Dia berjalan menuju meja makan dengan wajah sumringah. Riasan sudah rapi dengan baju kantor yang cocok untuknya. Dia sibuk melihat handphone sambil berjalan menuruni tangga. Dia duduk di meja makan untuk menikmati sarapan sederhana sebelum berangkat ke kantor. Seperti biasa, potongan roti bakar dengan topping yang beraneka ragam.
“Eh, Nat. Gardin baru upload foto di i********:. Kayaknya mereka baru dari Uluwatu Ngelihat tari kecak itu loh.”ucap Karla dengan sangat antusias. Tapi respon yang diterima beda banget sama ekspektasi. Nat malah diam dengan tidak b*******h. Dia kayak lagi marah.
Tak mendapat respon, Karla makan secepat kilat. Dia mau pergi dengan cepat. Bete ngeliat wajah Nat yang kayak gak poop lima tahun. Bikin kesal.
“Aku berangkat ya!”ucap Karla mengakhiri. Tak ada jawaban. Karla kesal sampai ke ubun-ubun.
Bodo amat! Itulah reaksi yang dia pikirkan. Peduli amat deh, hidup sudah rumit. Kalau ada orang marah tanpa alasan, biarkan aja. Mungkin orang tersebut butuh waktu untuk meredakan amarahnya.
Setibanya di kantor, suasana jadi hectic. Semua orang sibuk dan bikin penat. Karla mulai melupakan masalah kemarin. Dia harus berjuang dan sabar. Difitnah tak akan membuatnya lemah. Hidup ini cuma sekali. Kesalahan itu anggaplah hal biasa. Teman sekantornya tampak tidak peduli juga. Mereka cuma memikirkan diri sendiri. Gimana biar punya reputasi yang baik di depan atasan.
Kedamaian itu tak berlangsung lama. Kekacauan terjadi saat rapat bulanan dilakukan setelah jam makan siang usai.
“Lain kali harus hati-hati. Kita gak mau progres bulanan hancur gara-gara satu orang.”
“Benar mbak. Kalau belum yakin dipikirkan dulu. Jangan langsung mengambil kesimpulan.”
“Ya. Jangan maunya ngebut tapi bikin masalah.”
itu adalah sebagian kecil perkataan kejam yang didengar Karla. Setelah rapat, mereka mengucilkan cewek itu. Seakan kinerja mereka yang paling baik. Padahal, Karla terus yang harus ngeback-up kalau mereka gak bisa masuk kantor. Dunia ini emang gak adil untuknya. Mau ngelawan tapi takut dipecat. Mau ngelaporin, takut semakin dikucilkan. Terkadang, teman kerja itu jadi sumber utama seseorang resign. Karla sih pengen banget, tapi dia ingat lagi. Dia butuh uang untuk kuliah.
“Ih, tega banget sih.”ucap Gly penuh simpati saat Karla meneleponnya di jam makan siang. Dia makan sendiri di kantin gedung. “Mau gue temenin? Kita makan bareng.”
“Jangan gitu. Kantor gue jauh Gly.”
“Ish, andai gue di situ, udah gue labrak.”
“Andai kemampuan lo itu bisa ditransfer ya.”
“Pokoknya jangan mau kalah Kar. Lo juga gak salah kok.”
“Udah terlanjur, kesalahan itu dikasih ke gue. Mau gimana?”
Beginilah rasanya difitnah. Lebih kejam daripada dijahatin secara langsung. Kalau diginiin, makan hati rasanya. Karla bergegas pergi saat makanannya sudah habis. Dia menunggu di depan lift hendak naik ke lantai 15. Dia kaget melihat ada Bianca di sana.
“Eh, kamu kok disini?”
“Ah, aku….”
“Sini. Saya mau bicara sama kamu.”ucap Bianca seraya mengajaknya kembali ke kantin. Dia mencari tempat yang kosong. Dia cuma mau minum kopi saja. Tak ada keinginan untuk makan siang.
“Kamu udah makan kan?”
“Udah Tan.”
“Ya. Kita ngopi aja.”lanjutnya sambil menaruh minuman di meja. “Apa kabar Nat?”tanyanya.
“Yah, begitulah. Semua baik-baik aja kok.”
“Saya kayaknya butuh bantuan lagi deh.”ujar Bianca dengan penuh perhatian. Dia itu punya gesture yang mendekatkan diri dengan lawan bicaranya. “Kapan kamu nikah sama Nat?”
Pertanyaan itu seperti bulshit yang memecahkan gendang telinga. Kenapa Tante Bianca masih percaya kalau dia beneran pacaran sama Nat?
“Apa sih Tan. Kenapa ngomongin itu?”
“Rumah itu bakal terus terancam sampai Nat atau Gardin beneran menikah.”
“Kok bisa gitu?”
“Sesuai surat warisan ayah. Ayah saya, kakeknya Nat.”
Surat warisan itu dibuat dengan begitu rumit. Kalau orang tua Nat masih hidup, maka itulah yang jadi pewaris. Tetapi jika tidak, akan diberikan kepada cucu pertama yang menikah dari keluarga besar. Otomatis, semua berebut untuk mendapatkannya. Tetapi fakta itu baru diketahui oleh segelintir orang. Bahkan keluarga Narwaya belum mengetahuinya. Tante Bianca sengaja merahasiakannya demi menghindari kegaduhan yang mungkin terjadi.
