Headset menempel di kedua telinganya. Dia berdiri di dekat jendela sambil mendengarkan lagu yang hits akhir-akhir ini. Lagu comeback Adele dan Taylor Swift membuat paginya lebih berwarna. Dia mengenakan pakaian santai dengan setelan dress panjang motif bunga-bunga. Nanti siang ada acara di kantor. Acara yang melibatkan semua stakeholder. Yang paling diincar adalah makan gratis. Lumayan, mengurangi biaya makan siang.
Seperti biasa, dia mendengar celotehan rekan kerja yang bikin sakit telinga. Selain ingin dapat uang, Karla juga merasa beruntung masuk perusahaan ini. Perusahaan yang punya track record luar biasa. Dan lagi, dia bisa mengasah kemampuannya di tempat ini. Sangat cocok untuk orang yang pengen meningkatkan karir lebih baik lagi.
“Kar, bisa dibenerin yang bagian ini gak? Kayaknya masih ada yang belum solve.”
“Oh iya? Oke, mbak.”
Meskipun ini melelahkan, tetapi harus tahan banting. Dikasih tugas yang banyak. Bahkan tugas yang seharusnya bukan tanggung jawabnya. Saking banyaknya, dia harus telat beberapa menit ke acara kantor yang ada di lantai 2. Ruangan itu sudah sepi karena semua orang pergi. Karla menarik nafas lega saat semua sudah beres. Dia merapikan meja dan segera melangkah ke lantai 2. Udah gak sabar buat makan. Dia lapar banget sampai perutnya keroncongan. Cacing didalam perut komplain minta dikasih asupan.
Tak seperti yang diduga, saat menuju ke tempat makanan itu dijejerkan secara prasmanan, dia dihadang oleh beberapa orang.
“Lo masih punya muka ke sini?”
“Gak malu ya?”
“Pakai deketin orang penting lagi. Lo cari muka?”
“Baru juga bentar, udah caper.”
“Wajar sih, sok pintar. Mentang-mentang kuliah di universitas terbaik.”
“Idih, gue juga bisa kali. Paling dia juga nyongok biar bisa masuk situ.”
Rasanya kayak dilempar batu sama preman SMK. Mereka bergerombol dan bicara bergantian untuk menghakimi Karla. Tentu saja Karla emosi. Rasanya pengen nampar. Dia gak takut kalau disuruh baku hantam. Dia takut aja efeknya jadi ke mana-mana. Termasuk ke posisinya saat ini.
“Bicara dong. Lo punya mulut kan?”
“Malu kali dia. Dia masuk sini juga nyogok. Aslinya kan bego.”
“Lo iri sama gue?”ucap Karla dengan suara datar. Dia gak mau pakai tenaga dalam. Jawab santai biar mereka makan hati sendiri. “Lo pasti gak punya kemampuan sampai iri sama orang kayak gue. Padahal gue biasa aja. Kok bisa ya?”
“Lo cari gara-gara?”
“Bukannya kalian yang nyari gara-gara? Harusnya kalian bersyukur. Gue udah rela difitnah demi teman lo itu.”ucap Karla dengan rasa dendam yang luar biasa. Cowok banci itu menjadikan Karla korban. Dasar manusia jahat! Dia masih bisa makan dan minum dengan tenang. Padahal sudah begitu jahat kepada Karla. Kok bisa sih? Dia gak punya perasaan.
Tanpa menunggu lama, Karla mendapatkan dorongan kuat yang bikin badannya terdorong. Cewek paling tinggi itu yang melakukannya. Dia merasa paling super power karena sudah lama bekerja di perusahaan ini. Dia juga yang paling tinggi jabatannya.
“Lo jangan sok jagoan!”
Karla hendak memberikan perlawanan. Dia mengepalkan tangannya hendak memukul cewek itu. Tapi seseorang menghentikan perbuatannya itu. Tante Bianca dengan tampilan super mewah dan classy berdiri di antara mereka. Seketika, semua terdiam.
“Ada apa ini?”
Semua diam. Gak ada yang berani bicara. Yang paling aneh, mereka terlihat takut. Mungkin mereka takut melihat wajah Bianca yang seakan mau makan orang.
“Ini acara penting tapi malah bikin kehebohan. Kamu bicara sama saya setelah acara ini.”ucap Bianca tegas. Dia melirik ke arah mereka sambil menyelidiki dengan tatapan tajam. Bianca pergi meninggalkan mereka. Karla mendapat tatapan tajam dari orang-orang gak beres itu. Karla menghela nafas kesal. Dia jadi penasaran, kenapa Bianca ada di tempat ini? Atau dia ada urusan bisnis? Ya, mungkin saja. Kata Nat, dia punya bisnis di mana-mana. Dan dia bekerja sama dengan banyak orang. Mungkin salah satunya perusahaan ini.
Perutnya kembali keroncongan. Emang ya, perut akan tetap memenuhi nalurinya. Dia udah gak bisa menahan lapar ini. Takut maagnya kambuh. Dia langsung mengambil makanan sembari menikmati acara dimulai. Semua berteriak meriah. Of course, nanti ada doorprize yang bikin mata melek. Tapi Karla don’t care about it. Dia mau makan dengan tenang.
