Hujan baru saja berhenti. Suara angin membuat badan merinding. Dinginnya udara menambah kesunyian di malam ini. Sekarang pukul 9 malam. Nat bergegas hendak pulang. Dia merapikan mejanya dari tumpukan buku dan kertas yang mendominasi. Dia mengambil tas dan menutup pintu ruangan. Berjalan menuju lantai satu dengan tangga. Dari gedung itu, dia melipir ke gedung C, tempatnya memarkir mobil seperti biasa.
Ketika berjalan dari kantin, bulu kuduknya merinding. Kayak ada yang ngikutin. Dia berjalan cepat. Saat melihat mobilnya, dia sedikit lega. Dia membuka pintu dan berteriak kaget saat satu jemari tangan menghentikan perbuatannya.
“Ahhh,,,”
“Astaga, Kar!”lanjutnya lagi dengan perasaan lega. Jantung yang tadinya berdetak cepat, perlahan mulai normal kembali.
“Aku numpang pulang.”
“Bisa santai gak? Kamu bikin takut.”
“Ternyata takut hantu? Kirain orang berpendidikan tinggi kayak kamu gak takut hantu.”
Karla langsung duduk sambil menunggu supir mulai menyetir. Dia diam beberapa saat. Nat langsung memutar radio yang lagi hits untuk anak muda. Prambors. Lagu yang diputar tak lepas dari lagu viral jaman sekarang. Sangat nyaman mendengarnya di malam yang kelam seperti sekarang.
“Kamu harus tanggung jawab!”ucap Karla seperti orang mabuk yang bicara ngawur. Jelas kalau Nat tidak paham apa maksud cewek itu.
“Kenapa gak bilang kalau Kilaujaya itu perusahaannya Tante Bianca?”
“Oh, kamu sudah tahu?”
“Ish, menyebalkan!”balas Karla mendengus kesal.
“Lagian apa pentingnya ngasih tahu. Kamu masuk sana juga gak pakai orang dalam kan?”
“Emang. Kiel yang ngasih link lowongan.”
“Jangan dekat-dekat sama cowok itu. Dia kayak bukan orang baik.”
“Apaan sih?”
“Maksudnya, biar hati-hati.”
“Terserah lah.”
Mobil melaju kencang menuju rumah. Karla langsung melipir ke kamar karena merasa dikhianati. Sudah sepantasnya Nat talk about it. Setidaknya, Karla bisa memahami situasi saat ini. Dia berpikir keras. Harusnya ia pindah ke Enantan? Emang sih, ini kesempatan bagus. Tapi dia takut berhutang budi. Diterima begitu saja akan menimbulkan kecurigaan. Bukan tidak mungkin dia mendapat perlakuan yang sama di Kantor Enantan. Jika demikian, dia cuma pindah tempat saja. Selamanya akan jadi sumber kebencian.
Ketukan pintu membuatnya bergegas mencari baju panjang. Kalau lagi di kamar, dia suka banget pakai tanktop doang. Dia berdehem dan membuka pintu. Melihat Nat berdiri dengan kaos dan celana pendek. Jujur saja, dia lebih suka Nat yang seperti ini. Tidak terlalu formal terkesan lebih asyik. Jadinya tidak terlalu kaku.
“Boleh bicara bentar?”
“Hmm, ya udah. Tunggu di bawah.”
“Disini aja ya?”
Karla mengangguk dan mempersilakan. Nat malah sibuk ngeliatin kamar dan pernah perniknya. Mulai dari poster One Direction hingga foto perpisahan SMA yang diletakkan di atas meja belajar.
“Mau bicara apa?”
“Tante baru telepon aku. Katanya kamu dibully di kantor? Kenapa gak bilang?”
“Buat apa? Emangnya kamu bakal nyolong? Engga kan? Lagian, itu bukan masalah besar.”
“Itu cuma di mulut kan? Pantas aja, kemarin aku lihat kamu nangis. Kirain ada apa.”
What the hell. Padahal Karla nangis pukul 2 dini hari. Tapi Nat bisa tahu? Apa dia punya Indra ketujuh? Mencurigakan.
“Jangan salah paham. Kebetulan, aku punya ritual minum yang gak bisa dihindari. Kebetulan tumblr di kamar udah kosong.”
“Pokoknya, aku udah gak apa-apa.”
“Ya udah. Mending kamu pindah ke Enantan.”
“Kok ngatur?”
“Bukannya ngatur. Tapi disana lebih baik. Kilaujaya itu cuma perusahaan warisan. Tante Bianca juga terpaksa ngurus perusahaan itu. Dia gak terlalu suka lini bisnisnya.”
Hati Karla semakin gundah. Dia memang lebih condong kepada Enantan. Tapi banyak sekali kekhawatiran di dalam dirinya. Dia takut dianggap sebagai titipan bos besar. Atau apapun itu. Dia terlalu peduli pada ucapan orang lain. Padahal tak semua hal harus kita dengarkan.