Dan ternyata, alasan Bianca ingin menjual rumah itu agar uangnya diberikan kepada Nat dan Gardin. Ya, cuma itu satu-satunya cara agar Nat tidak dirugikan.
“Suatu saat nanti, pasti ada anggota keluarga lain yang sadar. Kalau Nat sudah nikah, saya akan lebih tenang.”
“Berarti, Nat belum tahu tentang ini?”
“Iya. Saya sudah bilang, tidak ada yang tahu kecuali saya dan pengacara. Dan sekarang, kamu juga tahu.”
“Kenapa gak bilang aja langsung? Mungkin dia bakal lebih paham. Dan secepatnya nikah.”
Bianca menatap ke atas. Pikirannya melayang jauh pada hal-hal yang penuh kekhawatiran. Nat adalah orang yang punya jalan pikiran sendiri. Dia akan bertindak aneh jika diberikan fakta yang tidak sesuai dengan hatinya. Bianca terlalu awar pada hal-hal yang bisa saja tidak terjadi.
“Saya takut. Takut dia malah merelakan rumah itu.”
“Hah? Gak mungkinlah.”
“Bisa saja dia berpikir kalau rumah itu memang gak layak untuknya. Dia orang yang berbeda Kar. Bahkan dibanding Gardin, saya lebih susah memahami jalan pikirannya.”
Sekarang Karla paham. Alasan klise yang dibuat Bianca dulu adalah kebohongan. Dia berniat menjual rumah untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Nat mengira kalau perempuan itu gila harta. Dia tidak peduli bahwa Nat punya sejuta kenangan di rumah itu. Padahal ada fakta lain dibalik tingkah Bianca selama ini.
Jam makan siang berakhir seiring dengan pembicaraan dengan Bianca usai. Karla segera kembali ke ruangannya. Dia masih punya banyak tugas yang siap kejar tayang. Setibanya di ruangan, dia kembali mendapatkan cibiran. Emang sih, bisik-bisik doang, tapi bikin telinga panas. Kayak yang dibilang Kiel, dia harus pura-pura bodoh. Anggap aja lagi dengerin radio rusak. Gak perlu dibawa sampai ke hati.
***
Dengan mood hancur dan kepala pening, Karla tiba di rumah. Selain teman kantor yang toxic, dia juga harus tabah mendengar materi kuliah yang membosankan. Hari ini benar-benar payah. Hari paling menyebalkan dari semua hari. Karla langsung ke dapur untuk menikmati air putih. Sakit kepala membuatnya duduk di kursi. Dia memegang kepalanya yang terasa mau pecah. Saat hendak melangkah menaruh gelas di tempat cuci piring, pandangannya kabur. Semakin lama, semakin gelap. Dia terjatuh, tapi bukan ke lantai. Seseorang menangkapnya. Sudah dipastikan, dia pasti Nat.
Tidak butuh waktu lama, dia terbangun setelah tiduran sekitar dua menit. Di memegang kepalanya yang masih sakit. Dia menghela nafas sambil memperhatikan sekitar. Tak ada siapa-siapa. Tapi Nat muncul dan berjalan mendekat dengan segelas air putih dan obat.
“Kamu minum obat dulu. Kamu sakit kepala kan? Dari pada makin sakit, ayo minum obat.”
Karla melakukannya secepat mungkin. Setelah itu, dia tidur lagi.
Nat segera membereskan semua kekacauan yang terjadi. Terutama barang-barang milik Karla yang berserakan. Muncul banyak pertanyaan di benaknya? Apakah cewek itu terlalu bekerja keras? Ataukah dia ada masalah dengan Jejo? Atau dengan teman-temannya di kampus?
Sesekali Nat mengecek kondisi Karla. Dia lagi sibuk beresin kerjaan. Jadi, setiap tiga puluh menit, dia memeriksa ke kamar Karla. Memastikan cewek itu masih bernafas. Terkadang, manusia jadi lebay kalau ada sesuatu yang menakutkan. Sama seperti sakit atau di perjalanan panjang.
“Kamu lagi di mana?”
“Ini lagi di jalan mau ke hotel. Barusan dari kafe dekat pantai. Makan seafood.”
“Tas-nya dijaga ya. Jangan sampai ada yang hilang. Terus, jangan berantem. Jangan sok jagoan.”
“Iya.”
“Ya udah.”
Nat tidak pernah lupa untuk menghubungi Gardin. Adik satu-satunya itu tak pernah membuatnya tenang. Dia ngerti kok kalau anak muda itu identik dengan kenakalan. Tapi bisa kok dikurangi perlahan-lahan. Jangan jadi kebiasaan. Takutnya, kalau sudah dewasa, jadi beneran gak bisa lepas.
Sebelum berakhir di tempat tidur, Nat memeriksa Karla lagi. Dia masih marah sama cewek itu. Tapi apa boleh buat. Dia tak akan tega melihatnya menahan sakit sendirian. Cewek itu terlalu sibuk sampai gak bisa menjaga kesehatannya. Padahal, kalau sakit juga gak bisa kerja. Seharusnya manusia lebih mengutamakan yang paling krusial.