“Mari kita sambut, direktur utama Kilaujaya, Ibu Bianca Reginina!!”
Semua orang menyambut dengan tepuk tangan. Berbeda dengan Karla, dia hampir keselek mendengar fakta mencengangkan itu. What the hell! Dia langsung minum dan melihat ke panggung. Ternyata benar, di sana Tante Bianca lagi cipika cipiki dengan pria-pria paruh baya bertubuh tambun.
“Jadi ini perusahaannya dia?”gumam Karla tidak percaya. Dia langsung mengirim pesan pada Gardin. Semoga aja dijawab dengan segera.
Karla
: Gar, Tante Bianca punya perusahaan di Jakarta Selatan ya?
Gardin
: Hmm, kayaknya iya deh.
Karla
: Kok gak yakin gitu sih?
Gardin
: Ada 2 kalau gak salah. Kilaujaya sama Enantan.
Karla
: What? Enantan yang ada di Jakarta Pusat kan? Itu juga punya dia?”
Gardin
: Yoai. Tapi itu perusahaan rintisan sendiri. Kalau Kilaujaya, warisan dari kakek. Emangnya kenapa?
Oh my God!! Karla terdiam membisu. Bahkan ketika rekan kerjanya yang jahat itu menatap tajam, dia udah mati rasa. Dia syok banget sampai gak bisa mikir. Jadi selama ini dia bekerja di perusahaannya Bianca? Ini kebetulan atau gimana sih?
Karla makan dengan pikiran gak tenang. Beberapa orang mencibirnya dan bilang kalau dia akan dihukum. Atau paling parah dipecat. Tapi itu gak bikin pikiran Karla buyar. Dia terlalu kepo sama perusahaan ini.
“Nona Karla!”sapa seseorang mematikan lamunannya yang sudah sampai ke Solo.
“Ah, i-iya.”jawab Karla dengan terbata-bata.
“Nyonya Bianca ingin bertemu. Mari, ikut saya ke ruangannya.”
“Oh, baik pak.”
Karla berjalan mengikuti pria itu. Pria yang belum pernah ia lihat. Ya, setiap Bianca datang ke rumah Nat, pria itu tak pernah ikut. Mereka tiba di ruangan lain yang tidak jauh dari tempat acara berlangsung. Karla langsung masuk ruangan itu. Dia melihat Bianca sedang duduk di sofa dengan segelas teh hangat.
“Ayo duduk.”Ucap Bianca seperti biasa. “Kenapa sih? Jangan syok begitu.”
“Ini beneran perusahaan tante?”
“Nat gak pernah bicara?”
“Enggak.”
“I see. Dia pura-pura gak tahu.”
“Jadi aku masuk sini gara-gara tante?”
“Heh, siapa bilang? Saya bukan bagian rekrutmen. Bodo amat siapa yang masuk atau keluar.”
“Syukurlah.”ucap Karla lega. Dia gak suka masuk ke suatu tempat dengan bantuan orang dalam. Bukannya sok hebat, tapi dia ingin mengukur kemampuannya sendiri. Bagaimana sebuah perusahaan membuat kriteria karyawan dalam proses rekrutmen.
“Terus, tadi kamu kenapa?”tanya Bianca dengan ketegasannya.
“Gak apa-apa.”balas Karla singkat. Dia tidak ingin mencari masalah. Ya, meski rasanya pasti akan sakit. Dia akan ditindas terus menerus. Argh, membayangkannya saja bikin merinding.
“Jangan bohong. Kalau bohong, kamu dipecat.”
“Ih, kok gitu?”
“Wong saya yang punya perusahaan ini.”
Dengan terpaksa, Karla ngasih tahu apa yang terjadi. Bukannya mau nyari bekingan, tapi dipaksa. Bianca cukup kaget mendengar cerita itu. Kantor yang seharusnya jadi tempat nyaman untuk bekerja, malah dipakai buat jadi adu kekuasaan. Jelas ini tidak sesuai dengan visi dan misi Kilaujaya. Tapi Bianca tak perlu waktu lama untuk mengambil kesimpulan.
“Anggap ini reward buat kamu. Lagian, saya baru cek kinerja kamu dalam satu bulan ini. Cukup bagus. Kecuali fitnah yang dibebankan sama kamu.”
“Reward?”
“Kamu boleh pilih. Mau tetap di sini dengan teman kerja yang cuma dikasih surat peringatan. Atau pindah ke Enantan.”
Bak dapat durian runtuh, Karla bingung harus bagaimana. Enantan itu salah satu e-commerce terbaik di Indonesia. Menjual barang-barang handmade yang berkualitas dengan harga relatif murah. Dan tentu saja, perusahaan itu cocok banget untuk anak IT seperti Karla.
“Hmm, kamu boleh mikir dulu. Kasih saya jawaban besok pagi. Dan mereka, pasti akan saya kasih punishment. Tenang aja, saya akan bikin kesan kalau ini gak ada hubungannya sama kamu.”