Ini emang murni kesalahan Karla. Harusnya dia udah ngabarin tadi pagi. Setidaknya Gly bisa bersiap untuk menghadapi bencana itu.
“By the way, lo sadar gak kenapa tadi Pak Nat marah?”tanya Gly saat mereka mengisi bensin. Antriannya panjang banget.”
“Dia cemburu.”
“Cemburu sama lo?”Ucap Karla ngasal.
“Kenapa sama gue? Sama lo!”
“Kok sama gue sih?”
“Lo kayak lagi pacaran aja di kelas. Lo sama Kiel.”
Mungkin bagi Karla, itu biasa aja. Tapi bagi orang lain, mereka seperti couple of the year. Dua mahasiswa yang bekerja sama dalam cinta dan ilmu pengetahuan. Entar kalau mau nikah, foto preweddingnya di perpustakaan. Duh, perfecto. Begitulah khayalan tingkat tinggi dari anak muda. Anak muda yang punya kreativitas melebihi batas.
“Apaan dah. Gak boleh gitu, Gly.”
“Terserah deh. Yang penting, gue gak ketemu lagi sama Pak Nat. Kalau lo, pasti ketemu kan?”ucap Gly berusaha menakut-nakuti. Dan dia berhasil membuat Karla merasa takut.
Setibanya di rumah, Karla langsung mengambil barang-barang Gly. Cewek itu langsung pulang. Tentu dengan menitip terima kasih pada Nat. Dia gak mau berlama-lama karena Ray udah teflon ribuan kali. Padahal ini semua karena dia. Abang yang sok jagoan di rumah. Kayak kampret.
Setelah Gly pergi, Karla langsung melipir ke kamar. Dia gak mau ketemu Nat. Dia gak percaya kalau itu karena cemburu. Jika dikatakan itu karena Karla dan Kiel berisik, itu baru masuk akal. Dia melakukan ritual malam seperti biasanya. Pakai cream wajah dan skincare. Dia memilih pura-pura tidak tahu waktu suara mobil terdengar diparkir. Daripada muncul masalah baru, mending kita hindari masalah itu.
Dia duduk di kasur sambil membaca buku motivasi dan healing. Kebiasaan itu ia gunakan untuk menghilangkan overthinking saat malam datang. Jadi dia bisa tidur nyenyak setelah itu. Terdengar langkah kaki mendekat ke pintu kamarnya. Dengan kepanikan, dia menyembunyikan bukunya di balik selimut. Dan dia pura-pura tidur. Pintu terbuka terdengar.
Cukup lama. Tak terjadi apa-apa. Sekitar 2 menit kejadian aneh ini berlangsung. Kemudian terdengar pintu ditutup kembali. Setelah itu, Karla membuka mata. What’s going on? Ngapain Nat ngeliat dia lagi tidur? Atau dia mau bicara sesuatu? Karla coba untuk tidak mengindahkan hal itu. Dia kembali tidur dan lupa membaca buku yang tadi hendak dibaca.