“Percayalah, Tante Bianca akan bikin kamu masuk sana tanpa terlihat seperti titipan perusahaan.”
“Gimana caranya?”
“Sepupuku pernah kayak gitu. Walau ujungnya dia resign karena gak betah.”
“Tapi,,,,”
“Orang-orang di Enantan beda banget sama di kantormu sekarang. Lagian, Tante Bianca gak bisa memecat mereka tanpa alasan yang jelas. Meski itu emang udah parah banget ya. Tapi gak ada bukti juga.”
Karla menghela nafas. Pikirannya terlalu tertuju pada hal negatif. Sampai tidak terbersit di otaknya hal-hal yang positif.
“Tapi terserah sih. Kamu yang ngejalanin, kamu yang bikin keputusan sendiri. Aku baru beli martabak. Nanti aku taruh di meja makan.”ucapnya mengakhiri. Dia segera pergi dengan lebih dulu menutup pintu kamar Karla. Cewek itu merebahkan diri di atas kasur. Gimana ini?
***
Tawa pecah disusul teriakan terdengar dari para cewek yang sedang berkumpul di ruangan itu. Rapat organisasi sedang berlangsung. Dan dibumbui tawa yang tidak bisa ditahan. Gly menjadi salah satu di antara mereka. Organisasi aneh bin ajaib yang memfokuskan diri pada curahan hati. Bagaimana cara kerjanya? Setiap anggota harus menempatkan diri sebagai pemberi saran kepada mereka yang mengalami hal pelik dan rumit. Siapapun bisa mengirimkan surat kepada mereka atas nama anonim. Dan akan dibalas dengan saran yang menurut mereka paling benar. Entahlah, organisasi ini berguna atau tidak. Tetapi, cukup banyak orang yang mengirimkan surat.
Kenapa Gly bisa masuk organisasi ini? Terpaksa karena satu dan lain hal.
“Tuh kan, ada aja kisah kayak gini. Gue jadi simpanan sugar daddy. Tiap minggu ketemu di Hotel Mulia. Gue menyesal tapi butuh uang.”
“Gila guys. Apa mungkin itu yang pernah digosipkan ya?”
“Digosipkan?”
“Lo gak tahu?”
“Engga. Gue gak pernah dengar gosip begini.”
“Bulan lalu, ada mahasiswa yang mendapat jemputan rutin dari seseorang. Kayaknya sugardaddy yang diporotin biar dapat uang bulanan.”
“Hell, gue rasa, gak mungkin mahasiswa lah. Kita kan ada program beasiswa. Dan uang kuliah kita gak mahal.”
“Iya juga sih.”
“Jangan-jangan, mahasiswi ekstensi?”
“Hah?”ucap Gly bereaksi.
“Biaya kuliah per semester hampir sepuluh juta kan? Possible banget butuh duit. Iya gak kak?”
“Kak Gly pernah liat gak?”
Gly melongo kebingungan. Dia tahu kalau mereka sedang membicarakan Karla. Tapi Karla gak pernah jadi simpanan om-om. Dia menarik nafas agar tidak keceplosan. Jujur saja, ngegibah itu sangat menarik untuknya. Naluri kayak ditarik biar bicara banyak. Soalnya emang seru.
“Gak tahu sih. Gue gak pernah ngeh masalah begituan.”
Begitulah rapat yang tidak penting itu berakhir. Gly semakin kepikiran. Please banget, jangan sampai Nat dan Karla kepergok waktu pulang bareng. Bisa-bisa dia kena fitnah lagi. Apa gak cukup dia difitnah di kantor? Gly coba untuk berpikiran positif. Dia melirik jam dan masih pukul tiga sore. Dia berniat hendak pulang sampai sebuah pesan membuatnya mengurungkan niat itu.
Ini saya, Pamungkas. Kamu masih ingat kan, bakal ngabulin satu permintaan saya? Ayo bertemu di tempat ini.
Share location.
Janji tetaplah janji. Dengan langkah gontai, Gly pergi ke tempat itu. Dia mencari motornya di parkiran. Dia segera bergerak menuju tempat yang tidak terlalu jauh itu. Apapun itu, semoga permintaan Pam tak membuatnya berbeban berat. Setidaknya, kasih permintaan yang masuk akal. Jangan yang aneh-aneh. Itulah harapan besar seorang Gly. Sejenak dia ingat ucapan Ray pada Pam. Sungguh menyesal mereka harus bertemu Ray di tempat itu. Kakak laki-laki yang mulutnya kayak Lambe turah. Udah gitu, merasa paling ganteng lagi. Padahal mukanya kayak bebek gak dikasih makan berminggu-minggu. Semoga Pam tak membencinya karena peristiwa itu. Gly tiba di sana dalam waktu singkat.